Sabtu, 17 Mei 2014

Kekerasan oleh Orang Dekat

Kekerasan oleh Orang Dekat

Dominica Xyannie  ;   Mahasiswi S2 Psikologi Mercu Buana
KORAN JAKARTA,  17 Mei 2014
                                                
                                                                                         
                                                      
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat tiap tahun hampir 1,4 juta orang di seluruh dunia mengalami tindak kekerasan. Di antara mereka ada yang sampai meninggal, lainnya terluka dan menderita. Mereka juga banyak mengalami kekerasan fisik dan seksual.

Ini memperlihatkan bahwa di mana pun sangat rawan kekerasan. Bahkan, Feminist.com merilis 22 juta wanita Amerika Serikat sepanjang sejarah tercatat mengalami pemerkosaan.

Ada laporan juga bahwa umumnya wanita usia 16–19 mengalami  empat kali lebih banyak  sebagai korban perkosaan, dicoba diperkosa, dan kekerasan seksual. Di seluruh dunia, pada tahun 2006 lebih dari 78.000 anak mengalami kekerasan seksual. Namun, karena banyak korban tidak dilaporkan, kira-kira faktanya antara 250.000 dan 650.000 tiap tahun mengalami  kekerasan seksual.

Namun, dalam kehidupan sehari-hari, kekerasan banyak bentuknya. Kekerasan seksual hanya salah satu. Dari pengalaman, kekerasan banyak dilakukan orang-orang dekat, mereka yang setiap hari di sekitar korban. Pengertian orang dekat bisa berarti keluarga dan kerabat.

Namun, bisa juga orang-orang yang bukan keluarga atau kerabat, tetapi senantiasa berkomunikasi atau berkontak. Mereka ini tinggal dekat di lingkungan yang sama dengan korban. Jadi, orang-orang dekat adalah mereka baik masih saudara atau bukan yang intens bertemu, berkomunikasi, dan bergaul.

Mereka bisa menyakiti secara fisik dan psikis bahkan tidak sedikit  yang sampai mematikan. Dari kasus-kasus pembunuhan sangat jarang dilakukan orang asing (kelompok orang yang sama sekali belum mengenal sebelumnya atau belum pernah kontak). Pembunuhan oleh orang “asing” hanya bisa terjadi dalam kasus yang “tidak direncanakan.” Atau dalam sebuah peristiwa koinsiden seperti kasus  perampokan yang diikuti kekerasan sampai membuat korban meninggal.

Kalau tindakan kekerasan (sampai mengakibatkan meninggal) tanpa disertai kehilangan benda-benda berharga, biasanya sangat boleh jadi ini peristiwa yang dilatarbelakangi sakit hati. Kondisi sakit hati sifatnya mendalam sehingga membuat pelaku menyimpan dendam yang memuncak dan tak bisa dipertahankan sehingga meledak dalam bentuk pelampiasan.

Banyak sebab sakit hati yang mendalam itu, di antaranya bisa karena kata-kata yang menyinggung harga diri. Ini antara lain bisa terjadi pada hubungan atasan-bawahan. Kata-kata yang menyinggung dari atasan biasanya ditanggapi dengan diam, namun disimpan dan bisa berkembang menjadi dendam kesumat.

Tingkat dendam yang sudah kesumat itulah pemicu muncul naluri menyakiti korban. Bisa saja awalnya hanya mau menyakiti, tetapi karena situasi terdesak atau takut diketahui, akhirnya “tanggung” dan dibunuhlah korban. Sementara sumber konflik yang mengakibatkan terjadi hubungan sakit hati bisa bermacam-macam, mulai dari soal pekerjaan (yang tidak beres), menagih utang, sampai urusan sepele seperti senggolan.

Psikis yang cenderung lebih banyak introvet banyak mengendapkan sakit hati yang diterimanya, tanpa mau berbagi dengan orang lain. Kondisi demikian akan menambah penat karena semua disimpan sendiri. Andai saja dia mau bercerita,  mungkin saja orang lain dapat memberi masukan sehingga mengurangi tekanan dendam dalam diri. Ini bisa mengurangi desakan untuk bertindak di luar batas.

Secara psikologis, ada beberapa sumber kekerasan, seperti ketakutan, merasa tidak berdaya, menjadi kambing hitam atau disalahkan. Bisa juga merasa tidak berguna, dilecehkan, dihina. Semua itu bisa menimbulkan  dendam. Kemudian, dendam yang sudah kesumat, atau sakit hati yang mendalam bisa melahirkan brutalisme dalam diam.

Artinya, secara kasatmata, pelaku mungkin saja tampil biasa bahkan diam seribu bahasa. Akan tetapi, di dalam diri tersimpan gunung dendam yang siap meletus. Dari sinilah yang sering timbul dampak fatal seperti pembunuhan karena pelaku sudah berada di luar batas kendali diri. Dia sudah tidak mampu mengontrol emosinya sendiri.

Filsof Prancis, Rene Girard, mengenai kekerasan mengembangkan teori hasrat mimesis (segitiga) dan  kambing hitam sebagai upaya memetakan hubungan kekerasan  masyarakat dalam sejarah umat manusia. Girard berupaya membuktikan bahwa manusia memiliki rivalitas dengan sesamanya dan cenderung terjerumus dalam pola kekerasan yang destruktif. Di dalam diri terdapat keinginan (hasrat). Ada pihak ketiga yang menjadi idola.

Dia lalu menjadi objek yang diingini. Girard memberi contoh, anak yang mengingini apa yang diinginkan bapak. Jadi, anak sebagai subjek tidak memunyai keingingannya sendiri. Bapaklah yang memunyai (objek) hasrat.

Anak akan meniru apa saja yang dimaui/dihasrati/diinginkan bapak. Tanpa disadari, karena objeknya sama, jadilah rebutan atau rivalitas. Nah, rebutan inilah yang mengarah pada kekerasan. Anak dan bapak sama-sama menginginkan kekerasan.

Internalisasi

Untuk mencegah kekerasan oleh orang-orang terdekat, kalau menyangkut anak kecil, tentu orang tua paling bertanggung jawab. Tidak perlu mencurigai secara berlebihan orang-orang yang selalu berkomunikasi, bersentuhan, bahkan bercanda. Yang penting di dalam diri ayah-ibu harus selalu menyadari bahwa pernah ada kekerasan oleh orang-orang dekat.

Maka, mereka pun berpotensi melakukannya. Jadi, tanpa harus berlebihan dalam menjaga, orang tua bila menyadari hal itu, akan selalu melindungi anak-anaknya. Bila bepergian perlu juga menitipkan kepada orang yang terseleksi “cukup” bisa dipercaya. Namun paling aman, anak diajak.

Untuk menghindari kekerasan orang dewasa oleh orang dewasa tentu harus menjaga perilaku, tutur kata, dan hubungan. Dalam kasus ekstrem seperti pembunuhan, itu hanya terjadi pada kasus yang langka. Maka dari itu, jika sudah bertindak dan bertutur secara benar dan masih mengalami kekerasan, tentu itu sebuah “kecelakaan”.

Maka dari itu, sejak dini yang paling penting adalah mendidik budi pekerti secara benar kepada seluruh anak. Sayang sekolah-sekolah justru mulai banyak meninggalkan atau meminggirkan pelajaran budi pekerti atau karakter. Sudah waktunya sekolah kembali memperbanyak pendidikan sopan santun, etika, budi pekerti, dan unggah-ungguh. Nilai-nilai ini harus benar-benar diinternalisasikan kepada setiap anak sejak dini dari rumah dan sekolah.

Sekolah tidak bisa mengandalkan keluarga. Sebaliknya, (apalagi) keluarga tidak boleh mengandalkan sekolah. Yang terbaik, keluarga dan sekolah bermitra mendidik anak. Usia dini adalah alas terbaik bagi seluruh pendidikan terutama nila-nilai. Maka tanamkan kebaikan sejak usia dini, selanjutnya tinggal mengarahkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar