|
Tribut kepada 8 Ksatria Peliput Anak Krakatau Eben E Siadari : Mahasiswa Magister Komunikasi Politik di Universitas
Paramadina Jakarta. |
MEDIA INDONESIA, 14 September 2026
|
SAYA tidak pernah melupakan percakapan di
hari pertama bekerja sebagai wartawan
36 tahun lalu. Setelah melewati serangkaian tes tertulis dan
wawancara, kami berlima, semuanya fresh graduate (tiga lulusan IPB, satu
lulusan Unpad, dan satu lulusan Unand) resmi diterima sebagai calon reporter. Hari itu kami diarahkan berkumpul ke ruang rapat.
Kami dijadwalkan berkenalan dengan
redaktur pelaksana (redpel) sekaligus mendapat arahan darinya. Itulah awal
dari masa perkenalan selama sepekan. Lalu dilanjutkan dengan masa magang, percobaan, dan training selama
sembilan bulan. Saya ingat Pak Redpel memasuki ruang rapat
membawa selembar kertas karton tergulung. Setelah saling memperkenalkan diri,
ia membuka lembaran kertas karton yang ia bawa tadi. Sebuah kalimat tertulis
di sana: “No News in This Room.” Ia menggunakan kalimat di karton itu untuk
memperkenalkan tugas utama seorang reporter: wartawan harus di lapangan,
sedekat mungkin dengan peristiwa. Wartawan, menurut beliau, tempatnya di
jalan, di pasar, di ruang mayat, di reruntuhan gempa, dan seterusnya.
Belakangan saya tahu bahwa no news in this room memang sebuah frasa yang
cukup popular di dunia jurnalistik. Di awal abad 20 berita-berita keras (hard news)
menjadi jualan utama surat kabar. Para editor akan sangat marah bila reporter
terlalu lama mengobrol dan mengetik di kantor karena itu berarti mereka tidak
akan pernah bisa mendapatkan breaking news. Filosofi kerja reporter ketika
itu sangat radikal. Sebuah berita hanya tercipta jika wartawan meninggalkan
ruangan dan pergi ke tempat kejadian perkara (TKP). Muncul sebutan shoe-leather journalism,
jurnalisme sol sepatu, metafora menggambarkan bagaimana reporter menghabiskan
sebagian besar waktunya berjalan kaki dari satu pintu ke pintu lain, mengejar
dan menggali berita sampai-sampai sol sepatu kulit mereka benar-benar aus. Jurnalisme sol sepatu mengharuskan reporter
benar-benar hadir dalam peristiwa. Mereka jadi saksi mata. Informasi yang
diperoleh harus dari tangan pertama. No News in This Room (atau No
News in the Newsroom) menjadi nasihat standar bagi para reporter pemula. “Sangat sulit mendapatkan apa pun jika hanya
duduk di belakang meja,” kata Bill Wundram, seorang wartawan The Quad-City
Times yang baru berhenti dari dunia jurnalistik di usia 93 pada 2022 setelah
bekerja lebih dari 74 tahun. Spirit No News in This Room Nasihat No News in This Room itu menyembul
di benak tatkala saya membaca berita tentang hilangnya lima wartawan berserta
tiga kru kapal yang mereka tumpangi dalam upaya meliput letusan Gunung Anak
Krakatau 7 September lalu. Di sela-sela membaca banyak berita tentang
berbagai kelompok masyarakat yang memanjatkan doa bagi keselamatan Bagus,
Arbas, Yudis, Daus, Donal, Warta, Surakman, dan Heriyanto, saya membayangkan
mereka sebagai sosok-sosok yang digerakkan oleh gairah ‘No News in This
Room.’ Profil Bagus dkk memperlihatkan mereka bukan orang baru di pekerjaan
masing-masing. Mereka juga tampaknya sudah berpengalaman meliput bencana. Bagus (Muhammad Bagus Khoirunas), pewarta foto
dari LKBN Antara, sudah menjadi wartawan sejak 2018. Ia pernah meliput
tsunami di Banten. Ayahnya mengenal anak tunggalnya itu sebagai seorang
pemberani. Pengalaman Arbas (Arie Basuki), jurnalis dari
Merdeka.com, lebih panjang lagi. Ia sudah jadi wartawan sejak 1998. Arbas
tercatat pernah meliput Tsunami Aceh 2004, Konflik Poso, Gempa dan Tsunami
Palu, hingga meliput Perang Sipil
Libya pada 2011. Ia telah meraih berbagai penghargaan dari dalam dan luar
negeri, termasuk dari World Press
Photo. Yudis (Yudistiro Pranoto), jurnalis dari iNews,
bekerja sebagai wartawan sejak 19 tahun lalu. Rekan-rekannya mengakui
ketajamannya mengabadikan sisi emosinal peristiwa. Simpatinya pada
kemanusiaan ia tuangkan dalam satu postingannya di akun medsosnya saat
meliput unjuk rasa Agustus 2026 yang menjadi viral. "Tidak Ada Berita
Seharga Nyawa." Daus (Firdaus Wajidi), tercatat pernah bekerja
penuh waktu untuk Anadolu Agency —kantor berita internasional milik
pemerintah Turki—pada rentang waktu Maret 2018 hingga Agustus 2023 di
Jakarta. Saat peristiwa peliputan Gunung Anak Krakatau, ia bertugas sebagai
kamerawan lepas untuk kantor berita tersebut. Donal (Donal Husni), pekerja media atau jurnalis
foto lepas, sudah menekuni pekerjaannya sejak 2010. Lulusan Diploma Kesehatan
Masyarakat UI 1998 ini memperdalam kemampuan jurnalistiknya secara formal
dengan menempuh pendidikan di Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA). Karya-karyanya didistribusikan secara
global, antara lain melalui agensi foto internasional NurPhoto dan Reuters
Connect. Bersama kelima jurnalis tersebut, tiga kru kapal yang ikut hilang dalam
rombongan juga memiliki jam terbang tinggi. Warta, 55 tahun, kapten kapal, dikenal
sebagai pelaut lokal senior. Ia cukup
lama menekuni pekerjaannya, menavigasi ombak dan arus Selat Sunda. Surakman, 60 tahun, memiliki pengalaman puluhan
tahun dalam pemeliharaan teknis kapal serta mitigasi keselamatan darurat di
laut. Sedangkan Heriyanto, 49 tahun, pemandu wisata
lokal senior yang berbasis di kawasan Carita, Pandeglang. Ia sering mengantarkan rombongan wisatawan
maupun kunjungan dinas menuju wilayah Gunung Anak Krakatau. Dengan rekam jejak demikian, sulit mengatakan
bahwa para wartawan dan pelaut yang luar biasa ini tidak memperhitungkan
berbagai risiko yang mereka hadapi. Maju Ketika Semua Mundur Ketika negara memerintahkan semua orang untuk
mundur, berlindung di dalam rumah, dan mengunci pintu dari paparan abu,
mereka melangkah maju menembus ombak Selat Sunda. Mereka meninggalkan
kenyamanan newsroom dan mendekat sedekat mungkin ke TKP. Ketika warga Jakarta
cukup puas menyaksikan para news anchor membaca teks berita di bawah pendar
lampu studio yang hangat dan steril, Bagus dkk pergi untuk memperoleh berita
dari tangan pertama. Tatkala para pejabat mengarahkan pandangan pada
layar digital lebar di war room, yang sekali sentuh menampilkan beragam data
dan gambar satelit, delapan kesatria itu pergi untuk memastikan tombol-tombol
layar sentuh itu mengatakan fakta sebenarnya. Bagus dkk meruntuhkan stereotip
media di era digital yang sering dituduh hanya pemburu klik, penyebar
sensasi, atau perpanjang tangan rilis resmi penguasa. Di saat publik dilanda demam akal imitasi (AI)
dan pemujaan berlebih pada data makro, Bagus dkk meneguhkan pameo klasik
bahwa masalah tidak bisa diselesaikan dari belakang meja. Ketika dunia
semakin percaya pada algoritma big
data, Bagus dkk menyampaikan pesan penting: datang langsung ke akar masalah
sangat perlu selain membaca data dari jarak aman. Di era yang ditandai oleh arus informasi cepat,
peliputan digital, dan konten buatan AI, jurnalisme sol sepatu atau
jurnalisme lapangan menjadi sangat krusial meskipun berisiko tinggi.
Jurnalisme data memang kini sedang naik daun, dengan analisis dan peliputan
jarak jauh yang membuat cara kerja ruang redaksi memusatkan perhatian pada
monitor komputer dan gawai digital sebagai pusat kegiatan reportase. Namun, letusan Gunung Anak Krakatau menunjukkan
bahwa peliputan berbasis elektronik saja tidak dapat menggantikan kedalaman,
akurasi, dan pemahaman manusiawi yang diperoleh dengan hadir dan bersentuhan
langsung dengan lokasi saat peristiwa berlangsung. Hanya dengan peliputan lapangan jurnalis dapat
mengumpulkan fakta dari sumbernya dan melaporkan berdasarkan bukti primer.
Ini adalah cara paling telak untuk mengeliminasi unsur-unsur spekulatif yang
beredar masif di ranah publik saat bencana. Liputan lapangan juga memberikan konteks yang
tidak dapat disediakan peliputan jarak jauh. Mereka yang duduk di belakang
meja kerap menyederhanakan masalah menjadi hitam dan putih, benar dan salah,
karena terbiasa membaca data yang telah diekstraksi dan diabstraksi. Ini
menyebabkan perangkap bias yang ekstrem: terlalu kritis atau terlalu
optimistis pada laporan berita. Di sini peran penting peliputan dari pintu ke
pintu, kendati sol sepatu harus menipis. Di lapangan para jurnalis menghadapi
dan mengalami konteks, yang memberi mereka lensa untuk melihat nuansa.
Konteks sosial, budaya, politik, bahkan ganasnya alam memberi jurnalis
pemahaman lebih kaya untuk tidak segera memberi penghakiman atas realitas. Tanpa kehadiran wartawan langsung di lapangan,
tulis Free Press Alliance dalam artikelnya ''Why field research matters: The
foundation of credible journalism'' (2026) lapisan-lapisan penting dari
sebuah cerita akan tetap tersembunyi. Peliputan lapangan memberi kesempatan
para jurnalis mengoreksi bias yang ada di bawah sadar mereka. Dengan
menghadapi kondisi dunia nyata, wartawan terdorong untuk meninjau kembali
asumsi mereka yang terbentuk bertahun-tahun di newsroom. Berkonfrontasi
dengan fakta di lapangan mengurangi risiko melanggengkan stereotip atau
narasi yang tidak lengkap. Di atas semua itu, menangkap dimensi manusiawi
adalah aspek yang paling tak tergantikan oleh laporan dari lapangan.
Statistik dapat memaparkan tren, kata Free Press Alliance, namun tidak dapat
sepenuhnya menyampaikan pengalaman hidup yang nyata. Dimensi manusiawi ini sangat penting, tidak hanya
untuk penyampaian cerita tetapi juga untuk akuntabilitas. Ia memastikan
jurnalisme tetap terhubung dengan publik yang dilayaninya, alih-alih menjadi
terasing dari mereka. Ketika para jurnalis datang dari lapangan dan
menunjukkan bagaimana duduk perkara sebenarnya, mereka menjadi pahlawan bagi
profesi mereka. Kontribusi otentik mereka dapat merengkuh kembali kepercayaan
publik terhadap media yang sudah cukup lama tergerus. Mencintai Kebenaran Mengalahkan Rasa Takut Bagus dkk berangkat ke medan tugas dengan
mengambil risiko yang tidak biasa. Saya menyebut mereka sebagai
kesatria-kesatria yang mencintai kebenaran melebihi rasa takut mereka
sendiri. Mereka mempertaruhkan nyawa, seperti para tenaga
medis yang berjuang membantu penderita Covid-19, para kru Damkar yang
berjuang memadamkan api, dan profesi-profesi lain yang sering harus
berhadap-hadapan dengan maut. Mereka adalah manusia-manusia dengan integritas
tegak lurus kepada panggilan tugas yang tidak bisa dibeli oleh algoritma mana
pun. Musibah yang mereka hadapi memberi banyak pelajaran, tetapi bukan untuk
menebalkan rasa takut. Sebagai sebuah tribut, esai ini ingin berpesan
agar peristiwa hilangnya para wartawan dan tiga kru kapal yang membantu
mereka menjadi kurikulum kehidupan bagi anak-anak yang hari ini belajar di
rumah melalui layar gawai mereka. Di balik setiap informasi bersih yang
mereka baca ada manusia yang menembus badai abu untuk memverifikasinya. Peristiwa ini memberi pelajaran literasi dan
empati: bahwa berita bukan sesuatu
yang dikerjakan sambil lalu, melainkan hasil dari keringat, komitmen etis,
dan terkadang pertaruhan nyawa. Ini menjadi momen yang baik untuk mendidik
generasi muda agar menghargai fakta di atas rumor, dan menghormati profesi
pers sebagai penjaga gerbang kebenaran bagi publik. Bagi para mahasiswa jurnalistik yang tengah
menatap profesi mereka di masa depan, jurnalisme sol sepatu yang dipraktikkan
oleh para kesatria Gunung Anak Krakatau ini menjadi inspirasi. Ia layak
dibangkitkan kembali dalam dimensi masa kini. Di tengah disrupsi teknologi dengan segala
kemudahan dan tantangannya, jurnalisme adalah sains tentang verifikasi dan
saksi mata terkini. Jurnalisme bekerja
untuk dekat dan setia pada realitas bahkan ketika dunia memilih bersembunyi. ● Sumber : https://mediaindonesia.com/opini/933185/tribut-kepada-8-ksatria-peliput-anak-krakatau
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar