Sabtu, 12 September 2026

 

Paradoks New York dalam Peringatan Serangan 11 September

Sita Planasari :  Jurnalis Tempo.

TEMPO HARIAN,  11 September 2026

 

 

 

·      Peringatan 25 tahun teror 11 September diwarnai penolakan atas kehadiran Wali Kota New York Zohran Mamdani.

 

·      Penolakan itu datang dari koalisi keluarga korban, sejumlah anggota Dewan Kota, hingga mantan wali kota Rudy Giuliani dan mantan gubernur George Pataki.

 

·      Selain akan tetap menghadiri acara utama peringatan tersebut, Mamdani merilis dokumen yang mengungkap "dosa" masa lalu pendahulunya.

 

SEJAK serangan teroris pada 11 September 2001, belum pernah ada Wali Kota New York yang melewatkan acara peringatan teror 11/9 (dalam bahasa Inggris ditulis 9/11) itu. Zohran Mamdani kini justru mendapat desakan kuat untuk menjadi orang pertama yang melakukan itu. Wali kota yang beragama Islam ini dituntut idak menghadiri perayaan di Ground Zero pada Jumat, 11 September 2026.

 

Situs Ground Zero merupakan episentrum dari luka terdalam sejarah modern Amerika Serikat. Berdiri di atas lahan seluas 16 hektare di Lower Manhattan, kawasan ini adalah titik persis runtuhnya menara kembar World Trade Center (WTC) setelah dihantam pesawat terbang yang dibajak teroris Al-Qaidah. Peristiwa 2001 itu menewaskan lebih dari 2.900 warga New York.

 

Puing-puing bencana tersebut kini telah bertransformasi menjadi National September 11 Memorial & Museum. Di sanalah peringatan 11/9 dilakukan setiap tahun.

 

Tahun ini, persiapan menjelang peringatan diwarnai situasi panas. Wali Kota Mamdani, yang merupakan seorang muslim, didesak agar tidak menghadiri acara. Penolakan itu datang dari koalisi keluarga korban, purnawirawan polisi Otoritas Pelabuhan, sejumlah anggota Dewan Kota, hingga mantan wali kota Rudy Giuliani dan mantan gubernur George Pataki. Alasan mereka beragam, dari kekhawatiran acara berubah jadi ajang politik sampai tudingan bahwa posisi dan afiliasi Mamdani sebagai muslim tak pantas berdiri di titik nol tragedi.

 

Giuliani, yang menjabat Wali Kota New York pada 1994-2001, menyoroti keyakinan Mamdani (Islam) dan menyatakan bahwa ia sebaiknya tidak menghadiri upacara utama. "Mengingat saya kehilangan teman-teman di sana dan sangat dekat dengan banyak keluarga korban, kehadiran dia membuat saya merasa tersinggung," kata Giuliani kepada Newsmax seperti dikutip kembali laman ABC3340 News.

 

Beberapa keluarga korban yang tewas dalam serangan tersebut juga meminta Mamdani tidak menghadiri upacara peringatan. Mereka membuat petisi dan berhasil mengumpulkan lebih dari 100 ribu tanda tangan. Beberapa keluarga korban menggelar konferensi pers di luar Balai Kota New York dengan menyatakan bahwa kehadiran Wali Kota dalam acara peringatan tersebut merupakan tindakan yang tidak menghormati para korban dengan alasan retorika serta berbagai hubungan yang dimilikinya.

 

Salah satu alasan yang diungkapkan adalah kedekatan Mamdani dengan komentator politik AS, Hasan Piker, yang pernah mengatakan bahwa Amerika pantas menerima serangan 11 September. Dalam sebuah debat pemilihan wali kota pada 2025, Mamdani mengecam komentar Piker itu. Kendati demikian, ia tetap menjalin hubungan dengannya.

 

Penunjukan Ramzi Kassem sebagai penasihat hukum utama Kota New York juga menjadi pemicu gelombang penolakan ini. Pada masa lalu, Kassem pernah membela tahanan Guantanamo Bay. Salah satu mantan klien Kassem, Ahmed al-Darbi (anggota Al-Qaidah), adalah adik ipar dari Khalid al-Mihdhar, salah satu teroris pembajak pesawat yang menabrak Pentagon pada 2001.

 

Ketidakpuasan soal Kassem memuncak setelah insiden simbolis dalam sesi penandatanganan Perintah Eksekutif peringatan 11/9 di Balai Kota. Setelah menandatangani dokumen tersebut, Mamdani memberikan pena seremonialnya kepada komisaris polisi (NYPD) untuk diteruskan kepada Kassem sebagai bentuk apresiasi atas penyusunan draf hukum. Bagi para penentangnya, seperti dilaporkan Fox News, tindakan menyerahkan pena penghormatan kepada mantan pengacara jaringan teroris dianggap sebagai penghinaan besar terhadap memori para korban.

 

Petisi penolakan tersebut juga menyebutkan sejumlah alasan lain, termasuk karya akademis ayah Mamdani mengenai pelaku bom bunuh diri. Ayah sang Wali Kota, Mahmood Mamdani, adalah seorang akademikus, antropolog, dan komentator politik terkemuka asal Uganda. Buku dia yang dipersoalkan terbit pada 2004 berjudul Good Muslim, Bad Muslim: America, the Cold War, and the Roots of Terror.

 

Kelompok konservatif menyuarakan penolakan atas kehadiran Mamdani dengan lebih lantang. Kandidat gubernur dari Partai Republik, Bruce Blakeman, menyatakan bahwa hadirin sebaiknya memunggungi Mamdani saat acara peringatan berlangsung jika sang Wali Kota hadir.

 

Bahkan sentimen ini juga dilontarkan petinggi Partai Demokrat—partai yang mendukung Mamdani dalam perebutan kursi wali kota. Mantan sekretaris pers ibu negara Jill Biden, Michael LaRosa, mengatakan kepada The National News Desk bahwa ia menandatangani petisi yang meminta Wali Kota tidak menghadiri upacara pada Jumat.

 

Ia menggambarkan peringatan 11/9 sebagai momen yang sangat khidmat dan berdalih bahwa kehadiran Mamdani justru akan mengalihkan perhatian. "Jika kehadirannya akan memicu kontroversi, menurut saya sebaiknya ia tidak hadir," ujar LaRosa pada Kamis, 10 September 2026.

 

Di tengah berbagai desakan itu, Mamdani menegaskan tetap akan menghadiri acara utama peringatan 11 September tersebut. "Saya mencintai kota ini, saya mencintai negara ini, dan hal yang ingin saya jadikan fokus minggu ini adalah keluarga-keluarga yang kehilangan orang-orang terkasih mereka akibat aksi teror mengerikan 11 September, 25 tahun yang lalu," ujar Mamdani kepada para wartawan pada Rabu, 9 September 2026.

 

Menurut dia, fokus ditujukan kepada para petugas tanggap darurat yang telah mengerahkan segala upaya terbaik mereka bagi kota ini, serta kepada warga yang bersatu padu untuk saling membantu sesama penduduk New York. "Karena itu, dalam beberapa hari mendatang, fokus saya adalah menghadiri berbagai acara untuk mengenang keberanian luar biasa tersebut. Saya akan hadir di lokasi peringatan pada hari Jumat, sama seperti tahun lalu," kata Mamdani.

 

Keanggotaan Simbolik

 

Serangan teror 11 September telah meningkatkan secara drastis Islamofobia, yakni rasa takut, prasangka, diskriminasi, atau kebencian yang tidak rasional terhadap agama Islam dan muslim. Menurut data FBI, lonjakan angka kejahatan kebencian terhadap muslim di Amerika terjadi hingga lebih dari 1.600 persen.

 

Kini 25 tahun kemudian, Islamofobia itu masih kental. Menurut Rochdi Mohan Nazala, dosen hubungan internasional Universitas Gadjah Mada, narasi Islamofobia masih efektif dipakai oleh kelompok sayap kanan AS sebagai alat komodifikasi politik. Narasi tersebut terus diproduksi. Ada think tank, jaringan pendanaan, produsen konten, dan siklus elektoral yang menghidupinya.

 

Hal itu terlihat dari cara para penggagas petisi membingkai keberatan mereka terhadap Mamdani. Mereka secara terang-terangan menegaskan bahwa persoalannya bukan keislaman Mamdani, melainkan pandangan politik dan afiliasinya. “Bentuk modern inilah yang paling berhasil karena ia mengklaim netral sambil memberikan tanggung jawab pembuktian kepada muslim,” kata Rochdi kepada Tempo pada Kamis, 10 Oktober 2026.

 

Peringatan 11/9 kemudian kerap menjadi panggung kontestasi identitas bagi kelompok sayap kanan. Peristiwa tersebut tidak hanya dikenang sebagai tragedi nasional, tapi juga dapat digunakan sebagai simbol untuk mempertanyakan atau mengasingkan pejabat publik muslim dari ruang sipil Amerika.

 

Menurut Rochdi, Ground Zero berfungsi sebagai situs civil religion, yaitu ruang sakral yang mendefinisikan siapa anggota penuh komunitas politik. “Karena itu, mengecualikan seseorang dari ritual tersebut bukan penolakan administratif, melainkan pencabutan keanggotaan simbolik,” kata dia.

 

Mekanismenya berlapis. Pertama, asosiasi transitif, yakni pengaitan seseorang dengan orang lain melalui hubungan atau kedekatan politik. Petisi yang mencapai lebih dari 100 ribu tanda tangan mengaitkan Mamdani dengan Imam Siraj Wahhaj, dengan penunjukan Ramzi Kassem sebagai penasihat hukum yang pernah menjadi kuasa hukum terpidana Al-Qaidah. Dalam pola seperti ini, kesalahan tidak perlu dibuktikan secara langsung. Ia dapat dilekatkan melalui jaringan relasi.

 

Kedua, penyempitan makna tindakan simbolik. Penyerahan pena seremonial kepada Kassem dibaca sebagai penghinaan, artinya setiap tindakan simbolik Mamdani hanya punya dua pembacaan: netral atau bermusuhan. Ruang untuk pembacaan yang lebih berimbang dan kontekstual menjadi makin sempit.

 

Ketiga, klaim atas kewenangan untuk menentukan bagaimana tragedi 11/9 harus dikenang muncul dari figur-figur Republikan, seperti Giuliani dan mantan Gubernur New York George Pataki. Mereka memposisikan diri sebagai penjaga gerbang memori tragedi tersebut. Keduanya dikenal sebagai bagian dari politik konservatif Amerika yang keras terhadap politikus muslim dan mendukung Israel.

 

Respons Mamdani

 

Selain menegaskan dirinya akan tetap hadir, Mamdani pada Selasa, 8 September 2026, juga melakukan kejutan. Ia membuka 170 ribu lembar laporan dari catatan kualitas udara pasca-serangan 11 September 2001. Laporan yang selama ini ditutupi oleh pejabat New York yang berkuasa itu memberikan wawasan baru mengenai apa yang diketahui para pejabat tentang kondisi beracun di sekitar Ground Zero. Saat kejadian, mereka secara terbuka meyakinkan warga dan petugas penyelamat bahwa udara di sana aman untuk dihirup.

 

Catatan-catatan tersebut—yang mencakup laporan kualitas udara, data kontaminasi, dan korespondensi antarpejabat kota—kini dapat diakses melalui portal publik. Dokumen sejak 2001 itu berpotensi menimbulkan gugatan hukum dari keluarga korban.

 

Dalam konferensi pers perilisan dokumen tersebut, Mamdani mengatakan bahwa, selama beberapa generasi, warga New York tidak mendapatkan akses terhadap informasi yang sebenarnya sudah lama mereka yakini keberadaannya. "Para pemimpin yang mereka percayai telah berbohong dan mengatakan bahwa aman bagi mereka untuk menghirup udara beracun tersebut," katanya seperti dilansir laman berita ABC7NY.

 

Perilisan dokumen ini merupakan hasil dari tuntutan transparansi yang telah disuarakan selama bertahun-tahun oleh para penyintas peristiwa 11/9, aktivis, serta petugas tanggap darurat. Hal itu juga menyelesaikan sengketa hukum yang diajukan oleh 9/11 Health Watch—sebuah kelompok advokasi yang menggugat pemerintah kota demi mendesak dipublikasikannya catatan-catatan tersebut.

 

Pendekatan Mamdani

 

Seberapa efektif pendekatan yang mengutamakan kebijakan (policy-first) yang digunakan Mamdani untuk mematahkan gambaran Islamofobia? Menurut Rochdi, strategi tersebut justru merupakan langkah yang cerdas karena menggeser pertarungan dari arena recognition ke arena redistribution: dari soal pengakuan identitas ke soal manfaat dan kebijakan yang dihasilkan.

 

Ada beberapa alasan mengapa strategi ini secara analitis kuat. Pertama, Mamdani mengubah kriteria penilaian dari “siapa Anda” “menjadi apa yang Anda kerjakan”. Kedua, ia membalik posisi moral: yang berbohong kepada penyintas justru administrasi kota masa lalu, dengan Giuliani sebagai wali kota saat itu. Ketiga, Mamdani membangun koalisi lintas identitas, seperti serikat pekerja, first responder, 9/11 Health Watch, Jon Stewart, yang tidak bisa dituduh partisan.

 

Namun strategi tersebut juga memiliki batas. Narasi Islamofobia bekerja terutama dengan membangkitkan emosi, bukan semata-mata dengan menilai kinerja. Kebijakan yang baik mungkin dapat menetralkan tuduhan inkompetensi, tapi belum tentu mampu menepis tuduhan ketidaksetiaan.

 

Bagi publik moderat yang belum memiliki sikap emosional yang kuat terhadap Mamdani, pendekatan ini ada kemungkinan lebih efektif. Namun, bagi mereka yang telah memiliki posisi politik yang kuat, langkah yang sama dapat dibaca sebagai sebuah manuver.

 

Karena itu, keberhasilannya tidak semata-mata diukur dari kemampuan mengubah pilihan politik pemilih, tapi juga dari kemampuannya mengurangi polarisasi atas isu 11/9. “Jika komunitas penyintas terbelah dalam menilai Mamdani, monopoli konservatif atas memori 11/9 sudah retak dan itu sudah menjadi kemenangan struktural,” ujar Rochdi.

 

Tantangan yang Dialami Mamdani

 

Sebagai wali kota muslim di salah satu kota paling kosmopolitan di dunia, Mamdani menghadapi tekanan dan ekspektasi yang berbeda dibanding para pendahulunya ketika memimpin acara peringatan yang berisiko politik tinggi seperti 11/9.

 

Menurut Rochdi, para pendahulunya, seperti Rudy Giuliani, dapat memimpin peringatan 11/9 sebagai mourner-in-chief atau pemimpin yang berada di garis depan dalam menyatakan duka bersama masyarakat. Mamdani, sebaliknya, harus memimpin acara yang sama sekaligus menghadapi tuduhan dan penilaian atas identitas serta loyalitas politiknya. Rochdi menyebutnya sebagai situasi serba salah (double bind) dalam politik representasi, ketika apa pun pilihan yang diambil dapat menimbulkan konsekuensi politik.

 

Ia menghadapi setidaknya empat bentuk ketimpangan. Pertama, loyalty tax atau beban untuk terus membuktikan kesetiaan: kehadirannya tidak serta-merta dipahami sebagai bentuk duka, melainkan harus dibuktikan sebagai tanda kesetiaan. Kedua, hipervisibilitas gestur. Setiap gerak-geriknya mendapat perhatian berlebihan: ekspresi wajah, pilihan kata, bahkan tindakan sederhana, seperti menyerahkan pena dapat dibaca dan diperiksa secara berlebihan.

 

Ketiga, skala mismatch atau ketidakseimbangan antara kewenangan dan tuntutan: sebagai wali kota, ia bertanggung jawab atas urusan kota, tapi juga dituntut untuk menjawab persoalan geopolitik seperti Gaza, Israel, dan retorika politik transnasional. Keempat, beban untuk dianggap mewakili kelompok yang lebih luas: ia tidak hanya dipandang sebagai individu, tapi juga dianggap mewakili muslim Amerika secara lebih luas. Karena itu, kegagalan personal berisiko dibaca sebagai kegagalan kolektif.

 

Dimensi biografisnya juga tidak bisa diabaikan. Mamdani berusia 9 tahun pada 2001. Pria 34 tahun itu menjadi wali kota pertama yang mengalami 11/9 sebagai seorang anak, bukan sebagai pengambil keputusan. Ia mewarisi ingatan tentang peristiwa tersebut bersama generasinya. Ironisnya, pewarisan itulah yang kini menjadi salah satu dasar untuk mempersoalkan apakah ia berhak berdiri sebagai bagian dari upacara mengenang tragedi tersebut. ●

                                                                                

Sumber : https://www.tempo.co/internasional/mamdani-islamofobia-new-york-peringatan-11-9-2286557

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar