Sabtu, 12 September 2026

 

Konsep di Balik Peta Baru di Bumi yang Lama

Yohanes Paskalis :  Jurnalis Tempo.

TEMPO HARIAN,  08 September 2026

 

 

 

·      PBB mengadopsi resolusi global yang mendorong konsep baru penggambaran peta bumi.

 

·      Sebanyak 164 negara mendukung pergantian peta dunia konsep Mercator menjadi Equal Earth, Amerika Serikat satu-satunya yang menolak.

 

·      Peta Mercator bisa menyokong kebutuhan navigasi, tapi dikritik karena bias merepresentasikan luas wilayah.

 

DUNIA punya peta bumi baru. Tapi perdebatan konsepnya menjadi pembahasan sengit dalam ruang sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Banyak juga yang menyoal konsepnya yang dianggap tidak adil.

 

Pada 4 September 2026, Majelis Umum PBB resmi mengadopsi resolusi global yang mendorong konsep baru penggambaran peta bumi. Resolusi yang digagas oleh pemerintah Togo atas nama Uni Afrika tersebut didukung oleh 164 negara. Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang menolak keras konsep baru ini, sedangkan enam negara lain memilih abstain.

 

Ketukan palu PBB itu tidak sontak menghapus peta Mercator—metode penggambaran bumi ciptaan pakar peta Gerardus Mercator pada 1569—yang selama ini diajarkan di semua sekolah. Menukil ulasan The Guardian, resolusi baru menyodorkan alternatif baru soal peta dunia, yaitu Equal Earth, kepada dunia pendidikan, media massa, dan aplikasi digital.

 

Konsep Mercator dinilai cocok untuk navigasi laut dan penerbangan berkat keakuratannya dalam menjaga arah kompas. Namun konsep ini sudah lama dinilai bias visual karena membuat ukuran negara-negara di belahan utara tampak lebih besar dari ukuran sebenarnya.

 

Kepala Laboratorium Kartografi Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Ari Cahyono mengatakan setiap transformasi dari bidang lengkung ke bidang datar—dalam hal ini adalah wujud bulat bumi ke peta—selalu menimbulkan distorsi atau penyimpangan dari kondisi asli. Distorsi ini mempengaruhi jarak, bentuk, luas, dan arah yang digambarkan pada peta.

 

“Proyeksi tidak didasari peta mana yang paling benar, tapi disesuaikan dengan tujuan pemetaan dan aspek yang ingin dipertahankan,” kata Ari kepada Tempo, Senin, 7 September 2026, soal perdebatan mengenai pilihan konsep peta dunia.

 

Pada 1973, International Cartographic Association (ICA) mendefinisikan peta sebagai representasi kenampakan fisik maupun abstrak yang berkaitan dengan permukaan bumi atau benda langit, yang dipilih, umumnya diskalakan, dan digambarkan pada bidang datar.

 

Bentuk peta dunia, menurut Ari, terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi. Peta pada dasarnya menjadi media untuk menyampaikan informasi spasial dan merepresentasikan data geospasial. “Peta turut membentuk persepsi masyarakat terhadap dunia,” katanya.

 

Artikel ilmiah berjudul “The Power of Representation: Why How Scientists Visualise the World Matters”, yang terbit di The Lancet Global Health pada Maret 2026, menjelaskan besarnya pengaruh pilihan proyeksi peta terhadap visualisasi data kesehatan global. Dalam tulisan pendek itu, peneliti lintas institusi, termasuk Erasmus University Rotterdam serta lembaga dalam naungan Harvard University, menyatakan peta dunia menentukan arah pembuatan kebijakan soal penyebaran penyakit, juga untuk penentuan solusinya.

 

Mercator dinilai bisa menyokong kebutuhan navigasi karena mampu mempertahankan sudut antara garis lintang dan garis bujur. Namun para peneliti lintas lembaga itu menyatakan bahwa citra wilayah yang jauh dari khatulistiwa digambarkan membengkak berkali-kali lipat dibanding wujud aslinya. Dalam peta lawas itu, ukuran Greenland dan Afrika tampak mirip, padahal luas Greenland hanya sekitar 7 persen Afrika.

 

Proyeksi Mercator juga dinilai kurang mewakili peta distribusi penyakit global. Konsep lawas itu juga dianggap timpang dari sisi ekonomi, politik, dan budaya global sehingga berisiko meminggirkan negara-negara berpendapatan rendah. Kelemahan lain ada pada bias visual, seperti penempatan Eropa di tengah, tampilan belahan bumi utara di bagian atas, serta penghilangan sebagian besar Oseania.

 

Sebelumnya sudah ada konsep tandingan dari Mercator. Salah satunya adalah Global Burden of Disease Study yang menggunakan proyeksi equirectangular serta proyeksi Robinson buatan profesor geografi di Universitas Wisconsin-Madison. Namun kedua proyeksi tak mengurangi ketidaksetaraan representasi luas wilayah. Muncul lagi metode Equal Earth dan Gall-Peters yang akhirnya menggambarkan luas negara secara proporsional.

 

Peta dunia ala Gall-Peters sebenarnya bisa mempertahankan luas wilayah, tapi bentuk benua ternyata menjadi lebih terdistorsi. Equal Earth akhirnya dinilai paling tepat oleh Uni Afrika dan sejumlah organisasi lain untuk menggambarkan kebutuhan spatial epidemiology—analisis pola penyakit berdasarkan titik geografis.

 

Konsep Equal Earth diperkenalkan kepada dunia pada 2018 oleh Bojan Savric dari Esri Inc, entitas penyedia sistem informasi geografis; kartografer bernama Tom Patterson; serta Bernhard Jenny dari Monash University. Dalam riset yang diterbitkan International Journal of Geographical Information Science, grup ilmuwan ini berusaha mempertahankan aspek luas wilayah dan orientasi bagian utara pada peta dunia.

 

Rancangan Equal Earth berbasis pada empat kondisi. Pertama, proyeksi harus mempertahankan luas relatif wilayah (equal-area). Kedua, garis lintang harus berupa garis lurus (straight parallels). Ketiga, garis bujur yang terdistribusi secara teratur. Yang terakhir, bentuk peta wajib memiliki simetri bilateral, yakni simetris terhadap sumbu horizontal dan vertikal. Karakter visual akhirnya dinilai mirip proyeksi Robinson.

 

Menurut Ari Cahyono, pemilihan proyeksi sangat vital untuk berbagai kebutuhan, termasuk pemetaan ilmiah. Untuk pemetaan tematik di Indonesia, sebagian besar kartografer memakai proyeksi Universal Transverse Mercator yang mempertahankan bentuk dengan distorsi kecil pada jarak, luas, dan sudut. Konsep itu sesuai dengan Indonesia yang berada di sekitar ekuator. Namun, untuk peta navigasi pelayaran, Mercator tetap lebih cocok.

 

“Tidak ada proyeksi peta yang cocok untuk semua kebutuhan,” kata Ari. “Perlu dilihat lagi di mana wilayah tersebut dipetakan? Aspek apa yang dipertahankan? Seberapa luas dan pertimbangan lainnya,” katanya.

 

Senada dengan Ari, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Geoinformatika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Fahmi Amhar mengatakan Mercator dan Equal Earth tak bisa dinilai dengan logika “lama salah, baru benar” karena dibuat untuk tujuan berbeda. “Setiap proyeksi selalu merupakan kompromi geometrik,” ujarnya.

 

Fahmi, yang juga menguasai fotogrametri dan pengindraan jauh di BRIN, menyebutkan Mercator unggul dalam navigasi karena bisa mempertahankan arah kompas. Namun GPS dan sistem geodesi modern kini menghitung lintasan langsung di atas model bumi—membuat fungsi klasik Mercator tidak lagi mutlak diperlukan.

 

Di sisi lain, Equal Earth membuat representasi dunia lebih akurat dalam aspek tertentu, yaitu luas. Konsep ini mulai cocok untuk kebutuhan pembuatan atlas atau kumpulan peta dunia serta peta tematik.

 

Namun Equal Earth juga tak bebas dari distorsi. Bentuk wilayah dapat berubah, jarak tidak selalu benar, arah tidak selalu dapat dibaca langsung, dan sudut juga tidak dipertahankan. “Jadi tidak ada peta paling benar. Yang ada hanya proyeksi paling tepat untuk tujuan tertentu,” ujar Fahmi kepada Tempo. ●

                                                                                

Sumber : https://www.tempo.co/sains/peta-dunia-diperdebatkan-dalam-sidang-umum-pbb-2286035

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar