Minggu, 18 Mei 2014

Menjaga Keamanan Relasi dengan Segala Upaya

Menjaga Keamanan Relasi dengan Segala Upaya

Sawitri Supardi Sadarjoen  ;   Penulis Rubrik Konsultasi Psikologi Harian Kompas, Dekan Fakultas Psikologi Universitas YARSI
KOMPAS,  18 Mei 2014
                                                
                                                                                         
                                                      
Budaya Timur menuntut peran istri dalam posisi subordinat dari otoritas peran suami. Dengan demikian, dapat dipahami apabila mayoritas kaum istri cenderung menghargai posisi suami sebagai pemegang kekuasaan dalam keluarga. Tanpa disadari hal ini menggiring mayoritas istri menjadi sosok yang tidak bebas dalam mengekspresikan diri sebagai sosok seutuhnya dalam lingkup keluarga dan masyarakat.

Sementara ada perempuan-istri yang mampu mengekspresikan gagasan dan ide-ide yang berbeda, bahkan berlawanan dengan suaminya. Dia juga tahu apa yang menjadi prioritasnya. Walaupun demikian, tetap saja dia akan mempertimbangkan untuk mengakomodasi keinginan-keinginan serta harapan-harapan sang suami demi menghindari risiko bertengkar dengan suami agar keamanan dan stabilitas relasi suami-istri dalam keluarga tetap terjaga.

Pada umumnya para perempuan-istri tidak menyadari apa yang mereka lakukan dan kenapa mereka harus bersikap demikian. Mereka juga menghindari peluang untuk menyampaikan gagasan baru dan cara berpikir baru yang mereka perkirakan akan memicu konflik terbuka, terutama dengan seseorang yang bermakna seperti suami. Mereka juga tidak dibolehkan untuk mengidentifikasi aturan tidak tertulis tersebut sebagai sesuatu yang tidak adil, dalam lingkup keluarga, walaupun mereka sebagai kaum istri sebenarnya memiliki peran dan kontribusi penting dalam lingkup hidup berkeluarga.

Mereka juga tidak akan membiarkan dirinya mengikuti satu kegiatan yang membuat suaminya merasa tidak nyaman; mereka akan melakukan testing dengan memberikan pertanyaan kepada suaminya. Misalnya Ny B mengungkapkan keinginannya untuk mengikuti workshop tentang mengelola dorongan agresi pada manusia dengan berkata, ”Saya berandai mengikuti workshop tentang mengelola agresivitas....”

Kemudian Ny B akan secara cermat dan sensitif menilai reaksi nonverbal suaminya. Jika reaksi nonverbal suami terkesan kurang menyetujui, Ny B akan serta-merta seolah bicara dengan dirinya sendiri, ”Agaknya workshop itu tidak terlalu baik, tiketnya pun terlalu mahal, sayang uangnya, ah. Kayaknya saya juga tidak terlampau tertarik dengan topiknya, kok”. Pada dasarnya ungkapan tersebut merupakan cara Ny B untuk justru melindungi suami yang mungkin tidak akan setuju dengan idenya menjadi peserta workshop tersebut.

Pada contoh di atas, Ny B sebagai istri menghindari kemungkinan terjadinya konflik dengan suami, dengan cara mendefinisikan keinginan dan harapan diri sama dengan keinginan dan harapan suaminya. Jadi pada kesempatan yang sama, Ny B mendefinisikan dirinya sama dengan bagaimana suami mendefinisikan dirinya. Dalam hal ini, Ny B mengorbankan kesadaran akan dirinya dengan usaha keras agar keinginan dan ekspektasinya sama dengan keinginan dan ekspektasi suami. Terjadi mekanisme proses pengikisan keutuhan diri Ny B secara berlanjut, yang tanpa disadari membuat Ny B lama-kelamaan justru seolah merasa dan menghayati harmoni relasi yang sempurna dengan sang suami.

Apabila di kemudian hari kondisi tersebut mengembangkan kesulitan atau masalah gangguan emosional bagi diri Ny B, dia tidak akan menghubungkan kesulitan emosional yang dihadapinya dengan kecenderungannya secara berlanjut mengorbankan diri dengan cara tersebut. Hal itu dilakukan demi harmoni relasi yang diperoleh yang sebenarnya harmoni relasi semu yang bertujuan melindungi posisi suami dan menghindarkan diri dari konflik, yaitu mempertahankan rasa nyaman dengan upaya apa pun.

Menghindari konflik

Perempuan-istri seperti Ny B adalah perempuan yang manis dan istri yang penurut serta memiliki kecenderungan untuk selalu menghindar dari konflik. Ditinjau dari sisi lain, sebenarnya perempuan-istri tipe ini adalah sosok perempuan yang mampu mengembangkan keterampilan interaksi dan komunikasi yang menuntut pemberdayaan aktivitas internal dan sensitivitas yang kompleks.

Apabila memiliki kemampuan seperti ini, kita akan mampu mengantisipasi reaksi emosional orang lain dan kita akan lihai dan cekatan untuk melindungi orang lain agar tidak merasa tidak nyaman. Sayangnya, kemampuan ini lebih banyak dikuasai oleh perempuan dan sangat jarang ditemukan pada pihak lelaki.

Andai kata kita semua mampu menguasai keterampilan tersebut untuk kita arahkan bagi diri demi upaya perlindungan diri dari rasa tidak nyaman, kita akan terhindar dari peluang konflik dengan lingkungan di mana kita berada. Damai, tenteram, dan santai tanpa kehilangan kesungguhan dan keseriusan dalam menata keberlanjutan hidup kita. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar