|
PERSIAPKAN 120 PENULIS INDONESIA MENUJU PANGGUNG DUNIA, 2026–2031 Denny JA : Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik/pendiri
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) |
FACEBOOK DENNY JA'S WORLD, 12 September 2026
|
Di
sebuah rak kecil, tersimpan buku yang ditulis seseorang hampir sepanjang
hidupnya. Di dalamnya ada perjuangan melawan diskriminasi, sejarah kampung
halaman, kematian ayah, cinta pertama, dan luka bangsanya. Buku
itu mungkin indah. Mungkin penting. Mungkin mampu menggetarkan seseorang yang
hidup sepuluh ribu kilometer dari tempat penulisnya dilahirkan. Namun orang
itu tak pernah membacanya. Bukan
karena bukunya buruk. Bukan pula karena kisahnya tidak universal. Mereka
hanya dipisahkan oleh bahasa, oleh sebuah samudra kata yang berdiri diam-diam
di antara dua manusia. Betapa
banyak karya Indonesia mengalami nasib serupa. Mereka lahir membawa seluruh
jiwa penulisnya, kemudian berhenti hanya beberapa langkah sebelum sampai di
perbatasan bahasa. Tragedi
kesusastraan terbesar kadang bukan karya buruk yang diterbitkan. Tragedi itu
justru karya besar yang telah lahir, tetapi tak pernah ditemukan dunia karena
tak memperoleh jalan, tak diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. -000- Pada
kepengurusan baru SATUPENA 2026–2031, saya membayangkan satu program unggulan
yang sederhana dalam konsep, tetapi besar dalam kemungkinan: 120 Penulis
Indonesia Menuju Pembaca Dunia. Selama
lima tahun, 120 karya dipilih melalui seleksi ketat, diterjemahkan secara
profesional ke bahasa Inggris, disunting dengan standar internasional,
diterbitkan dengan ISBN, lalu dibukakan jalan menuju pembaca dunia. Sekurang-kurangnya,
seluruh judul dipublikasikan melalui Google Books, sehingga tersedia bagi
pembaca di berbagai negara sejak hari pertama peluncuran resmi program ini. Seluruh
hasil penjualan buku, 100 persen, diberikan kepada penulis. Seluruh biaya
produksi, mulai dari terjemahan, penyuntingan, ISBN, hingga distribusi
digital, ditanggung sepenuhnya oleh Denny JA's Foundation. Penerjemahan
dikerjakan oleh tim khusus yang dibentuk SATUPENA. Tim itu pula yang menyusun
kisi-kisi seleksi, menetapkan buku siapa diterjemahkan, dan mengatur jadwal
penerbitan selama lima tahun. Karyanya
dapat berupa novel, cerpen, puisi, puisi esai, sejarah, pemikiran sosial, dan
nonfiksi yang membawa pengalaman Indonesia ikut masuk ke percakapan besar
dunia. Ini
bukan sekadar proyek penerjemahan. Ini proyek membangun jembatan kebudayaan
agar pengalaman Indonesia dapat berjalan melampaui geografi tempat pengalaman
itu pertama kali dilahirkan. SATUPENA
tidak menjanjikan 120 penulis akan menjadi bintang dunia. Tugas sebuah
asosiasi bukan menjamin kemenangan, melainkan memperbesar kemungkinan karya
terbaik menemukan pembacanya. Kurasi
independen menjamin representasi adil dari berbagai daerah, gender, serta
genre. Standar penerjemahan tinggi dipastikan melalui uji keterbacaan
internasional agar pesan lokal tersampaikan utuh tanpa kehilangan bobot
sastranya. -000- Stieg
Larsson memberikan inspirasi. Semasa hidupnya, ia terutama dikenal di Swedia
sebagai jurnalis dan aktivis, bukan sebagai novelis besar yang dibaca lintas
benua. Ia
meninggal pada 2004, sebelum novel-novel Millennium yang ditulisnya terbit
dalam edisi Swedia pertama pada 2005. Kemudian sesuatu yang luar biasa
terjadi di panggung dunia. The
Girl with the Dragon Tattoo diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk bahasa
Inggris pada 2008. Sebuah cerita yang berakar kuat pada masyarakat Swedia
memperoleh kehidupan baru di dunia. Novel-novelnya
kemudian menjadi fenomena internasional dan terjual puluhan juta eksemplar.
Menariknya, Larsson tidak menjadi kurang Swedia agar diterima dunia pembaca
yang jauh lebih luas. Ia
justru membawa masyarakat, politik, jurnalisme, kekerasan tersembunyi, dan
ketegangan sosial negerinya sendiri ke hadapan pembaca yang tak pernah
menginjakkan kaki di Swedia. -000- Pelajarannya
penting. Untuk menjadi global, penulis Indonesia tidak perlu meninggalkan
yang lokal. Justru lokalitas yang autentik dapat menjadi pintu paling lebar
menuju yang universal. Pembaca
New York tidak membutuhkan tiruan New York dari Jakarta. Yang belum mereka
miliki adalah Papua dari dalam, pesantren dari dalam, dan Minangkabau dari
dalam. Di
sinilah paradoks besar zaman kita. Teknologi membuat dunia semakin mirip.
Tetapi justru kemiripan itu membuat manusia semakin lapar terhadap sesuatu
yang berbeda. Kita
menggunakan telepon serupa. Menonton platform yang sama. Mendengar musik
global. Menginap di hotel serupa. Berjalan di pusat perbelanjaan yang semakin
seragam warna dan aromanya. Semakin
banyak kota menyerupai satu sama lain, semakin berharga kampung yang masih
mempunyai cerita, ritual, makanan, ingatan, bahasa, dan cara hidup berbeda
dari kota-kota itu. John
Naisbitt mempopulerkan gagasan global paradox. Semakin besar dan terintegrasi
sistem dunia, semakin penting pula identitas dan pemain-pemain kecil yang
hidup di dalamnya. Dalam
kebudayaan, paradoks itu semakin terasa. Globalisasi memperluas akses
terhadap dunia, tetapi sekaligus membuat sesuatu yang autentik dan berbeda
semakin bernilai bagi pembaca modern. Manusia
tidak hanya ingin mengetahui apa yang terjadi di tempat lain. Mereka juga
ingin mengetahui bagaimana manusia lain menjalani hidupnya dari hari ke hari. Bagaimana
keluarga Minangkabau menghadapi benturan tiga generasi? Bagaimana remaja
pesantren memahami cinta? Bagaimana seorang ibu Papua mengalami kehilangan?
Bagaimana manusia Bali memandang kematian? Kita
berbeda pada permukaan, tetapi sering bertemu di kedalaman. Kita mempunyai
adat berbeda, tetapi sama-sama mengenal cinta, kehilangan, ketakutan,
harapan, dan kematian. -000- Sastra
membuat manusia menemukan dirinya sendiri di dalam kehidupan seseorang yang
sangat berbeda darinya, di sebuah tempat yang mungkin tak pernah ia kunjungi
seumur hidup. Bahasa
Inggris penting bukan karena lebih tinggi daripada bahasa Indonesia. Ia
penting karena menjadi salah satu jembatan terbesar menuju sirkulasi pembaca
internasional pada abad ini. Han
Kang memberi contoh menarik. The Vegetarian, yang ditulis dalam bahasa Korea,
memperoleh jangkauan pembaca internasional jauh lebih luas setelah hadir
dalam terjemahan bahasa Inggris. Novel
itu memenangkan International Booker Prize 2016. Delapan tahun kemudian, Han
Kang menerima Nobel Sastra 2024 atas keseluruhan pencapaian kesusastraannya
yang panjang dan konsisten. Tentu
Nobel bukan akibat mekanis sebuah terjemahan. Namun perjalanan Han Kang
memperlihatkan bagaimana karya yang lahir dari bahasa lokal dapat memasuki
percakapan global melalui terjemahan. -000- Program
SATUPENA karena itu bukan proyek menginggriskan Indonesia. Kita justru
membawa pengalaman Indonesia memasuki bahasa yang memungkinkan lebih banyak
manusia di dunia mendengarnya. Indonesia
dihuni lebih dari 280 juta manusia. Tetapi kekayaan terbesarnya bukan jumlah.
Kekayaan itu berada pada keragaman pengalaman hidup yang berdenyut di
dalamnya. Ada
pesantren dan metropolitan. Ada masyarakat adat dan generasi digital. Ada
pesisir, pegunungan, pertambangan, kerajaan lokal, diaspora, serta kelas
menengah baru yang sedang tumbuh. Ada
pengalaman tentang agama, tradisi, modernitas, keluarga, migrasi, konflik,
rekonsiliasi, cinta, kehilangan, ketidakadilan, humor, kesetiaan, kekuasaan,
dan pengampunan sebagai bagian keseharian kita. Tetapi
lokalitas tidak boleh berhenti menjadi eksotisme. Rumah adat, ritual,
pakaian, dan makanan hanyalah dekorasi jika manusia di dalam cerita tidak
sungguh-sungguh hidup. Seorang
pembaca di Stockholm mungkin tidak mengetahui Bolaang Mongondow. Tetapi ia
memahami kehilangan ayah, cinta yang kandas, pengkhianatan sahabat, dan
ketakutan menghadapi kematian. Itulah
kekuatan sastra. Semakin dalam seorang penulis menggali tanah tempat ia
berpijak, semakin mungkin ia menemukan lapisan kemanusiaan yang hidup di
mana-mana di muka bumi. -000- Dalam
kreativitas, masa depan sulit diprediksi. Kita tidak pernah mengetahui buku
mana yang akhirnya menemukan momentum, pembaca, penerjemah, kritikus,
festival, agen sastra, atau penerbit yang tepat. Mungkin
dari 120 buku, hanya tiga puluh yang memperoleh perhatian. Sepuluh menarik
minat penerbit asing. Tiga menjadi percakapan serius. Dan hanya satu menjadi
fenomena. Tetapi
satu dapat mengubah banyak hal. Satu keberhasilan besar dapat membuat
penerbit dunia mulai bertanya siapa lagi penulis menarik dari Indonesia yang
belum mereka ketahui. Pertanyaan
itu penting. Sesudah satu pintu terbuka, penulis berikutnya tidak lagi
mengetuk tembok yang buta. Mereka mengetuk pintu yang sebelumnya sudah pernah
dibuka. Karena
itu, 120 adalah semacam portofolio kebudayaan. Kita tidak dapat memilih masa
depan, tetapi kita dapat memperbanyak karya bermutu yang memperoleh
kesempatan untuk menemukannya. Seleksi
harus ketat. Terjemahan harus unggul. Penyuntingan harus profesional.
Metadata dan distribusi harus berstandar global. Promosi harus cerdas dan
konsisten sepanjang tahun. Karya
perlu diperkenalkan kepada reviewer, komunitas pembaca, diaspora, festival,
agen, dan penerbit asing. Program ini tidak boleh berhenti pada seremoni
peluncuran di dalam negeri. Kita
tidak dapat menentukan buku mana yang pada akhirnya akan terbang. Tetapi kita
dapat membangun landasan pacunya, cukup panjang dan cukup rata untuk lepas
landas. -000- David
Damrosch dalam What Is World Literature?, Princeton University Press, 2003,
menawarkan gagasan penting. Sastra dunia bukan sekadar kumpulan mahakarya
dari berbagai bangsa besar. Karya
memasuki sastra dunia juga melalui peredarannya melampaui kebudayaan asal.
Terjemahan memberi sebuah karya kesempatan memperoleh kehidupan kedua di
hadapan pembaca yang berbeda. Pelajarannya
jelas. Tidak cukup menghasilkan buku bagus. Kita membutuhkan ekosistem yang
membuat buku itu diterjemahkan, diedarkan, ditemukan, dibicarakan, dan
ditafsirkan kembali secara terus-menerus. Program
120 penulis karena itu bukan sekadar ekspor buku. Ia adalah usaha memperluas
wilayah kehidupan karya Indonesia di dalam republik pembaca dunia yang terus
tumbuh. John
Naisbitt dalam Global Paradox, William Morrow and Company, 1994, membantu
menjelaskan mengapa proyek semacam ini justru semakin relevan pada dunia yang
terintegrasi. Semakin
ekonomi dan teknologi menghubungkan dunia, pemain dan identitas kecil justru
dapat memperoleh ruang baru yang lebih luas. Globalisasi tidak otomatis
menghapus yang lokal. Dalam
kebudayaan, pelajarannya bahkan lebih menarik. Ketika produk dan gaya hidup
semakin seragam, keunikan lokal menjadi semakin langka dan karena itu menjadi
semakin bernilai. Indonesia
tidak perlu menjadi tiruan pusat kebudayaan lama. Kita justru perlu membawa
pengalaman yang hanya dapat lahir dari sejarah, bahasa, dan pergulatan
panjang bangsa Indonesia. Paradoks
global itu sederhana. Semakin mudah dunia saling menyerupai satu sama lain,
semakin berharga suara yang berani tetap berbeda dan setia pada dirinya
sendiri. -000- Saya
cukup lama hidup bersama dunia tulisan. Saya belajar bahwa sebuah karya
mempunyai nasib sendiri setelah meninggalkan meja tempat penulis pertama kali
melahirkannya ke dunia. Ada
tulisan yang kita anggap sederhana, ternyata menyentuh banyak orang. Ada pula
tulisan yang kita yakini penting, tetapi berjalan sunyi tanpa percakapan
berarti di sekitarnya. Pengalaman
itu mengajarkan kerendahan hati. Penulis dapat mengendalikan kesungguhannya
ketika menulis, tetapi ia tidak pernah sepenuhnya mengendalikan bagaimana
sejarah kelak menerima tulisannya. Saya
juga mengalami bagaimana bahasa mengubah jangkauan sebuah karya. Ketika hadir
dalam bahasa lain, tulisan seperti seorang anak yang untuk pertama kali
meninggalkan rumah. Ia
masih membawa pengalaman kita. Tetapi sekarang ia mengetuk rumah manusia yang
dibesarkan oleh sejarah, agama, bahasa, iklim, dan kebudayaan yang berbeda
dari kita. Bayangkan
seorang penulis dari kota kecil Indonesia dibaca seseorang di Oslo. Mereka
tak pernah bertemu, mungkin berbeda agama, bahasa, warna kulit, kelas sosial,
dan sejarah. Tetapi
pada halaman tertentu, keduanya menangis karena memahami pengalaman
kehilangan yang sama. Bagi saya, itulah internasionalisasi sesungguhnya yang
layak diperjuangkan bersama. Bukan
sekadar buku tersedia secara global, tetapi pengalaman lokal berhasil berubah
menjadi perjumpaan antarmanusia yang jujur, hangat, dan sanggup mengatasi
batas geografis mereka. -000- Ada
keberatan yang sah terhadap program ini. Mengapa bahasa Inggris? Bukankah
ambisi menjadi internasional dapat membuat penulis Indonesia tunduk kepada
selera dan pengakuan Barat? Kritik
itu benar jika internasionalisasi berarti meminta pengesahan Barat. Nilai
sastra Indonesia tentu tidak bertambah hanya karena memperoleh tepuk tangan
dari London atau New York. Tetapi
program ini berangkat dari keyakinan sebaliknya. Bahasa Inggris adalah
kendaraan distribusi, bukan hakim terakhir atas mutu dan martabat kebudayaan
Indonesia sepanjang sejarah. Kita
menerjemahkan bukan karena merasa kecil. Kita menerjemahkan karena percaya
pengalaman Indonesia cukup berharga untuk ikut memasuki percakapan besar umat
manusia di zaman ini. Jangan
membuat Indonesia menjadi eksotis demi pasar asing. Jangan pula membuatnya
semakin Barat. Biarkan bahasa terjemahannya global, tetapi jiwanya tetap
memiliki sidik jari Indonesia. -000- Saya
membayangkan tahun 2031. Sedikitnya 120 karya Indonesia telah tersedia dalam
bahasa Inggris, masing-masing menjadi sebuah jendela menuju kehidupan yang
berbeda di Nusantara. Ada
Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.
Ada metropolitan. Ada pula kampung yang selama ini jarang muncul dalam berita
nasional. Dunia
kemudian mengenal Indonesia bukan hanya melalui politik, ekonomi, bencana,
investasi, atau pariwisata. Mereka memasuki Indonesia langsung melalui mata
orang Indonesia sendiri. Sebab
bangsa yang hanya dikenal melalui statistik belum sepenuhnya dikenal. Angka
menjelaskan berapa jumlah kita. Cerita menjelaskan siapa kita sebagai manusia
yang hidup. Program
ini jangan membuat penulis Indonesia menjadi kurang Indonesia agar diterima
dunia. Bantulah mereka menjadi semakin Indonesia, dengan kualitas prosa yang
dapat dibaca dunia. Kita
tidak sekadar menerjemahkan 120 buku ke bahasa Inggris. Kita sedang menerjemahkan
120 wajah Indonesia ke dalam ingatan panjang dunia yang belum sepenuhnya
mengenal kita. Sebab
semakin dunia menjadi satu, semakin dunia membutuhkan cerita yang membuat
kita tetap berbeda, tetap berakar, dan tetap layak disimak dari benua mana
pun. ● REFERENSI David
Damrosch. What Is World Literature? Princeton University Press, 2003. John
Naisbitt. Global Paradox: The Bigger the World Economy, the More Powerful Its
Smallest Players. William Morrow and Company, 1994. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar