Rabu, 01 Agustus 2012

Siraman Jasmani Dakwahtaintment

Siraman Jasmani Dakwahtaintment
Mansata Indah Dwi Utari ; Pendidik di SMP As-Salam, Kradenan, Grobogan, Jateng
JAWA POS, 01 Agustus 2012


DAKWAH melalui televisi sangat efektif karena bisa menjangkau hingga ke ruang tamu, ruang tidur, bahkan mobil. Apalagi dalam bulan Ramadan, hampir seluruh stasiun televisi menurunkan program dakwah dalam siarannya. Disadari atau tidak, konsep semacam itu telah memicu lahirnya ''dakwahtainment''. Dakwah bukan hanya wahana penyampaian pesan Islami, tapi juga kombinasi dengan nuansa hiburan. 

Lihat saja setiap menjelang subuh. Selalu ada ustad atau ustadah yang berceramah dengan dibumbui lelucon-lelucon. Warna ceramahnya sudah sebegitu populer di tengah masyarakat. Kalau komedian Sule terkenal dengan jargonnya ''prikitiw...'', para ustad pun seolah tak mau kalah membuat ciri khas masing-masing yang mudah diingat dan menarik saat berceramah. 

Untuk pembukaan, ucapan baku ''Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh'' dirasa belum cukup. Tetapi, perlu sapaan tambahan seperti yang dilakukan Ustad Nur Maulana di Trans TV. 

''Jamaaah...,'' sapa sang ustad.

''Yeee...,'' jawab jamaah yang kebanyakan ibu-ibu. ''Ooh, jamaaah...,'' ulang sang ustad.

''Alhamduuulillaaah...,'' tutup ustad.

Ustad Maulana selalu mengulang sapaan kepada jamaahnya sampai dua kali hingga jamaah menjawab dengan serempak. Begitupun saat akan jeda, dia kembali menyapa audiens dengan sapaan yang khas. Sang ustad mengatakan, ''Mau tahu jawabannya? Nantikan setelah lewat yang satu ini.'' Iklan pun bermunculan. 

Saking menancapnya jargon tersebut pada para pemirsa, tak jarang kata-kata ''trade mark'' Ustad Maulana itu menjadi bahan candaan di masyarakat.

Lain lagi Mamah Dedeh. Ustadah yang satu ini mampu menyentuh perhatian publik lewat stasiun Antv dengan sapaannya yang mudah diingat dalam acara Mamah Dedeh dan Aa. Jargon yang pasti kita ingat sebelum bertanya, audiens diwajibkan melontarkan lebih dulu kata kunci: ''Curhat dong, Mah'' atau ''Mamah, curhat dong...''. 

Pun demikian Ustad Sholeh Ahmad atau yang lebih dikenal dengan sapaan Ustad Solmed. Dia memakai jargon ''Are you ready'' agar ada yang khas dalam setiap ceramahnya.

Tak dapat dimungkiri, jargon yang menjadi ciri khas dalam bersyiar para ustad/ustadah telah mendongkrak nama mereka sebagai penceramah agama. Popularitas mereka melampaui para pendahulunya seperti dai sejuta umat, KH Zaenuddin M.Z. (almarhum), yang terkenal dengan jargon ''Betul?''-nya. Atau bahkan Aa Gym dengan ''Betul atau tidak?''. Jargon ''Jamaaah...'', ''Curhat dong, Mah...'', atau ''Are you ready'' ditambah aneka gerakan plus busana serta tata ruang yang entertaining menjadi magnet yang memiliki daya pikat luar biasa bagi publik.

Model-model syiar tersebut hanya sedikit contoh di antara sekian banyak keunikan syiar agama yang disiarkan televisi. Tidak hanya dalam bentuk jargon, ada juga yang dikemas dalam reality show seperti Ustad Jefri Albukhori (Uje) bersama Udin Nganga. Hal itu merupakan indikasi kuat bahwa syiar agama harus dikemas semenarik mungkin agar memenuhi standar populer sebuah tayangan bila ingin eksis.

Ceramah memang bukan satu-satunya metode dakwah. Namun, ceramah merupakan salah satu metode dakwah yang paling mudah dilakukan setiap orang. Ceramah yang menarik juga tidak hanya dilihat dari jargon dan isi ceramah yang bagus serta mudah dicerna, melainkan lebih pada proses dialektika antara sang ustad dan audiens. Saat ini, ustad humoris dan pembanyol lebih diminati ketimbang ustad yang serius.

Kita boleh menyebut fenomena tersebut sebagai dakwahtainment. Adanya paduan antara syiar agama dan hiburan. Mungkin sang ustad tidak mengorientasikan ceramahnya sebagai hiburan. Tetapi, jika dilihat dari segi proses, audiens tidak saja memperoleh pencerahan, namun juga mendapat hiburan. Bisa tersenyum, tertawa, sampai terbahak bersama. Ironisnya, tidak jarang pula hanya sisi humornya yang terlalu menonjol, sehingga menenggelamkan isi ceramahnya! Kalau itu yang terjadi, klop dengan fungsi televisi sebagai wahana hiburan.

Menurut hasil tafakur John Storey (1996), televisi merupakan media paling populer yang mentransformasikan kepentingan ideologi budaya massa. Ideologi tersebut mengartikulasikan pandangan bahwa budaya pop merupakan produk bagi produksi komoditas kapitalis dan merupakan subjek bagi hukum ekonomi pasar kapitalis. Gampangnya, semua di televisi harus dipopkan agar laku. 

Walhasil, sebagai bagian dari industri, televisi memosisikan khalayak sebagai konsumen komoditas. Sebagai konsumsi, televisi menawarkan berbagai kesenangan kepada khalayak agar tak mengalihkan remote control-nya. Karena itu, setiap tayangan pun dibuat semenarik mungkin untuk memuaskan dahaga kesenangan para penontonnya. Ibarat orang dahaga yang disodori minuman berwarna-warni dengan es meleleh di gelas cantik sehingga akan mudah tergoda menyeruputnya. Tentang sehat dan tidaknya minuman, itu urusan belakang.

Dakwah melalui tayangan televisi dimaksudkan untuk menarik massa ke dalam wilayah kesenangan. Yang penting senang dulu. Dakwah bukan lagi kekhidmatan atau kekhusyukan atau tafakur seperti yang ditradisikan agama. Parahnya, acara tersebut bisa terjebak pada permainan fisik alias kilau kemasan semata. Dakwah bukan hanya siraman rohani menuju nafs al-mutmainah atau jiwa-jiwa yang tenang, tapi juga pemanjaan jasmaniah mata dan telinga. 

Apakah bisa merasuk ke kalbu? Itu urusan sendiri-sendiri. Bagi sang pemangku program, yang penting acara bisa terus berlangsung dan mengundang banyak iklan. Tak perlu dipikir lebih dalam meski kadang-kadang iklannya tak sejalan dengan misi agama dan dakwah.

Alangkah indahnya bila dakwah di televisi ditempatkan dan dikhususkan dalam tayangan dan syiar agama. Jika perlu, tayangan agama seperti kuliah subuh menjadi program CSR (corporate social responsibility) sehingga iklannya disesuaikan dengan misi agama atau bahkan tak perlu ada iklan. Usul ini tak berlebihan karena frekuensi yang dipakai televisi adalah wilayah publik, bukan?