Empati
buat Capres
Toeti
Prahas Adhitama ; Anggota Dewan Redaksi Media Group
|
MEDIA
INDONESIA, 09 Mei 2014
|
MENGAMATI kerepotan partai-partai
politik mencari tokoh-tokoh untuk memimpin negeri ini lima tahun ke depan,
dan menyimak berbagai strategi maupun taktik untuk memilih yang dianggap
memenuhi syarat, timbul empati bagi para capres dan cawapres yang pada waktu
ini ibarat dijadikan wayang.
Bukan hanya para caleg yang bisa
mengalami stres, para capres/cawapres pun rasanya tidak terhindar dari
perasaan tidak nyaman itu. Selain menunggu D-day (istilah sandi untuk langkah
pertama pembebasan Eropa dari Perang Dunia II), mereka pun barangkali
menunggu kapan hiruk-pikuk ini akan berakhir, dengan kemenangan diharapkan
ada di pihak mereka, tentu. Saat-saat ini mereka tiap hari dianalisis,
dipasang-pasangkan dengan tokoh-tokoh berbeda-beda, dipuji, dan dicela untuk
peran masa lalu maupun yang belum sepenuhnya berlalu, dan bahkan yang dibayangkan
akan terjadi di masa depan. Syukurlah mereka tampaknya tokoh-tokoh tangguh.
Jika merenungkan apa yang akan
terjadi Oktober nanti, mungkin saja yang terpilih bukan idola kita. Tetapi,
bila kita memiliki sebentuk empati bagi pasangan pemimpin nanti, beban tugas
dan kewajiban mereka tidak terduga beratnya.
Permasalahan apa yang akan
ditangani pertama? Melihat amburadulnya pemilu legislatif belum lama ini
karena persoalan kejujuran, dan kasus-kasus korupsi raksasa yang merajalela
dan tak kunjung tuntas penyelesaiannya, serta kekerasan seksual terhadap
anak-anak yang marak di banyak tempat, kita sebenarnya memerlukan revolusi
moral. Dari mana mulainya?
Menuntut prioritas
Dalam dialog safari Jokowi,
tokoh NU Solahuddin Wahid menyatakan pembenahan hukum perlu diutamakan. Tak
kalah penting masalah birokrasi yang mengatur tata-negara kita; selain
masalah ekonomi, buda ya, dan sosial. Gus Solah benar.
Di lain pihak, bila kita khusus
bicara soal politik, orde politik sendiri adalah cermin kultur masyarakat secara
umum. Kemampuan melihat isu-isu politik secara dini, dan menanggapinya secara
efektif, bergantung kepada kedewasaan kita dalam sikap dan perilaku politik
maupun komunikasi politik antarkita. Apa konsep-konsep politik yang kita
ikuti selama ini dan yang mungkin masih akan kita jalankan di masa depan?
Kinerja lembaga legislatif yang jauh dari harapan rakyat yang diwakilinya,
dan lembaga eksekutif dengan sistem birokrasi yang mengecewakan, memerlukan
pembenahan politik luar biasa. Kita bersyukur lembaga yudikatif relatif
bersih jika dibandingkan dengan dua lembaga pemerintahan yang disebut
terdahulu; sekalipun ada juga gelintir-gelintir anggotanya yang mengkhianati
profesinya.
Tentang masalah ekonomi, tentu
bukan hanya pertumbuhan ekonomi tinggi yang menjadi andalan. Rakyat tak
mungkin sejahtera bila ketimpangan masih demikian besar. Puluhan juta rakyat
masih tergolong miskin seiring de ngan jumlah pengangguran yang sebanding.
Untuk kese jahteraan rakyat, kita idealnya merujuk lewat Human Development Index (HDI), yang menilai , sejahtera-tidaknya
seorang ma nusia lewat tiga hal: harapan hidup (yang menyangkut masalah
kesehatan), pendidikan, dan penghasilan. Baru setelah ketiganya memenuhi
persyaratan, kita bisa menyebut diri berhasil. Itulah tantangan para pemimpin
masa depan.
Dilemanya, perkembangan dunia
memaksa negara-negara berkembang bersaing bukan hanya satu sama lain, tetapi
juga dengan negara-negara maju. Stabilitas politik menjadi prasyarat untuk
terjaminnya pertumbuhan. Kelompok elite, khususnya di kalangan politik, tentu
menyadari hakikat kebenaran pendapat itu.
Rasanya tidak jujur bila demi
kepentingan kelompoknya, partai politik dengan sewenang-wenang menyisihkan
saingan tanpa mempertimbangkan akibat-akibatnya. Kampanye hitam, misalnya,
tentu menodai kemurnian arti demokrasi.
Kalangan politisi menghadapi
beban berat. Demi kestabilan pembangunan, mereka tidak ingin terjadi gejolak
sekecil apa pun. Di lain pihak, demi , pendulangan suara, mereka dituntut
memberikan janji-janji yang mungkin tidak bisa dipenuhi, sedangkan rakyat tidak
sabar menanti kemajuan yang mempercepat datangnya kesejahteraan. Lebih-lebih
setelah melihat perkembangan rakyat di negara-negara maju maupun di negara
yang belum terlalu lama maju seperti Korea Selatan.
Masalah-masalah itu umum menjadi
percaturan pendapat, kalau bukan adu kekuatan, dalam ajang politik di negara
berkembang. Kadang-kadang percaturan itu demikian mengasyikkan sehingga tema
sentral yang semula menjadi katalisatornya malahan terabaikan, yakni
bagaimana mencari jalan pintas untuk
menyejahterakan rakyat.
Pesan RI-1 masa lalu
Pada Desember 1987, lebih dari
seperempat abad yang lalu, Pak Harto yang menjabat RI-1 waktu itu mengucapkan
pidato-pidato yang mengandung pesan;...“Sejarah
pembangunan bangsa mana pun, dari zaman dahulu hingga sekarang, selalu
melahirkan akibat-akibat samping yang bukan menjadi tujuan pokok pembangunan
itu sendiri. Karena itu, saya sering mengatakan bahwa dalam melanjutkan,
meningkatkan, dan memperluas pembangunan, kita juga harus terus-menerus
mengadakan pembaharuan, jika perlu mengadakan koreksi-koreksi.
Di zaman
serbamaju sekarang, profesionalisme saja tidak akan pernah cukup.
Profesionalisme harus tetap diarahkan wawasan yang benar dan idealisme yang
luhur. Tanpa itu, profesionalisme bisa kehilangan arahnya bagi kebaikan
kehidupan manusia, dapat merendahkan martabat manusia.
Kalau
nilai kesetiakawanan sosial tidak kita hayati dan tidak kita tunjukkan,
persatuan dan kesatuan bangsa kita tidak akan kukuh. Oleh karena itu, saya
mengharapkan agar peningkatan kesetiakawanan sosial benar-benar menjadi
perhatian kita semua....“
●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar