Menghadiri
Konferensi Gastech, Bangkok 14–17 September 2026 (2)
|
DATANGNYA TATANAN DUNIA BARU DAN GALA DINNER BERSAMA TONY BLAIR Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 14 September 2026
|
Malam
itu, di Bangkok, saya datang untuk sebuah jamuan makan malam. Tetapi
percakapan yang berlangsung membawa pikiran saya jauh melampaui meja, cahaya,
dan ruangan. Perang
berkecamuk. Energi bergejolak. Kecerdasan buatan melesat. China bangkit.
Amerika bertahan. Dunia lama seperti sebuah rumah yang fondasinya perlahan
bergeser. Di
tengah denting gelas dan percakapan para tamu, satu pertanyaan terus
mengikuti saya: dunia macam apakah yang diam-diam sedang lahir di hadapan
kita? -000- Malam
sebelum Konferensi Gastech dimulai, sebuah gala dinner diselenggarakan bagi
undangan tertentu. Saya hadir malam itu sebagai Komisaris Utama Pertamina
Hulu Energi. Di
sana saya mendapat kesempatan berdiskusi dengan Tony Blair, mantan Perdana
Menteri Inggris yang memimpin negaranya selama sepuluh tahun, dari 1997
hingga 2007. Kini
Blair aktif sebagai pendiri dan Executive Chairman Tony Blair Institute for
Global Change, lembaga yang bekerja bersama berbagai pemerintahan di banyak
belahan dunia. Kehadiran
Blair di konferensi energi terasa tepat. Sebab energi hari ini telah tumbuh
jauh melampaui minyak, gas, LNG, pembangkit, ataupun harga komoditas. Energi
telah menjadi urat nadi geopolitik. Ia menentukan ketahanan industri,
keamanan nasional, daya tawar negara, bahkan kemampuan sebuah bangsa memasuki
revolusi kecerdasan buatan. Gastech
mempertemukan pemimpin industri energi, pemerintah, investor, inovator
teknologi, dan pengambil kebijakan untuk membaca perubahan besar yang sedang
mengguncang sistem energi dunia. Di
sana, gas, LNG, elektrifikasi, energi rendah karbon, dan AI akhirnya bermuara
pada satu pertanyaan purba yang selalu kembali: siapakah yang memiliki
kekuatan? Itulah
mengapa Blair relevan. Yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar masa depan
energi, melainkan arsitektur kekuasaan ketika peta lama dunia mulai digambar
ulang. -000- Percakapan
berlangsung sekitar satu jam. Dari berbagai pertanyaan dan jawabannya malam
itu, saya menangkap lima gagasan besar, seperti lima sungai yang menuju
samudra sama. Pertama,
Iran dan masa depan Timur Tengah. Blair tidak melihat perang hanya melalui
pertanyaan kapan serangan berhenti dan kapan pintu perdamaian akhirnya
dibuka. Baginya,
ada pertanyaan yang lebih besar: tatanan apakah yang lahir sesudah perang?
Meriam dapat berhenti dalam sehari, tetapi luka sejarah bisa diwariskan
berpuluh tahun. Karena
itu diperlukan kesabaran strategis. Kekuatan bukan hanya kemampuan memukul,
melainkan kecerdasan menunggu, membaca momentum, dan mengetahui kapan sebuah
tujuan benar-benar telah tercapai. Konflik
Iran sekaligus menelanjangi hubungan geopolitik dan energi. Selat Hormuz
ibarat tenggorokan sempit dunia: gangguan kecil di sana dapat membuat ekonomi
global terbatuk. Sekitar
seperlima konsumsi minyak dunia melintasi kawasan itu setiap hari. Satu titik
kecil pada peta ternyata dapat mengguncang meja makan miliaran manusia. Kedua,
China dan pertanyaan geopolitik terbesar abad ini. Bagaimana Amerika dan
China bersaing sekeras mungkin tanpa membakar rumah besar yang mereka
tinggali bersama? China
pernah menjadi pusat ekonomi dunia sebelum Revolusi Industri menggeser
keseimbangan kekuatan, memindahkan pusat kemakmuran ke Barat, dan
meninggalkan trauma sejarah yang panjang. Estimasi
Angus Maddison menunjukkan sekitar 1820 China menghasilkan kira-kira
sepertiga produk domestik bruto dunia. Ingatan tentang kebesaran itu tidak
pernah benar-benar padam. China
tentu tidak ingin tertinggal kembali. Kini gelanggang pertarungannya bernama
AI, semikonduktor, energi, manufaktur, data, infrastruktur, teknologi, dan
produktivitas. Namun
pemisahan total bukan jawaban sederhana. Kedua raksasa itu terlalu terhubung.
Mereka seperti dua pohon besar yang akarnya telah lama bertemu di bawah
tanah. Kompetisi
hampir pasti berlangsung. Tetapi dunia tetap membutuhkan suatu bentuk
koeksistensi agar persaingan dua raksasa tidak berubah menjadi gempa bagi
seluruh planet. -000- Ketiga,
keamanan energi kini hampir setara dengan keamanan pertahanan. Sebuah negara
dapat memiliki tentara perkasa, tetapi tetap rapuh apabila lampunya mudah
dipadamkan pihak lain. Minyak
dan gas bukan lagi sekadar komoditas. Jaringan listrik, terminal LNG, kilang,
pipa, mineral kritis, dan pusat data telah menjadi benteng strategis negara. Perang
di satu kawasan dapat menaikkan harga energi ribuan kilometer jauhnya.
Gangguan sebuah jalur pelayaran dapat mengetuk pintu pabrik di benua berbeda. Karena
itu, kemandirian energi bukan lagi sekadar agenda ekonomi. Kemampuan menjaga
pasokan telah menjadi salah satu bahasa baru bagi ketahanan dan kedaulatan
nasional. Keempat,
AI akan menjadi sumber baru kekuatan negara. Revolusi ini bukan kereta masa
depan yang masih jauh. Kereta itu sudah memasuki stasiun kita. Negara
yang mampu menggunakan AI bagi industri, energi, pendidikan, kesehatan,
pemerintahan, dan pertahanan akan memperoleh jarak keunggulan yang semakin
sulit dikejar. Di
sinilah AI bertemu energi. Algoritma memang tidak makan dan tidur, tetapi
pusat data tempat ia hidup mempunyai rasa lapar yang luar biasa terhadap
listrik. IEA
memperkirakan konsumsi listrik pusat data global akan meningkat lebih dari
dua kali lipat menuju sekitar 945 TWh pada 2030, sebuah lompatan yang sangat
besar. Maka
perlombaan AI diam-diam juga merupakan perlombaan energi. Di balik kecerdasan
mesin, selalu ada kabel, turbin, jaringan listrik, gas, uranium, matahari,
atau angin. Tidak
akan lahir negara adidaya digital tanpa energi dalam skala besar. Bahkan
dunia virtual pada akhirnya tetap berdiri di atas fondasi yang sangat fisik. Kekuatan
abad ini tidak lagi hanya dihitung melalui kapal perang, minyak, atau
ekonomi, tetapi kemampuan mengubah data, energi, dan kecerdasan mesin menjadi
produktivitas. Kelima,
dunia sedang kembali menuju politik kekuatan. Inilah bagian percakapan Blair
yang paling lama tinggal dalam pikiran saya setelah jamuan itu berakhir. Bukankah
dunia seharusnya dibangun melalui hukum internasional, multilateralisme,
perdagangan terbuka, hak asasi manusia, dan kerja sama, bukan perlombaan
kekuatan di antara negara? Keberatan
itu sah. Tetapi sejarah menyimpan ironi: nilai tanpa kekuatan mudah menjadi
doa, sementara kekuatan tanpa nilai dapat menjelma menjadi monster. Karena
itu pilihannya bukan nilai atau kekuatan. Kita membutuhkan kekuatan yang
dijinakkan oleh nilai, sekaligus nilai yang mempunyai tangan untuk
mempertahankan dirinya. Bagi
Indonesia, prinsip ini penting. Kita tidak perlu menjadi satelit Washington
ataupun Beijing. Kita juga tidak perlu menciptakan musuh hanya untuk
membuktikan kemandirian. Indonesia
harus cukup kuat sehingga persahabatan dengan keduanya lahir dari kebebasan
memilih, bukan dari ketergantungan, rasa takut, ataupun kelemahan di hadapan
kekuatan besar. Itulah
politik bebas aktif dalam zaman baru. Bebas bukan berarti kesepian. Aktif
bukan berarti permusuhan. Keduanya membutuhkan keberanian untuk menentukan
jalan sendiri. Namun
Blair sendiri bukan figur tanpa bayangan. Perang Irak 2003 mengingatkan bahwa
kalkulasi geopolitik yang kehilangan kompas moral dapat meninggalkan luka
lintas generasi. -000- Percakapan
malam itu mengingatkan saya pada dua buku yang membaca perubahan kekuasaan
melalui dua jendela berbeda: energi dan kecerdasan buatan. Buku
pertama adalah The New Map: Energy, Climate, and the Clash of Nations,
karya Daniel Yergin, diterbitkan Penguin Press di New York pada 2020. Yergin
menunjukkan bahwa geopolitik selalu mempunyai bayangan energi. Di belakang
pipa, tanker, LNG, pembangkit, dan jaringan listrik, tersembunyi kepentingan,
ketergantungan, serta kekuasaan. Negara
yang menguasai pasokan, teknologi, infrastruktur, dan distribusi memperoleh
lebih daripada keuntungan ekonomi. Ia memperoleh sesuatu yang lebih mahal:
pengaruh atas pilihan negara lain. Bahkan
transisi energi tidak mematikan geopolitik energi. Ia hanya memindahkan papan
caturnya menuju mineral kritis, listrik, teknologi, infrastruktur, dan rantai
pasok global. -000- Buku
kedua, The Age of AI: And Our Human Future, ditulis Henry Kissinger,
Eric Schmidt, dan Daniel Huttenlocher, serta diterbitkan Little, Brown and
Company pada 2021. Buku
ini membawa persoalan kekuasaan lebih jauh. AI bukan sekadar teknologi baru.
Ia perlahan mengubah cara manusia mengetahui, memutuskan, bahkan memahami
realitas. Karena
itu persaingan teknologi segera menjelma menjadi persaingan kekuatan nasional.
Keunggulan AI akan menentukan produktivitas, keamanan, daya saing, bahkan
kemandirian sebuah bangsa. Yang
diperebutkan bukan sekadar siapa mempunyai AI tercanggih, melainkan siapa
mampu mengubah kecerdasan mesin menjadi kesejahteraan, keamanan,
produktivitas, dan kekuatan nasional nyata. -000- Di
tengah percakapan itu, pikiran saya pulang kepada pekerjaan sendiri: dunia
energi dan tanggung jawab yang kini saya jalankan di Pertamina Hulu Energi. Sebagai
Komisaris Utama PHE, semakin sulit bagi saya melihat tambahan produksi minyak
hanya sebagai deretan angka dalam laporan korporasi atau pencapaian target
tahunan. Sebab
di belakang setiap barel ada sesuatu yang tak tercetak dalam grafik: devisa,
pekerjaan, industri, ketahanan ekonomi, dan berkurangnya ketergantungan
kepada bangsa lain. Ketika
berbicara tentang produksi, eksplorasi, sumber daya non-konvensional,
teknologi, AI, dan efisiensi operasi, sesungguhnya kita sedang membangun otot
strategis sebuah bangsa. Blair
melihat persoalan dari balkon geopolitik. Saya melihatnya dari ruang mesin
energi. Dua jendela berbeda itu ternyata memperlihatkan cakrawala yang sama. Energi
bukan hanya komoditas. Ia adalah darah yang mengalir di tubuh peradaban
modern: ekonomi, teknologi, industri, pertahanan, rumah sakit, sekolah,
hingga kehidupan sehari-hari. Namun
kita tidak boleh begitu terpesona oleh kekuatan hingga lupa bertanya: untuk
apakah kekuatan itu dibangun? Kekuatan hanyalah kendaraan, bukan tujuan
perjalanan. Kekuatan
sebuah negara akhirnya harus diukur dari kemampuannya membuat rakyat lebih
aman, lebih sejahtera, lebih bebas, dan lebih percaya diri menatap hari esok. Indonesia
memiliki minyak, gas, nikel, panas bumi, matahari, manusia, pasar besar,
serta posisi geografis strategis. Tetapi semua kekayaan itu masih bernama
potensi. Potensi
adalah janji yang belum ditepati. Ia seperti benih di telapak tangan:
mengandung hutan, tetapi belum memberikan satu pun tempat berteduh. Sejarah
tidak memberikan mahkota kepada bangsa hanya karena kaya potensi. Sejarah
memberikannya kepada mereka yang sanggup mengubah kemungkinan menjadi
kekuatan nyata. -000- Saya
meninggalkan malam itu dengan kesadaran bahwa tatanan dunia baru mungkin
tidak pernah diumumkan melalui sebuah deklarasi besar yang didengar seluruh
umat manusia. Ia
mungkin datang tanpa mengetuk pintu: melalui perang dan chip, tanker dan
algoritma, pusat data dan listrik, aliansi baru dan ketergantungan lama. Semuanya
bergerak hampir bersamaan, seperti lempeng bumi di bawah kaki kita: sunyi,
perlahan, tetapi akhirnya mampu mengubah seluruh bentuk permukaan dunia. Indonesia
tidak perlu menjadi Amerika ataupun China. Kita hanya perlu menjadi Indonesia
yang cukup kuat, terbuka, cerdas, dan merdeka menentukan arah masa depannya
sendiri. Dunia
baru sedang datang. Pertanyaan terpenting bukan apakah kita mampu
menghentikannya, melainkan apakah kita cukup peka mendengar langkahnya
sebelum ia tiba di depan pintu. Sebab
sejarah jarang mengirim undangan. Ia datang, mengubah ruangan, memindahkan
kursi, lalu menentukan siapa yang duduk di meja dan siapa yang hanya
menonton. Bangsa
yang memenangkan masa depan bukan sekadar bangsa yang melihat dunia baru
datang, tetapi yang membangun kekuatannya sebelum dunia baru menentukan
nasibnya. ● REFERENSI Daniel
Yergin. The New Map: Energy, Climate, and the Clash of Nations. New York:
Penguin Press, Penguin Publishing Group, 2020. Henry
A. Kissinger, Eric Schmidt, Daniel Huttenlocher. The Age of AI: And Our Human
Future. New York: Little, Brown and Company, 2021. Angus
Maddison. Contours of the World Economy, 1–2030 AD: Essays in Macro-Economic
History. Oxford: Oxford University Press, 2007, untuk estimasi historis
posisi China dalam ekonomi dunia. International
Energy Agency. Energy and AI, 2025, untuk proyeksi konsumsi listrik pusat
data global menuju sekitar 945 TWh pada 2030. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar