Menjaga
Keamanan Relasi dengan Segala Upaya
Sawitri
Supardi Sadarjoen ; Penulis Rubrik
Konsultasi Psikologi Harian Kompas, Dekan Fakultas Psikologi Universitas
YARSI
|
KOMPAS,
18 Mei 2014
|
Budaya
Timur menuntut peran istri dalam posisi subordinat dari otoritas peran suami.
Dengan demikian, dapat dipahami apabila mayoritas kaum istri cenderung
menghargai posisi suami sebagai pemegang kekuasaan dalam keluarga. Tanpa
disadari hal ini menggiring mayoritas istri menjadi sosok yang tidak bebas
dalam mengekspresikan diri sebagai sosok seutuhnya dalam lingkup keluarga dan
masyarakat.
Sementara
ada perempuan-istri yang mampu mengekspresikan gagasan dan ide-ide yang
berbeda, bahkan berlawanan dengan suaminya. Dia juga tahu apa yang menjadi
prioritasnya. Walaupun demikian, tetap saja dia akan mempertimbangkan untuk
mengakomodasi keinginan-keinginan serta harapan-harapan sang suami demi
menghindari risiko bertengkar dengan suami agar keamanan dan stabilitas
relasi suami-istri dalam keluarga tetap terjaga.
Pada
umumnya para perempuan-istri tidak menyadari apa yang mereka lakukan dan
kenapa mereka harus bersikap demikian. Mereka juga menghindari peluang untuk
menyampaikan gagasan baru dan cara berpikir baru yang mereka perkirakan akan
memicu konflik terbuka, terutama dengan seseorang yang bermakna seperti
suami. Mereka juga tidak dibolehkan untuk mengidentifikasi aturan tidak
tertulis tersebut sebagai sesuatu yang tidak adil, dalam lingkup keluarga,
walaupun mereka sebagai kaum istri sebenarnya memiliki peran dan kontribusi
penting dalam lingkup hidup berkeluarga.
Mereka
juga tidak akan membiarkan dirinya mengikuti satu kegiatan yang membuat
suaminya merasa tidak nyaman; mereka akan melakukan testing dengan memberikan
pertanyaan kepada suaminya. Misalnya Ny B mengungkapkan keinginannya untuk
mengikuti workshop tentang mengelola dorongan agresi pada manusia dengan
berkata, ”Saya berandai mengikuti workshop tentang mengelola agresivitas....”
Kemudian
Ny B akan secara cermat dan sensitif menilai reaksi nonverbal suaminya. Jika
reaksi nonverbal suami terkesan kurang menyetujui, Ny B akan serta-merta
seolah bicara dengan dirinya sendiri, ”Agaknya workshop itu tidak terlalu
baik, tiketnya pun terlalu mahal, sayang uangnya, ah. Kayaknya saya juga
tidak terlampau tertarik dengan topiknya, kok”. Pada dasarnya ungkapan
tersebut merupakan cara Ny B untuk justru melindungi suami yang mungkin tidak
akan setuju dengan idenya menjadi peserta workshop tersebut.
Pada
contoh di atas, Ny B sebagai istri menghindari kemungkinan terjadinya konflik
dengan suami, dengan cara mendefinisikan keinginan dan harapan diri sama
dengan keinginan dan harapan suaminya. Jadi pada kesempatan yang sama, Ny B
mendefinisikan dirinya sama dengan bagaimana suami mendefinisikan dirinya.
Dalam hal ini, Ny B mengorbankan kesadaran akan dirinya dengan usaha keras
agar keinginan dan ekspektasinya sama dengan keinginan dan ekspektasi suami.
Terjadi mekanisme proses pengikisan keutuhan diri Ny B secara berlanjut, yang
tanpa disadari membuat Ny B lama-kelamaan justru seolah merasa dan menghayati
harmoni relasi yang sempurna dengan sang suami.
Apabila
di kemudian hari kondisi tersebut mengembangkan kesulitan atau masalah
gangguan emosional bagi diri Ny B, dia tidak akan menghubungkan kesulitan
emosional yang dihadapinya dengan kecenderungannya secara berlanjut
mengorbankan diri dengan cara tersebut. Hal itu dilakukan demi harmoni relasi
yang diperoleh yang sebenarnya harmoni relasi semu yang bertujuan melindungi
posisi suami dan menghindarkan diri dari konflik, yaitu mempertahankan rasa
nyaman dengan upaya apa pun.
Menghindari konflik
Perempuan-istri
seperti Ny B adalah perempuan yang manis dan istri yang penurut serta
memiliki kecenderungan untuk selalu menghindar dari konflik. Ditinjau dari
sisi lain, sebenarnya perempuan-istri tipe ini adalah sosok perempuan yang
mampu mengembangkan keterampilan interaksi dan komunikasi yang menuntut
pemberdayaan aktivitas internal dan sensitivitas yang kompleks.
Apabila
memiliki kemampuan seperti ini, kita akan mampu mengantisipasi reaksi
emosional orang lain dan kita akan lihai dan cekatan untuk melindungi orang
lain agar tidak merasa tidak nyaman. Sayangnya, kemampuan ini lebih banyak
dikuasai oleh perempuan dan sangat jarang ditemukan pada pihak lelaki.
Andai
kata kita semua mampu menguasai keterampilan tersebut untuk kita arahkan bagi
diri demi upaya perlindungan diri dari rasa tidak nyaman, kita akan terhindar
dari peluang konflik dengan lingkungan di mana kita berada. Damai, tenteram,
dan santai tanpa kehilangan kesungguhan dan keseriusan dalam menata
keberlanjutan hidup kita. Semoga. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar