Minggu, 05 Agustus 2012

Khitah Nuzululquran


Khitah Nuzululquran
Asep Salahudin ; Wakil Rektor IAILM Suryalaya Tasikmalaya
MEDIA INDONESIA, 04 Agustus 2012


SALAH satu upacara keagamaan yang selalu diperingati adalah Nuzululquran. Peringatan itu diacukan ke memori kolektif yang ditarik pada peristiwa tu runnya ayat-ayat Alquran yang dalam penelitian kaum sejarawan pertama kali di bulan Ramadan, tepatnya tanggal 17.

Itu diperingati sebagai bagian dari ritual keagamaan.
Secara berulang-ulang, setiap tahun di berbagai daerah dan tempat. Bahkan di negara kita, pemerintah sebagai simbol institusi formal pun tidak ketinggalan melakukan peringatan.

Bagaimanapun, agama pada akhirnya tidak bisa dilepaskan dari serangkaian upacara. Boleh jadi, hakikat agama itu sendiri terletak pada upacara. Dengan ritual yang dilaku kan secara rutin, secara fundamental, seperti dikatakan Durkheim, setiap individu diberi kesempatan untuk memperbarui komitmen pada komunitas, memperingatkan diri sendiri melalui cara yang paling khidmat bahwa setiap individu memiliki ketergan tungan yang kuat terhadap komunitas sebagaimana kelangsungan komunitas itu banyak bergantung kepada individu (L Plas, 1996).

Dalam melakukan sebuah ritual, manusia memiliki tujuan. Van Gennep menjelaskan semua kebudayaan memiliki suatu ritual yang memperingati masa peralihan individu dari status sosial ke status sosial yang lain. Ritual penerimaan, ritual inisiasi, termasuk ritual di masa pubertas, pertunangan dan perkawinan, masa mengandung, dan saat kelahiran bayi, serta pemakaman merupakan kesempatan-kesempatan utama dari ritual.

Ritual cenderung dikaitkan dengan krisis hidup individuindividu. Upacara sebagai kon trol sosial dimaksudkan untuk mengontrol perilaku dan kesejahteraan individu demi dirinya sendiri sebagai individu atau individu bayangan (Dhavamony, 1995).

Tadarus

Nuzululquran sebagai bagian dari ritual, dalam praktiknya, berkaitan erat dengan tradisi tadarus yang biasa dilakukan di bulan suci ini. Umat Islam melakukan reuni dengan kitab suci mereka.

Tadarus dalam titik tertentu harus dibaca sebagai simbol identifikasi umat dan seluruh konsep diri dengan kitab suci mereka. Interaksi simbolis itu tidak hanya bagaimana me reka membaca ayat-ayat Alquran, tapi juga dalam layar bawah sadar mereka mengendap kerinduan purba untuk merumuskan keinginan hidup selaras dengan nilai-nilai perenial ilahiah. Diakui atau tidak, faktanya sejarah pengalaman keseharian yang dijalani acap kali berbanding terbalik dengan nilai-nilai itu.

Tadarus menjadi ruang spiritual untuk kembali kepada khitah keagamaan kita: bagaimana agama yang dalam hal ini diacukan pada sumber uta ma kitab suci menjadi haluan yang bisa menjelaskan tujuan eksistensial dan visi hakiki dari hidup yang dijalani.

Tadarus pula yang berkaitan erat dengan spirit Nuzululquran. Konon katanya, dalam tradisi kenabian untuk menjaga autentisitas Alquran, Muhammad SAW tidak hanya melakukan tadarus seorang diri, tapi juga dengan para sahabatnya, bahkan dengan Malaikat Jibril.

Tadarus seperti itu yang kemudian memiliki dampak luar biasa dahsyat dalam kehidupan Nabi. Minimal saya mencatat dua fungsi yang tidak terhindarkan. Pertama, sebagai jembatan untuk menyuntikkan kekuatan spiritual-moral sehingga seluruh tindakan dapat terjaga dan diacukan kepada kesadaran metafisik. Dalam kajian filsafat moral diteguhkan bahwa tidak ada kekuatan yang lebih dahsyat kecuali moralitas yang berba sis pada kesadaran kesadaran metafisik seperti itu.

Kedua, menjadi ajang melakukan konsolidasi antara Nabi dan sahabatnya, antara para sahabat satu dan yang lainnya. Dengan tidak te rasa, tadarus kolektif itu (tadarus yang benar tidak dilakukan seorang diri, tapi secara berjemaah), pada gilirannya menjadi pintu masuk untuk membangun kekohesifan sosial.

Dalam tadarus, yang dimaknai tidak hanya ayat-ayat ketuhanan, tapi juga ayat-ayat kemanusiaan. Dalam ajaran Alquran, relasi dua tema ayat tersebut tak ubahnya gambar dalam satu keping mata uang. Itu tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Kebaktian kepada Tuhan dan berkhidmat kepada manusia harus berdialektika, tidak boleh jatuh dalam kutub ekstrem.

Kata Nabi, “Untuk berdamai dengan langit harus didahului dengan kesigapan berdamai di bumi. Untuk mencari kasih dari Tuhan, wajib menebar kasih kepada dunia.“

Pesan Substansial

Tadarus yang ke mudian memuncak dalam ingatan turunnya Alquran di bulan Ramadan ini merupakan siasat untuk kembali kepada autentisitas diri. Autentisitas baik sebagai hamba Tuhan ataupun sebagai manusia.

Bagi umat Muhammad, autentisitas itu bukan sekadar ziarah menunjukkan diri sebagai idea (Plato), nalar (Rene Descartes), pengalaman (Bacon), fenomena indrawi (David Hume), rasio universal (Kant), idealisme metafisik (Hegel), fenomenologi transendental (E Husserel), atau eksistensialisme on tologis (Haidegger), melainkan juga pada saat bersamaan kesadaran yang tidak terhindarkan sebagai hamba Tuhan dengan visi eskatologis dan kesadaran metafisik yang jelas.

Gerak ke haluan autentisitas yang diinjeksikan tadarus dan dikuatkan peristiwa Nuzululquran, di satu sisi, menyadarkan kedaifan kita sebagai makhluk di hadapan Sang Kuasa seperti dengan bagus diilustrasikan Amir Hamzah dalam Hanyut Aku:

Hanyut aku, kekasihku!

Hanyut aku!

Ulurkan tanganmu, tolong aku,

Sunyinya sekelilingku!

Tiada suara kasihan, tiada

angin mendingin hati.  

Di sisi lain, itu mengingatkan kita sebagai manusia yang memiliki kewajiban kreatif mencipta kebudayaan untuk mewujudkan keadaban publik. Alhasil, pesan substansial Nuzululquran yang kita peringati tidak lain ialah menginjeksikan keinsafan kepada setiap kita tentang gerak kembali kepada khitah keberagamaan kita: ziarah mencari autentisitas diri yang diacukan kepada dua jangkar utama, yakni transendensi dan humanisasi.