Sesudah
“Kejutan Golkar”
Boni
Hargens ; Direktur
Lembaga Pemilih Indonesia (LPI)
|
KOMPAS,
17 Mei 2014
|
SESUDAH
9 April 2014, tema koalisi menjadi wacana dominan. Skenario koalisi, sebagai
kelompok partai yang bekerja sama dengan alasan dan untuk tujuan yang sama
(Riker, 1962), kini bermunculan. Sebagian besar partai agama tampaknya
mendukung Prabowo Subianto setelah ”ketegasan PPP” yang disusul PAN.
Sementara dua partai terkuat, PDI-P dan Golkar, kini mengental setelah Golkar shock, kejutan Golkar, yang
tiba-tiba kecenderungannya mendukung pencapresan Joko Widodo setelah sempat
memberi angin segar kepada Prabowo.
Optimisme menang
Seperti
apa pun formasinya, koalisi selalu didasari optimisme untuk menang. Pada
tataran operasional, ada tiga tujuan dasar: (1) tujuan kebijakan; (2) tujuan
karier; dan (3) tujuan jabatan. Yang disebut koalisi ideologis sebetulnya
mengacu pada dua tujuan pertama.
Koalisi
dibentuk untuk merealisasikan kebijakan tertentu dan untuk membangun politik
jangka panjang, termasuk memenangi pemilu berikutnya. Model koalisi seperti
ini disebut ”ideologis”. Koalisi juga bisa taktis, sekadar memenangi pemilu
dan berbagi jabatan. Formasi ini biasa dalam politik dan disebut ”koalisi
pragmatis”.
Masih
dalam konteks ini, manuver koalisi Pemilu Presiden 2014 bisa dikelompokkan
dalam tiga model.
Pertama,
koalisi teknis, mengacu pada formasi yang berorientasi memenuhi ambang batas
20 persen kursi DPR atau 25 persen suara nasional dalam UU No 42/2008. Model
anteriori seperti ini berorientasi pada pencalonan presiden dan bagaimana
memenangi kontestasi. Koalisi teknis biasanya bermasalah dalam merumuskan
tujuan koalisi, apakah polisial, karier, ataukah murni pragmatis.
Kedua,
koalisi ideologis, model yang tak membicarakan jatah kekuasaan. Mereka tidak
memerlukan waktu lama untuk merumuskan format koalisi karena landasan
ideologi yang sama memudahkan kombinasi. Tidak banyak partai yang siap dengan
model ideal seperti ini.
Ketiga,
koalisi yang terbentuk dengan alasan utopis. Ada dua keyakinan semu, bahwa
(1) besar-kecil koalisi mencerminkan besar-kecil peluang kemenangan dan (2)
pemerintahan yang kuat memerlukan koalisi parlemen yang kuat. Keyakinan ini
tak lebih dari sekadar utopia. Tak selamanya mesin besar memenangi pemilihan.
Pilkada DKI Jakarta 2012 menjadi preseden jelas.
Lalu,
kredo koalisi gemuk menjamin stabilitas. Selama 2004-2010 kita diperintah
oleh megakoalisi. Di parlemen kekacauan malah makin liar. Dalam tubuh
pemerintahan, soliditas selalu masalah. Akibatnya, koalisi gendut hanyalah
format. Substansinya, koalisi pura-pura.
Benarkah
mesin politik determinan? Survei Kompas (14 April 2014) memecahkan teka-teki
Pemilu Legislatif 2014. Dualisme preferensi politik menjadi kecenderungan
umum. Perdebatannya kemudian, orang memilih karena sosok atau mesin politik?
Untuk
Nasdem, 46,2 persen pemilih mencoblos partai dan 53,8 persen mencoblos calon.
Faktor figur lebih kuat daripada mesin partai, sebagaimana terjadi pada PKPI
(37,5 persen; 62,5 persen). Berbeda dengan perolehan PKS yang 73,1 persen
mencoblos partai, sisanya 26,9 persen mencoblos kandidat. Faktor mesin
politik lebih kuat dari figur.
Tren
yang sama, meski tak sekuat itu, terjadi pada PDI-P (69,3 persen; 30,7
persen), Golkar (57,4 persen; 42,6 persen), Gerindra (55,2 persen; 44,8
persen), Hanura (58,9 persen; 41,1 persen), PKB (60,6 persen; 39,4 persen),
dan PAN (61,6 persen; 38,4 persen).
Keberimbangan,
pada rasio 50:50 antara mesin politik dan figur, terjadi pada Demokrat, PPP,
dan PBB. Gejala ini menegaskan jamaknya preferensi sekaligus longgarnya
ikatan konstituen dengan partai. Makin longgar ikatan itu, makin berubah-ubah
preferensi politik.
Dalam
konteks ini, mesin politik bukan lagi determinan utama. Mesin hanya berfungsi
pada tataran mobilisasi konvensional: patronase dan ikatan keluarga. Dengan
kata lain, manuver koalisi tidak serta-merta menentukan menang-kalah.
Dalam
pemilihan langsung, peran figur begitu sentral. Tentu figur tak bisa
disimplifikasi pada sosok populer karena popularitas hanya syarat umum, bukan
syarat khusus. Orang bisa sangat terkenal, tetapi tidak dipilih. Itu yang
terjadi pada 9 April lalu.
Selain
populer, orang harus diterima, akseptabilitas. Dalam asumsi linear,
akseptabilitas menentukan elektabilitas. Namun, konteks ini bisa ditelikung
oleh anomali ”politik uang”. Seseorang bisa akseptabel, tetapi tidak dicoblos
di dalam bilik suara.
Gagasan dan tindakan
Logika
uang hanya bisa dipatahkan oleh aspek lovabilitas. Lovabilitas tidak lahir
dari pencitraan belaka. Ia lahir dari keseluruhan gagasan dan tindakan
politik atau lahir dari sebuah ”revolusi mental” dalam bahasa Jokowi (Kompas,
10/5).
Setelah
dikenal, diterima, figur perlu dicintai agar pasti dipilih. Lovabilitas
inilah yang menguatkan elektabilitas Jokowi dalam Pilkada 2012 DKI Jakarta.
Lembaga-lembaga survei dulu gagal membaca aspek lovabilitas ini sehingga
keliru memprediksi kemenangan Jokowi di Jakarta.
Uang tentu saja bekerja begitu liar dalam politik, tetapi ia tidak
efektif menggeser preferensi politik terhadap figur yang lovabel. Maka, seharusnya bukan koalisi utopis yang dibangun,
melainkan koalisi semangat, gagasan, dan niat untuk Indonesia baru. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar