Jumat, 24 Mei 2013

Keterputusan Sejarah Peradabankah?


Keterputusan Sejarah Peradabankah?
Mudji Sutrisno  ;  Budayawan, Guru Besar Universitas Indonesia 
KORAN SINDO, 23 Mei 2013


Belakangan keterputusan sejarah peradaban kian nyata dirasakan. Lalu, mengapa sejarah peradaban kita mempunyai keterputusan di dalamnya? Minimal ada limah sebabnya. 

Pertama, semakin sedikitnya guru-guru sejarah yang mengajak anak-anak didik mencintai sejarah bangsa ini. Bila tidak kenal, maka tidak akan sayang. Setelah IKIP menjadi universitas, maka jurusan sejarah semakin kurus, hanya masuk ke salah satu fakultas yang tidak laku (karena sulit untuk dipakai cari nafkah uang dalam iklim kapitalis ini). Akibatnya lagi ruh cinta sejarah dalam profesi guru yang dengan hati mengajak anak-anak didik meminati sejarah pun semakin sedikit. 

Kedua, keterputusan sejarah juga disebabkan oleh ketiadaan jembatan-jembatan penghubung generasi pasca-1970-an yang rela menjadi penuntun jalan untuk cinta museum, mampu memberi narasi makna-makna historis monumen dan tugu-tugu peringatan. Misalnya Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908 atau sudah 105 tahun yang lalu, sudah ditonjolkan tokoh-tokohnya ada pada sosok Dokter Soetomo sebagai aktor eksekutor dan dr Wahidin Soedirohoesodo sebagai inspirator. 

Penting duet antara inspirasi dalam pelaksanaan tidak selalu diberi daya dorong edukasi. Terlebih-lebih “dilupakannya” masih adanya satu tokoh inspirator sekaligus kreator, yaitu Suryopranoto yang menegaskan visi pentingnya membentuk kerukunan (pirukunan) dari elite-elite Boedi Oetomo ini untuk perjuangan buat si jelata atau si kromo. Semacam gugatan apabila kemerdekaan yang diperjuangkan Boedi Oetomo tidak dapat pembelaan untuk rakyat miskin, sia-sialah kemerdekaan ini. 

Jadi, sayap elitis terlalu ditampilkan dalam sejarah, namun sayap “populis” dilupakan untuk ditampilkan, apalagi sejak arus sejarah Indonesia yang sosialis dan populis pro-buruh dan tani “dipergikan” dari bumi Indonesia pasca-1965. Ketiga, pengajaran sejarah sebenarnya punya bahan lengkap, yaitu data-data sejarah dan para sejarawan penafsirnya. 

Keterbukaan untuk melihat berbagai pelaku dan peristiwa sejarah yang diselidiki terus demi cinta bangsa semestinya membuka budi untuk berani belajar merenungi antagonis beda kepentingan tafsir untuk ideologi dan kepentingan edukasi untuk cinta sejarah bagi anak-anak cucu kita. Misalnya, kejujuran untuk mengatakan bahwa terlalu banyak tugu peringatan atau monumen itu berwatak militeristik perjuangan senjata karena monumen-monumen diplomasi, sipil selalu tidak berada dalam kekuasaan fisik mampu membangun monumen. 

Tidaklah api Kebangkitan Nasional 1908 dari Boedi Oetomo pada pesta peraknya (25 tahunnya) diperingati di Solo dengan Tugu Lilin di Penumping? Saat itulah penulis semasa remaja selalu aktif dalam kegiatan pramuka di Tugu Lilin itu dan pendidik memberi penerangan cerah hubungan antara “ruh Tugu Lilin Solo” dan “ruh pramuka” serta bahasa keindonesiaan yang setiap upacara bendera kata kunci lagu Indonesia Raya dengan “jadi pandu Ibuku” yang adalah Indonesia bergaung mantap dan penuh semangat. 

Keempat, siapakah yang masih melanjutkan jembatanjembatan narasi sejarah bangsa inijugaketika generasikinisudah beralih dari tulisan buku ke visual sentuhan jari meski belum semuanya, hanya di kota-kota besar? Keterputusan sejarah terjadi di sini manakala budaya lisan masuk ke budaya buku tulisan, namun generasi kita belum mengakar untuk baca dan tulis yang butuh diam hening tekun membaca dan fokus konsentrasi, tetapi sudah dihajar oleh lisan kedua “digital visual” yang meretak-retak dalam entertainment tanpa catatan tulis. 

Karena itu, 10 jam di depan media visual televisi dan iPad bila tidak tahu mencari info dan pencerahan akan habis waktu tanpa endapan nilai apa pun selain kesenangan, just fun! Kelima, perang kepentingan atau interest antara yang pragmatis, praktis, jalan pintas melawan kepentingan menanamkan kesadaran bahwa hidup itu sebuah proses jatuh bangun harus dimenangkan oleh yang kedua bila sejarah kita tidak mau terputus. 

Sebab, pembiasaan yang dalam tradisi dinamai proses internalisasi mengenai yang baik, yang benar dan indah, serta suci sumber hidupnya ada pada keteladanan. Beribu-ribu ajaran kognisi pengetahuan dan hafalan akan percuma apabila sosok yang berjasa untuk sejarah kita, yaitu para pendiri bangsa, guru-guru bangsa, mereka-mereka pahlawan tanpa nama karena pengorbanan demi merdekanya bangsa ini. Kini sulit ditemukan lagi pada tokoh-tokoh, pesohor kita yang lebih banyak menjadi contoh jelek dan negatif. 

Oleh karena itu, nomor satu kita harus rajut kembali sejarah yang putus dengan reformulasi babakan sejarah nasional yang diisi sejarah-sejarah lokal secara terbuka. Kemudian kita sadari diri untuk mengenalkannya agar mencintainya dengan media-media yang paling menjadi pegangan sarana generasi muda kini. Prinsipnya, dengan masuk melalui “pintu mereka” agar keluar dengan pintu kecintaan sejarah mengenal dengan peduli. 

Sebab yang tidak mau belajar sejarah, ia akan melakukan kesalahan sejarah dua kali, dan yang tidak peduli akan bernasib seperti keledai yang jatuh terperosok dalam lubang mendalam sampai cacat berjalan kemudian. Hanya dengan kemauan rendah hati mengakui keterputusan sejarah peradaban kita lantaran ingatan pendek, abai, dan tidak pedulinya kita sendiri. 

Kita akan sadar merajut kembali benang-benang putus situs-situs yang saat ini butuh sekali guru-guru peradaban, ahli-ahli baca prasasti, pemikir dan penerjemah dengan keahlian menafsir bahasa Sanskerta dan bahasa-bahasa prasasti yang semuanya butuh asketisme intelektual yang sepi perhatian dan yang sunyi tepuk tangan, seperti diingatkan oleh sejarawan terkemuka kita, yaitu Prof Sartono Kartodirdjo. Jangan menjadi cendekiawan model pohon pisang yang sekali berbuah, lalu selesai! Tantangan buat kita semuakah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar