Kakistokrasi
M Subhan SD ; Wartawan Senior Kompas
|
KOMPAS,
21 April
2018
John Brennan, mantan Direktur CIA,
membuat orang terperangah. Jumat (13/4/2018) pekan lalu, pukul 21.39, ia ngetwit: ”Kakistokrasi Anda runtuh setelah perjalanan yang menyedihkan.
Sebagai bangsa besar, kita punya kesempatan bangun dari mimpi buruk lebih kuat
dan lebih berkomitmen untuk memastikan kehidupan lebih baik bagi semua orang Amerika,
termasuk mereka yang secara tragis Anda tipu”. Brennan me-mention Presiden Donald Trump yang
dalam twit-nya menuding mantan Direktur FBI James Comey—yang menerbitkan buku
baru A Higher Loyalty: Truth, Lies, and
Leadership (2018)—sebagai pembocor dan pembohong. Comey dipecat Trump
pada 9 Mei 2017, setelah ia gigih
mengusut keterlibatan Rusia di kemenangan Trump pada Pilpres AS 2016.
Cuitan Brennan membangkitkan kembali
istilah lama: kakistokrasi (kakistocracy). Istilah itu berasal dari bahasa
Yunani; kakistos (buruk) dan kratos (pemerintahan). Cuitan Brennan pun
menjadi viral dalam sekejap. Situs kamus Merriam-webster bahkan menyebutkan
pencarian kata kakistokrasi sebagai pencarian tertinggi, yaitu meningkat
13.700 persen sejak di-twit Brennan. Banyak orang penasaran: apa
kakistokrasi? Kakistokrasi adalah pemerintahan orang-orang terburuk
(Merriam-webster.com) atau pemerintahan orang-orang tak layak dan tak
kompeten (Oxford Dictionary), atau pemerintahan oleh orang yang paling tidak
pantas, tidak mampu, atau tidak berpengalaman (dictionary.cambridge.org).
Istilah kakistokrasi paling awal
muncul pada 1644 dalam khotbah Paul
Gosnold di St Maries, Oxford. Lalu dipakai novelis Inggris, Thomas Love
Peacock dalam The Misfortunes of Elphin (1829); senator AS pembela perbudakan
William Harper (1838); penulis Inggris John Martineau mengenai situasi di Australia (1869); dan penyair AS
James Russell Lowell saat bersurat ke koleganya, Joel Benton (1876). Tak
heran, The Washington Post (13/4/2018) menulis kakistokraksi sebagai kata
kuno yang berusia 374 tahun.
John Martineau menggambarkan makna
kakistokrasi lebih jelas dalam catatan perjalanannya, Letters from Australia
(1869). André Spicer, profesor perilaku organisasi di Cass Business School di
Universitas London menulis tentang gambaran kakistokrasi yang dikisahkan
Martineau, yakni kualitas layanan publik yang sangat buruk oleh pemerintah di
Australia, para politikus yang melayani diri mereka sendiri, dan perdebatan
politik yang sangat kasar sehingga ia bertanya-tanya apakah koloni baru itu
akan menjadi kakistokrasi (Theguardian.com, 18/4).
Fenomena seperti itu tak jauh beda dengan kondisi sekarang.
Bukan cuma gaya pemerintahan Trump yang dicap sebagai kakistokrasi, melainkan dalam batas
tertentu gejalanya mirip kondisi politik dalam negeri saat ini.
Ekspresi politik di era demokrasi
ini lebih mencerminkan watak kakistokrasi. Para politikus mempertontonkan
kekasaran berpolitik yang bikin sumpek ruang politik. Politik kebencian yang
provokatif dan agitatif jadi konsumsi paling getir di benak publik.
Perdebatan politik tidak produktif, hanya terjebak pada diksi kasar yang
makin menjauh dari esensi bangsa dan negara. Belum lagi perilaku koruptif
yang masif di legislatif, eksekutif, dan yudikatif.
Tidak sedikit politikus di
parlemen (legislatif) tak
mengoptimalkan jalur parlemen untuk mengoreksi atau mengkritik pemerintah
(eksekutif). Sebaliknya, memilih cara berisik berkoar-koar lewat media
sosial. Padahal, media sosial adalah hamparan luas tempat timbunan ”sampah”,
tempat komunikasi tuna-adab, dan tempat kebebasan tuna-tanggung jawab.
Begitu dominannya watak buruk di
arena politik itu membuat pemerintahan sekarang nyaris tidak menemukan
momentum yang baik. Hampir semua kebijakan dikritik. Katanya kritik, tetapi
lebih beraroma mempertontonkan kekurangan pihak lain ketimbang semangat untuk
mengoreksi. Bahkan ada partai pendukung pemerintah (tentu dapat kursi di
kabinet), tetapi para elitenya ikut berteriak keras kepada pemerintah dari
”luar pagar”.
Mengapa terjadi? Tak lain karena
soal rebutan kekuasaan. Terlebih Pilpres 2019 tinggal selangkah. Demokrasi
tidak dipandang bergantian memegang mandat rakyat. Artinya tidak legawa juga memberi
kesempatan pemenang untuk mengelola negara. Maka banyak orang buru-buru
berburu kuasa, tidak sabaran. Jadi teringat gambaran Machiavelli (1531)
tentang watak singa (lion) yang kuat dan rubah (fox) yang licik. Tipikal
singa untuk menakut-nakuti dan tipikal rubah jeli memakai tipu daya untuk tak masuk jebakan. Demi
kuasa, segala cara bisa dihalalkan.
Apakah ini mengarah ke
kakistokrasi ketika politik didominasi oleh perilaku buruk dan kasar, yang
dapat menihilkan kerja-kerja pemerintah sekarang? Malu pada pejuang bangsa
seperti Kartini yang hari lahirnya
diperingati pada hari ini.
Dalam sepotong suratnya kepada EH Zeehandelaar, 25 April 1903, Kartini
menulis, ”Kami hendak bekerja untuk
bangsa kami, membantu mendidiknya, mengangkatnya ke tingkat derajat
kemanusiaan yang lebih tinggi”. Hari ini, lebih seabad kemudian, adakah
elite politik yang benar-benar tulus berjuang mengangkat derajat kemanusiaan
bangsa ini? ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar