Minggu, 01 April 2018

Nyepi 1940, Kontribusi Hindu dan Soliditas Bangsa

Nyepi 1940, Kontribusi Hindu dan Soliditas Bangsa
Tom Saptaatmaja  ;   Teolog dan Aktivis Lintas Agama
                                                  KORAN SINDO, 16 Maret 2018



                                                           
PERTAMA-TAMA selamat ke­pada saudara-saudara ki­ta umat Hindu se-Ta­nah Air yang merayakan Nyepi se­kaligus Tahun Saka 1940 ja­tuh pada Saniscara Umanis Wa­tu­gu­nung, Sabtu 17 Maret 2018. Ba­gaimanapun dalam se­ja­rah Nu­santara, agama Hin­du yang ber­asal dari India per­nah ber­ja­ya dan memberi kon­tribusi po­si­tif bagi per­adab­an kita.

Kita yang tidak ber­agama Hindu, ra­sa­nya per­lu tahu sumbangan ter­sebut, se­kadar untuk mem­per­luas ca­kra­wala sekaligus men­dorong ter­wujudnya kem­ba­li sikap to­ler­an dan saling meng­hargai de­mi kerukunan se­sama anak bang­sa serta ke­utuh­an NKRI.

Apalagi akhir-akhir ini ada yang menyebut telah terjadi kri­sis kebinekaan terparah di n­­e­geri ini ditandai dengan ma­ra­k­nya hoaks dan ujaran kebenci­an menjelang Pilkada Se­ren­tak 208 dan Pilpres 2019. Bisa toleran, rukun, dan meng­har­gai per­b­edaan jelas sangat pen­ting kita mi­liki, mengingat kita hidup di s­e­buah negeri yang heterogen.

D­engan dem­i­ki­an, semoga kita akan men­ja­di pribadi yang lebih mu­dah meng­hargai pihak lain d­a­­ri­pa­da mencela, meng­um­pat, atau me­nyebar fitnah se­ba­gai­mana ma­rak di media sosial.

Tulisan ini berangkat dari ke­­tulusan dan kejujuran pe­nu­lis yang telah “
passing over“ atau melintas batas agama dan et­nis. Bagaimanapun agama Hi­n­du dan peradaban serta umat­nya telah terbukti mem­be­ri warna tersendiri dalam se­ja­rah bangsa ini. Cukup banyak se­j­arawan atau antropolog te­lah berupaya menjelaskan pe­ri­hal ba­gai­ma­na caranya penga­ruh agama Hin­du berasal dari India sampai ke Nu­san­ta­ra.

Hal sudah pasti ada­lah ber­kat adanya pengaruh ters­ebut, pen­duduk kepulauan Nu­­san­ta­ra resmi tercatat me­ma­suki p­e­riode sejarah sekitar abad ke-4 M. Sebelum kurun wak­tu ter­sebut, sejarah kita ma­sih ge­lap karena kurangnya bukti-buk­ti tertulis.

Menurut J.L.A Brandes (1887), penduduk Asia Teng­ga­ra termasuk yang mendiami ke­pulauan Nusantara, telah mem­pu­nyai 10 kepandaian menjelang masuknya penga­ruh India, ya­itu (1) mengenal pe­ngecoran logam, (2) mampu mem­buat figur-figur manusia dan hewan da­ri batu, kayu, atau lukisan di din­ding gua, (3) me­ngenal ins­tru­men musik, (4) mengenal ber­macam ra­gam hias, (5) me­nge­nal sistem eko­nomi barter, (6) me­ma­hami astronomi, (7) m­a­hir d­a­lam navigasi, (8) me­nge­nal tra­disi lisan, (9) menge­nal sistem iri­gasi untuk per­ta­ni­an, (10) ada­nya penataan ma­sya­ra­kat yang teratur. Dalam kon­disi per­adaban seperti itu­lah mer­e­ka kemudian ber­ke­nal­an dan me­nerima para nia­ga­wan dan mu­safir dari Tiongkok atau­­pun India.

Pengaruh Hindu
 
Setelah berinteraksi de­ngan para pendatang dari In­dia, ma­ka diterimalah be­be­ra­pa aspek pen­ting dari mereka. Ada tiga hal menonjol dari kebudayaan Hin­du yang di­te­ri­ma nenek mo­yang bangsa kita yang tidak me­reka kenal se­be­lum­nya, yaitu hu­ruf Pallava, aga­ma Hindu, dan penghitung­an angka ta­hun. Ketiga hal ini nanti benar-be­nar mem­beri kontribusi luar bi­a­sa un­tuk memperkaya ke­bu­da­ya­an Nusantara.

Kalau mau dirinci, pe­nga­ruh Hindu atau India begitu ba­nyak di Nusantara. Dalam hal bahaya Melayu atau bahasa In­donesia misalnya, pengaruh itu cukup te­rasa. Huruf Pal­lawa atau ba­ha­sa Sanskerta ikut mem­per­ka­ya bahasa Me­la­yu atau In­do­ne­sia. Ini karena ke­banyakan ma­sya­rakat Melayu ketika itu be­r­aga­ma Hindu dan bahasa Sans­kerta  te­lah men­jadi bahasa bang­sa­wan ser­­ta mempunyai hie­rarki ting­­gi.

Pengaruh itu bi­sa kita ba­­ca pada tulisan atau ak­sa­ra Pal­lava, kata-kata pin­­jam­an da­­­ripada ba­hasa Sans­kerta, rang­­­ka­ian kata pin­­jam­an dari bahasa Sanskerta, dan fonem-fo­­nem. Contoh per­­kataan yang di­­­ambil dari ba­ha­­sa Sans­kerta, se­­­perti syu­ka­syit­­­ta, atha­va, kara­na, tat­kala, dan lainnya.

Saling me­me­ngaruhi se­hing­­ga tercipta hi­briditas atau ke­­tercampuran budaya adalah ke­nis­ca­ya­an telah terjadi se­la­ma ribuan ta­hun di Nusantara. Bah­kan hing­ga saat ini hu­bung­an ke­bu­da­yaan In­do­ne­sia-India yang satu miliar pen­du­duknya be­r­aga­ma Hindu ma­sih terus ber­lang­sung. Ke­ti­k­a Indonesia ba­ru merdeka, In­dia termasuk ­sa­lah satu negara yang memberi peng­akuan awal.

Bahkan kalau kita berbicara ten­tang Nyepi, jangan ditanya kont­ribusi positifnya bagi bang­sa ini. Simak saja tema na­sio­nal Hari Raya Nyepi tahun ini: “Melalui catur brata pe­nye­pi­­an, kita tingkatkan soliditas se­­bagai perekat keberagaman da­­lam menjaga keutuhan NKRI”. Tema ini sudah m­e­nun­juk­kan betapa umat Hin­du sungguh amat menghargai keberagaman, penuh tol­er­an­si, dan cinta Tanah Air.
Pesan-pesan po­­sitif dari te­ma tersebut tam­pak nyata da­lam berbagai ritual, baik se­be­lum maupun se­lama pe­rayaan Nye­pi. Seperti ki­ta ta­hu, be­be­ra­pa hari se­be­lum Nye­pi, di­ge­lar ritual Me­las­ti, yakni m­e­­nyu­cikan arca ser­ta simbol-sim­­bol agama g­u­na men­de­kat­kan diri pada T­u­han. Ritual ini di­mak­sud­kan un­tuk me­nyu­ci­kan se­lu­­ruh isi du­nia, ter­ma­suk negeri kita.

Lalu sehari sebelum Nyepi di­­gelar ritual Tawur Kesanga yang terdiri dari upacara Buta Yad­­nya dan Ngrupuk. Buta Yad­­nya adalah ritual memberi per­­sembahan pada Sang Bh­u­ta Kala agar tidak mengganggu umat manusia. Dalam ritual ini, umat Hindu membuat ogoh-ogoh atau patung rak­sa­sa dari bambu  yang me­r­u­pa­kan s­im­bol roh jahat di se­kitar kita se­hingga per­lu disingkirkan. Ca­­ra pe­nying­kiran ada­lah de­ngan ri­tual

Ngrupuk, yak­ni meng­arak ogoh-ogoh lalu mem­ba­kar­nya. De­ngan de­­mi­ki­an, roh ja­hat bi­sa diusir dan ti­dak jadi me­ngua­­sai dunia, ter­­masuk NKRI.
Tepat pada hari su­ci Nyepi, ya­­itu awal Ta­hun Baru Saka (Sab­­­tu, 17/3), dilaksanakan Upa­­­c­­ara Yoga Samadhi dengan em­­­pat pantangan wajib, yakni amati geni atau berpantang me­­nya­lakan api, amati karya atau meng­hentikan akt­iv­i­tas ker­ja, amati lelanguan atau ber­­pan­tang menghibur diri dan tidak me­nikmati ke­se­nang­­an he­do­nis­me, serta amati lelungan atau pantang be­­p­ergian. Mung­kin hanya di Ba­­li saja jalur pe­ner­bang­an inter­­nasional dihen­ti­kan demi pe­rayaan keagamaan.

Kemudian sehari setelah Ta­hun Baru Saka dil­ang­sung­kan acara Ngembak Geni. Se­ge­nap keluarga keluar dari ru­mah masing-masing dan ber­maaf-maafan dengan tetang­ga serta kerabat. Dalam rangkaian ritual Nye­­pi di atas, umat berusaha me­­lakukan introspeksi dan per­t­obatan agar terhindar dari kua­­s­a kejahatan.

Dengan jiwa ra­­ga yang suci, umat Hindu men­­coba menjaga harmoni dengan Sang Pencipta sesama ser­­ta semesta. Dengan de­mi­ki­­an akan tercipta kes­eim­bang­­an dan terhindar dari ma­la­­petaka. Kita berharap dengan Nyepi rangkaian ben­ca­na dan ancaman adu domba be­r­­nuansa SARA (suku, aga­ma, ras, dan antargolongan) yang meru­sak soliditas kita bi­sa dijauhkan. Ki­ta rindu bisa kem­­bali rukun se­bagai sesama anak bangsa ser­ta terus bisa ber­­kontribusi positif.

Sejarah mengingatkan, ke­ti­ka kita gampang diadu dom­ba, se­sungguhnya kita sedang sa­ling meng­hancurkan. Kita ju­ga lupa tu­juan menggapai “
bonum com­mune” (k­e­se­jah­te­ra­an ber­sa­ma). Hal yang me­non­jol ha­nya “ma­lum com­mune” (ke­bu­ruk­an ber­sama) se­perti tampak dari ma­raknya ujar­an keben­ci­an dan si­kap sa­ling curiga.

Pada ak­hir­nya mari be­lajar dari pe­san un­tuk selalu be­r­damai sebagaimana di­ucap­kan dalam doa pe­nu­tup dalam segala aktivitas umat Hin­­du, yakni “Om Santhi, San­thi, Santhi”(atas perkenan-Mu Tu­han, semoga damai di hati, da­mai di dunia, dan da­mai selalu).

Belajar dari Ramayana

Kita mengenal kisah Ra­ma­yana yang sering di­la­konkan dalam wa­yang. Namun, barangkali yang ki­ta ketahui di kisah itu ha­nya­lah perebutan Sinta dari ta­ngan Rahwana oleh Rama me­la­lui perang. Yang mana Sinta ada­lah istri Rama, putra ke­ra­ja­an Ayodya.  Tapi kisah tersebut ti­dak sesederhana itu.

Banyak lika-liku dalam ke­hi­dupan mereka yang patut ki­ta ambil hikmahnya. Seperti alas­an Rama dibuang ke hutan oleh ayahandanya hanya ka­re­na permaisuri Raja yang di­ha­sut oleh abdi rendahan. Permaisuri termakan perkataan ab­di. Akhirnya permaisuri me­nyam­paikan permintaannya ke­pada Raja Ayodya.

Sang Raja yang tak pernah ingkar janji pun melaksanakan per­min­ta­an sang permaisuri walau de­ngan hati yang sangat berat. Ber­awal dari hasutan, Rama pu­tra mahkota sang pewaris tak­h­ta akhirnya harus menjalani hidup di hutan.

Penggalan kisah lain yakni ke­­tika terjadi penculikan Sin­ta oleh Rahwana. Ketika itu Sin­ta dan Rama sudah tinggal di hu­tan bersama adik Rama, Les­­ma­na. Suatu hari tampak se­­ekor kijang yang sangat can­tik dan Sinta berhasrat untuk me­mi­likinya. Rama tak kuasa me­­no­lak keinginan istrinya dan per­gi untuk memburu ki­jang te­r­sebut.

Setelah dibawa ke te­ngah rimba, kijang pun ter­kena pa­nah Rama, lalu ber­ubah ke wu­jud aslinya, rak­sa­sa, dan me­ni­rukan suara Ra­ma yang seolah-olah meminta per­­to­long­an. Sinta men­de­ngar teriakan ter­sebut dan me­maksa agar Les­mana me­nu­ju suara itu dan mem­bantu sua­minya.

Sinta ga­lau me­mi­kir­kan nasib sua­mi­nya, dan da­tanglah Rahwana yang me­nya­mar sebagai pe­ta­pa. Sinta pun diculik, dibawa ke Aleng­ka, kerajaan raksasa yang di­pim­pin Rahwana.

Manusia sangat mudah ter­p­e­sona. Terlena akan hal-hal ke­cil, dan cenderung tidak me­mi­kirkan akibat yang akan di­da­pat. Sinta terjebak nafsu se­saat yang akhirnya mem­buat­nya ditawan di Alengka.
Kisah Rama dan Sinta ini tak beda jauh dengan kondisi ma­syarakat kita saat ini. Kabar-ka­bar burung yang tidak jelas ke­benarannya banyak disam­pai­kan melalui media online  atau daring. Keberadaan media so­sial seperti Facebook, Twit­ter, Instagram menyuburkan pe­nyebaran informasi yang ti­dak  benar.

Fatalnya, banyak yang meneruskan berita yang be­lum diketahui asal-muas­al­nya tersebut ke jaringan ke­luar­ga, kerabat, teman dekat, dan teman kerja. Kerap kali pe­nye­bar kabar ini orang terp­an­dang dalam jaringan tersebut, di­segani sehingga semua ang­go­ta dalam jaringan akan mu­dah dibuat percaya.

Masih dalam kisah Ra­ma­ya­­na. Ini ketika Rama dan pa­su­­kan wanara  hampir me­nd­e­kati Aleng­ka untuk merebut S­in­ta. Rah­wana punya siasat. Ia meng­utus anaknya, In­dra­jit, un­tuk memberi tahu Sinta te­­n­tang kematian Rama. Si­n­ta ter­te­gun melihat tipuan In­dra­jit be­rupa kepala Rama. Ke­­hi­lang­an Rama, hatinya gun­dah dan ke­hilangan sem­a­ngat untuk hidup.

Lagi-lagi manusia tertipu, bu­­­kannya mengklarifikasi ka­­bar tersebut, Sinta terbawa emo­­­si. Sinta tak beranjak dari tem­­­patnya ditawan hingga me­­l­ihat sendiri pasukan wa­na­ra yang memorak-poran­da­­kan Aleng­ka. Sinta merasa sa­­ngat ba­hagia, Rahwana ha­nya menakut-nakutinya.

Bahkan, berita bohong atau hoax  sudah dikenal pada masa lalu. Gelagat pelaku sudah gam­blang tergambar. Cara meng­atasinya juga tak jauh berbeda dengan masa kini. Te­ta­pi mengapa kita masih saja ter­jebak di dalamnya? ●

1 komentar:

  1. Prediksi Bola Sevilla vs Inter 22 Agustus 2020 yang akan diselenggarakan langsung tanpa penonton di Rhein Energie Stadion.

    Dalam pertemuan kedua tim di Liga Europa kali ini. Akan di Jadwal Bola Malam Ini pertandingan ini tentunya akan sangat seru untuk di tonton pada Siaran Bola Live Streaming

    BalasHapus