Kita
Ini Hanya Boneka Belaka
Mohamad
Sobary ; Esais, Anggota
Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia,
untuk
Advokasi, Mediasi, dan Promosi
|
KORAN
SINDO, 12 Mei 2014
|
Pak
Gepeto menjadi terkenal di seluruh dunia karena dia membuat boneka dari kayu
yang panjang hidungnya bukan main, lebih panjang dari hidung Mbah Petruk yang
kita kenal. Boneka ciptaan Pak Gepeto itu diberi nama Pinokio. Anak-anak di
seluruh dunia tahu siapa Pinokio.
Dia
boneka yang tiba-tiba hidup. Popularitasnya membuat Pak Gepeto bisa
numpangterkenal. Dalamduniasastradandunia penciptaan pada umumnya, tak
terlalu aneh bila sang pencipta kalah terkenal dibandingkan ciptaannya. Hasil
karya Pak Gepeto ini berkebalikan dengan idiom Jawa karena boneka ini menjadi
manusia, sedangkan dalam idiom Jawa, manusia bisa ”dibikin” menjadi sekadar
boneka. Orang Jawa yang kecerdasan batiniahnya tumpul sehingga dia menjadi
bagaikan boneka tanpa perasaan bisa membuat orang menyebutnya––dengan rasa
marah–– ”lempung kepanjingan nyowo”, boneka dari tanah liat yang bernyawa
tapi tak memiliki perasaan.
Makin
lama saya percaya, semua politikus kita, hampir tanpa kecuali, hanyalah
boneka. Ada yang menjadi boneka bagi ambisi politiknya, ada yang menjadi
boneka bagi nafsunya untuk terkenal, ada lagi yang menjadi boneka karena
ingin menjadi orang kaya, syukur bila bisa menjadi kaya dalam waktu singkat.
Tapi ada juga yang menjadi boneka bagi hasrat yang menggebu-gebu untuk menjadi
orang terpandang dan ada pula yang menjadi boneka karena rasa penasaran yang
menyalanyala: benarkah dia tak punya sedikit pun nasib baik untuk menjadi
presiden?
Terhadap
ambisi politik, nafsu untuk terkenal, keinginan untuk kaya, hasrat menjadi
orang terpandang maupun rasa penasaran yang menggelisahkan, kita sering tak
berdaya. Kita seperti diombang-ambingkantakmenentu. Denganbegitu kita sering
tidak menjadi tuan bagi diri kita sendiri, melainkan menjadi hamba. Kita
seolah menjadi mainan, seperti boneka. Ironi hidup sering agak memalukan:
sebenarnya kita sudah menjadi budak, tapi kita merasa sebagai tuan. Sering
kita masih merasa bahwa kita telah berada di suatu wilayah keabadian, padahal
sebenarnya kita sudah nyungsep di dalam comberan kefanaan yang hina.
Tak
mengherankan bila di sekitar kita ini selalu ada saja boneka yang tak
menyadari bahwa dirinya hanyalah boneka. Boneka macam ini pun bisa saja
dengan pongah menuding orang lain sebagai boneka. Tahukah kita ini jenis
boneka macam apa? Aliansi politik mengubah manusia, politisi, menjadi boneka
yang tak punya pilihan bebas. Ini jenis boneka demi ambisi politik, nafsu
untuk terkenal, keinginan menjadi kaya, hasrat untuk menjadi terpandang,
sekaligus menjadi boneka bagi rasa penasaran dalam memandang nasib
pribadinya, mengapa tiap saat selalu kalah.
Apakah
dirinya khusus dicipta untuk menjadi orang kalahan? Apa pun kategorinya, saya
kira, boneka ya boneka. Dia telah mereduksi kemuliaan-kemuliaan dan keagungan
sendiri. Dia bukan lagi individu yang mandiri dan otonom. Tapi mengapa di
dunia ini ada saja orang yang bersikap seperti maling berteriak maling? Etika
keagamaan dan politik itu intinya mengajak kita menghormati orang lain.
Politisi yang terhormat memenuhi aturan etis itu. Di mata politisi yang terhormat,
lawan politik pun dihormati. Itu dulu, ketika Indonesia belum bangkrut secara
politik.
Kini
politisi besar sudah pergi dan tak pernah kembali. Apa yang sekarang tersisa
hanya politisi kecil. Kalau sekarang ada yang kelihatan besar, mungkin hanya
suaranya, ambisinya, dan segenap keserakahannya. *** Saya bukan politisi,
bukan orang partai, bukan pula suatu organ partai, dan bukan bagian apa pun
dari apa yang disebut kampanye partai. Tapi sikap politik saya memihak secara
tulus pada kebenaran yang saya yakini. Dengan begitu jelas, sikap ini tidak
meminta bayaran uang atau hadiah jabatan karena ketulusan tak bisa dinilai
dengan harta dunia dalam corak apa pun.
Juga
tidak ditukar dengan puji-pujian dan tepuk tangan yang belum tentu tak
menjebak. Pendirian politik ini boleh jadi juga merupakan gambaran bahwa saya
pun hanya boneka. Tapi saya boneka bagi aspirasi kultural yang berkembang
sejak lama, yang mendambakan agar negeri ini dipimpin lagi oleh orang yang
siap untuk mengabdi pada kesejahteraan bangsa, khususnya kaum miskin yang
hingga kini belum tahu bagaimana rasanya menjadi tidak miskin. Jika ada orang
menilai sikap politik ini sebagai kampanye, ada baiknya ditegaskan, pemihakan
ini lebih dalam dari sekadar kampanye yang kehilangan kiblat ideologis, yang
sibuk menjelekkan pihak lain.
Sebagai
warga negara saya sedang memainkan ideologi kerakyatan dan sikap yang jelas
membela agar ideologi itu diterapkan dalam tindakan politik yang jelas. Apa
salahnya bila ada politisi, yang diberi mandat oleh ketua partai atau suatu
keputusan musyawarah partai, menjadi wakil suara nilai-nilai, suara ideologi,
dan representasi perjuangan partainya? Jarang orang bersedia menjadi sejenis
lilin yang siap menerangi kegelapan di sekitarnya dengan risiko punah di
”sini”, tapi abadi di ”sana”? Hanya politisi besar yang siap menjalani
casting peran seperti itu.
Hanya
partai yang masih agak waras yang masih ingat akan perlunya mengatur peran
ini, peran itu, agar ideologi partai itu tak membekudanmenjadibatuyang bisu
terhadap jerit kaum miskin dan rakyat pada umumnya, yang tersia-sia dalam
masa kepemimpinan yang tak peduli pada negara, bangsa, dan rakyat sendiri.
Mulialah boneka yang berperan demi kesejahteraan rakyatnya. Mulialah boneka
yang menunjukkan bahwa dirinya masih merupakan wujud tersambungnya idealisme
masa lalu, yang agung dan besar, dengan kehidupan politik partai hari ini.
Boneka seperti ini berapa harganya? Ini pun tak diperjualbelikan.
Di dunia
politik, masih ada idealisme yang mengambang di depan hidung, yang bisa
diterjemahkan menjadi apa yang disebut ”praksis pembebasan” untuk bangsa.
Duit tak selalu relevan dalam perjuangan sejati seperti itu. Ini baru menjadi
boneka untuk partai, untuk golongan, untuk bangsa. Nabi-nabi, para rasul, dan
orang-orang suci menjadi boneka Tuhan untuk menunjukkan bahwa hidup ini
berada di bawah kendali kepemimpinan ”langit” yang agung dan mereka semua,
yang mulia-mulia tadi, sungkem,
sujud
dengan jiwa taat, sendiko dawuh, dan tak merasa hina menjadi boneka Tuhan.
Jelas bahwa boneka itu barang agung dan mulia dan bukan kata benda, bukan kata
jadian, bukan pula kata jadi-jadian. Boneka ini kata kerja, yang mengabdi,
tapi memilih pengabdian mulia bagi kemuliaan manusia, negeri, dan warganya.
Siapa mau menghina boneka sesudah tahu bahwa kita ini hakikatnya hanya boneka
belaka? ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar