Sabtu, 30 November 2013

Membentuk Karakter Anak Sejak Dini

Membentuk Karakter Anak Sejak Dini
Lien Iffah Naf’atu Fina  ;  Penerima Beasiswa Unggulan Kemendikbud, Mahasiswa Master Jurusan Islamic Studies and Christian-Muslim Relations di Hartford Seminary, AS
SUARA KARYA,  26 November 2013

  

Konon, di negara Kepulauan Solomon, ketika penduduk asli memerlukan lahan di hutan untuk bercocok tanam, mereka tidak menebang pohon. Mereka mengitari pohon tersebut beramai-ramai kemudian mencaci-maki, meneriakkan kata-kata negatif dan kasar ke pohon tersebut setiap hari. Lama kelamaan, pohon itu pun layu, kering dan mati dengan sendirinya.
Seandainya pohon itu manusia, lebih tepatnya anak dalam 'usia emas' yakni usia 0 sampai 9 tahun, bisa kita bayangkan apa yang akan terjadi? Banyak dijumpai di sekitar kita, seorang ayah atau ibu membentak atau memarahi anak balita mereka. Tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Bahkan kadang mengancam dengan ancaman yang tidak logis.

Misalnya, seperti peristiwa yang penulis temui di salah satu supermarket. Seorang ibu berbelanja dengan anak balitanya yang didudukkan di atas troli. Anak itu tampak riang melihat produk warna-warni. Sesekali, ia mencoba menggapai produk-produk di sekitarnya. Melihat itu, sang ibu biasanya kesal dan membentak, "Kamu nakal sekali, ya! Bisa diam, nggak! Kalau kamu nggak diam, nanti ditangkap pak polisi!"

Bertindak Jujur

Mari kita perhatikan apa yang terlewat dan dilupakan oleh ibu muda tersebut. Pertama, ia lupa bahwa kodrat anak balita adalah bermain. Melalui bermainlah mereka belajar.

Kedua, ia tidak menyadari bahwa membentak anak di depan umum sangat berbahaya bagi kepercayaan diri si anak. Bayangkan, apa yang dipikirkan anak balita itu menghadapi bentakan sang ibu. Dia akan bertanya dalam dirinya sendiri, "Salah aku apa, ibu? Aku tidak paham. Aku hanya bermain." Apakah anak bisa begitu saja mengetahui aturan 'bermain' di supermarket tanpa si ibu memberi penjelasan?

Ketiga, sang ibu telah menanamkan sebuah ide dalam alam bawah sadar anaknya sejak usia dini bahwa dia anak nakal. Manusia lahir dengan fitrahnya yang suci. Ibarat selembar kertas kosong. Jika orangtua mengisinya dengan kata-kata bentakan dan kata-kata negatif maka itulah yang akan tertulis dalam kertas kosong tersebut.

Keempat, ucapan ibu muda itu memberangus akal sehat si anak. Apakah pernyataan bahwa pak polisi menangkap anak yang nakal itu logis atau fakta yang bisa kita temui sehari-hari? Kalau diperhatikan, betapa banyak jumlah ancaman tidak logis dari orangtua atau orang dewasa kepada anak yang kita dengar sehari-hari.

Tahun 1988, Robert Fulghum menulis sebuah buku berjudul What I Really Need to Know I Learned in Kindergarten (Apa Yang Benar-benar Perlu Aku Ketahui, Aku Pelajari di Taman Kanak-kanak). Dalam buku ini, dia menceritakan hal-hal sederhana yang dia pelajari ketika masih balita; yakni berbagi, berkata dan bertindak jujur, serta tidak memukul orang lain sembarangan.

Ia juga dididik untuk meletakkan sesuatu kembali ke tempatnya semula. Merapikan kembali mainan yang berantakan. Tidak mengambil benda yang bukan miliknya. Bermain sesuai dengan aturan. Minta maaf bila menyakiti orang lain. Belajar hidup seimbang - belajar, menggambar, mewarnai, menyanyi, bermain. Mentaati rambu-rambu lalu lintas.

Bukankah hal-hal sederhana ini yang sebenarnya paling kita butuhkan dalam hidup? Bayangkan, apa dampaknya ketika sejak kecil anak dididik dengan prinsip-prinsip utama dalam hidup seperti di atas?

Keluarga Huxtable

Kita bisa belajar dari situasi komedi The Cosby Show, yang populer di era 1980-an, mengenai keluarga dokter Huxtable yang memiliki lima anak. Anak bungsunya, Rudy, berusia balita. Beberapa episode khusus menceritakan Rudy. Dalam interaksi keluarga Huxtable, mereka berbicara, menjelaskan kejadian dan hal baru kepada Rudy secara logis. Menghormati 'ketidaktahuan' Rudy terhadap dunia orang dewasa. Menjelaskan aturan dengan mengajak Rudy berdialog. Bahwa Rudy masih balita, iya. Tetapi berkomunikasi dengannya adalah dengan kesetaraan. Layaknya diskusi dengan orang dewasa.

Orang dewasa menganggap bahwa anak tidak tahu, tidak bisa berpikir logis dan tidak bisa diajak berkomunikasi. Alhasil, bentuk komunikasi yang sering muncul adalah perintah, larangan, bentakan dan intimidasi. Anggapan demikian tentu saja salah. Semua tergantung kepada bagaimana orang dewasa membangun komunikasi dengan anak.

Penelitian mengatakan, efek permanen sebuah konsep dalam pikiran anak kecil akan tertanam dalam otaknya hingga 30 tahun lebih. Jika kata-kata positif yang disampaikan, maka dia akan menjadi manusia positif dan bahagia. Jika kata-kata negatif yang terus dijejalkan, maka nasibnya akan tragis seperti pohon di Kepulauan Solomon, layu dan mati perlahan-lahan.

Demikian juga Lao Tse, seorang filsuf China, pernah berkata, "Perhatikan pikiran Anda, mereka menjadi kata-kata. Perhatikan kata-kata Anda, mereka menjadi tindakan. Perhatikan tindakan Anda, mereka menjadi kebiasaan. Perhatikan kebiasaan Anda, mereka menjadi karakter. Perhatikan karakter Anda, itu menjadi takdir Anda."

Betapa hebatnya dampak pikiran dan kata-kata yang kita ucapkan! Mengasuh dan mendidik anak yang baik, dengan demikian, bisa kita mulai dengan memilih menyampaikan kata-kata yang positif kepada anak. Ini penting agar mereka tumbuh menjadi manusia yang positif dan bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar