Rabu, 07 Agustus 2019

Hikayat Sengkuni dan Kresna

Hikayat Sengkuni dan Kresna

Seperti kisah pewayangan, di panggung politik semua orang memiliki peran. Ada yang berperan seperti Sengkuni. Ada pula yang berperan seperti Kresna.

Oleh :  TRIAS KUNCAHYONO


KOMPAS, 5 Agustus 2019 13:16 WIB



Delapan kuda menarik kereta perang yang dinaiki Batara Kresna sebagai sais dan Arjuna. Itulah Patung Kuda Arjuna Wijaya. Patung itu berdiri gagah, kokoh, dan menarik perhatian di ujung selatan Jalan Merdeka Barat.

Patung Kuda Arjuna Wijaya adalah patung karya maestro pematung dari Bali, Nyoman Nuarta. Ide pembuatan patung itu dari Presiden Soeharto dan dibangun pada 1987. Pada zaman Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, tahun 2015, patung tersebut direnovasi.

Yang digambarkan dalam patung itu adalah bagian dari kisah epos Mahabharata yang berpuncak pada Perang Bharatayudha. Epos ini menggambarkan betapa nafsu akan kekuasaan telah menutup mata dan hati keturunan Bharata.

Mereka—Pandawa dan Kurawa—berperang, saling bunuh pula dengan cara yang sangat keji, demi yang namanya Kerajaan Hastinapura. Padahal, mereka satu saudara. Satu darah; darah Kuru. Satu anak bangsa.

Akan tetapi, ada yang melihat bahwa Bharatayudha memberikan pelajaran tentang nilai-nilai kejujuran, kesetiaan, persaudaraan, perjuangan membela kebenaran, dan kesediaan memaafkan demi kebaikan bersama. Kecuali itu, epos ini dengan jelas menggambarkan bahwa manusia yang berbudi luhur juga memiliki kelemahan; sementara yang berwatak buruk juga memiliki sisi baik. Tak ada manusia yang sempurna. Bharatayudha menggambarkan tabiat, karakter manusia.

Salah satu tokoh yang sangat berperan dalam Bharatayudha adalah Batara Kresna, Raja Dwarawati yang adalah titisan Batara Wisnu. Kresna bisa disebut sebagai auktor intelektualis dalam Bharatayudha. Auktor intelektualis inilah yang, menurut Bertens, berarti pencetus ide, orang yang untuk pertama kali mengemukakan suatu pikiran atau rencana, otak atau brain di balik suatu peristiwa.

Dari sini, jelas bahwa maknanya tidak selalu negatif. Kresna adalah auktor intelektualis, dalam arti yang tidak selalu negatif. Ini berbeda dengan Patih Hastinapura, Sengkuni, yang juga seorang auktor intelektualis dalam arti yang serba negatif. Sengkuni yang ketika muda bernama Harya Suman atau Raden Trigantalpati adalah tokoh yang selalu membuat persoalan, yang menanamkan benih dengki-iri, penebar fitnah, penebar pikiran negatif, dendam, dan juga nafsu angkara murka di dalam hati dan pikiran orang-orang Hastinapura.

Sengkuni sejak kelahirannya telah ditakdirkan membawa watak culas. Kelahirannya ditandai dengan terusirnya seorang dewa dari kayangan. Dewa yang memang memangku sifat culas, yaitu Batara Dwapara. Terusirnya Batara Dwapara itu bersamaan dengan lahirnya Harya Suman. Sengkuni tertakdir sebagai tukang memanasi suasana. Maka, sepanjang hidupnya, ia telah berlaku mengipas segala bentuk bara angkara sekecil apa pun menjadi berkobar liar menyambar-nyambar.

Tokoh ini pula, Sengkuni, yang memprovokasi Raja Hastina, Duryudana, untuk menolak ajakan damai Kresna. Sengkuni mendorong Duryudana memilih perang habis-habisan melawan Pandawa untuk mempertahankan Kerajaan Hastinapura yang bukan haknya, dalam Bharatayudha.

Sengkuni adalah gambaran orang yang memiliki sifat drengki (dengki), yakni orang yang tidak senang melihat orang lain senang dan berusaha untuk mencelakakannya. Dalam kisah Bharatayudha, Sengkuni mati secara mengerikan dengan tubuh dicabik-cabik oleh Bima. Dalam peribahasa Jawa dikatakan, Sapa nandur ngunduh, sapa nggawe nganggo, ”siapa menabur angin akan menuai badai”.

Sementara Kresna, syahdan menurut yang empunya cerita, adalah auktor intelektualis yang lain. Dikisahkan, banyak ikut campur dan mengatur jalannya Perang Bharatayudha. Dialah yang meminta Antareja, anak Werkudara kesatria Pandawa, menjilat jejak kakinya sendiri sehingga mati. Antareja memang memiliki kesaktian bisa membunuh orang dengan cara menjilat jejak kaki orang itu. Menurut Kresna, jika Antareja terlibat dalam Perang Bharatayudha, perang itu akan selesai dalam sekejap.

Kresna pula yang menyingkirkan Baladewa, kakaknya sendiri, dengan menyarankan agar Baladewa bertapa di Grojokan Sewu. Sebab, kakaknya yang Raja Mandura itu sakti mandraguna, sulit tertandingi, tetapi cenderung memihak Kurawa. Kresna-lah yang mengatur strategi perang di pihak Pandawa, antara lain tentang siapa saja yang diturunkan menjadi panglima perang. Misalnya, senopati Kurawa, yakni Resi Bisma, harus dihadapi Srikandi, istri Arjuna.

Kresna jugalah yang menyebarkan isu bahwa Aswatama, anak tunggal Pendita Durna dengan Wilutomo yang dikutuk menjadi kuda, mati saat Durna menjadi panglima perang Kurawa. Batara Kresna pula yang memerintahkan si kembar, Nakula dan Sadewa, untuk menemui Raja Mandaraka Prabu Salya, kakak Dewi Madrim ibu Nakula-Sadewa, saat Salya menjadi panglima perang Kurawa menghadapi Puntadewa, sulung Pandawa.

Yang dilakukan Sengkuni adalah wujud dari praktik politik yang tidak berkeadaban. Sementara yang dilakukan Kresna sebagai titisan Batara Wisnu adalah meredam, bahkan menumpas nafsu angkara murka, melawan politik tak berkeadaban.

Politik tak berkeadaban tujuannya adalah memanipulasi rakyat. Ketika cinta diri lebih kuat dibandingkan dengan cinta kepada nusa dan bangsa, maka praktik politik yang tidak berkeadaban itu banyak dilakukan. Seorang penulis asal Inggris, William Hazlitt (1778-1830), mengatakan, mencintai kebebasan berarti cinta kepada orang lain, mencintai kekuasaan berarti cinta kepada diri sendiri.

Demi kekuasaan, segala cara akan dilakukan, segala taktik dan strategi diterapkan.
Semua itu dilakukan demi yang namanya kekuasaan. Manusia bisa lupa diri ketika terbius akan kekuasaan. Demi kekuasaan, segala cara akan dilakukan, segala taktik dan strategi diterapkan. Kekuasaan adalah segala-galanya.

Di mata mereka yang memiliki syahwat kekuasaan berlimpah-limpah dan menggelegak, ada keyakinan bahwa dengan memegang kekuasaan, akan bisa melakukan apa saja; akan dapat memperoleh apa saja. Mereka melihat ujung kekuasaan seperti melihat ujung pelangi tempat bergantung ”sekeranjang emas”. Maka, benar yang dikatakan oleh Milan Kundera, perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa.

Dalam banyak teori sosial dikatakan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang memiliki hasrat dan keinginan abadi untuk mengejar kekuasaan. Hasrat dan keinginan itu baru akan berakhir jika kematian telah menjemputnya. Dengan kata lain, bahwa manusia ditakdirkan untuk memiliki nafsu kekuasaan. Hanya persoalannya adalah bagaimana mengendalikan nafsu, syahwat kekuasaan itu.

Nafsu, syahwat kekuasaan, memang harus dikendalikan agar tidak seperti kuda liar. Nafsu inilah yang pada gilirannya menimbulkan kegaduhan politik. Kita belum lama merasakan, mengalami lewat media sosial tentang kegaduhan itu. Kegaduhan itu dibikin, dibuat, disengaja, untuk suatu tujuan: kekuasaan.

Pada saat itu, tidak ada yang bicara soal etika, soal moralitas, etika berpolitik, moralitas berpolitik. Mengapa? Sebab, dalam politik kekuasaan—yang dalam hal diartikan sebagai politik untuk semata-mata memburu kekuasaan—maka nyaris dalam politik tidak ada moralitas lagi. Padahal, politik adalah soal hati.

Barangkali benar kiranya apa yang dahulu disampaikan oleh Khalil Gibran (1883-1931): ”Tahukah engkau siapakah orang yang akan mendatangkan bencana bagi bangsamu? Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah menyebar benih, tidak pernah menyusun bata, serta tidak pernah menenun kain, tetapi menjadikan politik sebagai mata pencarian.”

Begitulah panggung politik. Di panggung politik, semua orang memiliki peran. Ada yang berperan seperti Sengkuni. Ada pula yang berperan seperti Kresna. Mungkin ada yang berperan sebagai Semar, atau Gareng, atau Petruk, atau Bagong, atau Togog, atau Mbilung. Atau bahkan berperan sebagai dalang. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar