Sandera
Peristiwa 1915
Bernando
J Sujibto ; Peneliti
persoalan Minoritas dan Peacebuilding,
Mahasiswa
Program Pascasarjana Sosiologi Selcuk University, Konya, Turki
|
SUARA
MERDEKA, 17 Mei 2014
|
TANGGAL
24 April 2014 menjadi hari penting bagi Turki setelah PM Recep Tayyip Erdogan
secara terbuka berbicara kepada publik internasional ihwal peristiwa yang
dituduhkan sebagai ”genosida” oleh Ottoman terhadap bangsa Armenia.
Kehadiran
Erdogan dalam pidato khusus yang dibuat dalam 9 bahasa, termasuk Bahasa
Armenia, untuk ”memperingati” ke-99 tahun peristiwa tersebut menuai
kontroversi sekaligus decak kagum. Meskipun beberapa media internasional
seperti Suddeutsche Zeitung dan Le Parisien Daily menilai langkah itu sebagai
kejutan dan bencana politik, sikap kesatria Erdogan patut diapresiasi sebagai
langkah luar biasa dan konstruktif. Terlebih bila dikaitkan dengan mencari
titik kesepahaman dan rekonsiliasi antara Turki dan Armenia.
Dalam
rekam jejak sejarah, peristiwa tersebut terjadi pada awal Perang Dunia I,
tepatnya pada 24 April 1915, ketika Khalifah Usmani (Ottoman) mendekati
ambang keambrukan. Masa transisi yang melibatkan Genc Turkler (Young Turks)
sebagai pelopor melawan bentuk kekaisaran Ottoman dan menuntut reformasi
menjadi republik adalah salah satu periode terburuk dalam sejarah Ottoman,
yang akhirnya meruntuhkan kekhalifahan terakhir Islam.
Dalam
masa itu, peristiwa Armenia disadari menjadi warisan paling gelap sejarah
Ottoman. Pemerintah Ottoman semula memenjarakan sedikitnya 250 intelektual
dan pemimpin komunitas Armenia di Konstantinopel (Istanbul). Setelah itu,
dalam versi yang ditemukan oleh sejarah Barat, Ottoman mengusir dan membunuh
mereka dalam kondisi kelaparan; keluar dari wilayah kekuasaan di Anatolia, ke
padang pasir di daerah Suriah sekarang.
Dalam
peristiwa ini tercatat sekitar 1 juta hingga 1,5 juta bangsa Armenia dibunuh
secara sistematis di bawah otoritas Ottoman. Tahun 1997 dalam rilis resminya,
The International Association of Genocide Scholars (IAGS) menyebut peristiwa
1915 hingga 1923 di bawah otoritas Ottoman sebagai Armenian Genocide.
Ironisnya,
pemerintah Turki tak pernah mengeluarkan pernyataan resmi ke publik. Baru
setelah 99 tahun, Turki sebagai negara penerus Ottoman berbicara kepada
publik di tengah tekanan besar selama bertahuntahun, baik dari Parlemen Eropa
maupun organisasi internasional, seperti World
Council of Churches, Council of Europe, dan Turkeyís Human Right
Association. Termasuk dari negara-negara yang mengakui peristiwa 1915 sebagai
genosida.
Fragmen
sejarah paling tabu di Turki ini banyak menelan korban nyawa, termasuk Hrant
Dink yang terbunuh tahun 2007 karena coba mengekspose kasus Armenia. Karena
menyinggung isu sama, Orhan Pamuk, peraih Nobel Sastra 2006 pun diancam dan
terpaksa menjadi pengungsi selama beberapa tahun di Amerika.
Bayang-bayang
tabu yang semakin membesar tersebut akhirnya dipecahkan oleh pemerintahan
Erdogan dengan membacakan pidato pertama dalam sejarah Republik Turki ihwal
peristiwa kemanusiaan yang menimpa bangsa Armenia. Tapi pemerintah Turki
mempunyai istilah berbeda dari kata genosida yang telah menjadi kesimpulan
sejarawan Barat.
Bukan Genosida
Turki
tetap bersikukuh bahwa peristiwa 1915 bukan genosida. Versi pemerintah
menyebutkan saat itu Ottoman berada dalam situasi perang, periode yang sangat
sulit menjelang pecah Perang Dunia I. Untuk itu, Erdogan meminda semua pihak
melakukan pendekatan terbuka dan pemahaman luas dalam membaca peristiwa yang
dia sebut our shared pain.
Bagi
Turki dalam situasi perang berkecamuk, tak ada diskriminasi agama ataupun
etnis seperti dituduhkan banyak pihak. Ia justru meminta semua pihak tidak
menjadikan peristiwa 1915 sebagai alasan menebar kebencian kepada Turki hanya
karena demi kepentingan konflik politik. Di tengah gelombang isu minoritas
yang makin memanas, khususnya komunitas Armenia dan Kurdi di Turki, langkah
Erdogan harus dilihat dalam konteks luas.
Metode
rekonsiliasi level makro itu akan membuka ruang lebih luas bagi institusi dan
organisasi yang komit terhadap penyelesaian masalah peristiwa Armenia untuk
mencapai kesepahaman dan perdamaian. Sejak awal harus disadari bahwa tak
mudah melakukan proses rekonsiliasi terhadap peristiwa dan fakta sejarah yang
sudah menjadi misteri selama nyaris seabad.
Kemauan
pemerintah Turki bisa dilihat dari indikator terbentuknya joint commission
yang secara terbuka mengajak semua elemen duduk bersama merumuskan kesimpulan
ilmiah. Karena sejauh ini, kesimpulan yang digembar-gemborkan oleh komunitas
Armenia (khususnya yang diaspora di berbagai negara) belum melibatkan
otoritas Turki dan selalu dipasang untuk menyandera Turki di pentas
internasional.
Untuk
itu, pemerintah Turki membuka pintu kepada joint commission (beranggotakan
para sejarawan dari tiga representasi: Turki, Armenia dan institusi
internasional) guna menemukan titik terang sejarah 1915. Kesediaan mencari
titik temu dan rekonsiliasi yang dibuka oleh Turki harus dimanfaatkan dengan
baik oleh semua pihak, guna mencapai kesepahaman dan menghormati
masing-masing demi merumuskan masa depan yang lebih baik. ●
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar