|
Ancaman
Kembalinya Era Bunga Tinggi Yopie Hidayat
: Anggota
Tim Evaluator Editorial Tempo. |
TEMPO MINGGUAN, 06 September 2026
|
· Gonjang-ganjing pasar obligasi menjadi
peringatan dini dimulainya era bunga tinggi di negara maju. · Migrasi dana dari negara berkembang ke
negara maju akan terjadi jika The Fed menaikkan suku bunga. · Akan terjadi transmisi bunga global
yang cenderung tinggi ke ekonomi domestik via bunga SRBI. DI Indonesia, guncangan itu tak terlalu
terasa. Namun sebetulnya pekan lalu pasar keuangan global bergejolak sangat
hebat, terutama pasar obligasi pemerintah negara-negara maju. Harga obligasi
berjatuhan dan imbal hasilnya naik tinggi. Untungnya gejolak itu cepat mereda dan
kepanikan pasar tidak berlanjut. Meski situasi relatif sudah lebih tenang,
bukan berarti ancaman telah sepenuhnya lewat. Gonjang-ganjing pasar obligasi
itu harus kita anggap sebagai peringatan dini bahwa era bunga tinggi di
negara-negara maju, termasuk Amerika Serikat, sangat mungkin segera datang
kembali. Biang keroknya tentu tak jauh-jauh dari
inflasi. Perang Iran yang tak kunjung tuntas membuat harga minyak naik dan
melonjakkan inflasi dengan sangat tajam. Kondisi ini membuat resah bank-bank
sentral negara maju, termasuk The Federal Reserve (The Fed). Ketua The Fed Kevin Walsh pun sudah
menyampaikan arah kebijakannya, yaitu fokus utama tetap pada harga alias
inflasi. Pesannya terang: selama tingkat inflasi masih tinggi, sekalipun
ekonomi melambat, suku bunga tak akan dipangkas dan bahkan mungkin saja naik
lagi. Pasar obligasi langsung bergejolak menyambut sinyal hawkish itu. Sementara dampak gejolak pasar obligasi
seolah-olah tak terasa di sini, lain ceritanya dengan kenaikan bunga.
Dampaknya bakal sangat terasa dengan segera pada ekonomi Indonesia lewat
berbagai saluran. Yang pertama terpukul tentu pasar uang. Jika The Fed menaikkan
bunga, reaksi pasar yang paling lazim adalah migrasi dana investasi global
dari negara berkembang, termasuk Indonesia, ke negara-negara maju. Keluarnya
dolar dengan deras berisiko membuat rupiah tertekan. Tak cuma berdampak buruk di pasar
valuta asing, bunga tinggi secara global juga akan menambah beban pada semua
sektor ekonomi, baik pemerintah, korporasi, maupun rumah tangga. Pencarian
utang bakal makin sulit dan mahal. Pemerintah Indonesia akan terpapar risiko
yang amat serius karena kondisi finansial saat ini pun sudah sangat berat
akibat tingginya beban bunga. Selama 2026 saja, pemerintah harus
menyisihkan uang untuk membayar bunga utang hingga Rp 599,44 triliun atau
sekitar 20 persen penerimaan. Sisa uang pemerintah untuk mengongkosi berbagai
pengeluaran lain sudah sangat terbatas. Pada tahun-tahun mendatang, ruang
fiskal bakal makin sempit karena kebutuhan membayar bunga makin besar. Selain pemerintah, Bank Indonesia bakal
kian terjepit jika tingkat bunga global menanjak. Sebab, BI harus agresif
menjaga nilai rupiah lewat intervensi pasar. Salah satu caranya adalah
menjual surat utang berjangka pendek Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Pada pertengahan Agustus 2026, posisi
SRBI sudah mencapai Rp 1.039 triliun. Bunga global yang tinggi akan memaksa
BI tetap menjaga bunga SRBI tetap tinggi agar investor, terutama asing, tidak
kabur. Per akhir Juli 2026, investor asing memegang Rp 288,65 triliun atau
27,11 persen dari seluruh nilai SRBI. Nilai rupiah tentu akan tertekan hebat
jika dana asing di SRBI berbondong-bondong keluar. Pada akhirnya, terjadi pula transmisi
bunga global yang cenderung tinggi ke ekonomi domestik via bunga SRBI itu.
Secara resmi BI memang menetapkan bunga acuan atau BI-Rate tetap rendah, cuma
5,75 persen saat ini. Namun, pada saat yang sama, bunga SRBI sudah cukup jauh
di atas bunga patokan BI sendiri. Pada lelang akhir Agustus 2026,
misalnya, rata-rata tertimbang bunga SRBI berjangka satu tahun sudah mencapai
7 persen. Jika ada instrumen terbitan bank sentral yang memberi bunga
setinggi itu, tentu saja berbagai jenis bunga di pasar uang ataupun perbankan
bakal ikut merujuk ke sana. Inilah keadaan kurang menguntungkan
yang bisa terjadi jika perang terus berlangsung, harga minyak mahal, tingkat
inflasi di negara maju melonjak, dan akhirnya bunga di sana naik. Ekonomi
Indonesia yang lesu akan menghadapi tambahan beban berat berupa suku bunga
yang meningkat mengikuti suku bunga global. ● Sumber:https://www.tempo.co/ekonomi/risiko-ketika-the-fed-menaikkan-bunga-2285634
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar