Pemimpin
Profetik
Husein
Ja’far Al Hadar ; Peminat
Masalah Agama
|
TEMPO.CO,
17 Mei 2014
|
Pemimpin
adalah wakil Allah (khalifatullah)
di bumi atau suatu negara. Jika disadari dalam kerangka itu, kepemimpinan tak
akan dipahami, dihayati, dan dijalankan sebagai yang profan-imanen, melainkan
sakral-transenden. Pemimpin adalah gelar profetik, sehingga tak ada bedanya
antara pemimpin negara dan imam salat atau khatib Jumat.
Sebab,
pada dasarnya, kepemimpinan adalah sebuah tugas suci, meski itu dilakoni di
negeri sekuler sekalipun. Apalagi pemimpin Indonesia, negeri berdasarkan
Pancasila yang sangat religius ini. Sebagaimana seorang imam atau khatib, ia
bukan hanya mengemban amanat rakyat atau umat, tapi juga amanat Tuhan. Karena
itu, ia harus pribadi yang paling memiliki sifat-sifat ketuhanan: adil,
bijaksana, rahman (pengasih), rahim (penyayang), dan sebagainya. Inilah
(seharusnya) visi-misi dasar seorang pemimpin (politik).
Visi-misi
profetik itulah yang kerap absen dalam kontestasi kepemimpinan (politik) di
negeri ini. Maka, penulis kerap menemui sebagian kita yang sering merasa tak
pantas dan saling dorong saat diminta menjadi imam salat atau khatib Jumat,
tapi begitu bernafsu dan saling berebut menjadi pemimpin negara. Bahkan,
memperebutkannya dengan menghalalkan segala cara. Maka, nilai profetik
kepemimpinan pun menjadi sirna. Kepemimpinan hanya dipahami sebagai jabatan,
rakyat sebatas komoditas, dan koalisi dijalankan dalam kerangka "dagang
sapi". Padahal, sebagaimana kata Sayidina Ali bin Abu Thalib dalam salah
satu wasiatnya sebagai khalifah pada Malik Asytar, pola pandang seorang
pemimpin pada rakyatnya harus berbasis subyek-subyek, bukan subyek-obyek.
Jadi,
pemimpin akan benar-benar merasakan perasaan, keluhan, dan harapan rakyatnya.
Dengan begitu, para pemimpin menyadari, tidak bisa tidak, mereka harus
merangkul rakyat dalam kepemimpinannya sebagai urusan bersama (res publica).
Mereka juga selalu menyadari bahwa kekuasaan sejati selamanya milik rakyat.
Maka,
dalam konteks kepemimpinan yang profetik, sebagaimana menjadi isi doa Emha
Ainun Nadjib (2012), para bakal calon pemimpin justru harus berharap bisa
menjadi "pemimpin boneka". Namun, tentu bukan "boneka
manusia", tapi "boneka Allah". Dengan begitu, pemimpin kita
benar-benar seorang khalifatullah di Indonesia.
Akhirnya,
seperti didendangkan Iwan Fals, pemimpin memang sepatutnya "manusia
setengah dewa". Seorang manusia yang memiliki sifat-sifat ketuhanan atau
para dewa. Namun, seperti dikemukakan Sayyid Fadlullah (ulama Libanon),
visi-misi pemimpin profetik itu bukan berarti untuk membentuk "negara
agama" (daulah diniyah) atau
mau menyesatkan agama, keyakinan, atau mazhab lain atas nama kemurnian. Tapi,
untuk membentuk "negara kemanusiaan" (daulah insaniyah). Sebab, ketika nilai-nilai kemanusiaan tegak
(keadilan, perdamaian, kesejahteraan, toleransi, dll), di sanalah visi agama
dan nilai-nilai ketuhanan bersemi. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar