|
Konsep di Balik Peta Baru di Bumi
yang Lama Yohanes Paskalis : Jurnalis Tempo. |
TEMPO HARIAN, 08 September 2026
|
· PBB mengadopsi resolusi global yang
mendorong konsep baru penggambaran peta bumi. · Sebanyak 164 negara mendukung
pergantian peta dunia konsep Mercator menjadi Equal Earth, Amerika Serikat
satu-satunya yang menolak. · Peta Mercator bisa menyokong kebutuhan
navigasi, tapi dikritik karena bias merepresentasikan luas wilayah. DUNIA
punya peta bumi baru. Tapi perdebatan konsepnya menjadi pembahasan sengit
dalam ruang sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Banyak juga yang menyoal
konsepnya yang dianggap tidak adil. Pada 4
September 2026, Majelis Umum PBB resmi mengadopsi resolusi global yang
mendorong konsep baru penggambaran peta bumi. Resolusi yang digagas oleh
pemerintah Togo atas nama Uni Afrika tersebut didukung oleh 164 negara.
Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang menolak keras konsep baru
ini, sedangkan enam negara lain memilih abstain. Ketukan
palu PBB itu tidak sontak menghapus peta Mercator—metode penggambaran bumi
ciptaan pakar peta Gerardus Mercator pada 1569—yang selama ini diajarkan di
semua sekolah. Menukil ulasan The Guardian, resolusi baru menyodorkan
alternatif baru soal peta dunia, yaitu Equal Earth, kepada dunia pendidikan,
media massa, dan aplikasi digital. Konsep
Mercator dinilai cocok untuk navigasi laut dan penerbangan berkat
keakuratannya dalam menjaga arah kompas. Namun konsep ini sudah lama dinilai
bias visual karena membuat ukuran negara-negara di belahan utara tampak lebih
besar dari ukuran sebenarnya. Kepala
Laboratorium Kartografi Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Ari Cahyono
mengatakan setiap transformasi dari bidang lengkung ke bidang datar—dalam hal
ini adalah wujud bulat bumi ke peta—selalu menimbulkan distorsi atau
penyimpangan dari kondisi asli. Distorsi ini mempengaruhi jarak, bentuk,
luas, dan arah yang digambarkan pada peta. “Proyeksi
tidak didasari peta mana yang paling benar, tapi disesuaikan dengan tujuan
pemetaan dan aspek yang ingin dipertahankan,” kata Ari kepada Tempo, Senin, 7
September 2026, soal perdebatan mengenai pilihan konsep peta dunia. Pada
1973, International Cartographic Association (ICA) mendefinisikan peta
sebagai representasi kenampakan fisik maupun abstrak yang berkaitan dengan
permukaan bumi atau benda langit, yang dipilih, umumnya diskalakan, dan
digambarkan pada bidang datar. Bentuk
peta dunia, menurut Ari, terus berkembang seiring dengan perkembangan
teknologi. Peta pada dasarnya menjadi media untuk menyampaikan informasi
spasial dan merepresentasikan data geospasial. “Peta turut membentuk persepsi
masyarakat terhadap dunia,” katanya. Artikel
ilmiah berjudul “The Power of Representation: Why How Scientists Visualise
the World Matters”, yang terbit di The Lancet Global Health pada Maret 2026,
menjelaskan besarnya pengaruh pilihan proyeksi peta terhadap visualisasi data
kesehatan global. Dalam tulisan pendek itu, peneliti lintas institusi,
termasuk Erasmus University Rotterdam serta lembaga dalam naungan Harvard University,
menyatakan peta dunia menentukan arah pembuatan kebijakan soal penyebaran
penyakit, juga untuk penentuan solusinya. Mercator
dinilai bisa menyokong kebutuhan navigasi karena mampu mempertahankan sudut
antara garis lintang dan garis bujur. Namun para peneliti lintas lembaga itu
menyatakan bahwa citra wilayah yang jauh dari khatulistiwa digambarkan
membengkak berkali-kali lipat dibanding wujud aslinya. Dalam peta lawas itu,
ukuran Greenland dan Afrika tampak mirip, padahal luas Greenland hanya sekitar
7 persen Afrika. Proyeksi
Mercator juga dinilai kurang mewakili peta distribusi penyakit global. Konsep
lawas itu juga dianggap timpang dari sisi ekonomi, politik, dan budaya global
sehingga berisiko meminggirkan negara-negara berpendapatan rendah. Kelemahan
lain ada pada bias visual, seperti penempatan Eropa di tengah, tampilan
belahan bumi utara di bagian atas, serta penghilangan sebagian besar Oseania. Sebelumnya
sudah ada konsep tandingan dari Mercator. Salah satunya adalah Global Burden
of Disease Study yang menggunakan proyeksi equirectangular serta proyeksi
Robinson buatan profesor geografi di Universitas Wisconsin-Madison. Namun
kedua proyeksi tak mengurangi ketidaksetaraan representasi luas wilayah.
Muncul lagi metode Equal Earth dan Gall-Peters yang akhirnya menggambarkan
luas negara secara proporsional. Peta
dunia ala Gall-Peters sebenarnya bisa mempertahankan luas wilayah, tapi
bentuk benua ternyata menjadi lebih terdistorsi. Equal Earth akhirnya dinilai
paling tepat oleh Uni Afrika dan sejumlah organisasi lain untuk menggambarkan
kebutuhan spatial epidemiology—analisis pola penyakit berdasarkan titik
geografis. Konsep
Equal Earth diperkenalkan kepada dunia pada 2018 oleh Bojan Savric dari Esri
Inc, entitas penyedia sistem informasi geografis; kartografer bernama Tom
Patterson; serta Bernhard Jenny dari Monash University. Dalam riset yang
diterbitkan International Journal of Geographical Information Science, grup
ilmuwan ini berusaha mempertahankan aspek luas wilayah dan orientasi bagian
utara pada peta dunia. Rancangan
Equal Earth berbasis pada empat kondisi. Pertama, proyeksi harus
mempertahankan luas relatif wilayah (equal-area). Kedua, garis lintang harus
berupa garis lurus (straight parallels). Ketiga, garis bujur yang
terdistribusi secara teratur. Yang terakhir, bentuk peta wajib memiliki
simetri bilateral, yakni simetris terhadap sumbu horizontal dan vertikal.
Karakter visual akhirnya dinilai mirip proyeksi Robinson. Menurut
Ari Cahyono, pemilihan proyeksi sangat vital untuk berbagai kebutuhan,
termasuk pemetaan ilmiah. Untuk pemetaan tematik di Indonesia, sebagian besar
kartografer memakai proyeksi Universal Transverse Mercator yang
mempertahankan bentuk dengan distorsi kecil pada jarak, luas, dan sudut.
Konsep itu sesuai dengan Indonesia yang berada di sekitar ekuator. Namun,
untuk peta navigasi pelayaran, Mercator tetap lebih cocok. “Tidak
ada proyeksi peta yang cocok untuk semua kebutuhan,” kata Ari. “Perlu dilihat
lagi di mana wilayah tersebut dipetakan? Aspek apa yang dipertahankan?
Seberapa luas dan pertimbangan lainnya,” katanya. Senada
dengan Ari, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Geoinformatika Badan Riset dan
Inovasi Nasional (BRIN) Fahmi Amhar mengatakan Mercator dan Equal Earth tak
bisa dinilai dengan logika “lama salah, baru benar” karena dibuat untuk
tujuan berbeda. “Setiap proyeksi selalu merupakan kompromi geometrik,”
ujarnya. Fahmi,
yang juga menguasai fotogrametri dan pengindraan jauh di BRIN, menyebutkan
Mercator unggul dalam navigasi karena bisa mempertahankan arah kompas. Namun
GPS dan sistem geodesi modern kini menghitung lintasan langsung di atas model
bumi—membuat fungsi klasik Mercator tidak lagi mutlak diperlukan. Di sisi
lain, Equal Earth membuat representasi dunia lebih akurat dalam aspek
tertentu, yaitu luas. Konsep ini mulai cocok untuk kebutuhan pembuatan atlas
atau kumpulan peta dunia serta peta tematik. Namun
Equal Earth juga tak bebas dari distorsi. Bentuk wilayah dapat berubah, jarak
tidak selalu benar, arah tidak selalu dapat dibaca langsung, dan sudut juga
tidak dipertahankan. “Jadi tidak ada peta paling benar. Yang ada hanya
proyeksi paling tepat untuk tujuan tertentu,” ujar Fahmi kepada Tempo. ● Sumber : https://www.tempo.co/sains/peta-dunia-diperdebatkan-dalam-sidang-umum-pbb-2286035 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar