|
PISA BBM Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 14 September 2026
Satu toko
pakaian menjual baju seragam SD Rp1.000.000 untuk 30 siswa di satu kelas. Toko
memberi potongan harga 15 persen, tapi mengenakan pajak 11 persen. Berapa yang
harus dibayar oleh pembeli?
Anda pasti bisa
menjawabnya dengan mudah. Tapi siswa kelas tiga SD belum tentu bisa. Siswa SD
kita tidak dibiasakan diberi pertanyaan seperti itu. Pertanyaan yang selalu
diberikan adalah 10 x 30 = berapa.
Pertanyaan
pertama diperlukan berpikir. Pertanyaan kedua diperlukan menghafal.
Cara mengajar
memang sudah harus berubah. Gurulah yang menjadi pusat perubahan itu.
Untuk perubahan
itu umumnya menunggu gaji naik. Padahal, tanpa menunggu, bagi yang mampu
berubah akan dapat tawaran gaji lebih tinggi di sekolah-sekolah unggulan.
Pemerintah
sudah berusaha meningkatkan mutu guru: lewat sertifikasi. Yang sudah punya
sertifikat dapat tunjangan: berarti pendapatannya naik. Itulah yang sering
disebut ''tunjangan sertifikasi''.
Protokol untuk
mendapatkan ''sertifikat guru bermutu'' tidak seberat ijazah salawat Dala'il:
harus puasa tiga tahun.
Untuk mendapat
''ijazah guru bermutu'' itu juga ada protokolnya: ikut pelatihan guru. Tidak
harus tatap muka. Bisa lewat online. Ada penjual jasa ''pelatihan untuk
sertifikasi'' yang diakui pemerintah. Setelah cukup belajar guru bisa ikut
ujian sertifikasi. Ada jadwalnya. Setahun dua atau tiga kali.
Sepengetahuan
saya, sampai tahun lalu sudah sekitar 70 persen guru kita yang bersertifikat.
Rasanya ''tinggal'' satu juta orang guru lagi yang belum bersertifikat.
Pemerintah terus berusaha mempercepatnya.
Persoalannya,
di dalam praktik, belum banyak perubahan: 3 x 3 masih = 9. Itu yang membuat
skor PISA (Programme for International Student Assessment) di Indonesia masih
sangat rendah. Di negara seperti Jepang capaian skor PISA-nya sudah 6. Sedang
skor PISA kita masih 1. Bahkan di bawah itu: masih 0,8.
Anda sudah tahu
apa itu skor PISA. Yakni skor yang ditetapkan oleh negara-negara OECD. Kalau
negara-negara lain ingin semaju negara OECD capaian skornya harus mendekati
yang ditetapkannya. Mereka menyebutnya skor PISA.
Dalam skor PISA
yang dihitung ada tiga: kemampuan membaca, matematika, dan sains. Jelaslah
bahwa skor kita sangat rendah. Kita begitu banyak punya sekolah keagamaan –yang
kalau dibenturkan ke skor PISA pasti jeblok.
Minggu kemarin,
saya mendiskusikan skor PISA ini dengan para guru di lingkungan pesantren kami
di Takeran, Magetan: Pesantren Sabilil Muttaqin. Kebetulan hari kemarin ulang
tahun ke-83 –sedikit lebih tua dari Republik.
Secara kelakar
saya mengatakan "kalau kita juga harus
mengejar skor PISA maka 50 persen dari guru di 120 madrasah kita harus
dipecat". Tidak ada yang tertawa. Ini memang persoalan serius.
Itu sama dengan
diskusi pengusaha tanpa riba bulan lalu: berutang
menambah beban, tidak berutang tidak berkembang.
Tapi setidaknya
harus ada target nasional: siswa kelas tiga SD/Ibtidaiah sudah harus bisa
membaca. Bukan hanya bisa mengeja. Harus dibedakan antara membaca dan mengeja.
Bisa membaca berarti memahami apa yang dibaca.
Kemampuan
membaca ternyata menjadi tolok ukur pertama di skor PISA.
Lalu saya
bertanya ke ustad Puji Santoso, direktur madrasah taraf internasional kami: Islamic
International School Pesantren Sabilil Muttaqin di Magetan. Di Indonesia
ada berapa sekolah unggulan yang mutu minimalnya seperti IIS.
"Mungkin
ada 1.000 sekolah," kata Puji.
Umumnya swasta.
Dulu sekolah bermutu didominasi sekolah Katolik-Kristen. "Sekarang banyak
sekali sekolah Islam yang mutunya sangat baik," katanya. Sudah bisa
bersaing dengan sekolah-sekolah Katolik. Lalu banyak lagi sekolah swasta
non-agama.
Kalau hanya
1.000 sekolah tersebut yang dinilai, maka skor PISA Indonesia bisa 6 juga.
Berarti kalau
Indonesia ingin meningkatkan skor PISA perhatikan dulu 1000 sekolah dengan skor
terbawah. Fokuskan anggaran dan perbaikan mutu guru untuk 1.000 yang terbawah
dulu.
Tapi rasanya
kita belum bisa memikirkan itu. Antrean BBM saja masih sulit diatasi. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/968269/pisa-bbm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar