|
Ketika Budaya dan Sains Menyatu Menyibak
Fisika Paud dalam Eksperimen Etnosains Sumba di Bumi Marapu Rambu Ririnsia Harra Hau : Dosen Program Studi Teknik Lingkungan Universitas
Stella Maris Sumba. |
MEDIA INDONESIA, 07 September 2026
|
APA yang terjadi jika anak-anak belajar sains
fisika bukan dari gambar di buku, melainkan dari rumah adat, gasing, kain
tenun, dan tempurung kelapa? Di Sumba Barat Daya, pertanyaan itu kini
terjawab. Benda-benda yang selama ini dipandang sebagai bagian dari kehidupan
sehari-hari dan warisan budaya ternyata menyimpan fenomena sains seperti
Rumah Adat Sumba yang berbicara tentang keseimbangan, gasing yang
memperlihatkan gerak rotasi, proses pewarnaan benang tenun yang mengenalkan
kapilaritas, hingga permainan tempurung kelapa yang memperlihatkan kerja gaya
gesek pada permukaan berbeda. Persoalannya, potensi tersebut belum selalu hadir
sebagai bagian dari pembelajaran anak usia dini. Pembelajaran sains di PAUD
masih dipersepsikan sebagai kegiatan yang membutuhkan alat khusus, ruang
laboratorium, atau materi yang sulit masih membayangi daerah tertinggal,
terdepan, dan terluar (3T) yang terbatas fasilitasnya, sehingga berisiko
membuat anak-anak menganggap sains sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan
sehari-hari mereka. Anak usia dini belajar melalui pengalaman
konkret. Mereka menyentuh, melihat, mencoba, membandingkan, bertanya, lalu
menemukan sesuatu dari apa yang mereka alami. Karena itu, memperkenalkan
sains kepada anak tidak harus dimulai dari istilah ilmiah tetapi adalah
menghadirkan pengalaman yang mendorong rasa ingin tahu. Di sinilah etnosains menemukan relevansinya. Etnosains menjembatani pengetahuan yang tumbuh
dalam kehidupan masyarakat dengan pengetahuan ilmiah. Pendekatan ini
menghubungkan budaya lokal yang tidak berhenti sebagai objek pelestarian,
tetapi menjadi sumber belajar yang hidup. Gagasan tersebut diterapkan tim Pengabdian kepada
Masyarakat (PkM) Universitas Stella Maris Sumba yang mendapatkan Hibah
Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DPPM)
Kemenristekdikti tahun 2026 di Kelompok Bermain (KB) Horeb, Desa Wee Londa,
Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya. Program yang dipimpin Rambu
Ririnsia Harra Hau bersama Bewa Dangu Soleman Renda Bili dan 2 mahasiswa
mendampingi lima guru PAUD untuk mengembangkan pembelajaran sains berbasis
etnosainsSumba. Yang menarik, guru diajak melihat lingkungan
sekitar sebagai saintifik: fenomena yang terjadi, pertanyaan yang diajukan
kepada anak, dan permainan sederhana apa yang dapat digunakan untuk membuat
anak menemukan jawabannya. Rumah Adat Sumba, misalnya, tidak hanya dipandang
sebagai bangunan tradisional. Struktur dan bentuknya dapat digunakan untuk
mengajak anak mengamati keseimbangan dan pembebanan. Guru dapat mengajak anak
bertanya mengapa sebuah benda dapat berdiri kokoh atau apa yang terjadi
ketika beban diletakkan pada posisi berbeda. Begitu pula gasing. Permainan tradisional bukan
hanya hiburan. Ketika diputar, anak dapat mengamati bagaimana benda bergerak,
mengapa gasing dapat berputar, dan mengapa akhirnya berhenti. Dari pengalaman
sederhana itu, anak mulai bersentuhan dengan konsep gerak rotasi dan gaya
putar. Kain Tenun Ikat dapat menjadi ruang belajar.
Pewarna alami dari kunyit atau dedaunan yang merambat dan menyerap ke dalam
benang dapat diamati sebagai pengalaman awal untuk mengenalkan kapilaritas.
Sementara permainan tempurung kelapa dapat digunakan untuk memperlihatkan
perbedaan gaya gesek pada permukaan tertentu. “Sains bukan pelajaran yang rumit, anak-anak
Sumba sejatinya sudah 'belajar' fisika setiap hari lewat budaya mereka
sendiri,” tegas Rambu Ririnsia Harra Hau, ketua tim pengabdi. Pernyataan tersebut menunjukkan satu persoalan
yang lebih besar dalam pendidikan di daerah 3T. Keterbatasan fasilitas memang
tidak boleh diabaikan. Namun, pendidikan juga tidak boleh berhenti pada
daftar tentang apa yang tidak dimiliki sekolah. Pertanyaan yang sama penting adalah: apa yang
sebenarnya sudah dimiliki masyarakat, tetapi belum dimanfaatkan sebagai
sumber belajar? Sumba memiliki kekayaan budaya, lingkungan alam,
permainan tradisional, kerajinan, serta pengetahuan masyarakat yang dapat
menjadi sumber pembelajaran. Tantangannya adalah bagaimana guru mengubah
kekayaan tersebut menjadi pengalaman belajar yang terarah dan sesuai dengan
perkembangan anak. Kegiatan PKM ini membuat MODE-SUMBA, atau Modul
Digital Eksperimen Etnosains Sumba. Guru dibekali kemampuan membuat katalog
digital interaktif, video pembelajaran singkat, serta penyimpanan dokumentasi
melalui platform digital. Di KB Horeb juga dikembangkan Science Corner yang
dilengkapi kode QR sehingga media pembelajaran dapat diakses kembali oleh
guru dan orang tua. Namun, teknologi bukanlah tujuan akhir. QR Code,
video, dan katalog digital hanya akan bermakna jika membantu anak kembali
kepada pengalaman nyata: bermain, mengamati, bertanya, dan mencoba. Jangan
sampai digitalisasi justru menggantikan interaksi langsung yang menjadi inti
pembelajaran anak usia dini. Hasil pendampingan menunjukkan peningkatan
pemahaman guru sebesar 71% (kategori tinggi) namun tantangan literasi sains
PAUD tetap memerlukan keberlanjutan program, konsistensi praktik kelas,
keterlibatan orang tua, serta penguatan kapasitas guru secara
berkesinambungan. Pengelola KB Horeb, Yublina Dapasapu, mengakui
perubahan cara pandang tersebut. “Dulu kami bingung bagaimana mengenalkan
sains tanpa fasilitas laboratorium. Sekarang, cukup dengan mengamati struktur
Rumah Adat Sumba, gasing, atau kain tenun, kami bisa mengajarkan sains dengan
sangat menyenangkan. Anak-anak menjadi jauh lebih aktif dan kritis.” Pengalaman di KB Horeb memperlihatkan bahwa
pembelajaran sains tidak harus dimulai dari laboratorium yang lengkap.
Kadang-kadang, dimulai dari tanah tempat anak berpijak, budaya yang mereka
kenal, dan pertanyaan sederhana yang muncul dari rasa ingin tahu.
Keterbatasan fasilitas justru membuka pertanyaan yang lebih besar:
mungkinkah pembelajaran sains dibangun dari apa yang paling dekat dengan
kehidupan anak? Jawabannya mungkin sesederhana seorang anak yang
memutar gasing. Ia bermain. Ia bertanya. Ia mengamati. Dan tanpa menyadarinya, ia sedang belajar sains
fisika. Di Sumba, laboratorium pertama bagi anak-anak
bukanlah sebuah gedung, melainkan alam, rumah adat, kain tenun, permainan
tradisional, dan budaya yang setiap hari ada di sekitar mereka. Tinggal bagaimana pendidikan membuka mata untuk
menjelajahinya. ● |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar