|
Menjadi Arsitek Nalar Nurul Hakiki : Guru Matematika Sekolah Sukma Bangsa Pidie. |
MEDIA INDONESIA, 07 September 2026
|
ADA pertanyaan sederhana yang belakangan sering
saya ajukan kepada diri sendiri sebelum masuk ke dalam kelas: jika siswa saya
bisa mendapatkan jawaban benar dari aplikasi kecerdasan artifisial (KA) dalam
waktu lima detik, apakah mereka masih membutuhkan saya di depan kelas?
Pertanyaan itu menjadi titik balik untuk menguji kembali apa yang sebenarnya
harus diajarkan guru ketika jawaban tak lagi dimonopoli manusia. Bertahun-tahun mengajar matematika membuat saya
menyadari bahwa pembelajaran di sekolah sering kali lebih sibuk mengejar
jawaban daripada melatih cara berpikir. Kini, ketika KA mampu menghasilkan
jawaban dalam hitungan detik, guru harus bertransformasi menjadi penuntun
nalar. Perubahan ini bukan sekadar pilihan gaya mengajar, melainkan
konsekuensi dari berubahnya cara manusia memperoleh pengetahuan. JAWABAN MENJADI MURAH Selama puluhan tahun, pendidikan Indonesia
dibangun atas asumsi bahwa guru adalah sumber utama pengetahuan sehingga
pembelajaran dan ujian lebih menekankan ketepatan jawaban. Padahal, sejak
2021 pemerintah menggeser paradigma evaluasi melalui Asesmen Nasional yang
berfokus pada literasi dan numerasi. Hasil Asesmen Nasional menunjukkan bahwa
persoalan literasi dan numerasi kita belum selesai. Artinya, perubahan pada
sistem evaluasi belum otomatis mengubah praktik pembelajaran di ruang kelas. Kehadiran KA justru mempertegas urgensi perubahan
itu. Ketika siswa dapat memotret soal matematika dan mendapat jawaban lengkap
beserta langkah penyelesaiannya dalam hitungan detik, nilai ekonomi dari
‘mengetahui jawaban’ jatuh mendekati nol. Yang menjadi semakin penting bukan
lagi sekadar mendapatkan jawaban, melainkan memahami bagaimana jawaban itu
diperoleh, menguji apakah jawaban itu masuk akal, dan menggunakan pengetahuan
tersebut untuk mengambil keputusan. Bahkan sebelum semua itu, siswa harus
mampu mengajukan pertanyaan yang tepat. Di sinilah keterampilan bernalar menjadi
semakin mahal nilainya. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencoba
menjawab tantangan ini melalui pendekatan pembelajaran mendalam (deep
learning) yang menekankan pembelajaran reflektif, bermakna, dan kolaboratif,
bukan sekadar hafalan. Namun, paradigma yang baik hanya akan menjadi slogan
jika tidak diwujudkan dalam perubahan nyata: guru merancang pertanyaan yang
menantang nalar dan sekolah mengubah cara menilai keberhasilan belajar siswa.
Kebijakan berubah, tetapi perubahan kebijakan tidak otomatis mengubah
pedagogi. Sebagai guru matematika di SMA Sukma Bangsa
Pidie, saya melihat langsung betapa berat tuntutan perubahan ini bagi guru di
daerah. Pada saat yang sama, perubahan itu justru semakin mendesak dilakukan
di daerah seperti Aceh. Banyak guru, termasuk di Pidie dan kabupaten
sekitarnya, bekerja dalam tradisi pedagogi yang telah lama mengakar: mengajar
dengan metode ceramah, memberi contoh soal, lalu meminta siswa mengerjakan
soal serupa secara berulang. Metode itu pernah relevan ketika akses informasi
terbatas. Kini, ketika siswa di pelosok Pidie sekalipun mulai memiliki akses
terhadap aplikasi KA melalui gawai, metode pembelajaran lama tidak lagi
sekadar kurang efektif, tetapi berisiko memperlebar kesenjangan dalam
belajar. Siswa yang dilatih berpikir kritis akan menggunakan KA untuk
memperdalam pemahaman, sementara siswa yang terbiasa menghafal akan
menjadikannya jalan pintas untuk mendapatkan jawaban tanpa pernah benar-benar
memahami. KA tidak otomatis membuat siswa lebih cerdas atau lebih malas. Cara
sekolah mendidik siswa menentukan untuk apa dan bagaimana teknologi itu
digunakan. Di antara dua jalan itu, guru menjadi penentu arah. MENILAI, MENGAJAR, BERNALAR Transformasi peran guru dari penyampai jawaban
menjadi penuntun cara berpikir tidak mungkin hanya mengandalkan kesadaran
tiap-tiap guru. Perubahan ini membutuhkan kebijakan yang memberi ruang dan
dukungan. Sistem penilaian, misalnya, perlu bergerak dari sekadar mengukur
benar dan salah menuju penghargaan terhadap proses bernalar. Siswa perlu
diberi kesempatan menjelaskan alasan, membandingkan cara penyelesaian,
menguji sebuah jawaban, dan mempertanggungjawabkan keputusan yang diambil.
Sebab, ketika jawaban dapat diperoleh dalam hitungan detik, yang perlu
dinilai bukan lagi sekadar apa jawaban siswa, melainkan bagaimana ia sampai
pada jawaban tersebut. Peningkatan kompetensi guru pun tidak cukup
berhenti pada kemampuan menggunakan aplikasi KA. Yang lebih penting ialah
kemampuan pedagogis untuk merancang pembelajaran yang membuat siswa berpikir.
Guru perlu mampu mengajukan pertanyaan yang mendorong siswa menganalisis,
menguji, meragukan, dan menemukan alasan. Dalam pembelajaran matematika,
siswa tidak cukup mencari jawaban dari KA, tetapi perlu menguji kebenarannya,
menemukan kesalahan, dan memahami proses berpikir di baliknya. Dengan
demikian, KA tidak diperlakukan semata sebagai ancaman, tetapi sebagai bagian
dari proses belajar yang justru dapat memperkuat nalar kritis siswa. Di
sinilah teknologi dapat menjadi bagian dari proses belajar, bukan pengganti
proses berpikir. Karena itu, kebijakan pendidikan di daerah juga
perlu melihat teknologi bukan semata sebagai perangkat yang harus dibagikan,
melainkan juga sebagai sarana yang harus digunakan secara bermakna. Laptop,
tablet, maupun berbagai perangkat pembelajaran tidak akan banyak berarti
tanpa guru yang mampu mengubahnya menjadi pengalaman belajar yang menumbuhkan
nalar. Bagi daerah seperti Kabupaten Pidie dan Provinsi Aceh, tantangannya
tidak hanya memperluas akses siswa terhadap teknologi, tetapi juga membekali
mereka dengan kemampuan untuk menggunakannya secara kritis dan bertanggung
jawab. Pada akhirnya, pertanyaan yang saya ajukan di
awal tulisan ini menemukan jawabannya. Siswa tetap membutuhkan guru, bukan
karena guru memiliki lebih banyak jawaban daripada mesin. Dalam perlombaan
itu, manusia memang telah lama kalah. Namun, pendidikan tidak pernah sekadar
tentang siapa yang paling cepat memberikan jawaban. Pendidikan adalah tentang
menumbuhkan kemampuan bertanya, memahami, meragukan, menimbang, dan mengambil
keputusan secara bertanggung jawab. Di situlah peran guru yang tak tergantikan.
Kecerdasan artifisial dapat menyajikan informasi dalam hitungan detik, tetapi
tidak dapat menggantikan manusia dalam membangun pemahaman, menumbuhkan
kebijaksanaan, dan membentuk karakter. Karena itu, pekerjaan besar pendidikan
hari ini bukan mempertahankan guru sebagai sumber jawaban, melainkan
memperkuatnya sebagai arsitek nalar. ● Sumber : https://mediaindonesia.com/opini/930478/menjadi-arsitek-nalar
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar