Sabtu, 12 September 2026

 

Mesir, di Antara Washington dan Beijing

Redaktur Editorial :  Redaksi Kompas.

KOMPAS, 07 September 2026

 

 

                                                           

Kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Mesir mempertegas kemitraan kedua negara yang saling melengkapi di tengah persaingan kekuatan-kekuatan global.

 

Presiden Mesir Abdel Fatah el-Sisi menyambut hangat Presiden China Xi Jinping pada Selasa (1/9/2026). Dua negara yang sama-sama memiliki sejarah peradaban ribuan tahun itu memperdalam hubungan mereka melalui sejumlah penandatanganan kerja sama di Kairo. Xi dan El-Sisi menyaksikan penandatanganan kerja sama yang meliputi berbagai bidang, mulai dari teknologi, keamanan, serta militer, hingga perdagangan dan ekonomi.

 

China dan Mesir sama-sama saling membutuhkan. Bagi Beijing, Mesir menjadi pintu masuk dan pijakan strategis untuk memperluas pasar bagi produk buatan negara tersebut di tengah kondisi ekonomi domestik China yang mengharuskan Beijing meningkatkan ekspor. Ekspansi investasi dan industri ke luar negeri membantu perusahaan China mengantongi permintaan baru serta mempertahankan kapasitas produksi.

 

Dalam kunjungan Xi yang menandai 70 tahun hubungan diplomatik kedua negara, mereka sepakat memperluas zona ekonomi China-Mesir di Suez dan menghubungkan lebih erat Inisiatif Sabuk dan Jalan dengan Visi Mesir 2030.

 

Kunjungan ke Kairo juga membuktikan kepada dunia bahwa China merupakan mitra yang bisa diandalkan dengan menyediakan berbagai kebutuhan. Tak hanya perdagangan dan investasi, tetapi juga militer.

 

Karena itu, tak mengherankan, bagi Mesir, China menjadi sumber investasi, teknologi, dan perdagangan. Pada saat yang sama, bagi Mesir, China merupakan mitra alternatif global karena bisa memenuhi kebutuhan negara itu, tanpa harus berpaling dari Amerika Serikat, mitra erat Mesir di bidang keamanan. Bahkan, dengan China, dua bulan lalu, Mesir menggelar latihan militer. 

 

Mesir kian krusial karena memiliki Terusan Suez, salah satu jalur penting bagi China untuk memastikan ekspor-impor berjalan lancar. Di tengah kondisi Selat Hormuz yang tak menentu akibat perang AS-Iran, Terusan Suez kian memiliki pengaruh besar bagi Beijing.

 

Kemitraan erat Mesir dan China telah menunjukkan keajekan Kairo menjalankan politik luar negeri ”kesetimbangan strategis” (strategic equilibrium). Dalam prinsip ini, Mesir akan menjalin hubungan dekat dengan kekuatan mana pun. Hubungan dengan satu kekuatan tidak meniadakan hubungan dengan kekuatan lain. Prinsip ini juga berkonsekuensi bahwa tidak boleh ada satu kekuatan yang terlalu dominan.

 

Bagi negara menengah seperti Mesir dan beberapa negara lain, kesetimbangan strategis ini menjadi pilihan masuk akal karena mereka harus bermanuver di antara kekuatan besar (great power) agar tetap mampu memengaruhi kawasan sekaligus menjaga kepentingan nasional. Persaingan kekuatan-kekuatan global membuat banyak negara menengah harus pragmatis: keamanan terjaga, sementara ekonomi tetap tumbuh. ●

 

Sumber :  https://www.kompas.id/artikel/mesir-di-antara-washington-dan-beijing?open_from=Tajuk_Rencana_Page  

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar