Musikalitas
Joey Alexander
Denny
Sakrie ; Pengamat Musik
|
TEMPO,
10 Mei 2014
|
Indonesia
bukan negeri jazz, bahkan juga tak memiliki keterkaitan dengan akar jazz yang
berkembang di Amerika Serikat. Tapi seorang anak lelaki Indonesia berusia 10
tahun mampu membuat sejumlah pemusik jazz dan penggemar musik ini terpukau
dan melakukan standing ovation.
Itulah peristiwa seusai Joey Alexander, pianis jazz kelahiran Bali, memainkan
mahakarya jazz Round Midnight, yang
ditulis pianis Thelonius Monk pada era 1940-an.
Semua
mata yang berada di ruangan Frederick P. Rose Hall "The House Of Swing" yang berlokasi di Broadway 60th
Street, New York, terarah ke Joey saat menjentikkan jari-jemarinya yang
mungil di atas tuts grand piano dalam acara gala dinner yang digagas trumpetis jazz peraih sembilan
Grammy Award, Wynton Marsalis, di Jazz At Lincoln Center pada 1 Mei
lalu.
Acara
bertajuk Love, Loss and Laughter: The
Story of Jazz itu merupakan pergelaran tahunan dari Jazz At Lincoln Center yang digagas oleh Wynton Marsalis. Acara
ini berbentuk musical review yang
menampilkan karya-karya penting dalam sejarah musik jazz yang berkembang dari
New Orleans dan menjalar ke New York hingga menyeruak dalam budaya global.
Joey Alexander diundang ke New York setelah
Marsalis terpukau melihat permainan pianonya membawakan Round Midnight di kanal YouTube.
Marsalis
terpana dengan interpretasi Joey yang belajar piano secara otodidak terhadap
karya Monk yang telah dimainkan para pemusik jazz dari era ke era dalam
berbagai versi.
Joey
Alexander sendiri adalah satu-satunya pemusik yang datang dari luar Amerika
Serikat. Musik jazz pada akhirnya menjadi musik global, bukan lagi musik ras
seperti yang sering menjadi nukilan sejarah. Joey dari Indonesia justru
memainkan musik jazz di negara tempat berkembangnya musik jazz, di hadapan
para pemusik jazz dan penggemar musik jazz.
Sejumlah
media, seperti Wall Street Journal, Down Beat Magazine, dan CBS News menulis
serta meliput penampilan pianis Joey Alexander. Wall Street Journal menulis,
hadirin tak henti-hentinya memperbincangkan penampilan Joey yang dianggap
luar biasa.
Adapun
Down Beat menulis: "Pianis muda
berusia 10 tahun ini berhasil mencuri
perhatian penonton. Bukan hanya penonton yang berdiri melakukan penghormatan
pada Joey, tapi seluruh pendukung Jazz At Lincoln Center Orchestra." Ini sebuah momen yang membanggakan.
Sambutan penonton jazz Amerika bukan hanya kebanggaan Joey Alexander, tapi
juga telah menjadi kebanggaan kita orang Indonesia.
Bagi saya, ini merupakan momen tepat memperkenalkan Indonesia di
mata dunia dalam bidang seni, terutama musik. Selama ini Indonesia hanya
diwartakan dalam bingkai berita-berita seperti gonjang-ganjing politik yang
tak tentu arah dan korupsi yang kian merajalela. Hal-hal yang terasa busuk
seperti mendapat embusan cerah dan wangi lewat peristiwa budaya ini. Jika
Presiden John F. Kennedy pernah berucap: "Kalau
politik kotor, puisilah yang membersihkannya". Maka tak berlebihan
jika saya menyebut: "Jika politik
kotor, musiklah yang membersihkannya." ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar