|
Kasus Siswi di Karo: Bagaimana Keracunan Makanan Picu Amnesia? Hanang Septioyudho : Jurnalis Tirto.id. |
TIRTO.ID, 09 September
2026
|
Tragedi keracunan massal
Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa 260 pelajar di Kabupaten Karo,
Sumatra Utara, menyisakan kisah pilu mendalam bagi keluarga FY (16). Sebulan
berlalu, siswi SMK tersebut kini harus berjuang melawan kejang-kejang hingga
kehilangan ingatan (amnesia). Fenomena ini memicu
pertanyaan besar: bagaimana bisa bakteri dari makanan merusak fungsi saraf
dan ingatan seseorang? FY mengalami kejang saat
hendak menjalani pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) di Rumah Sakit Umum
Pusat (RSUP) H. Adam Malik Medan, Selasa (8/9/2026). Kondisi tersebut membuat
keluarga mempertanyakan kemungkinan hubungan antara keracunan yang dialami dengan
gangguan pada fungsi otak. Ibu FY, Elvinus Lusiana
br Sitanggang, pun mengungkap korban mengalami gangguan ingatan setelah
mengalami keracunan pada Kamis (13/8/2026). Elvinus mengatakan anaknya sempat
tidak mengenali anggota keluarga terdekat ketika menjalani perawatan di Rumah
Sakit Umum (RSU) Haji Medan. “Hilang ingatannya. Yang
terdekat saja dulu, seperti adiknya, kakaknya, itu kan satu rumah, itu tidak
diingatnya,” ujar Elvinus. Setelah kejadian
tersebut, FY telah menjalani pemeriksaan di lima rumah sakit. Pemeriksaan
terbaru dilakukan di RSUP H. Adam Malik Medan. Elvinus mengatakan
kondisi anaknya belum sepenuhnya pulih. Selain mengalami gangguan ingatan, FY
kembali mengalami kejang ketika hendak menjalani pemeriksaan EEG di rumah
sakit tersebut. “Kami kemari mau kasih
EEG. Tapi tadi anak saya tiba-tiba kejang. Terus, kata dokternya tidak ada
penyakitnya. Tapi kenapa bisa anakku seperti itu? Jadi aku tidak puas lah
sama hasil yang disampaikan dokter,” ujar Elvinus. Dokter kemudian meminta
keluarga merekam apabila FY kembali mengalami kejang ketika berada di rumah.
Rekaman tersebut nantinya dapat digunakan untuk membantu dokter mengetahui
kondisi yang dialami pasien. “Kata dokter, sewaktu
nanti dia kejang, dia kan ada waktunya observasi di rumah. Sewaktu dia nanti
kejang di rumah, diambil video, kata dokternya. Jadi biar tahu dokternya
memberikan obat,” ujar Elvinus. Keracunan Berat Bisa
Mengganggu Fungsi Otak Secara medis, hubungan
antara keracunan makanan berat dengan gangguan sistem saraf bukanlah hal yang
mustahil. Dokter umum sekaligus dokter PJK3, dr. Ferry Kusmalingga,
menjelaskan bahwa kejang dan amnesia merupakan bentuk manifestasi klinis dari
adanya gangguan serius yang menjalar di dalam tubuh. “Yang harus dipahami,
kejang itu adalah bentuk manifestasi klinis. Simpelnya pasti ada yang
menyebabkan kejang tersebut,” kata Ferry kepada Tirto, Rabu (9/9/2026). Menurut Ferry, dokter
dapat mencurigai adanya gangguan pada otak atau sistem saraf ketika terdapat
perubahan fungsi neurologis yang tidak sesuai dengan kondisi normal pasien. Beberapa tanda yang perlu
diperhatikan antara lain penurunan kesadaran atau sulit dibangunkan,
kebingungan dan disorientasi, perubahan perilaku secara drastis atau
delirium, hingga ketidakmampuan mengenali orang terdekat. Gangguan memori yang baru
muncul, terutama ketidakmampuan mengingat kejadian setelah seseorang
mengalami sakit, juga termasuk tanda yang perlu diperhatikan. Tanda tanda adanya
gangguan neurologis dapat dikenali bila terjadi gangguan bicara, kelemahan
atau mati rasa pada satu sisi tubuh, gangguan berjalan dan koordinasi, dan
kejang. Selain itu, perubahan respons pupil terhadap cahaya, sakit kepala
berat yang disertai muntah atau penurunan kesadaran, serta gangguan penglihatan
baru. Ferry mengatakan, kondisi
sistemik yang terjadi ketika seseorang mengalami keracunan berat pun dapat
memengaruhi fungsi otak. “Sepsis, syok, dehidrasi,
kurang elektrolit apakah bisa menyebabkan gangguan memori? Bisa. Bahkan
mekanismenya itu cukup penting. Otak manusia itu sangat sensitif terhadap
gangguan suplai oksigen, glukosa, aliran darah, dan keseimbangan kimia
tubuh,” kata Ferry. Pada keracunan makanan
yang menyebabkan muntah dan diare berat, misalnya, tubuh dapat kehilangan
banyak cairan. Kondisi tersebut dapat menyebabkan dehidrasi dan penurunan
volume darah. “Misal nih pasiennya
muntah, diare berat lalu dehidrasi, volume darah turun, tekanan darah turun,
aliran darah ke otak berkurang, fungsi otak terganggu,” jelasnya. Lantas, bagaimana dokter
membedakan apakah gangguan memori atau kejang setelah keracunan disebabkan
oleh infeksi, gangguan metabolik, atau masalah pada sistem saraf? Ferry menjelaskan, dokter
tidak biasanya mengandalkan satu jenis pemeriksaan. Penentuan penyebab dilakukan
dengan menggabungkan kronologi kejadian, pemeriksaan neurologis, pemeriksaan
laboratorium, pemeriksaan otak, serta informasi mengenai kemungkinan infeksi
atau paparan toksin. Menurut Ferry, secara
sederhana dokter perlu menjawab tiga pertanyaan utama: apakah otak pasien
memang mengalami gangguan; apa mekanisme yang menyebabkannya; dan apakah
gangguan tersebut masih dapat pulih atau sudah menimbulkan cedera jaringan
otak. Untuk menjawab pertanyaan
tersebut, pemeriksaan lanjutan dapat meliputi CT scan atau MRI otak, EEG,
pemeriksaan darah, hingga pungsi lumbal pada kondisi tertentu. Namun,
pemeriksaan tidak semuanya harus dilakukan kepada setiap pasien. Jenis
pemeriksaan bergantung pada gejala dan kronologi penyakit. Pada pasien yang
mengalami keracunan makanan, langkah awal dapat diarahkan untuk mencari
penyebab infeksi di saluran cerna. Pemeriksaan dapat dilakukan melalui kultur
feses atau panel PCR/multiplex untuk berbagai patogen saluran pencernaan. Jika terdapat kecurigaan
terhadap Shiga toxin-producing Escherichia coli (STEC), dokter dapat
melakukan pemeriksaan toksin Shiga, termasuk Stx1 dan Stx2. Pemeriksaan
terhadap bakteri seperti Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, dan
Vibrio juga dapat dilakukan sesuai kondisi epidemiologis. Pemeriksaan virus atau
parasit dapat dipertimbangkan bila gejalanya mengarah ke infeksi tersebut.
Sementara jika sudah terdapat tanda infeksi sistemik, kultur darah dapat
dilakukan untuk mencari kemungkinan infeksi yang menyebar ke dalam aliran
darah. “Pertama cari dulu
penyebab infeksi di saluran cerna,” kata Ferry. Menurut Ferry, pencarian
penyebab infeksi penting, tetapi tidak boleh berhenti pada pertanyaan
mengenai bakteri atau patogen penyebab keracunan. Dokter juga perlu mencari
komplikasi sistemik yang mungkin mengganggu fungsi otak. Pemeriksaan berikutnya
diarahkan untuk mengetahui apakah keracunan telah menyebabkan gangguan pada
kondisi internal tubuh yang kemudian berdampak pada otak. Pemeriksaan tersebut
antara lain gula darah, kadar natrium, kalium, kalsium, dan magnesium, serta
fungsi ginjal melalui ureum dan kreatinin. Dokter juga dapat memeriksa fungsi
hati, analisis gas darah dan laktat pada pasien dengan kondisi berat, serta
darah lengkap termasuk hemoglobin dan trombosit. “Ini sama pentingnya
dengan mencari bakteri juga,” ujar Ferry. Pada kondisi tertentu,
apusan darah tepi juga dapat dilakukan jika dokter mencurigai adanya
mikroangiopati atau hemolytic uremic syndrome (HUS). Khusus apabila ditemukan
infeksi STEC, termasuk E. coli O157 atau jenis STEC lainnya, penurunan
hemoglobin dan trombosit serta peningkatan kreatinin perlu dipantau. Hal ini
karena HUS dapat berkembang setelah infeksi dan menyebabkan komplikasi
serius. Selain pemeriksaan
laboratorium, tekanan darah dan oksigenasi pasien juga perlu dipantau. Sebab,
sebagaimana dijelaskan Ferry sebelumnya, tekanan darah yang terlalu rendah
atau kekurangan oksigen dapat mengganggu suplai ke otak. Apabila pemeriksaan
menunjukkan adanya gangguan neurologis, pemeriksaan kemudian diarahkan lebih
spesifik ke sistem saraf. Pemeriksaan neurologis
dapat dilakukan secara serial untuk melihat perubahan kondisi pasien dari
waktu ke waktu. CT scan kepala dapat dipertimbangkan dalam kondisi akut,
sedangkan MRI otak dapat digunakan bila diperlukan untuk melihat kemungkinan
cedera, infeksi, atau gangguan aliran darah di otak. EEG juga memiliki peran
terutama ketika pasien mengalami kejang atau perubahan kesadaran yang belum
dapat dijelaskan. “EEG bila ada kejang atau
perubahan kesadaran yang tidak terjelaskan,” kata Ferry. Pada kondisi tertentu,
dokter dapat melakukan pungsi lumbal untuk mengambil cairan serebrospinal
atau cerebrospinal fluid (CSF). Pemeriksaan ini dapat dipertimbangkan jika
terdapat kecurigaan terhadap meningitis atau ensefalitis. Analisis CSF kemudian
dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan PCR, kultur, atau serologi sesuai
patogen yang dicurigai. Sepsis hingga Gangguan
Elektrolit Ferry menjelaskan kondisi
tersebut dapat terjadi pula pada pasien yang mengalami sepsis. Selain
menyebabkan tekanan darah turun, sepsis dapat memicu respons inflamasi
sistemik dan gangguan mikrosirkulasi. Kondisi tersebut dikenal
sebagai sepsis-associated encephalopathy, yakni gangguan fungsi otak yang
muncul dalam konteks sepsis tanpa harus disebabkan oleh infeksi langsung pada
otak. Karena itu, kasus
gangguan neurologis setelah keracunan merupakan kondisi yang kompleks.
Gangguan elektrolit yang menyertai muntah, diare, dehidrasi, atau kondisi
sistemik lainnya juga dapat memengaruhi otak. Hiponatremia atau kadar
natrium yang terlalu rendah dalam kondisi berat, misalnya, dapat menyebabkan
kebingungan, kejang, hingga penurunan kesadaran. Sebaliknya, hipernatremia
berat juga dapat menimbulkan gangguan kesadaran dan kejang. Sementara gangguan kadar
kalium lebih berbahaya terhadap jantung dan otot, meskipun gangguan sistemik
yang menyertainya dapat ikut memengaruhi fungsi otak. Kadar gula darah yang
terlalu rendah atau hipoglikemia juga menjadi kondisi yang perlu diwaspadai.
Dalam keadaan berat dan berlangsung lama, hipoglikemia dapat menyebabkan
kejang, koma, bahkan cedera otak. “Hipoglikemia bisa
menyebabkan kejang, koma, bahkan cedera otak bila berat dan berkepanjangan,”
kata Ferry. Gangguan keseimbangan
asam-basa yang berat juga dapat menyebabkan delirium atau penurunan
kesadaran. Apakah Gangguan Memori
Bisa Menetap? Ferry mengatakan
seseorang yang mengalami keracunan berat memang dapat mengalami amnesia atau
gangguan memori setelah episode tersebut. Risiko tersebut terutama berkaitan
dengan kondisi yang terjadi selama fase akut, seperti kekurangan oksigen,
tekanan darah yang sangat rendah, kejang berkepanjangan, hipoglikemia, atau
gangguan metabolik berat. “Jadi pasien bisa
mengalami amnesia atau gangguan memori setelah episode keracunan berat,
terutama bila sebelumnya mengalami hipoksia, hipotensi berat, kejang
berkepanjangan, hipoglikemia, atau gangguan metabolik berat,” ujarnya. Namun, Ferry menekankan
adanya perbedaan antara gangguan fungsi otak sementara dengan kerusakan
jaringan otak permanen. “Gangguan memori
sementara karena otak ‘terganggu secara fungsional’ itu tidak sama dengan
kerusakan jaringan otak permanen,” katanya. Pada sejumlah kasus,
fungsi kognitif dapat membaik ketika kondisi tubuh yang mendasarinya telah
kembali normal. “Pada banyak kasus
keracunan, fungsi kognitif membaik setelah tekanan darah, oksigenasi,
elektrolit, infeksi, dan metabolisme kembali normal,” ujar Ferry. Dengan demikian,
munculnya gangguan memori setelah keracunan tidak serta-merta membuktikan
adanya kerusakan permanen pada otak. Penentuan penyebabnya tetap membutuhkan
pemeriksaan medis, terutama ketika gangguan memori disertai kejang atau
perubahan fungsi neurologis lainnya. Proses Medis Panjang di
Tengah Silang Pendapat Hingga saat ini,
teka-teki mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada sistem saraf FY masih
terus digali oleh tim dokter. Manajer Hukum dan Humas RSUP H. Adam Malik
Medan, Rosario Dorothy Simanjuntak, mengatakan FY telah tiga kali menjalani
perawatan di rumah sakit tersebut. Pemeriksaan terbaru
dilakukan dengan EEG untuk melihat aktivitas listrik dan mendeteksi
kemungkinan gangguan fungsi otak. Rosario mengatakan kondisi FY saat ini
tergolong stabil. “Kondisinya kan stabil,
ya. Kondisi pasien tuh stabil. Jadi saat ini memang yang diperlukan hanya
rawat jalan saja,” kata Rosario, Selasa (8/9/2026). Menurut Rosario,
penanganan medis terhadap FY masih akan berlanjut dalam jangka waktu yang
cukup lama. Biaya pengobatan pasien juga ditanggung oleh Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. “Masih lanjut. Dan
sepertinya memang untuk jangka waktu yang cukup lama,” sambungnya. Pihak RSUP H. Adam Malik
belum memberikan penjelasan lebih jauh mengenai diagnosis FY karena proses
pemeriksaan masih berlangsung. Pasien ditangani oleh dokter spesialis gastro
anak, dokter spesialis neurologi anak, dan dokter psikiatri. KPPG Bantah Ada Amnesia Di sisi lain, Kepala
Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Wilayah Medan, Donal Simanjuntak,
membantah pemberitaan mengenai FY yang disebut mengalami amnesia atau hilang
ingatan. Menurut Donal, FY pada 7
September 2026 pulang atas permintaan sendiri dari RS Amanda di Karo dan
kemudian menuju Medan untuk menjalani kontrol di RSUP H. Adam Malik sesuai
jadwal. Pemeriksaan yang dilakukan adalah EEG. "Kemarin tanggal 7
September 2026, korban pulang atas permintaan sendiri pagi hari dari RS
Amanda di Karo dan langsung ke Medan untuk kontrol ke RS Adam Malik sesuai
jadwal. Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan EEG," sebut Donal
dalam rilis yang diterima kontributor Tirto, Selasa (8/9/2026). Donal mengatakan FY
kemudian kembali ke RSUP H. Adam Malik bersama orang tuanya untuk menerima
hasil pemeriksaan EEG. Ia menyebut kondisi FY sempat menurun ketika tiba di
rumah sakit. "Namun saat tiba di
RS, FY drop dan lemas karena banyaknya peliputan atas dirinya. Keluarga
menerima hasil normal pada pemeriksaan EEG," katanya. Donal juga menyebut Badan
Gizi Nasional (BGN) terus mendampingi FY selama menjalani perawatan di RS
Haji Medan hingga kepulangan dan kontrol di RSUP H. Adam Malik. "Kepala BGN sudah
menyampaikan kepada pemerintah daerah agar dilakukan pelayanan kesehatan
secara maksimal untuk pengobatan siswa yang sakit dengan pembiayaan dari
kantor BGN," ujarnya. DPR Minta Pemerintah dan
BGN Turun Tangan Sementara itu, Wakil
Ketua DPR RI, Saan Mustopa, meminta pemerintah dan instansi terkait serius
menangani kondisi FY. Ia menilai kondisi siswi tersebut sudah cukup
memprihatinkan dan membutuhkan penanganan segera. “Kita minta, ya dari BGN,
bahkan dari instansi-instansi yang terkait untuk bisa menangani mereka secara
serius,” kata Saan kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta
Pusat, Rabu (9/9/2026). Politikus NasDem tersebut
juga minta pemerintah memastikan pembiayaan pemulihan kesehatan korban.
Langkah ini dinilainya perlu, agar pemulihan korban tidak menjadi beban
keluarga. “Termasuk juga, karena
kan pasti mereka yang keracunan itu, kan berasal dari kalangan keluarga yang
kurang mampu, kan begitu,” kata Saan. Saan meminta penanganan
tidak hanya berhenti pada pemeriksaan awal, tetapi juga memastikan korban
memperoleh pemulihan yang diperlukan. Di tengah proses
tersebut, penyebab pasti gangguan memori dan kejang yang dialami FY masih
membutuhkan pemeriksaan medis lebih lanjut. Secara medis, keracunan
berat memang dapat memengaruhi fungsi otak melalui dehidrasi, penurunan
tekanan darah, gangguan oksigenasi, sepsis, kejang, atau ketidakseimbangan
metabolik. Namun, mekanisme tersebut tidak dapat dijadikan diagnosis untuk
kasus FY sebelum seluruh pemeriksaan medis selesai. ● Sumber :
https://tirto.id/kasus-siswi-di-karo-bagaimana-keracunan-makanan-picu-amnesia-hCDP |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar