|
Teknokrat Plus Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 15 September 2026
Pendek sekali
umur kebijakan ''baru'' di bidang keuangan kita: hanya satu tahun. Walhasil
setidaknya satu teori ''baru'' sempat dicoba di Indonesia: kebijakan memompa
peredaran uang di masyarakat.
Tokoh uji coba
itu Anda sudah tahu: Purbaya Yudhi Sadewa. Yang setahun lalu dipercaya oleh
Presiden Prabowo untuk menjadi menteri keuangan di kabinetnya. Ia menggantikan
''ratu'' fiskal Indonesia, Sri Mulyani. Senin kemarin, tak disangka-sangka
Purbaya diberhentikan dari jabatannya.
Tokoh terdepan
pengkritik Purbaya, Anda sudah tahu: Ferry Latuhihin. Ia pernah sama-sama
Purbaya 25 tahun bekerja di perusahaan keuangan Danareksa. Ia sampai menantang
Purbaya berdebat soal kebijakan-kebijakannya.
Latuhihin pun
merasa ''dikerjai'' ketika ada petugas pajak ingin mengusut ketaatan pajaknya.
Ada sangkaan Latuhihin tidak bayar pajak mobil-mobil mewahnya. Akan diusut.
Latuhihin tidak gentar. Tetap sangat kritis kepada Purbaya.
"Purbaya
tidak layak menjadi menkeu," katanya. Ahli pasar modal dan pasar uang ini
ternyata sudah lama menjual mobil-mobil mewahnya. Ia pernah mengaku kini lebih
sering naik busway atau taksi aplikasi.
Setidaknya pula
kita pernah punya menteri keuangan yang ''riuh bergemuruh''. Di mana-mana
seorang menteri keuangan itu orang yang pelit bicara. Kata-kata seorang menteri
keuangan bisa diterjemahkan oleh pelaku ekonomi sebagai ''kebijakan''. Kalau
banyak omong bisa berarti begitu banyak kebijakan.
Setidaknya lagi
kita pernah punya menteri keuangan yang mencoba memerankan diri sebagai
''superminister'': tidak segan secara terbuka mengkritik menteri lainnya.
Bahkan mengancam menteri itu dikenai kebijakan yang akan ia lakukan.
Era Purbaya
adalah era gemuruh. Ia begitu yakin bisa dengan mudah membuat pertumbuhan
ekonomi tinggi. Caranya: gelontorkan uang kontan ke masyarakat agar di lapisan
bawah cukup uang untuk transaksi ekonomi.
Purbaya pernah
membeberkan data berulang kali sampai Anda pun mestinya hafal kesimpulannya:
kenapa pertumbuhan ekonomi turun di awal masa jabatan Presiden Prabowo? Itu,
kata Purbaya, akibat ekonomi sengaja dicekik oleh kebijakan menteri keuangan
waktu itu. Paparan data Purbaya begitu meyakinkan: uang beredar terlihat
sengaja dibatasi waktu itu. Orang seperti Prabowo pun bisa terprovokasi:
mungkin saja antek asing bermain untuk menjatuhkan namanya. Sabotase.
Maka Purbaya
punya resep ampuh untuk memuaskan ambisi Presiden Prabowo yang menginginkan
pertumbuhan ekonomi sampai delapan persen. Semua ahli pesimistis dengan
keinginan itu –kecuali Purbaya.
Maka siapa yang
tidak terpikat oleh teori Purbaya yang ia serap dari gurunya, seorang profesor
ekonomi dari Purdue University, Indiana: John A. Carlson itu.
Purbaya tidak
hanya bicara teori. Ia juga memaparkan data masa lalu, pun data pengalaman di
Amerika.
Purbaya seorang
peneliti ekonomi. Ibarat seorang dokter ia ahli patologi yang hidupnya di lab
penyakit. Ia bukan seorang dokter klinis yang tiap hari menangani pasien.
Maka Purbaya
bergegas melaksanakan teori ''gelontor uang'' ke pasar. Bank-bank ia tekan
habis. Uang harus deras mengalir ke masyarakat.
Purbaya sangat
jeli mengintip slempitan-slempitan di mana saja ada uang disimpan. Termasuk
slempitan-nya Bank Indonesia.
Ia ambil
uang-uang itu. Ia paksa salurkan ke bank pelaksana. Ia tidak peduli mana uang
mati dan mana uang cadangan. Pokoknya uang harus beredar.
Hasilnya:
mengecewakan. Pertumbuhan ekonomi memang sempat 5,6 persen (kuartal pertama
2026) tapi kemudian turun lagi jadi 5,3 persen (kuartal kedua).
Padahal ia
sangat optimistis tahun 2026 ekonomi bisa tumbuh 6 persen, lalu tahun 2027 bisa
7 persen dan di tahun terakhir kepresidenan Prabowo bisa seperti yang
diambisikan: 8 persen. Melihat perjalanan tahun 2026 angka-angka itu kian
seperti fatamorgana.
Presiden
Prabowo kehilangan waktu lagi satu tahun untuk mengejar target-targetnya. Tapi
setidaknya kita pernah berjudi dengan teori ''gelontor uang''-nya.
Orang juga
masih akan mengenang Purbaya sebagai yang sangat serius melakukan de-bottle
necking untuk macetnya persoalan-persoalan riil di masyarakat akibat
birokrasi yang ruwet.
Saya belum tahu
akan ke mana Purbaya setelah ini. Yang jelas harus memperhatikan kesehatannya
–agar kalau ada kesempatan lagi kelak gula darahnya bisa diajak kerja keras
lagi. Kesempatan Purbaya bisa jadi apa saja pernah terbuka lebar: angka
popularitasnya sempat mengejar Kang Dedi Mulyadi, gubernur Jabar.
Setidaknya pula
ITB boleh bangga: pernah satu kali alumnusnya menjabat menteri keuangan. Tidak
dari Universitas Indonesia melulu.
Mulai kemarin
kursi menteri keuangan itu kembali ke UI: Presiden Prabowo melantik Prof
Suahasil Nazara, alumnus UI, sebagai menteri keuangan yang baru. Teman-temannya
memanggilnya Prof Sua: asli Nias. SMA-nya di Pangudi Luhur, Jakarta --satu
sekolahan dengan Menkes Budi Sadikin, mantan Menkeu-Gubernur BI Agus
Martowardojo dan CEO Danantara sekarang ini: Rosan Roeslani.
Mungkin era
gegap gempita di Kemenkeu ikut berakhir. Prof Sua adalah anak buah andalan
Menkeu Sri Mulyani yang tidak banyak cakap. Mungkin juga, karena pernah dekat
dengan Sri Mulyani, Prof Sua kurang terlihat di mata Purbaya. Meski Pror Sua
saat itu wamenkeu kepercayaan Purbaya lebih pada wamenkeu satunya: Juda Agung.
Prof Sua boleh
dikata seorang teknokrat murni. Tidak terlihat arah politiknya ke mana.
"Saat saya aktif di Dewan Ekonomi Nasional, Prof Sua adalah tim ''Dapur
DEN'' yang andal," ujar Prof Dr Didik J. Rachbini, rektor Universitas
Paramadina. Itu di era kepresidenan SBY periode kedua yang ketua DEN-nya
pengusaha besar Chairul Tanjung. "Beliau juga pernah menjabat di bidang
fiskal tapi keahlian beliau yang terutama adalah ahli pengentasan kemiskinan.
Itu dekat juga dengan fiskal," ujar Prof Rachbini.
Prof Sua,
menurut sumber Disway, sebenarnya tidak ingin jadi menteri. Dan itu wajar.
Menjabat menkeu saat ini apa enaknya. Beban bayar bunga saja Rp 600 triliun
setahun. Subsidi energinya bisa Rp600 triliun juga. Belum lagi bagaimana bisa
''melayani" keinginan Presiden Prabowo yang serbabesar dan serbacepat.
"Yang diperlukan
saat ini bukan hanya teknokrat. Tapi teknokrat-politisi," ujar Prof
Rachbini. Yakni teknokrat yang teguh dengan prinsip keteknokratannya tapi
lentur dalam menyikapi keinginan politisi (baca: presiden).
"Lentur"
yang dimaksud adalah mampu meyakinkan atasannya untuk disiplin fiskal tapi
tidak terlihat menolak, melawan atau menggurui. Ibarat "iya, iya, tapi
tidak iya". 'Tidak iya'-nya itu harus tanpa terasa ''tidak iya''.
Prof Sua bisa
belajar dari mentor lamanya: Sri Mulyani. "Di akhir-akhir karir beliau Sri
Mulyani bisa berubah dari hanya teknokrat menjadi teknokrat-plus seperti
itu," ujar Prof Rachbini.
Mungkin tidak
hanya menkeu yang harus bisa ''iya tapi tidak iya''. Ajaran itu tidak bisa
dipelajari di Cornell atau Harvard University sekali pun. Itu hanya bisa
dipelajari di Universitas Kehidupan Orang Jawa. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/968481/teknokrat-plus
Tidak ada komentar:
Posting Komentar