Rabu, 02 September 2015

Ekonomi dan Kekuatan Domestik

Ekonomi dan Kekuatan Domestik

Abdul Manap Pulungan  ;  Peneliti Indef
                                           MEDIA INDONESIA, 01 September 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

SINYAL perlambatan ekonomi Indonesia terekam sejak awal 2015. Pertumbuhan ekonomi dalam dua triwulan masih di bawah 5%. Pencapaian tersebut jauh dari target pemerintah dalam RAPBN-P 2015 sebesar 5,7%. Realisasi itu pun merupakan level terendah sejak 2009. Padahal, 2009 menjadi periode terparah dari krisis keuangan global di Indonesia.

Inflasi juga melambung karena tekanan faktor domestik dan global. Sisi domestik bersumber dari harga barangbarang bergejolak (volatile food) dan harga-harga barang yang diatur pemerintah (administered price). Faktor global berupa depresiasi rupiah. Pemerintah harus bekerja keras untuk mencapai target inflasi 5% hingga akhir 2015. Sebagai catatan, realisasi inflasi pada Juli 2015 sebesar 7,26%.

Depresiasi rupiah menjadi isu yang sangat populer sejak awal tahun. Sampai saat ini, rupiah masih bertengger pada kisaran 14.000 per US$, jauh dari target RAPBN-P sebesar 12.500 per US$. Bukan hanya itu, aktivitas sektor keuangan pun melambat karena melemahnya permintaan masyarakat dan dunia usaha. Penyaluran kredit perbankan pada Mei 2015, hanya naik 10,4% (yoy). Gambaran makroekonomi tersebut memunculkan pertanyaan apakah Indonesia telah memasuki fase krisis.

Tidak dimungkiri bahwa pelemahan ekonomi nasional juga dikontribusikan gejolak dari sisi eksternal. Namun, sebagai perekonomian terbuka, Indonesia harus siap terhadap hal itu.

Selama 2015, ekonomi Indonesia hanya terbantu oleh koreksi harga minyak dunia. Harga komoditas internasional cukup mengecewakan sehingga tidak berperan banyak untuk menahan penurunan kinerja ekspor. Ekspor pun semakin tertekan tajam karena penurunan harga diikuti perlambatan permintaan negara-negara tujuan utama (tradisional).

Negara maju masih terpuruk

Ekonomi Amerika Serikat memang menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Hanya, persoalan yang tersisa masih sangat banyak, terutama pada pengangguran. Tingkat pengangguran terbuka pada Juni 2015 mencapai 5,3%. Level itu bisa meroket karena pemburukan pada sektor pertambangan (dampak lanjutan dari penurunan harga minyak). Selain itu, perbaikan tingkat pengangguran terbuka pun tidak diikuti angka tingkat partisipasi kerja.

Data US Bureau of Labor Statistics (2015) menunjukkan angka tingkat partisipasi kerja masih bergerak pada level 62,6% (Juni dan Juli 2015). Selain itu, apresiasi mata uang `Negeri Paman Sam' tersebut berdampak pada menganganya neraca transaksi berjalan.Ekonomi AS juga akan tertekan karena pelemahan kinerja negara-negara mitra kerja utama, terutama negara-negara berkembang.

Walaupun tertatih-tatih, hingga triwulan II 2015 Tiongkok masih tumbuh sekitar 7%. Output industri pada Juni naik 6,8% (yoy), sedangkan penjualan retail pada Mei naik 10,6% (yoy). Persoalan yang cukup pelik muncul dari pasar saham. Koreksi tajam pasar saham berdampak sangat berarti pada perekonomian dan pendapatan masyarakat. Memang, aktivitas masyarakat pada pasar saham telah meningkat signifikan sejak pelonggaran regulasi. Kondisi itu menyebabkan kontribusi pendapatan dari saham mencapai 15%-20% dari kekayaan rumah tangga Tiongkok. Lebih dari 95% pemain di pasar saham Tiongkok merupakan masyarakat lokal.

Sementara itu, ekonomi Jepang turut terjerambap karena penurunan daya beli. Aktivitas ekonomi `Negeri Samurai' itu terpengaruh oleh lonjakan pajak penjualan dan kemudian bertransmisi terhadap sektor bisnis dan investasi. Penaikan pajak yang tidak diikuti dengan lonjakan pendapatan menyebabkan konsumen menahan konsumsinya. Kabar baik bagi ekonomi Jepang terbantu oleh depresiasi Yen pada beberapa bulan sepanjang 2015 sehingga mendorong kinerja ekspor yang lebih baik.

Kekuatan ekonomi domestik

Ekonomi Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang berperan cukup besar dalam menyerap ekspor. Selain itu, ketiga negara tersebut juga ‘menyumbang’ investasi yang tidak sedikit. Namun, harus disadari bahwa integrasi yang berlebihan pada akhirnya menyebabkan kekacauan bagi Indonesia saat negara-negara tersebut bergejolak. Dalam situasi perekonomian global tidak memberikan harapan, kita harus memacu ekonomi domestik.

Dalam struktur produk domestik bruto (PDB) komponen yang dapat menjadi tumpuan ekonomi nasional ialah sektor konsumsi swasta dan belanja pemerintah. Kontribusi dari kedua komponen PDB tersebut pada triwulan II 2015 ialah 54,67% dan 8,87%. Kekuatan transaksi lintas negara (ekspor dan penanaman modal asing) diprediksi belum akan pulih dalam beberapa tahun ke depan karena negara-negara maju masih dihadapkan pada berbagai persoalan internal.

Apa yang harus dilakukan pemerintah? Pertama, menjaga kekuatan ekonomi domestik pada sektor konsumsi rumah tangga akan berhubungan dengan daya beli konsumen. Untuk itu, pemerintah harus mengelola inflasi agar tetap bergerak pada level yang terjaga. Sebagaimana sudah disebutkan, inflasi nasional terdongkrak oleh dua komponen, yaitu inflasi pada barang-barang bergejolak (volatile food) dan harga barang yang diatur pemerintah (administered price). Pada barang-barang bergejolak, inflasi muncul dari komponen bahan makanan seperti beras, daging ayam, dan aneka bumbu dapur.

Pada kelompok barang administered price, inflasi biasanya dipengaruhi penaikan harga gas elpiji dan harga listrik yang dilakukan secara bersamaan. Koreksi harga minyak dunia, yang saat ini telah menjadi di bawah US$50 per barel, seharusnya menjadi stimulus bagi pemerintah untuk menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM). Implikasinya akan sangat penting pada daya beli konsumen.

Kedua, tidak perlu ditanyakan lagi bahwa konsumsi pemerintah harus menjadi stimulus, baik saat ekonomi normal apalagi saat melambat. Pemerintah harus mempercepat belanja (terutama belanja modal) untuk mengejar ketertinggalan pada dua triwulan sebelumnya. Realisasi belanja pemerintah hingga triwulan II 2015 cukup mengecewakan. Data Kementerian Keuangan (2015) menunjukkan belanja pemerintah hanya terlaksana 39% (Juni 2015).

Belanja modal terealisasi lebih rendah, hanya 11%, sedangkan belanja pegawai terealisasi lebih kencang sebesar 42% dan belanja pembayaran bunga dan subsidi masing-masing terlaksana 47,7% dan 47,4%. Pada triwulan ini, pemerintah tidak lagi dipusingkan masalah administrasi kelembagaan (misalnya persoalan nomenklatur) sehingga tidak mengganggu realisasi belanja.

Agar pertumbuhan ekonomi tidak tertekan tajam, pemerintah dapat mengelola kekuatan ekonomi domestik, baik melalui konsumsi domestik maupun belanja pemerintah. Namun, berbagai faktor harus diperhatikan seperti kekuatan daya beli konsumsi hingga percepatan realisasi belanja modal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar