|
Mesir, di Antara Washington dan Beijing Redaktur
Editorial : Redaksi Kompas. |
KOMPAS, 07 September 2026
|
Kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Mesir mempertegas
kemitraan kedua negara yang saling melengkapi di tengah persaingan
kekuatan-kekuatan global. Presiden Mesir Abdel Fatah el-Sisi menyambut hangat Presiden
China Xi Jinping pada Selasa (1/9/2026). Dua negara yang sama-sama memiliki
sejarah peradaban ribuan tahun itu memperdalam hubungan mereka melalui
sejumlah penandatanganan kerja sama di Kairo. Xi dan El-Sisi menyaksikan
penandatanganan kerja sama yang meliputi berbagai bidang, mulai dari
teknologi, keamanan, serta militer, hingga perdagangan dan ekonomi. China dan Mesir sama-sama saling membutuhkan. Bagi Beijing, Mesir
menjadi pintu masuk dan pijakan strategis untuk memperluas pasar bagi produk
buatan negara tersebut di tengah kondisi ekonomi domestik China yang
mengharuskan Beijing meningkatkan ekspor. Ekspansi investasi dan industri ke
luar negeri membantu perusahaan China mengantongi permintaan baru serta
mempertahankan kapasitas produksi. Dalam kunjungan Xi yang menandai 70 tahun hubungan diplomatik
kedua negara, mereka sepakat memperluas zona ekonomi China-Mesir di Suez dan
menghubungkan lebih erat Inisiatif Sabuk dan Jalan dengan Visi Mesir 2030. Kunjungan ke Kairo juga membuktikan kepada dunia bahwa China
merupakan mitra yang bisa diandalkan dengan menyediakan berbagai kebutuhan.
Tak hanya perdagangan dan investasi, tetapi juga militer. Karena itu, tak mengherankan, bagi Mesir, China menjadi sumber
investasi, teknologi, dan perdagangan. Pada saat yang sama, bagi Mesir, China
merupakan mitra alternatif global karena bisa memenuhi kebutuhan negara itu,
tanpa harus berpaling dari Amerika Serikat, mitra erat Mesir di bidang
keamanan. Bahkan, dengan China, dua bulan lalu, Mesir menggelar latihan
militer. Mesir kian krusial karena memiliki Terusan Suez, salah satu jalur
penting bagi China untuk memastikan ekspor-impor berjalan lancar. Di tengah
kondisi Selat Hormuz yang tak menentu akibat perang AS-Iran, Terusan Suez
kian memiliki pengaruh besar bagi Beijing. Kemitraan erat Mesir dan China telah menunjukkan keajekan Kairo
menjalankan politik luar negeri ”kesetimbangan strategis” (strategic
equilibrium). Dalam prinsip ini, Mesir akan menjalin hubungan dekat dengan
kekuatan mana pun. Hubungan dengan satu kekuatan tidak meniadakan hubungan
dengan kekuatan lain. Prinsip ini juga berkonsekuensi bahwa tidak boleh ada
satu kekuatan yang terlalu dominan. Bagi negara menengah seperti Mesir dan beberapa negara lain,
kesetimbangan strategis ini menjadi pilihan masuk akal karena mereka harus
bermanuver di antara kekuatan besar (great power) agar tetap mampu
memengaruhi kawasan sekaligus menjaga kepentingan nasional. Persaingan kekuatan-kekuatan
global membuat banyak negara menengah harus pragmatis: keamanan terjaga,
sementara ekonomi tetap tumbuh. ● |
Sumber
: https://www.kompas.id/artikel/mesir-di-antara-washington-dan-beijing?open_from=Tajuk_Rencana_Page
Tidak ada komentar:
Posting Komentar