Sabtu, 12 September 2026

 

Ancaman Kembalinya Era Bunga Tinggi

Yopie Hidayat :  Anggota Tim Evaluator Editorial Tempo.

TEMPO MINGGUAN, 06 September 2026

 

 

                                                           

·      Gonjang-ganjing pasar obligasi menjadi peringatan dini dimulainya era bunga tinggi di negara maju.

 

·      Migrasi dana dari negara berkembang ke negara maju akan terjadi jika The Fed menaikkan suku bunga.

 

·      Akan terjadi transmisi bunga global yang cenderung tinggi ke ekonomi domestik via bunga SRBI.

 

DI Indonesia, guncangan itu tak terlalu terasa. Namun sebetulnya pekan lalu pasar keuangan global bergejolak sangat hebat, terutama pasar obligasi pemerintah negara-negara maju. Harga obligasi berjatuhan dan imbal hasilnya naik tinggi.

 

Untungnya gejolak itu cepat mereda dan kepanikan pasar tidak berlanjut. Meski situasi relatif sudah lebih tenang, bukan berarti ancaman telah sepenuhnya lewat. Gonjang-ganjing pasar obligasi itu harus kita anggap sebagai peringatan dini bahwa era bunga tinggi di negara-negara maju, termasuk Amerika Serikat, sangat mungkin segera datang kembali.

 

Biang keroknya tentu tak jauh-jauh dari inflasi. Perang Iran yang tak kunjung tuntas membuat harga minyak naik dan melonjakkan inflasi dengan sangat tajam. Kondisi ini membuat resah bank-bank sentral negara maju, termasuk The Federal Reserve (The Fed).

 

Ketua The Fed Kevin Walsh pun sudah menyampaikan arah kebijakannya, yaitu fokus utama tetap pada harga alias inflasi. Pesannya terang: selama tingkat inflasi masih tinggi, sekalipun ekonomi melambat, suku bunga tak akan dipangkas dan bahkan mungkin saja naik lagi. Pasar obligasi langsung bergejolak menyambut sinyal hawkish itu.

 

Sementara dampak gejolak pasar obligasi seolah-olah tak terasa di sini, lain ceritanya dengan kenaikan bunga. Dampaknya bakal sangat terasa dengan segera pada ekonomi Indonesia lewat berbagai saluran. Yang pertama terpukul tentu pasar uang. Jika The Fed menaikkan bunga, reaksi pasar yang paling lazim adalah migrasi dana investasi global dari negara berkembang, termasuk Indonesia, ke negara-negara maju. Keluarnya dolar dengan deras berisiko membuat rupiah tertekan.

 

Tak cuma berdampak buruk di pasar valuta asing, bunga tinggi secara global juga akan menambah beban pada semua sektor ekonomi, baik pemerintah, korporasi, maupun rumah tangga. Pencarian utang bakal makin sulit dan mahal. Pemerintah Indonesia akan terpapar risiko yang amat serius karena kondisi finansial saat ini pun sudah sangat berat akibat tingginya beban bunga.

 

Selama 2026 saja, pemerintah harus menyisihkan uang untuk membayar bunga utang hingga Rp 599,44 triliun atau sekitar 20 persen penerimaan. Sisa uang pemerintah untuk mengongkosi berbagai pengeluaran lain sudah sangat terbatas. Pada tahun-tahun mendatang, ruang fiskal bakal makin sempit karena kebutuhan membayar bunga makin besar.

 

Selain pemerintah, Bank Indonesia bakal kian terjepit jika tingkat bunga global menanjak. Sebab, BI harus agresif menjaga nilai rupiah lewat intervensi pasar. Salah satu caranya adalah menjual surat utang berjangka pendek Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

 

Pada pertengahan Agustus 2026, posisi SRBI sudah mencapai Rp 1.039 triliun. Bunga global yang tinggi akan memaksa BI tetap menjaga bunga SRBI tetap tinggi agar investor, terutama asing, tidak kabur. Per akhir Juli 2026, investor asing memegang Rp 288,65 triliun atau 27,11 persen dari seluruh nilai SRBI. Nilai rupiah tentu akan tertekan hebat jika dana asing di SRBI berbondong-bondong keluar.

 

Pada akhirnya, terjadi pula transmisi bunga global yang cenderung tinggi ke ekonomi domestik via bunga SRBI itu. Secara resmi BI memang menetapkan bunga acuan atau BI-Rate tetap rendah, cuma 5,75 persen saat ini. Namun, pada saat yang sama, bunga SRBI sudah cukup jauh di atas bunga patokan BI sendiri.

 

Pada lelang akhir Agustus 2026, misalnya, rata-rata tertimbang bunga SRBI berjangka satu tahun sudah mencapai 7 persen. Jika ada instrumen terbitan bank sentral yang memberi bunga setinggi itu, tentu saja berbagai jenis bunga di pasar uang ataupun perbankan bakal ikut merujuk ke sana.

 

Inilah keadaan kurang menguntungkan yang bisa terjadi jika perang terus berlangsung, harga minyak mahal, tingkat inflasi di negara maju melonjak, dan akhirnya bunga di sana naik. Ekonomi Indonesia yang lesu akan menghadapi tambahan beban berat berupa suku bunga yang meningkat mengikuti suku bunga global. ●

 

Sumber:https://www.tempo.co/ekonomi/risiko-ketika-the-fed-menaikkan-bunga-2285634

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar