Fantasi
dan Kekerasan Seksual
Kristi
Poerwandari ; Kolumnis “Konsultasi Psikologi” Kompas
|
KOMPAS,
11 Mei 2014
|
Banyaknya
berita mengenai kekerasan seksual pada anak dan perempuan memunculkan rasa
heran, kemarahan, kemuakan, dan rasa takut. Tantangan besar bagi psikolog
klinis untuk menjelaskan, bagaimana ini dapat terjadi dan bagaimana
mencegahnya?
Persoalan
kekerasan seksual sangat kompleks dan perlu dijelaskan dari berbagai aspek.
Dari sisi psikologi klinis ada dugaan bahwa individu-individu yang perilaku
seksualnya tak terkendali dan menghancurkan orang lain mungkin mengembangkan
fantasi seksual yang khusus. Fantasi mungkin saja muncul dari proses
imajinasi internal sepenuhnya, tapi tampaknya lebih terstimulasi oleh
pornografi, pengalaman-pengalaman seksual sebelumnya, serta peniruan dari
paparan media dan internet tentang seksualitas. Perlu diteliti apakah ada
pengalaman kekerasan di masa kanak.
Karena
fantasi memang merupakan salah satu cara bagi manusia untuk melarikan diri
dari kerasnya realitas, individu dapat membangun fantasi bahwa ia (mereka)
berada dalam posisi yang dominan, kuat, menguasai. Bila dalam realitas di
masa kanak ia adalah korban atau pihak tak berdaya, dalam fantasi ia
membangun gambaran bukan saja dapat mengatasi penganiayaan yang dialami,
tetapi malah mengambil alih peran sebagai pihak yang mendominasi. Bisa jadi
ia tak pernah jadi korban kekerasan, tetapi ia sosok yang sangat butuh
keyakinan bahwa ia kuat, hebat, dominan, pengendali, pemenang. Karenanya ia
terangsang oleh skrip fantasi seksual menjadi orang yang mengendalikan,
menghina, menyakiti, atau menghukum.
Tentu
orang tidak dapat dipidana hanya karena fantasinya, dan fantasi tidak selalu
tertampilkan dalam perilaku nyata. Lagi pula, sebagai makhluk seksual,
manusia punya fantasi seksual yang terkadang terasa ’kurang lazim’ atau
dianggap ’tidak sesuai norma’. Meski demikian, fantasi yang terus berulang
menyebabkan perangsangan seksual dan kebutuhan untuk memperoleh pemuasannya.
Pada cukup banyak orang, yang mulanya fantasi pada titik tertentu akan
berpindah menjadi dorongan untuk menerjemahkannya dalam perilaku konkret atau
nyata.
Pelarian
Saya
belum menemukan buku atau artikel hasil penelitian, tetapi pengamatan
terhadap kasus, dan diskusi saya dengan beberapa teman psikolog klinis
mengerucut pada satu simpulan sementara. Sering perilaku seksual yang
merugikan, merupakan manifestasi dari persoalan lain yang tidak dapat
diselesaikan oleh individu.
Misal,
ada individu yang merasa sangat kesepian, ada dalam hubungan yang buruk
dengan pasangan, melihat diri sebagai ’sosok yang gagal’, atau burn-out parah
dengan pekerjaan. Lalu ia iseng lari pada perilaku seksual tertentu sebagai
pereda ketegangan. Mungkin ia menjelajah situs-situs pornografi di dunia
maya, mengembangkan fantasi dengan skrip tertentu sambil memuaskan diri
sendiri, atau tiba-tiba terpikir ”mengisengi” anak tetangga. Setelahnya, ada
kelegaan sekaligus kepuasan seksual, meskipun sementara, dan mungkin
dibarengi pula oleh rasa takut (akan ketahuan). Ketika ternyata tidak ada
konsekuensi negatif, rasa takut mulai menipis, yang lebih kuat adalah
dorongan pemuasan seksualnya, dan tindakan akan cenderung diulang dan
diulang.
Karena
sifat adiktif dari perilaku, tindakan bukan saja berulang, tetapi akan
meningkat dalam intensitas. Mula-mula mungkin cukup meraba-raba anak
tetangga, akhirnya berlanjut dengan menyuruh anak itu membuka baju, disusul
dengan tindakan-tindakan yang lebih parah. Akhirnya, yang mulanya fantasi
menjadi tindakan nyata yang otomatis, mengarah pada target spesifik,
terencana, terorganisasi.
Pembelajaran
Pelaku
kekerasan seksual itu bukan orang-orang di luar kita, mereka ada di
lingkungan kita sendiri. Belum tentu ia adalah sang pemangsa anak yang sangat
kejam, bisa jadi ia adalah sosok tak percaya diri dan rentan. Ia mungkin saja
paedofil, tetapi bisa jadi pula sosok yang punya istri dan berhubungan
seksual dengan perempuan dewasa.
Mereka
sangat beragam, tetapi mungkin ada kesamaannya: mereka berproses dengan
mencuri-curi, melihat kesempatan, dan melalui pembiasaan perilakunya dapat
bergerak bertahap dari yang ’lebih ringan’ hingga yang paling parah. Dari
awalnya masih punya empati dan rasa kasihan kepada korban, hingga menumpulkan
belas kasihnya dan tak peduli apakah akan meninggalkan luka, menularkan
infeksi menular seksual, bahkan membunuh.
Seksualitas
itu persoalan yang sangat kompleks, dan masih perlu terus dipelajari bahkan
oleh peneliti yang berkecimpung di topik ini. Tentu seks terkait dengan moral
juga, tetapi mengingat manusia pada dasarnya adalah makhluk seksual,
membatasi diskusi mengenai seksualitas dengan kerangka moral saja tidak akan
membantu. Justru karena dianggap kotor dan tabu, orang tidak berani membahas
persoalan seksualnya secara terbuka, dan bukan tidak mungkin, ia tidak mampu
mengendalikan dorongan seksualnya, lalu malah menjadi pelaku kekerasan
seksual.
Pendidikan
seksual–entah dengan nama apa–sangat penting untuk mencegah anak-anak kita
menjadi pelaku ataupun korban kekerasan seksual. Pembaca yang merasa
mengalami kesulitan mengelola fantasi dan perilaku seksualnya, juga
seyogianya mencari bantuan untuk meminimalkan masalah bagi diri sendiri, dan
terhindar dari perilaku yang menghancurkan kehidupan orang lain.
Jangan
sampai kita jadi orang yang sok bermoral menilai dan menghakimi perilaku
seksual orang lain, tetapi ternyata lebih mesum dan jahat daripada orang yang
dihakimi. Memprihatinkan membaca kasus yang diungkap dalam Kompas, 8 Mei
2014, ”Ibu Dua Anak Diperkosa Setelah
Digerebek”. Y (25), seorang janda, diperkosa sejumlah pemuda di kota
Langsa setelah digerebek dan ketahuan berselingkuh.
Jangan
sampai kita menjadi polisi moral yang banyak menasihati dan bicara dosa,
tetapi dinilai oleh Yang Maha Sempurna
sebagai orang yang justru paling perlu dihukum karena munafik dan paling
berdosa. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar