Selasa, 15 September 2026

 

Tribut kepada 8 Ksatria Peliput Anak Krakatau

Eben E Siadari  :   Mahasiswa Magister Komunikasi Politik di Universitas Paramadina Jakarta.

MEDIA INDONESIA, 14 September 2026

 

                                                

 

SAYA tidak pernah melupakan percakapan di hari  pertama bekerja sebagai wartawan 36 tahun lalu.

 

Setelah melewati serangkaian tes tertulis dan wawancara, kami berlima, semuanya fresh graduate (tiga lulusan IPB, satu lulusan Unpad, dan satu lulusan Unand) resmi diterima sebagai calon reporter.

Hari itu kami diarahkan berkumpul ke ruang rapat. Kami dijadwalkan  berkenalan dengan redaktur pelaksana (redpel) sekaligus mendapat arahan darinya. Itulah awal dari masa perkenalan selama sepekan. Lalu dilanjutkan dengan  masa magang, percobaan, dan training selama sembilan bulan.

 

Saya ingat Pak Redpel memasuki ruang rapat membawa selembar kertas karton tergulung. Setelah saling memperkenalkan diri, ia membuka lembaran kertas karton yang ia bawa tadi. Sebuah kalimat tertulis di sana: “No News in This Room.”

 

Ia menggunakan kalimat di karton itu untuk memperkenalkan tugas utama seorang reporter: wartawan harus di lapangan, sedekat mungkin dengan peristiwa. Wartawan, menurut beliau, tempatnya di jalan, di pasar, di ruang mayat, di reruntuhan gempa, dan seterusnya. Belakangan saya tahu bahwa no news in this room memang sebuah frasa yang cukup popular di dunia jurnalistik.

 

Di awal abad 20 berita-berita keras (hard news) menjadi jualan utama surat kabar. Para editor akan sangat marah bila reporter terlalu lama mengobrol dan mengetik di kantor karena itu berarti mereka tidak akan pernah bisa mendapatkan breaking news. Filosofi kerja reporter ketika itu sangat radikal. Sebuah berita hanya tercipta jika wartawan meninggalkan ruangan dan pergi ke tempat kejadian perkara (TKP).

 

Muncul sebutan shoe-leather journalism, jurnalisme sol sepatu, metafora menggambarkan bagaimana reporter menghabiskan sebagian besar waktunya berjalan kaki dari satu pintu ke pintu lain, mengejar dan menggali berita sampai-sampai sol sepatu kulit mereka benar-benar aus.

 

Jurnalisme sol sepatu mengharuskan reporter benar-benar hadir dalam peristiwa. Mereka jadi saksi mata. Informasi yang diperoleh harus dari tangan pertama. No News in This Room (atau No News in the Newsroom) menjadi nasihat standar bagi para reporter pemula.

“Sangat sulit mendapatkan apa pun jika hanya duduk di belakang meja,” kata Bill Wundram, seorang wartawan The Quad-City Times yang baru berhenti dari dunia jurnalistik di usia 93 pada 2022 setelah bekerja lebih dari 74 tahun.

 

Spirit No News in This Room

 

Nasihat No News in This Room itu menyembul di benak tatkala saya membaca berita tentang hilangnya lima wartawan berserta tiga kru kapal yang mereka tumpangi dalam upaya meliput letusan Gunung Anak Krakatau 7 September lalu.

 

Di sela-sela membaca banyak berita tentang berbagai kelompok masyarakat yang memanjatkan doa bagi keselamatan Bagus, Arbas, Yudis, Daus, Donal, Warta, Surakman, dan Heriyanto, saya membayangkan mereka sebagai sosok-sosok yang digerakkan oleh gairah ‘No News in This Room.’ Profil Bagus dkk memperlihatkan mereka bukan orang baru di pekerjaan masing-masing. Mereka juga tampaknya sudah berpengalaman meliput bencana.

 

Bagus (Muhammad Bagus Khoirunas), pewarta foto dari LKBN Antara, sudah menjadi wartawan sejak 2018. Ia pernah meliput tsunami di Banten. Ayahnya mengenal anak tunggalnya itu sebagai seorang pemberani.

 

Pengalaman Arbas (Arie Basuki), jurnalis dari Merdeka.com, lebih panjang lagi. Ia sudah jadi wartawan sejak 1998. Arbas tercatat pernah meliput Tsunami Aceh 2004, Konflik Poso, Gempa dan Tsunami Palu,  hingga meliput Perang Sipil Libya pada 2011. Ia telah meraih berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri, termasuk dari  World Press Photo.

 

Yudis (Yudistiro Pranoto), jurnalis dari iNews, bekerja sebagai wartawan sejak 19 tahun lalu. Rekan-rekannya mengakui ketajamannya mengabadikan sisi emosinal peristiwa. Simpatinya pada kemanusiaan ia tuangkan dalam satu postingannya di akun medsosnya saat meliput unjuk rasa Agustus 2026 yang menjadi viral. "Tidak Ada Berita Seharga Nyawa."

 

Daus (Firdaus Wajidi), tercatat pernah bekerja penuh waktu untuk Anadolu Agency —kantor berita internasional milik pemerintah Turki—pada rentang waktu Maret 2018 hingga Agustus 2023 di Jakarta. Saat peristiwa peliputan Gunung Anak Krakatau, ia bertugas sebagai kamerawan lepas untuk kantor berita tersebut.

 

Donal (Donal Husni), pekerja media atau jurnalis foto lepas, sudah menekuni pekerjaannya sejak 2010. Lulusan Diploma Kesehatan Masyarakat UI 1998 ini memperdalam kemampuan jurnalistiknya secara formal dengan menempuh pendidikan di Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA).  Karya-karyanya didistribusikan secara global, antara lain melalui agensi foto internasional NurPhoto dan Reuters Connect.

 

Bersama kelima jurnalis tersebut,  tiga kru kapal yang ikut hilang dalam rombongan juga memiliki jam terbang tinggi.

Warta, 55 tahun, kapten kapal, dikenal sebagai  pelaut lokal senior. Ia cukup lama menekuni pekerjaannya, menavigasi ombak dan arus Selat Sunda.

 

Surakman, 60 tahun, memiliki pengalaman puluhan tahun dalam pemeliharaan teknis kapal serta mitigasi keselamatan darurat di laut.

 

Sedangkan Heriyanto, 49 tahun, pemandu wisata lokal senior yang berbasis di kawasan Carita, Pandeglang. Ia  sering mengantarkan rombongan wisatawan maupun kunjungan dinas menuju wilayah Gunung Anak Krakatau.

 

Dengan rekam jejak demikian, sulit mengatakan bahwa para wartawan dan pelaut yang luar biasa ini tidak memperhitungkan berbagai risiko yang mereka hadapi.

 

Maju Ketika Semua Mundur

 

Ketika negara memerintahkan semua orang untuk mundur, berlindung di dalam rumah, dan mengunci pintu dari paparan abu, mereka melangkah maju menembus ombak Selat Sunda. Mereka meninggalkan kenyamanan newsroom dan mendekat sedekat mungkin ke TKP. Ketika warga Jakarta cukup puas menyaksikan para news anchor membaca teks berita di bawah pendar lampu studio yang hangat dan steril, Bagus dkk pergi untuk memperoleh berita dari tangan pertama.

 

Tatkala para pejabat mengarahkan pandangan pada layar digital lebar di war room, yang sekali sentuh menampilkan beragam data dan gambar satelit, delapan kesatria itu pergi untuk memastikan tombol-tombol layar sentuh itu mengatakan fakta sebenarnya. Bagus dkk meruntuhkan stereotip media di era digital yang sering dituduh hanya pemburu klik, penyebar sensasi, atau perpanjang tangan rilis resmi penguasa.

 

Di saat publik dilanda demam akal imitasi (AI) dan pemujaan berlebih pada data makro, Bagus dkk meneguhkan pameo klasik bahwa masalah tidak bisa diselesaikan dari belakang meja. Ketika dunia semakin percaya  pada algoritma big data, Bagus dkk menyampaikan pesan penting: datang langsung ke akar masalah sangat perlu selain membaca data dari jarak aman.

 

Di era yang ditandai oleh arus informasi cepat, peliputan digital, dan konten buatan AI, jurnalisme sol sepatu atau jurnalisme lapangan menjadi sangat krusial meskipun berisiko tinggi. Jurnalisme data memang kini sedang naik daun, dengan analisis dan peliputan jarak jauh yang membuat cara kerja ruang redaksi memusatkan perhatian pada monitor komputer dan gawai digital sebagai pusat kegiatan reportase.

 

Namun, letusan Gunung Anak Krakatau menunjukkan bahwa peliputan berbasis elektronik saja tidak dapat menggantikan kedalaman, akurasi, dan pemahaman manusiawi yang diperoleh dengan hadir dan bersentuhan langsung dengan lokasi saat peristiwa berlangsung.

 

Hanya dengan peliputan lapangan jurnalis dapat mengumpulkan fakta dari sumbernya dan melaporkan berdasarkan bukti primer. Ini adalah cara paling telak untuk mengeliminasi unsur-unsur spekulatif yang beredar masif di ranah publik saat bencana.

 

Liputan lapangan juga memberikan konteks yang tidak dapat disediakan peliputan jarak jauh. Mereka yang duduk di belakang meja kerap menyederhanakan masalah menjadi hitam dan putih, benar dan salah, karena terbiasa membaca data yang telah diekstraksi dan diabstraksi. Ini menyebabkan perangkap bias yang ekstrem: terlalu kritis atau terlalu optimistis pada laporan berita.

 

Di sini peran penting peliputan dari pintu ke pintu, kendati sol sepatu harus menipis. Di lapangan para jurnalis menghadapi dan mengalami konteks, yang memberi mereka lensa untuk melihat nuansa. Konteks sosial, budaya, politik, bahkan ganasnya alam memberi jurnalis pemahaman lebih kaya untuk tidak segera memberi penghakiman atas realitas.

 

Tanpa kehadiran wartawan langsung di lapangan, tulis Free Press Alliance dalam artikelnya ''Why field research matters: The foundation of credible journalism'' (2026) lapisan-lapisan penting dari sebuah cerita akan tetap tersembunyi. Peliputan lapangan memberi kesempatan para jurnalis mengoreksi bias yang ada di bawah sadar mereka. Dengan menghadapi kondisi dunia nyata, wartawan terdorong untuk meninjau kembali asumsi mereka yang terbentuk bertahun-tahun di newsroom. Berkonfrontasi dengan fakta di lapangan mengurangi risiko melanggengkan stereotip atau narasi yang tidak lengkap.

 

Di atas semua itu, menangkap dimensi manusiawi adalah aspek yang paling tak tergantikan oleh laporan dari lapangan. Statistik dapat memaparkan tren, kata Free Press Alliance, namun tidak dapat sepenuhnya menyampaikan pengalaman hidup yang nyata.

 

Dimensi manusiawi ini sangat penting, tidak hanya untuk penyampaian cerita tetapi juga untuk akuntabilitas. Ia memastikan jurnalisme tetap terhubung dengan publik yang dilayaninya, alih-alih menjadi terasing dari mereka.

 

Ketika para jurnalis datang dari lapangan dan menunjukkan bagaimana duduk perkara sebenarnya, mereka menjadi pahlawan bagi profesi mereka. Kontribusi otentik mereka dapat merengkuh kembali kepercayaan publik terhadap media yang sudah cukup lama tergerus.

 

Mencintai Kebenaran Mengalahkan Rasa Takut

 

Bagus dkk berangkat ke medan tugas dengan mengambil risiko yang tidak biasa. Saya menyebut mereka sebagai kesatria-kesatria yang mencintai kebenaran melebihi rasa takut mereka sendiri.

 

Mereka mempertaruhkan nyawa, seperti para tenaga medis yang berjuang membantu penderita Covid-19, para kru Damkar yang berjuang memadamkan api, dan profesi-profesi lain yang sering harus berhadap-hadapan dengan maut.

Mereka adalah manusia-manusia dengan integritas tegak lurus kepada panggilan tugas yang tidak bisa dibeli oleh algoritma mana pun. Musibah yang mereka hadapi memberi banyak pelajaran, tetapi bukan untuk menebalkan rasa takut.

 

Sebagai sebuah tribut, esai ini ingin berpesan agar peristiwa hilangnya para wartawan dan tiga kru kapal yang membantu mereka menjadi kurikulum kehidupan bagi anak-anak yang hari ini belajar di rumah melalui layar gawai mereka. Di balik setiap informasi bersih yang mereka baca ada manusia yang menembus badai abu untuk memverifikasinya.

 

Peristiwa ini memberi pelajaran literasi dan empati: bahwa berita  bukan sesuatu yang dikerjakan sambil lalu, melainkan hasil dari keringat, komitmen etis, dan terkadang pertaruhan nyawa.

 

Ini menjadi momen yang baik untuk mendidik generasi muda agar menghargai fakta di atas rumor, dan menghormati profesi pers sebagai penjaga gerbang kebenaran bagi publik.

 

Bagi para mahasiswa jurnalistik yang tengah menatap profesi mereka di masa depan, jurnalisme sol sepatu yang dipraktikkan oleh para kesatria Gunung Anak Krakatau ini menjadi inspirasi. Ia layak dibangkitkan kembali dalam dimensi masa kini.

 

Di tengah disrupsi teknologi dengan segala kemudahan dan tantangannya, jurnalisme adalah sains tentang verifikasi dan saksi mata terkini.  Jurnalisme bekerja untuk dekat dan setia pada realitas bahkan ketika dunia memilih bersembunyi.

Sumber :  https://mediaindonesia.com/opini/933185/tribut-kepada-8-ksatria-peliput-anak-krakatau

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar