Sabtu, 12 September 2026

 

Bahaya Abu Vulkanis Mengancam. Bagaimana Antisipasinya?

Bagus Pribadi :  Jurnalis Tempo.

TEMPO HARIAN,  07 September 2026

 

 

 

·      Ada tiga organ utama yang berpotensi terkena dampak abu vulkanis akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau, yakni kulit, mata, dan paru.

 

·      Apa saja dampak kesehatan yang ditimbulkan oleh abu vulkanis dalam jangka pendek dan jangka panjang?

 

·      Bagaimana penjelasan dokter dan ahli kesehatan mengenai bahaya kesehatan akibat abu vulkanis dari aktivitas gunung berapi serta bagaimana mengatasinya?

 

HUJAN abu vulkanis akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mulai mengguyur kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi pada Ahad pagi, 6 September 2026. Berbagai dampak kesehatan yang ditimbulkan dari aktivitas gunung merapi itu perlu diwaspadai.

 

Guru besar di Bidang Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Agus Dwi Susanto, mengatakan ada beberapa dampak kesehatan yang timbul akibat abu vulkanis. Ia menyebutkan ada tiga organ utama yang berpotensi terkena dampak, yakni kulit, mata, dan paru.

 

Ia menuturkan dampak abu vulkanis pada kulit umumnya akan menyebabkan iritasi, kemerahan, hingga gatal. Pada mata, partikel halus yang berasal dari letusan gunung berapi itu bisa mengakibatkan kemerahan.

 

Apabila masuk ke saluran pernapasan dan paru, jika bentuknya partikel halus berukuran 5-10 mikron, bisa mengenai saluran pernapasan atas. Ada pula partikel halus dengan ukuran di bawah 5 mikron atau lebih kecil lagi kurang dari 2,5 mikron, yang dapat berdampak pada saluran pernapasan bawah.

 

Bahkan, Agus melanjutkan, partikel halus itu bisa masuk ke dalam pembuluh darah. “Ini bisa menyebabkan iritasi saluran pernapasan. Dampaknya bisa merusak epitel hingga membuat kelenjar membengkak,” katanya saat diwawancarai Tempo, Ahad, 6 September 2026.

 

Pelbagai kondisi awal menjadi indikasi jika terkena dampak abu vulkanis, seperti peradangan, hidung berair, tenggorokan gatal, batuk berdahak, dan terasa sesak saat bernapas. “Pada beberapa orang yang sudah punya penyakit dasar, seperti penyakit asma atau penyakit paru, abu vulkanis bisa menyebabkan serangan asma, serangan penyakit paru kronik,” kata Agus.

 

Dampak Jangka Panjang

 

Dampak abu vulkanis bagi kesehatan bisa mengarah pada terjadinya akumulasi penumpukan debu yang juga berpotensi meningkatkan superinfeksi, bahkan ke tahap infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Sementara itu, dampak jangka panjang bisa menyebabkan penurunan fungsi paru.

 

Dokter kardiologi sekaligus anggota Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, Iqbal Mochtar, mengatakan abu vulkanis bukan sekadar debu biasa, melainkan juga partikel yang sangat halus. “Ini bisa terhirup hingga berdampak serius. Kalau jangka panjang bisa menyebabkan penurunan fungsi paru,” katanya.

 

Ia menambahkan, ada beberapa kelompok tertentu yang memang berisiko mendapatkan efek yang serius dari abu vulkanis, seperti petugas lapangan, petugas kebersihan, pengemudi, pekerja konstruksi, pekerja lanjut usia, penderita penyakit jantung dan paru, serta ibu hamil. “Apalagi kalau mereka bekerja di luar ruangan, terutama yang berada dekat dengan terjadinya sumber abu vulkanis,” katanya.

 

Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Tjandra Yoga Aditama juga menyoroti dampak lain, seperti ketika debu mengotori sumber air dan makanan. Hal itu dapat menyebabkan gangguan saluran pencernaan. “Gas yang mungkin ada bersama abu ini, seperti sulfur dioksida, dapat menyebabkan keluhan sakit kepala, pusing, dan mungkin juga gangguan pernapasan,” katanya. Lebih lanjut, dia mengatakan, hal itu berpotensi mengakibatkan terjadinya keadaan ekstrem ketika kadar abu yang terhirup sangat banyak oleh orang yang berada dekat letusan. “Ini bisa menyebabkan asfiksia yang terasa seperti tercekik,” ujarnya.

 

Antisipasi yang Perlu Dilakukan

 

Agus menuturkan, pada tahapan pencegahan primer, penting bagi masyarakat untuk menghindari aktivitas di luar ruangan. “Kalau terpaksa ke luar ruangan, artinya harus pakai pelindung diri, seperti baju lengan panjang, sarung tangan, kacamata, dan masker yang dapat memfiltrasi partikel-partikel halus,“ ujarnya.

 

Ia pun menyarankan untuk menggunakan masker respirator, seperti N95, atau respirator masker lain yang tersedia di pasaran. Kalaupun tak ada, minimal menggunakan masker bedah. “Masker kain tidak disarankan karena efektivitasnya jauh sekali. Orang pakai masker kain ibaratnya sama seperti tidak pakai masker,” ujar Agus.

 

Agus juga menjelaskan pentingnya menjaga kualitas udara di dalam ruangan, seperti menutup pintu dan jendela serta melapisi barang-barang dengan kain basah. “Di dalam ruangan kalau bisa pakai pemurni ruangan, air purifier. Atau kalau pakai AC harus pakai mode resirculate, dari dalam ke dalam, bukan dari luar ke dalam,” katanya.

 

Sementara itu, Iqbal mengimbau masyarakat memperhatikan sumber-sumber air yang ada di sekitarnya. “Jika rumah sudah terkena debu dan kita mau bersihkan, jangan langsung dibersihkan, tapi basahi abu itu lebih dulu,” ujarnya. Menurut dia, tak tepat jika menyapu abu vulkanis dalam keadaan kering karena menyebabkan penyebarannya lebih masif.

 

Ia mengingatkan, jika masyarakat harus beraktivitas di luar rumah, sepulangnya harus membersihkan badan. “Perlu cuci tangan, mandi, ganti pakaian yang terpapar dari aktivitas luar,” kata Iqbal.

 

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga telah menyampaikan imbauannya kepada masyarakat untuk tidak panik dan menjaga kesehatan di tengah sebaran abu vulkanis Gunung Anak Krakatau. Ia juga menyoroti perihal menjaga kesehatan kulit.

 

“Setiap kali selesai melakukan aktivitas di luar ruangan, segera membasuh kulit dengan air. Jika mengalami keluhan gatal-gatal pada kulit, segera mengunjungi puskesmas terdekat,” katanya melalui konferensi pers daring. ●

                                                                                

Sumber : https://www.tempo.co/gaya-hidup/bagaimana-antisipasi-bahaya-abu-vukkanis-2285896

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar