Sabtu, 12 September 2026

 

Bisakah Amerika Menyetop Perang Rusia-Ukraina

Sita Planasari :  Jurnalis Tempo.

TEMPO HARIAN,  10 September 2026

 

 

 

·      Utusan Khusus Amerika Serikat Steve Witkoff dan Jared Kushner tiba di Kyiv pada Ahad, 6 September 2026.

 

·      Mereka tiba di Ukraina di tengah upaya terbaru pemerintahan Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang Rusia di Ukraina yang telah berlangsung selama empat setengah tahun.

 

·      Terlepas dari upaya diplomatik terbaru, tuntutan utama pihak Moskow dan Kyiv tetap saling bertolak belakang—terutama soal konsesi wilayah—yang menegaskan betapa sulitnya mencapai kesepakatan.

 

DELEGASI Amerika Serikat tiba di Kyiv pada Ahad, 6 September 2026, dengan kereta api yang oleh pihak Ukraina dijuluki "kereta ekspres perdamaian". Utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner datang ke Ukraina di tengah upaya terbaru pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mengakhiri perang Rusia di Ukraina yang telah berlangsung selama empat setengah tahun.

 

Lawatan dilakukan sehari setelah mereka mengunjungi Moskow, Rusia, membawa apa yang disebut Donald Trump sebagai proposal untuk mengakhiri perang tersebut. Ini merupakan kunjungan perdana utusan khusus AS ke Ukraina sejak Trump melibatkan diri dalam perundingan damai kedua negara.

 

Meskipun belum dapat dipastikan apakah negosiasi damai dapat dihidupkan kembali setelah jeda enam bulan, kunjungan Witkoff dan Kushner memiliki arti penting bagi Ukraina karena akhirnya membawa kedua tokoh Amerika tersebut keluar dari "gelembung" Moskow.

 

"Sangatlah penting bahwa delegasi tersebut telah tiba untuk menemui kami. Kami sudah lama menantikan Steve Witkoff dan Jared Kushner," kata Zelensky seperti dilansir Al Jazeera. Ia juga berterima kasih kepada Presiden Trump karena telah "mengizinkan mereka datang" di tengah situasi perang.

 

"Bagi kami, sangatlah penting untuk melakukan segala upaya agar perang ini berakhir," dia menambahkan.

 

Arti Penting bagi Ukraina

 

Kunjungan utusan AS ke Kyiv, yang berakhir pada Ahad malam, merupakan kunjungan pertama mereka setelah beberapa kali melawat ke Rusia.

 

Kunjungan ini memberi kesempatan bagi pihak Ukraina untuk menunjukkan—tak sekadar memaparkan secara lisan—argumen mereka. Ini juga menjadi kesempatan bagi pihak Ukraina untuk memastikan agar pemerintahan Trump tidak kembali menunjukkan keberpihakan yang nyata kepada Rusia dalam perundingan, seperti pada tahap awal proses tersebut.

 

Pihak Ukraina telah menyuguhkan simbolisme, bahkan sebelum para utusan tiba di Kyiv. Sebuah jamuan makan istimewa disajikan di dalam kereta bagi Witkoff—yang dikenal sebagai penikmat kuliner—dan Kushner. Hidangan tersebut mencakup sejumlah sajian khas Tatar Krimea, yang menyoroti ikatan Ukraina dengan semenanjung yang dianeksasi secara ilegal oleh Rusia lebih dari satu dekade.

 

Setibanya di sana, Presiden Zelensky menyambut para utusan di Alun-alun Sophia yang ikonik—tempat penghormatan bagi para prajurit yang gugur dipajang sedemikian rupa sehingga mustahil untuk diabaikan. Ia kemudian mengajak mereka memasuki katedral bersejarah yang menjadi simbol identitas nasional Ukraina.

 

Zelensky juga melontarkan candaan saat meminta Witkoff dan Kushner agar "lebih sering datang," mengingat Kremlin setuju untuk menghentikan sementara serangan yang biasanya berlangsung intens sepanjang hari di Kyiv selama kunjungan mereka.

 

Para penasihat keamanan nasional Inggris, Prancis, dan Jerman sempat bergabung dalam pembicaraan pada Ahad itu.

 

Bagi banyak warga Ukraina, itulah hasil terbaik sekaligus satu-satunya yang diharapkan, setidaknya untuk jangka pendek. "Terima kasih, Steve dan Jared, karena telah memberikan kami sore hari tanpa peringatan serangan udara," ujar Dmytro Soloviov, seorang pemandu wisata di Kyiv, dengan nada sedikit menyindir saat memandu tur jalan kaki untuk melihat arsitektur kota seperti dilansir The NYT.

 

Jalan Terjal Perundingan Damai

 

Pemerintahan Trump yang kini masih disibukkan dengan perang menghadapi Iran telah membiarkan proses perdamaian Ukraina-Rusia mengalami stagnasi. Bahkan Zelensky menyatakan bahwa perang tampaknya akan terus berlanjut, setidaknya hingga memasuki musim dingin yang bisa menjadi masa yang sangat berat bagi negara tersebut.

 

Terlepas dari upaya diplomatik terbaru, tuntutan utama pihak Moskow dan Kyiv tetap saling bertolak belakang—terutama terkait konsesi wilayah—yang menegaskan betapa sulitnya mencapai kesepakatan. Kushner mengakui tantangan tersebut dan menyatakan bahwa AS sedang berupaya "di balik layar" untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan tercapainya kesepakatan.

 

"Ini adalah masalah yang sangat, sangat sulit, tapi kami akan mencobanya," kata Kushner mengenai negosiasi untuk mengakhiri perang. "Dan menurut saya, jika kami berhasil mencapainya, itu akan menjadi hal yang luar biasa. Bukan berarti kami pasti akan berhasil, tapi upaya ini sangatlah penting," ujarnya.

 

Kushner menyebutkan bahwa "gagasan-gagasan baru" telah disampaikan kepada Zelensky dalam serangkaian diskusi pada Ahad. Ia tidak memberikan perincian lebih lanjut dan menolak memaparkan jadwal waktu untuk mencapai potensi kesepakatan apa pun.

 

Pemimpin Ukraina tersebut juga tidak banyak memberikan detail mengenai pembicaraan dengan pihak Amerika. Dalam konferensi pers seusai pertemuan, ia mengatakan bahwa "segala kemungkinan" untuk melanjutkan kembali negosiasi telah dibahas, begitu pula dengan "beberapa gagasan yang benar-benar baru".

 

Saat didesak mengenai kapan pembicaraan lanjutan akan diadakan, jawaban dari Witkoff, Kushner, dan Zelensky tampak mengikuti pola yang sama: "segera" atau "semoga segera".

 

Sebelum kedatangan delegasi Amerika, para pejabat Ukraina telah menyatakan harapan mereka agar negosiasi dapat kembali berjalan secara serius pada akhir bulan ini—yakni setelah pemilihan umum parlemen Rusia, tapi sebelum pemilihan paruh waktu di AS pada November.

 

Zelensky, yang meyakini bahwa pihak Washington akan memegang peran kunci dalam setiap kesepakatan damai, mengatakan bahwa terdapat peluang untuk mewujudkan perdamaian sebelum AS mulai memusatkan perhatian pada pemilihan presiden berikutnya pada musim panas mendatang.

 

Belum Ada Ide Substantif

 

Karina Utami Dewi, Ketua Jurusan Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia, yang berfokus pada studi politik Amerika Serikat, berpendapat bahwa kunjungan Kushner dan Witkoff sebagai representasi AS ke Kyiv merupakan upaya untuk menghidupkan kembali diskusi mengenai perdamaian antara Ukraina dan Rusia.

 

Namun, dari konferensi pers, pernyataan yang disampaikan Kushner dan Witkoff bersama dengan Presiden Zelensky, tidak ada ide substantif yang secara eksplisit disebutkan untuk membuat situasi antara Rusia dan Ukraina menjadi lebih baik.

 

“Bisa saja ini merupakan perubahan taktis oleh Trump yang menerima banyak kritik dari Eropa tentang langkah AS perihal perang Rusia dan Ukraina, sehingga ada keinginan untuk menunjukkan upaya diplomasi yang lebih seimbang di antara dua belah pihak, tak hanya berpihak pada Rusia,” kata Karina kepada Tempo pada Rabu, 9 September 2026.

 

Menurut Karina, secara simbolik, kunjungan ini tentu memberi kesan bahwa Amerika sedang melakukan pendekatan diplomasi AS yang tidak timpang. Namun bukan tidak mungkin dalam perkembangannya, AS memberikan tekanan terhadap Zelensky, karena hal ini pernah mereka lakukan sebelumnya.

 

Pada Februari 2025, Trump bersama wakilnya, J.D. Vance, memberikan tekanan kepada Zelensky di hadapan pers di Gedung Putih agar dapat menerima tawaran yang diberikan Rusia, meski tawaran tersebut sangat timpang dan tidak berpihak kepada Ukraina.

 

Meski demikian, kehadiran Kushner dan Witkoff di Kyiv setidaknya dapat mendesak gencatan senjata sementara antara Rusia dan Ukraina untuk mendorong deeskalasi konflik lebih jauh.

 

Setelah pembicaraan tersebut, Kushner mengisyaratkan bahwa AS berharap dapat melanjutkan kembali perundingan trilateral dengan Rusia dan Ukraina sebagai bagian dari langkah-langkah selanjutnya menuju perdamaian.

 

Menurut Karina, pertemuan trilateral memungkinkan pihak Moskow dan Kyiv mendengar langsung posisi masing-masing serta memungkinkan AS mendorong kompromi di antara kedua belah pihak.

 

“Namun three party talk ini akan efektif hanya jika kedua pihak memang siap melakukan konsesi. Saat ini persoalan utama, seperti wilayah yang diduduki Rusia dan jaminan keamanan Ukraina, masih sangat jauh dari kesepakatan. Kremlin sendiri baru mengatakan tidak menutup kemungkinan pembicaraan trilateral, tapi belum ada kepastian mengenai waktu atau tempatnya,” kata Karina.

 

Dalam pertemuan ini, Zelensky mengatakan soal jaminan keamanan jangka panjang dan dukungan ekonomi bagi rekonstruksi setelah perang di Ukraina. Ia menyatakan bahwa militer Ukraina yang kuat tetap menjadi salah satu jaminan keamanan utama. Hal itu menjadi sorotan akan bagaimana tuntutan ini terhadap utusan AS.

 

Menurut Karina, AS tidak memberikan penolakan secara eksplisit mengenai tuntutan Ukraina tersebut. Kendati demikian, belum ada komitmen yang konkret untuk memenuhinya.

 

Saat Kushner ditanya apakah upaya untuk mengakhiri perang dapat terwujud setidaknya pada musim dingin, ia menyatakan bahwa AS ingin mencoba mewujudkan hal tersebut.

 

Meski demikian, Karina mengatakan tujuan AS tak sekadar menghentikan perang sekarang, tapi juga menciptakan kondisi untuk perdamaian jangka panjang. “Artinya masih ada potensi untuk negosiasi yang belum tentu bisa menciptakan perdamaian dengan segera karena belum ada kesepakatan final mengenai bentuk jaminannya ataupun pemenuhan dari tuntutan Ukraina yang akan dipenuhi oleh AS maupun Rusia,” tuturnya.

 

Formalitas Diplomatik?

 

Menurut Karina, jika dalam waktu dekat belum tampak bentuk konkret dari poin-poin substantif yang akan didiskusikan di antara ketiga pihak yang lebih berimbang dan dapat disetujui oleh kedua pihak, maka momentum ini bisa saja masih merupakan formalitas diplomatik.

 

Kendati demikian, ada beberapa indikator positif: kontak diplomatik kembali aktif setelah berbulan-bulan kehilangan momentum, utusan AS berbicara langsung dengan Putin dan Zelensky dalam waktu berdekatan, serta ada pembicaraan untuk kembali ke format trilateral.

 

Namun persoalan paling sulit belum berubah: Rusia dan Ukraina masih berbeda jauh mengenai wilayah, keamanan setelah perang, dan bagaimana menghentikan pertempuran.

 

Bahkan, setelah kunjungan tersebut, serangan Rusia ke Kyiv kembali terjadi. Maka, Karina menambahkan, momentum ini hanya akan dapat memicu terobosan nyata jika menghasilkan pertemuan trilateral, kesepakatan deeskalasi, atau jaminan konkret mengenai keamanan wilayah.

 

Meskipun tidak ada yang berharap akan tercapainya gencatan senjata permanen dalam waktu dekat, sebuah plakat di meja gerbong makan kereta yang ditumpangi utusan AS dari Polandia ke Ukraina pada Ahad menyiratkan harapan. "Perdamaian," demikian bunyi tulisan di plakat itu, “datang tepat pada waktunya.” ●

                                                                                

Sumber : https://www.tempo.co/internasional/bisakah-amerika-menyetop-perang-rusia-ukraina-2286389

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar