|
Teknologi Membentuk Nalar Mahyudin : Direktur Riset dan Publikasi Yayasan Sukma. |
MEDIA INDONESIA, 07 September 2026
|
KITA terbiasa menganggap teknologi sebagai alat:
sesuatu yang kita ciptakan, kita gunakan, dan karena itu berada di bawah
kendali kita. Akan tetapi, mungkin persoalannya justru terletak pada asumsi
tersebut. Teknologi tidak hanya mengerjakan sesuatu untuk kita; dalam diam,
ia juga dapat mengubah cara kita bekerja, memperhatikan, mengingat, memilih,
bahkan berpikir. Kita bukan sekadar menggunakan teknologi. Kita hidup di
dalam lingkungan yang semakin dibentuk olehnya. Jika demikian, pertanyaan yang lebih mendasar
bukan lagi apa yang dapat dilakukan teknologi, melainkan apa yang teknologi
lakukan terhadap manusia. Ketika layar, algoritma, mesin pencari, dan
kecerdasan buatan semakin menjadi bagian dari keseharian, mungkinkah yang
sedang berubah tidak hanya cara kita bekerja dan belajar, tetapi juga cara
kita memahami dunia—bahkan cara kita memahami diri sendiri? GENEALOGI TEKNOLOGI: DARI TUBUH KE PIKIRAN Perubahan ini merupakan bagian dari perjalanan
panjang modernitas. Sejak Renaisans, manusia semakin percaya pada akal dan
kreativitas untuk memahami serta mengubah dunia. Revolusi ilmiah memperluas
pengamatan, mesin memperkuat tenaga tubuh, dan revolusi industri mempercepat
produksi. Kereta api, kendaraan, dan pesawat memperpendek jarak; telepon
mengatasi batas ruang; komputer mempercepat pengolahan informasi. Internet
kemudian membuat pengetahuan nyaris seketika, sementara mesin pencari memperpendek
jarak antara pertanyaan dan jawaban. Kini, AI membawa teknologi ke wilayah
yang berbeda: bukan hanya membantu tangan, tubuh, atau ingatan, melainkan
juga pekerjaan yang selama ini dianggap paling khas manusia—berpikir. Perubahan ini tidak dengan sendirinya buruk.
Buku, perpustakaan, arsip, dan internet adalah cara manusia memperluas
ingatan dan pengetahuan ke luar dirinya. Namun, ketika hampir apa pun
tersedia dalam sekejap, kebiasaan kita ikut berubah: dari mengingat ke
mencari, membaca ke memindai, memilih ke menerima rekomendasi. Kita semakin
terbiasa dengan informasi yang cepat, ringkas, dan terukur. Bahkan ketidaktahuan terasa seperti sesuatu yang
harus segera diatasi. Padahal, ‘saya tidak tahu’ adalah awal pertanyaan;
pertanyaan melahirkan penyelidikan; dan penyelidikan membutuhkan waktu.
Persoalannya bukan sekadar teknologi yang membuat hidup lebih mudah, tetapi
apakah dalam mengatasi keterbatasan manusia, teknologi perlahan mengubah cara
manusia menggunakan pikirannya sendiri. KETIKA TEKNOLOGI MEMBENTUK LINGKUNGAN Perubahan itu menjadi semakin nyata ketika
teknologi tidak lagi sekadar menjadi alat, tetapi juga menjadi lingkungan
tempat kita berpikir. Perlahan, kita terbiasa mencari daripada mengingat,
memindai daripada membaca, menerima rekomendasi daripada menjelajah, mengukur
daripada menafsirkan, dan mengejar kepastian daripada tinggal dalam
ketidakpastian. Ketika kebiasaan-kebiasaan itu berlangsung terus-menerus,
teknologi tidak hanya mengubah apa yang kita lakukan, tetapi juga membentuk
cara kita memahami dunia. Kita semakin akrab dengan logika digital:
masukan, proses, keluaran, pilihan, skor, dan peringkat. Logika ini memang
berguna, tetapi kehidupan manusia tidak seluruhnya dapat diperlakukan sebagai
persoalan algoritmik. Yang paling efisien belum tentu paling manusiawi; yang
paling populer belum tentu paling layak; yang paling terukur belum tentu
paling bermakna. AI membawa perubahan ini ke tahap baru. Jika
sebelumnya teknologi membantu menyimpan, mencari, dan memilih, kini AI mulai
menafsirkan, menganalisis, menyusun, bahkan menghasilkan gagasan. Kita tidak
lagi hanya berkata, “Carikan informasi,” tetapi mulai berkata, “Pikirkan ini
untuk saya.” Yang kita delegasikan bukan lagi sekadar pekerjaan, melainkan
sebagian pekerjaan kognitif. Di sinilah persoalannya: ketika mesin semakin
mampu melakukan pekerjaan berpikir, apakah kita masih menggunakan pikiran
untuk menentukan apa yang benar, layak, dan bermakna? COGITO, ERGO SUM Pertanyaan itu membawa kita kembali kepada René
Descartes. Empat abad lalu, melalui keraguan, ia menemukan satu kepastian:
ketika meragukan, ia berpikir; dan karena berpikir, ia ada. Cogito, ergo
sum—aku berpikir, maka aku ada. Descartes tidak mengatakan, “Aku memiliki
jawaban, maka aku ada.” Yang mendasar bukan jawabannya, melainkan tindakan
berpikir itu sendiri. Memiliki jawaban tidak selalu berarti mengalami proses
berpikir yang melahirkannya. AI dapat membantu mencari informasi, menguji
gagasan, dan menyusun kemungkinan. Persoalannya muncul ketika AI digunakan
bukan untuk membantu berpikir, melainkan agar kita tidak perlu berpikir.
Menggunakan kalkulator untuk membantu menghitung berbeda dengan tidak
memahami apa yang dihitung; demikian pula menggunakan AI untuk memperluas
pikiran berbeda dengan menyerahkan pikiran kepadanya. Karena itu, di zaman AI, yang perlu dipertahankan
bukan sekadar kemampuan menghasilkan jawaban, melainkan juga kemampuan
bertanya, meragukan, menimbang, memutuskan, dan bertanggung jawab. Yang lebih
penting bukan apakah mesin dapat berpikir, melainkan apakah manusia masih mau
berpikir ketika mesin dapat melakukannya untuk kita. Persoalan ini tidak
berhenti pada filsafat. Ia membawa kita pada pertanyaan yang sangat praktis:
bagaimana memastikan teknologi tetap menjadi alat bagi pendidikan, bukan
sebaliknya? KOMPAS PEDAGOGIS Semakin cerdas teknologi, semakin penting kita
memiliki arah. AI dapat menawarkan banyak kemungkinan, tetapi tidak
menentukan untuk apa pendidikan dijalankan. Karena itu, di Sekolah Sukma
Bangsa, visi, misi, dan tujuan harus menjadi kompas pedagogis dalam setiap
keputusan: apa yang diajarkan, bagaimana mengajarkannya, dan teknologi apa
yang digunakan. Guru tidak perlu bertanya lebih dahulu, “Apa yang dapat
dilakukan AI?”, melainkan, “Manusia seperti apa yang hendak kita tumbuhkan?”.
Dari sana barulah teknologi dipilih sebagai alat. Tentukan arah terlebih
dahulu, baru pilih alat. Jangan biarkan alat menentukan arah. Teknologi tidak perlu ditakuti, tetapi perlu
ditempatkan pada batas yang kita tentukan. Setiap kemampuan yang kita
serahkan kepada mesin berisiko menjadi kemampuan yang semakin jarang kita
gunakan. Karena itu, persoalannya bukan seberapa pintar teknologi, melainkan
apakah manusia masih mampu menentukan untuk apa kepintaran itu digunakan.
Empat abad setelah Descartes berkata cogito, ergo sum, kalimat itu
menemukan makna baru: aku berpikir, maka aku ada. Di tengah kecerdasan
mesin yang semakin besar, kalimat ini mengingatkan kita bahwa manusia harus
tetap menjadi subjek: berpikir, menentukan arah, dan bertanggung jawab. ● Sumber : https://mediaindonesia.com/opini/930479/teknologi-membentuk-nalar
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar