Sabtu, 12 September 2026

 

Hasil PISA, Growth Mindset, dan Peran Deep Learning

Suyanto  :   Ketua Dewan Pendidikan Nasional, Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Negeri Yogyakarta.

MEDIA INDONESIA, 10 September 2026

 

                                                

 

HASIL PISA 2025 membawa kabar yang patut diapresiasi bagi pendidikan Indonesia. Skor membaca meningkat dari 359 pada 2022 menjadi 365 pada 2025. Adapun skor sains naik dari 383 menjadi 389. Kenaikan enam poin pada dua bidang tersebut memberi sinyal positif bahwa upaya memperbaiki mutu pembelajaran mulai menunjukkan hasil.

 

Pada matematika, skor turun tipis dari 366 menjadi 364. Bidang ini jelas masih menuntut kerja nasional yang lebih keras dan strategi yang lebih tajam. Secara keseluruhan, capaian Indonesia memang masih berada di bawah rata-rata OECD. Akan tetapi, membaca PISA hanya sebagai daftar kekurangan akan membuat kita kehilangan pelajaran penting dari kemajuan yang sudah terjadi (OECD, 2026).

 

Arah positif itu juga sejalan dengan data nasional. Rapor pendidikan menunjukkan proporsi murid yang mencapai kompetensi minimum literasi meningkat dari 59,49% pada 2022 menjadi 70,03% pada 2024. Pada numerasi, kenaikannya bahkan lebih besar, dari 45,24% menjadi 67,94% (Kemendikdasmen, 2025). Data ini penting karena menunjukkan bahwa perbaikan pembelajaran tidak berjalan di tempat. Tantangannya kini ialah menjaga konsistensi, memperluas dampak, dan memastikan kemajuan tersebut menjangkau seluruh kelompok siswa.

 

CERITA DI BALIK SKOR

 

Justru di sinilah keunikan PISA 2025 menarik untuk dibaca. Laporan ini tidak hanya menyediakan skor, tetapi juga memperlihatkan cerita di balik skor: bagaimana siswa belajar, bagaimana mereka menghadapi kesulitan, dan bagaimana guru mendampingi proses belajar. Sebanyak 80% siswa Indonesia menyatakan ingin tahu terhadap banyak hal, lebih tinggi daripada rata-rata OECD 73%. Sebanyak 74% mengatakan mereka menambah usaha ketika pekerjaan menjadi sulit, dibandingkan 60% rata-rata OECD. Hanya 9% yang menganggap sekolah sebagai pemborosan waktu, jauh di bawah rata-rata OECD 24% (OECD, 2026).

 

Modal belajar itu semakin kuat ketika dilihat dari kemampuan mengatur diri. Sebanyak 90% siswa meminta bantuan guru ketika membutuhkan dan 92% meminta bantuan teman ketika belum memahami sesuatu. Dukungan guru juga menggembirakan: 82% siswa menyatakan guru sains menunjukkan perhatian terhadap pembelajaran setiap siswa, 85% mengatakan guru terus mengajar sampai siswa memahami, dan 80% memperoleh bantuan tambahan saat membutuhkannya (OECD, 2026). Dengan kata lain, ada fondasi sosial-pedagogis yang cukup baik untuk mempercepat peningkatan mutu hasil belajar.

 

GROWTH MINDSET

 

Namun, cerita positif tersebut sekaligus membawa pertanyaan kebijakan: mengapa modal belajar yang relatif kuat itu belum sepenuhnya terkonversi menjadi capaian akademik yang tinggi? Salah satu jawabannya terlihat pada growth mindset. PISA 2025 mencatat baru 30% siswa Indonesia memiliki growth mindset, bandingkan dengan 69% rata-rata OECD. Di Indonesia, siswa dengan growth mindset memperoleh skor sains sekitar 17 poin lebih tinggi daripada siswa dengan fixed mindset setelah memperhitungkan latar belakang sosial-ekonomi siswa dan sekolah (OECD, 2026).

 

Angka itu tidak boleh dibaca sebagai stigma baru terhadap siswa Indonesia. Sebaliknya, ia menunjukkan ruang intervensi yang sangat konkret. Growth mindset bukan bakat bawaan, tetapi keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha, strategi yang tepat, umpan balik, latihan, dan kemauan untuk terus belajar. Ketika siswa percaya bahwa kemampuan bisa berkembang, kesalahan tidak lagi dipahami sebagai vonis, melainkan sebagai informasi untuk memperbaiki cara belajar.

 

Di sinilah pembelajaran mendalam (PM) memperoleh relevansi strategis. PM dapat menjadi jembatan untuk mengubah rasa ingin tahu menjadi kemampuan menyelidiki, ketekunan menjadi kemampuan memecahkan masalah, dukungan guru menjadi kemandirian belajar, dan refleksi menjadi kesadaran untuk terus bertumbuh kembang. Prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan harus hadir dalam pengalaman memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Dengan demikian, PM bukan tambahan administratif, melainkan cara untuk memperdalam proses belajar yang sebenarnya sudah memiliki banyak modal positif.

 

PISA 2025 juga menunjukkan 53% siswa Indonesia menggunakan AI chatbot untuk membantu belajar setidaknya sekali seminggu, lebih tinggi daripada rata-rata OECD 46% (OECD, 2026). Ini membuka peluang besar, tetapi juga menuntut arah pedagogis yang jelas. Tanpa PM, AI mudah menjadi jalan pintas dan karbitan untuk memperoleh jawaban secara instan. Dengan PM, AI dapat dipakai untuk bertanya, membandingkan argumen, mencari bukti, menguji gagasan, dan memperdalam penalaran.

 

PENDIDIKAN BERMUTU

 

Semua temuan ini relevan dengan misi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof Abdul Mu'ti: Pendidikan Bermutu untuk Semua, yang menekankan pemerataan akses sekaligus jaminan mutu (Kemendikdasmen, 2025). Kata ‘bermutu’ menuntut peningkatan capaian, sedangkan ‘untuk semua’ menuntut agar kemajuan tidak hanya dinikmati sekolah elite dan/atau kelompok siswa tertentu. Karena itu, keberhasilan ke depan tidak cukup diukur dari naiknya capaian rata-rata nasional, tetapi juga dari kemampuan sistem pendidikan mengangkat siswa yang paling tertinggal.

 

PISA 2025 memberi kita alasan untuk optimistis sekaligus bekerja lebih keras. Skor membaca dan sains meningkat, literasi dan numerasi nasional membaik, rasa ingin tahu serta ketekunan siswa kuat, serta dukungan guru menunjukkan fondasi yang menjanjikan. Matematika masih memerlukan perhatian serius, sementara growth mindset perlu diperkuat secara sistematis di kalangan siswa dan guru.

 

Tugas kebijakan sekarang ialah mengonversi seluruh modal positif itu menjadi hasil belajar yang lebih tinggi, lebih dalam, dan lebih merata. Jika PM mampu memainkan peran tersebut, PISA tidak lagi sekadar laporan tiga tahunan tentang posisi Indonesia, tetapi juga menjadi kompas untuk semakin mendekatkan kita pada cita-cita Pendidikan Bermutu untuk Semua.

Sumber :  https://mediaindonesia.com/opini/931715/hasil-pisa-growth-mindset-dan-peran-deep-learning

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar