|
Hasil PISA, Growth Mindset, dan Peran Deep
Learning Suyanto : Ketua Dewan Pendidikan Nasional, Ketua Majelis Wali
Amanat Universitas Negeri Yogyakarta. |
MEDIA INDONESIA, 10 September 2026
|
HASIL PISA 2025 membawa kabar yang patut
diapresiasi bagi pendidikan Indonesia. Skor membaca meningkat dari 359 pada
2022 menjadi 365 pada 2025. Adapun skor sains naik dari 383 menjadi 389.
Kenaikan enam poin pada dua bidang tersebut memberi sinyal positif bahwa
upaya memperbaiki mutu pembelajaran mulai menunjukkan hasil. Pada matematika, skor turun tipis dari 366
menjadi 364. Bidang ini jelas masih menuntut kerja nasional yang lebih keras
dan strategi yang lebih tajam. Secara keseluruhan, capaian Indonesia memang
masih berada di bawah rata-rata OECD. Akan tetapi, membaca PISA hanya sebagai
daftar kekurangan akan membuat kita kehilangan pelajaran penting dari
kemajuan yang sudah terjadi (OECD, 2026). Arah positif itu juga sejalan dengan data
nasional. Rapor pendidikan menunjukkan proporsi murid yang mencapai kompetensi
minimum literasi meningkat dari 59,49% pada 2022 menjadi 70,03% pada 2024.
Pada numerasi, kenaikannya bahkan lebih besar, dari 45,24% menjadi 67,94%
(Kemendikdasmen, 2025). Data ini penting karena menunjukkan bahwa perbaikan
pembelajaran tidak berjalan di tempat. Tantangannya kini ialah menjaga
konsistensi, memperluas dampak, dan memastikan kemajuan tersebut menjangkau
seluruh kelompok siswa. CERITA DI BALIK SKOR Justru di sinilah keunikan PISA 2025 menarik
untuk dibaca. Laporan ini tidak hanya menyediakan skor, tetapi juga
memperlihatkan cerita di balik skor: bagaimana siswa belajar, bagaimana
mereka menghadapi kesulitan, dan bagaimana guru mendampingi proses belajar.
Sebanyak 80% siswa Indonesia menyatakan ingin tahu terhadap banyak hal, lebih
tinggi daripada rata-rata OECD 73%. Sebanyak 74% mengatakan mereka menambah
usaha ketika pekerjaan menjadi sulit, dibandingkan 60% rata-rata OECD. Hanya
9% yang menganggap sekolah sebagai pemborosan waktu, jauh di bawah rata-rata
OECD 24% (OECD, 2026). Modal belajar itu semakin kuat ketika dilihat
dari kemampuan mengatur diri. Sebanyak 90% siswa meminta bantuan guru ketika
membutuhkan dan 92% meminta bantuan teman ketika belum memahami sesuatu.
Dukungan guru juga menggembirakan: 82% siswa menyatakan guru sains
menunjukkan perhatian terhadap pembelajaran setiap siswa, 85% mengatakan guru
terus mengajar sampai siswa memahami, dan 80% memperoleh bantuan tambahan
saat membutuhkannya (OECD, 2026). Dengan kata lain, ada fondasi
sosial-pedagogis yang cukup baik untuk mempercepat peningkatan mutu hasil
belajar. GROWTH MINDSET Namun, cerita positif tersebut sekaligus membawa
pertanyaan kebijakan: mengapa modal belajar yang relatif kuat itu belum
sepenuhnya terkonversi menjadi capaian akademik yang tinggi? Salah satu
jawabannya terlihat pada growth mindset. PISA 2025 mencatat baru 30% siswa
Indonesia memiliki growth mindset, bandingkan dengan 69% rata-rata OECD. Di
Indonesia, siswa dengan growth mindset memperoleh skor sains sekitar 17 poin
lebih tinggi daripada siswa dengan fixed mindset setelah memperhitungkan
latar belakang sosial-ekonomi siswa dan sekolah (OECD, 2026). Angka itu tidak boleh dibaca sebagai stigma baru
terhadap siswa Indonesia. Sebaliknya, ia menunjukkan ruang intervensi yang
sangat konkret. Growth mindset bukan bakat bawaan, tetapi keyakinan bahwa
kemampuan dapat berkembang melalui usaha, strategi yang tepat, umpan balik,
latihan, dan kemauan untuk terus belajar. Ketika siswa percaya bahwa
kemampuan bisa berkembang, kesalahan tidak lagi dipahami sebagai vonis,
melainkan sebagai informasi untuk memperbaiki cara belajar. Di sinilah pembelajaran mendalam (PM) memperoleh
relevansi strategis. PM dapat menjadi jembatan untuk mengubah rasa ingin tahu
menjadi kemampuan menyelidiki, ketekunan menjadi kemampuan memecahkan
masalah, dukungan guru menjadi kemandirian belajar, dan refleksi menjadi
kesadaran untuk terus bertumbuh kembang. Prinsip berkesadaran, bermakna, dan
menggembirakan harus hadir dalam pengalaman memahami, mengaplikasi, dan
merefleksi. Dengan demikian, PM bukan tambahan administratif, melainkan cara
untuk memperdalam proses belajar yang sebenarnya sudah memiliki banyak modal
positif. PISA 2025 juga menunjukkan 53% siswa Indonesia
menggunakan AI chatbot untuk membantu belajar setidaknya sekali seminggu,
lebih tinggi daripada rata-rata OECD 46% (OECD, 2026). Ini membuka peluang
besar, tetapi juga menuntut arah pedagogis yang jelas. Tanpa PM, AI mudah
menjadi jalan pintas dan karbitan untuk memperoleh jawaban secara instan.
Dengan PM, AI dapat dipakai untuk bertanya, membandingkan argumen, mencari
bukti, menguji gagasan, dan memperdalam penalaran. PENDIDIKAN BERMUTU Semua temuan ini relevan dengan misi Menteri
Pendidikan Dasar dan Menengah Prof Abdul Mu'ti: Pendidikan Bermutu untuk
Semua, yang menekankan pemerataan akses sekaligus jaminan mutu
(Kemendikdasmen, 2025). Kata ‘bermutu’ menuntut peningkatan capaian, sedangkan
‘untuk semua’ menuntut agar kemajuan tidak hanya dinikmati sekolah elite
dan/atau kelompok siswa tertentu. Karena itu, keberhasilan ke depan tidak
cukup diukur dari naiknya capaian rata-rata nasional, tetapi juga dari
kemampuan sistem pendidikan mengangkat siswa yang paling tertinggal. PISA 2025 memberi kita alasan untuk optimistis
sekaligus bekerja lebih keras. Skor membaca dan sains meningkat, literasi dan
numerasi nasional membaik, rasa ingin tahu serta ketekunan siswa kuat, serta
dukungan guru menunjukkan fondasi yang menjanjikan. Matematika masih
memerlukan perhatian serius, sementara growth mindset perlu diperkuat secara
sistematis di kalangan siswa dan guru. Tugas kebijakan sekarang ialah mengonversi
seluruh modal positif itu menjadi hasil belajar yang lebih tinggi, lebih
dalam, dan lebih merata. Jika PM mampu memainkan peran tersebut, PISA tidak
lagi sekadar laporan tiga tahunan tentang posisi Indonesia, tetapi juga
menjadi kompas untuk semakin mendekatkan kita pada cita-cita Pendidikan
Bermutu untuk Semua. ● Sumber : https://mediaindonesia.com/opini/931715/hasil-pisa-growth-mindset-dan-peran-deep-learning
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar