Minggu, 11 Mei 2014

Presiden Rumah Budaya

Presiden Rumah Budaya

Garin Nugroho ;   Sutradara Film, Kolumnis “Udar Rasa” Kompas
KOMPAS,  11 Mei 2014
                                                
                                                                                         
                                                      
Minggu lalu, di sebuah komunitas budaya di pusat keramaian Melbourne, atas undangan Art Centre Melbourne, kelompok musik Senyawa dari Jogja, yang merupakan duet Wukir (pemusik) dan Rully (vokal), dalam kolaborasinya dengan seniman Australia terasa menjadi dialog dan keakraban antarbudaya.

Wukir bahkan kemudian diminta beberapa ruang budaya yang berpusat pada Asia untuk melakukan eksplorasi dan menciptakan alat-alat musik baru dalam dialognya dengan musik-musik tradisi. Senyawa yang tak cukup dikenal di negaranya sendiri segera akan meluncurkan album barunya, dan akan berkeliling ke negara-negara Skandinavia dan belahan dunia lainnya.

Beragam program yang dilakukan oleh Art Centre Melbourne yang mengundang seniman-seniman dan aktivis budaya Asia dan Australia terasa menjadi ruang diplomasi besar di tengah proses upaya mengurangi ketegangan politik Indonesia-Australia.

Kekuatan diplomasi budaya ini sesungguhnya dilakukan begitu banyak seniman dalam kerja yang tidak populer di dalam negerinya. Sebutlah komposer gamelan terkemuka, Rahayu Supanggah, yang memasukkan gamelan di beberapa penjara di London menjadi bagian dari kerja budaya terapi kekerasan yang menjadi dilema kota-kota besar dunia. Maka, sungguh mengagumkan, para napi kemudian berpentas gamelan dengan pengawalan di pusat budaya London.

Budaya terasa menjadi medium penting yang membawa beragam wajah diplomasi. Oleh karena itu, perlu diberi catatan tersendiri kerja besar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang sedang memproses kerja besar membangun Rumah Budaya Indonesia di sepuluh negara di dunia, antara lain Timor Leste, Jepang, Australia, hingga Jerman. Sebuah kerja yang tidak mudah untuk sejajar dengan pusat budaya sejumlah negara yang telah berumur panjang.

Melakukan perjalanan pendek di beberapa negara pada awal tahun ini, dari Jepang, Singapura, India, hingga Australia, sangatlah terasa pengaruh ketegangan hubungan Tiongkok dengan Jepang di wilayah Asia. Yang menarik dari diplomasi Jepang di Asia, tidak saja kunjungan Perdana Menteri Jepang ke beberapa negara ASEAN, tetapi juga program besar menghidupkan Japan Foundation Asia Center dengan anggaran 300 juta dollar AS dalam program tujuh tahun hingga 2020.

Program mereka di antaranya memperkuat jaringan budaya, kerja sama produksi, dukungan pada budayawan hingga pertukaran akademi, baik di wilayah seni budaya, intelektual, maupun bahasa. Tidak tanggung-tanggung, dalam aspek bahasa, mereka mengirim sekitar 3.000 pengajar bahasa.

Haruslah dicatat, dalam aspek pendidikan bahasa Indonesia, tercatat penurunan minat masyarakat global belajar bahasa Indonesia, sebuah catatan menyedihkan, mengingat bahasa adalah oasis diplomasi bangsa.

Oleh karena itu, ketika perkembangan ekonomi Indonesia ditandai dengan masuk dalam 10 besar dunia, serta kenyataan pentingnya peran Indonesia bersama Tiongkok, Jepang, dan India di kancah Asia, diplomasi berbasis strategi budaya menjadi salah satu syarat utama bagi kandidat presiden Indonesia.

Mr Lee—Perdana Menteri Singapura—dalam pertemuan dengan beberapa redaktur surat kabar Asia pada bulan April lalu menegaskan perlunya lahir pemimpin Asia yang kuat di tengah proses berlangsungnya pemilu di Indonesia dan India. Pemimpin yang dimaksud adalah pemimpin yang disebutnya capable, responsible, and strongly supported leaders sehingga tidak saja melahirkan kerja sama ekonomi, tetapi juga mengelola kerja sama regional secara kolektif.

Pernyataan di atas mengingatkan saya pada era-era awal bangunan negara ini sehingga bangsa ini dihormati bangsa-bangsa dunia serta menjadi inspirasi Asia. Mayoritas bapak-bapak bangsa adalah politikus yang budayawan. Sebutlah Cokroaminoto yang orator, penulis, hingga penari Hanoman, atau juga Soekarno hingga Mohammad Yamin yang menjadi bapak soneta Indonesia. Bahkan, bisa dikatakan, tanpa politikus yang budayawan, tidak akan pernah lahir Pancasila. Mengingat budaya adalah cara berpikir, bertindak, dan bereaksi sebuah bangsa dan masyarakatnya.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita memberi syarat kandidat presiden pada kemampuannya menjadi Presiden Rumah Budaya Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar