Presiden
Pilihan Kaum Perempuan
Siti
Rubaidah ; Pemerhati
Sosial
|
SINAR
HARAPAN, 10 Mei 2014
|
Bangsa
Indonesia baru saja menyelesaikan hajat besar pemilihan legislatif (pileg).
Kita patut bersyukur proses pemilu berjalan lancar, aman, dan sukses,
walaupun tak dapat disangkal, di mana-mana kita mendengar dan melihat masih
banyak kecurangan dan pelanggaran. Politik uang dan pragmatisme masyarakat
masih kuat dan dominan dalam Pileg 2014.
Pesimisme
bahwa partisipasi rakyat semakin menurun yang menunjukkan rakyat semakin
pasif terhadap pemilu ternyata terbantahkan.
Hal ini
terbukti dari hasil hitung cepat yang dibuat Cyrus Network dan Center
for Strategic and International Studies (CSIS) yang menunjukkan, jumlah
golput dalam pileg kemarin berkisar 24,8 persen dari 185 juta pemilih,
dibandingkan dengan angka golput pada Pemilu 2009 yang mencapai 29,01 persen.
Sementara itu, KPU menyatakan, tingkat partisipasi masyarakat pada Pemilu
2014 mencapai 75 persen, naik 4 persen dibandingkan Pemilu 2009.
Kondisi
di atas menunjukkan, mulai tersemai benih-benih harapan baru di masyarakat
terhadap demokratisasi dan wajah perpolitikan Indonesia. Keterpurukan bangsa
dengan semakin mengguritanya problem-problem bangsa, seperti korupsi,
kemiskinan dan adanya gap antara yang kaya dan miskin membuat masyarakat tak
bisa begitu saja menutup mata terhadap segala persoalan yang ada.
Kondisi
ini yang memotivasi banyak kalangan aktivis yang pada pemilu-pemilu
sebelumnya mengambil posisi golput, kemudian berbondong-bondong mengambil
peran dan masuk pencalegan serta bertarung dalam pileg.
Tentunya,
tak semua berhasil, bahkan kebanyakan mereka terpental kalah oleh politik
uang dan bobroknya sistem yang ada. Akan tetapi, paling tidak, mulai
terbangun perimbangan peta politik. Ada upaya melawan sistem lama yang
bobrok, korup, dan berpihak kepada kepentingan modal.
Dalam
upaya meningkatkan peran dan posisi perempuan di politik, Undang-Undang (UU)
Pemilu kita mengamanatkan kuota keterwakilan perempuan 30 persen di setiap
daerah pemilihan (dapil) dan partai politik (parpol). Memang dalam
pemenuhannya banyak kendala dan batu sandungan yang dihadapi. tetapi semangat
terus mengawal dan menuntaskannya menjadi semangat bersama.
Jadi ke
depan, kita bisa mendudukkan perempuan dan laki-laki dengan setara dan
sejajar. Kini, kita memulai tahap baru, yakni pra-Pemilihan Presiden
(Pilpres) 2014. Pilpres yang rencananya digelar pada Juli 2014 juga menarik
dicermati. Berbeda dengan tradisi politik yang terjadi pada masa-masa
sebelumnya, ketika selalu terpampang wajah-wajah lama dan tua, kini
bermunculan wajah-wajah muda dari berbagai latar belakang. Tak hanya melulu
dari kalangan politikus dan militer.
Dari
gambaran hasil penghitungan suara yang menempatkan Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan (PDIP), Golongan Karya (Golkar), dan Gerakan Indonesia Raya
(Gerindra) sebagai partai dengan perolehan suara terbanyak dalam pileg
kemarin, mulai jelas siapa nama-nama calon presiden (capres) yang akan
bertarung dalam pilpres.
Nama
Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo, dengan segala pro dan kontranya mulai
beredar di masyarakat. Sementara itu, Aburizal Bakrie yang semula menguat
dalam bursa pencapresan mulai mengendor.
Bursa
calon wakil presiden (cawapres) semakin berwarna. Ada nama Mahfud MD, Jusuf
Kalla, Rhoma Irama, Muhaimin dari kubu PKB, serta ada Dahlan Iskan, Gita
Wirjawan, dan Anis Baswedan yang muncul dari Konvensi Demokrat. Dari kubu
militer, ada nama Ryamizard Ryacudu.
Tak Sekadar Dukung
Membaca
dan menyimak perpolitikan yang ada, kini kaum perempuanpun harus menentukan
sikap dan keberpihakannya.
Jika
menyimak dua nama yang sudah menjadi tokoh sentral dalam bursa pencapresan,
setidaknya kaum perempuan mulai menyadari, gerakan perempuan pilih perempuan
yang pernah digencarkan ketika Megawati masuk bursa pencapresan kali ini
tidak berbunyi, kecuali konstelasinya berubah, misalnya Risma, Wali Kota
Surabaya yang pernah digaungkan beberapa waktu lalu, digaet salah satu capres
yang ada untuk mendampinginya sebagai cawapres.
Secara
umum, banyak perempuan aktivis yang mulai membuat kriteria dan menentukan
nama capres yang dianggap mampu membawa perubahan, tentunya mengakomodasi
kepentingan perempuan.
Kecenderungan
umum yang tampak, mayoritas perempuan aktivis memilih nama Jokowi dan menolak
Prabowo. Hal ini didasarkan fakta, ada trauma dari kalangan perempuan melihat
track record Prabowo, yang, menurut
banyak fakta dan data, terindikasi sebagai pelanggar hak asasi manusia (HAM)
berat dalam proses menuju Reformasi.
Salah
satunya adalah trauma terjadinya pemerkosaan dan pelecehan seksual secara
massal terhadap perempuan dari etnis Tionghoa pada kerusuhan Mei 1998.
Kecenderungan inilah yang melandasi kenapa beberapa waktu lalu muncul
Perempuan Pendukung Jokowi. Mereka tidak hanya berasal dari latar belakang
PDIP yang sejak awal mengusung nama Jokowi, tapi juga banyak aktivis yang
terlibat, kaum profesional, bahkan perempuan buruh.
Tak
sekadar deklarasi pembentukan Perempuan
Pendukung Jokowi, para perempuan ini pun serius mencantumkan program
politik dan kebijakan yang harus dilaksanakan Jokowi jika terpilih menjadi
presiden. Demikianlah seharusnya, kita tak sekadar mendukung nama. Namun yang
lebih penting, memberi sodoran program. Itu karena dengan program itulah kita
mampu mengontrol presiden terpilih dalam pemerintahannya lima tahun ke depan.
Semoga! ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar