Renggo
Khadafi
Sarlito
Wirawan Sarwono ; Psikolog
Universitas Indonesia
dan
Universitas Pancasila
|
KOMPAS,
13 Mei 2014
|
BOCAH
kelas V SD ini tewas dipukuli kakak-kakak kelasnya.
Sebelum
itu, Dimas Dikita Handoko, taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran, juga tewas
dipukuli senior-seniornya. Begitu juga nasib Tasman Hidayat, taruna Sekolah
Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri, di tahun 2001. Namun, Alawi yang siswa SMA
Negeri 6 Jakarta tewas pada September 2012 saat makan gultik (gulai tikungan)
dan tiba-tiba dicelurit oleh segerombolan siswa SMA Negeri 70.
Namun,
mereka tidak sendiri. Belakangan kian banyak orang mati atau luka parah oleh
temannya sendiri, bekas pacar, anak atau cucu sendiri. Bahkan, orangtua
sekarang pun tega membunuh anak sendiri. Pendeknya, sekarang ini untuk jadi
pembunuh tak perlu jadi penjahat bertopeng seperti dalam komik-komik ketika
saya masih kecil. Pembunuh-pembunuh sekarang adalah orang biasa, orang
baik-baik, malah anak-anak juga. Hancur sudah teori Lombrosso yang
mengatakan, kita bisa membedakan kriminal dari orang normal dengan melihat
tipe raut wajah.
Namun,
cobalah lihat wajah-wajah Nazaruddin, Antasari, Anas Urbaningrum, Miranda
Goeltom, Angelina Sondakh, Ustaz Guntur Bumi, dan mantan Ketua BPK Hadi
Poernomo. Apa beda yang signifikan antara wajah mereka dan BJ Habibie, Gus
Dur, Raisa (penyanyi), atau Sule (komedian)? Tidak ada, kecuali mungkin yang
satu lebih cakep, yang lain lebih jelek. Kesimpulannya, zaman sekarang orang
baik-baik bisa jadi penjahat.
Cipta-rasa-karsa
Ki Hajar
Dewantara pernah mengatakan ada tiga daya dalam jiwa manusia, yaitu cipta,
rasa, dan karsa. Konsep struktur jiwa manusia yang bersumber pada filsafat
kejawen ini (tridaya) sama dengan pandangan filsuf Plato (abad IV SM)
tentang logisticon, thumeticon, dan
abdomen. Cipta adalah akal (logisticon, logika, kreativitas), rasa
adalah emosi (thumeticon, sayang,
cinta, benci, gembira, cemburu, marah, bahagia), dan karsa adalah motivasi
(abdomen, kehendak, semangat, keinginan, dan lain-lain).
Dalam
konsep pendidikan humanistik, yang oleh Ki Hajar diterapkannya pada lembaga
pendidikan Tamansiswa, ketiga daya ini harus dikembangkan secara maksimal dan
seimbang. Cipta yang tinggi akan melahirkan pemikir-pemikir yang cerdas. Rasa
akan membuat anak didik menjadi orang yang penuh empati dan mencintai semua
manusia dan seisi alam. Sementara karsa akan memunculkan semangat juang dan
pantang menyerah.
Memang
dalam kehidupan sehari-hari kita menyaksikan orang Indonesia sekarang sangat
kuat dalam aspek cipta dan karsa. Beberapa orang Indonesia bisa jadi
konglomerat kelas dunia, olimpiade-olimpiade IPA dan Matematika internasional
dimenangi anak-anak Indonesia. Orang Indonesia sudah bisa membuat mobil
sendiri, beberapa penyanyi Indonesia sudah go internasional. Jangan lupa,
berapa banyak orang awam yang menjadi caleg, baik yang lolos maupun gagal,
modalnya tentu karsa yang kuat.
Di sisi
lain, daya rasa orang Indonesia sangat lemah. Orang Indonesia sangat kurang
bisa berempati, yaitu merasakan apa yang dirasakan orang lain. Tidak usahlah
jadi seorang Bunda Teresa, tetapi setidaknya manusia harus bisa mempraktikkan
the golden rule of ethics, yaitu jangan melakukan sesuatu kepada orang lain,
yang kau sendiri tidak mau orang lain melakukannya kepadamu (Khonghucu).
Gampangnya, jangan memukul orang kalau kau tak mau dipukul, karena dipukul
itu sakit. Sementara kakak-kakak kelas Renggo tidak hanya memukul, tetapi
memukuli Renggo hingga tewas.
Karsa tanpa rasa
Orang
sering menyalahkan pelajaran Budi Pekerti dan Agama untuk perbuatan kriminal
yang dilakukan orang normal. Tetapi bukan di situ soalnya. Sebagus-bagus
pelajaran-pelajaran moral itu, sifatnya tetap hanya pada tataran cipta, yaitu
pengetahuan, hafalan, atau skill
(shalat, mengaji), yang dilakukan dengan karsa yang tinggi, tetapi
tanpa rasa. Karena itu, orang bisa bersemangat sekali pergi umrah, tetapi
tetap korupsi.
Untuk
mengembangkan daya rasa diperlukan praktik hubungan emosional yang positif
dengan orangtua, keluarga, guru, teman, dan orang-orang terdekat dengan anak.
Anak perlu ciuman, rangkulan, didengarkan, dipuji (bukan hanya dimaki),
dibanggakan, agar dia pun bisa mengasihi, mendengarkan dan memberikan
semangat kepada orang lain. Inilah yang hampir tidak terjadi lagi pada banyak
manusia Indonesia (apa pun alasannya). Akibatnya, kalau anak itu masih seumur
kakak kelas Renggo, dia bisa membunuh adik kelasnya, tetapi kalau ia menjadi
pejabat Badan Pertanahan Nasional, ia bisa menciptakan sertifikat tanah ganda
sehingga kelompok masyarakat saling berbunuhan.
Pertanyaan
saya, ke manakah Pancasila kita? Pancasila adalah tentang rasa: rasa
ketuhanan, kemanusiaan, kebangsaan, keadilan, dan rasa berbagi dalam
bermusyawarah. Tanpa Pancasila, hukum pun jadi mainan para politisi dan mafia pengadilan. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar