|
Bisakah Amerika Menyetop Perang
Rusia-Ukraina Sita Planasari : Jurnalis Tempo. |
TEMPO HARIAN, 10 September 2026
|
· Utusan Khusus Amerika Serikat Steve
Witkoff dan Jared Kushner tiba di Kyiv pada Ahad, 6 September 2026. · Mereka tiba di Ukraina di tengah upaya
terbaru pemerintahan Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang Rusia
di Ukraina yang telah berlangsung selama empat setengah tahun. · Terlepas dari upaya diplomatik terbaru,
tuntutan utama pihak Moskow dan Kyiv tetap saling bertolak belakang—terutama
soal konsesi wilayah—yang menegaskan betapa sulitnya mencapai kesepakatan. DELEGASI
Amerika Serikat tiba di Kyiv pada Ahad, 6 September 2026, dengan kereta api
yang oleh pihak Ukraina dijuluki "kereta ekspres perdamaian".
Utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner datang ke Ukraina di tengah upaya
terbaru pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mengakhiri perang Rusia di
Ukraina yang telah berlangsung selama empat setengah tahun. Lawatan
dilakukan sehari setelah mereka mengunjungi Moskow, Rusia, membawa apa yang
disebut Donald Trump sebagai proposal untuk mengakhiri perang tersebut. Ini
merupakan kunjungan perdana utusan khusus AS ke Ukraina sejak Trump
melibatkan diri dalam perundingan damai kedua negara. Meskipun
belum dapat dipastikan apakah negosiasi damai dapat dihidupkan kembali
setelah jeda enam bulan, kunjungan Witkoff dan Kushner memiliki arti penting
bagi Ukraina karena akhirnya membawa kedua tokoh Amerika tersebut keluar dari
"gelembung" Moskow. "Sangatlah
penting bahwa delegasi tersebut telah tiba untuk menemui kami. Kami sudah
lama menantikan Steve Witkoff dan Jared Kushner," kata Zelensky seperti
dilansir Al Jazeera. Ia juga berterima kasih kepada Presiden Trump karena
telah "mengizinkan mereka datang" di tengah situasi perang. "Bagi
kami, sangatlah penting untuk melakukan segala upaya agar perang ini
berakhir," dia menambahkan. Arti
Penting bagi Ukraina Kunjungan
utusan AS ke Kyiv, yang berakhir pada Ahad malam, merupakan kunjungan pertama
mereka setelah beberapa kali melawat ke Rusia. Kunjungan
ini memberi kesempatan bagi pihak Ukraina untuk menunjukkan—tak sekadar
memaparkan secara lisan—argumen mereka. Ini juga menjadi kesempatan bagi
pihak Ukraina untuk memastikan agar pemerintahan Trump tidak kembali
menunjukkan keberpihakan yang nyata kepada Rusia dalam perundingan, seperti
pada tahap awal proses tersebut. Pihak
Ukraina telah menyuguhkan simbolisme, bahkan sebelum para utusan tiba di
Kyiv. Sebuah jamuan makan istimewa disajikan di dalam kereta bagi
Witkoff—yang dikenal sebagai penikmat kuliner—dan Kushner. Hidangan tersebut
mencakup sejumlah sajian khas Tatar Krimea, yang menyoroti ikatan Ukraina
dengan semenanjung yang dianeksasi secara ilegal oleh Rusia lebih dari satu
dekade. Setibanya
di sana, Presiden Zelensky menyambut para utusan di Alun-alun Sophia yang
ikonik—tempat penghormatan bagi para prajurit yang gugur dipajang sedemikian
rupa sehingga mustahil untuk diabaikan. Ia kemudian mengajak mereka memasuki
katedral bersejarah yang menjadi simbol identitas nasional Ukraina. Zelensky
juga melontarkan candaan saat meminta Witkoff dan Kushner agar "lebih
sering datang," mengingat Kremlin setuju untuk menghentikan sementara
serangan yang biasanya berlangsung intens sepanjang hari di Kyiv selama
kunjungan mereka. Para
penasihat keamanan nasional Inggris, Prancis, dan Jerman sempat bergabung
dalam pembicaraan pada Ahad itu. Bagi
banyak warga Ukraina, itulah hasil terbaik sekaligus satu-satunya yang
diharapkan, setidaknya untuk jangka pendek. "Terima kasih, Steve dan
Jared, karena telah memberikan kami sore hari tanpa peringatan serangan
udara," ujar Dmytro Soloviov, seorang pemandu wisata di Kyiv, dengan
nada sedikit menyindir saat memandu tur jalan kaki untuk melihat arsitektur
kota seperti dilansir The NYT. Jalan
Terjal Perundingan Damai Pemerintahan
Trump yang kini masih disibukkan dengan perang menghadapi Iran telah
membiarkan proses perdamaian Ukraina-Rusia mengalami stagnasi. Bahkan
Zelensky menyatakan bahwa perang tampaknya akan terus berlanjut, setidaknya
hingga memasuki musim dingin yang bisa menjadi masa yang sangat berat bagi
negara tersebut. Terlepas
dari upaya diplomatik terbaru, tuntutan utama pihak Moskow dan Kyiv tetap
saling bertolak belakang—terutama terkait konsesi wilayah—yang menegaskan
betapa sulitnya mencapai kesepakatan. Kushner mengakui tantangan tersebut dan
menyatakan bahwa AS sedang berupaya "di balik layar" untuk
menciptakan kondisi yang memungkinkan tercapainya kesepakatan. "Ini
adalah masalah yang sangat, sangat sulit, tapi kami akan mencobanya," kata
Kushner mengenai negosiasi untuk mengakhiri perang. "Dan menurut saya,
jika kami berhasil mencapainya, itu akan menjadi hal yang luar biasa. Bukan
berarti kami pasti akan berhasil, tapi upaya ini sangatlah penting,"
ujarnya. Kushner
menyebutkan bahwa "gagasan-gagasan baru" telah disampaikan kepada
Zelensky dalam serangkaian diskusi pada Ahad. Ia tidak memberikan perincian
lebih lanjut dan menolak memaparkan jadwal waktu untuk mencapai potensi
kesepakatan apa pun. Pemimpin
Ukraina tersebut juga tidak banyak memberikan detail mengenai pembicaraan
dengan pihak Amerika. Dalam konferensi pers seusai pertemuan, ia mengatakan
bahwa "segala kemungkinan" untuk melanjutkan kembali negosiasi
telah dibahas, begitu pula dengan "beberapa gagasan yang benar-benar
baru". Saat
didesak mengenai kapan pembicaraan lanjutan akan diadakan, jawaban dari
Witkoff, Kushner, dan Zelensky tampak mengikuti pola yang sama:
"segera" atau "semoga segera". Sebelum
kedatangan delegasi Amerika, para pejabat Ukraina telah menyatakan harapan
mereka agar negosiasi dapat kembali berjalan secara serius pada akhir bulan
ini—yakni setelah pemilihan umum parlemen Rusia, tapi sebelum pemilihan paruh
waktu di AS pada November. Zelensky,
yang meyakini bahwa pihak Washington akan memegang peran kunci dalam setiap
kesepakatan damai, mengatakan bahwa terdapat peluang untuk mewujudkan
perdamaian sebelum AS mulai memusatkan perhatian pada pemilihan presiden
berikutnya pada musim panas mendatang. Belum
Ada Ide Substantif Karina
Utami Dewi, Ketua Jurusan Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia,
yang berfokus pada studi politik Amerika Serikat, berpendapat bahwa kunjungan
Kushner dan Witkoff sebagai representasi AS ke Kyiv merupakan upaya untuk
menghidupkan kembali diskusi mengenai perdamaian antara Ukraina dan Rusia. Namun,
dari konferensi pers, pernyataan yang disampaikan Kushner dan Witkoff bersama
dengan Presiden Zelensky, tidak ada ide substantif yang secara eksplisit
disebutkan untuk membuat situasi antara Rusia dan Ukraina menjadi lebih baik. “Bisa
saja ini merupakan perubahan taktis oleh Trump yang menerima banyak kritik
dari Eropa tentang langkah AS perihal perang Rusia dan Ukraina, sehingga ada
keinginan untuk menunjukkan upaya diplomasi yang lebih seimbang di antara dua
belah pihak, tak hanya berpihak pada Rusia,” kata Karina kepada Tempo pada
Rabu, 9 September 2026. Menurut
Karina, secara simbolik, kunjungan ini tentu memberi kesan bahwa Amerika
sedang melakukan pendekatan diplomasi AS yang tidak timpang. Namun bukan
tidak mungkin dalam perkembangannya, AS memberikan tekanan terhadap Zelensky,
karena hal ini pernah mereka lakukan sebelumnya. Pada
Februari 2025, Trump bersama wakilnya, J.D. Vance, memberikan tekanan kepada
Zelensky di hadapan pers di Gedung Putih agar dapat menerima tawaran yang
diberikan Rusia, meski tawaran tersebut sangat timpang dan tidak berpihak
kepada Ukraina. Meski
demikian, kehadiran Kushner dan Witkoff di Kyiv setidaknya dapat mendesak
gencatan senjata sementara antara Rusia dan Ukraina untuk mendorong deeskalasi
konflik lebih jauh. Setelah
pembicaraan tersebut, Kushner mengisyaratkan bahwa AS berharap dapat
melanjutkan kembali perundingan trilateral dengan Rusia dan Ukraina sebagai
bagian dari langkah-langkah selanjutnya menuju perdamaian. Menurut
Karina, pertemuan trilateral memungkinkan pihak Moskow dan Kyiv mendengar
langsung posisi masing-masing serta memungkinkan AS mendorong kompromi di
antara kedua belah pihak. “Namun
three party talk ini akan efektif hanya jika kedua pihak memang siap
melakukan konsesi. Saat ini persoalan utama, seperti wilayah yang diduduki
Rusia dan jaminan keamanan Ukraina, masih sangat jauh dari kesepakatan.
Kremlin sendiri baru mengatakan tidak menutup kemungkinan pembicaraan
trilateral, tapi belum ada kepastian mengenai waktu atau tempatnya,” kata
Karina. Dalam
pertemuan ini, Zelensky mengatakan soal jaminan keamanan jangka panjang dan
dukungan ekonomi bagi rekonstruksi setelah perang di Ukraina. Ia menyatakan
bahwa militer Ukraina yang kuat tetap menjadi salah satu jaminan keamanan
utama. Hal itu menjadi sorotan akan bagaimana tuntutan ini terhadap utusan
AS. Menurut
Karina, AS tidak memberikan penolakan secara eksplisit mengenai tuntutan
Ukraina tersebut. Kendati demikian, belum ada komitmen yang konkret untuk
memenuhinya. Saat
Kushner ditanya apakah upaya untuk mengakhiri perang dapat terwujud
setidaknya pada musim dingin, ia menyatakan bahwa AS ingin mencoba mewujudkan
hal tersebut. Meski
demikian, Karina mengatakan tujuan AS tak sekadar menghentikan perang
sekarang, tapi juga menciptakan kondisi untuk perdamaian jangka panjang.
“Artinya masih ada potensi untuk negosiasi yang belum tentu bisa menciptakan
perdamaian dengan segera karena belum ada kesepakatan final mengenai bentuk
jaminannya ataupun pemenuhan dari tuntutan Ukraina yang akan dipenuhi oleh AS
maupun Rusia,” tuturnya. Formalitas
Diplomatik? Menurut
Karina, jika dalam waktu dekat belum tampak bentuk konkret dari poin-poin
substantif yang akan didiskusikan di antara ketiga pihak yang lebih berimbang
dan dapat disetujui oleh kedua pihak, maka momentum ini bisa saja masih
merupakan formalitas diplomatik. Kendati
demikian, ada beberapa indikator positif: kontak diplomatik kembali aktif
setelah berbulan-bulan kehilangan momentum, utusan AS berbicara langsung
dengan Putin dan Zelensky dalam waktu berdekatan, serta ada pembicaraan untuk
kembali ke format trilateral. Namun
persoalan paling sulit belum berubah: Rusia dan Ukraina masih berbeda jauh
mengenai wilayah, keamanan setelah perang, dan bagaimana menghentikan pertempuran. Bahkan,
setelah kunjungan tersebut, serangan Rusia ke Kyiv kembali terjadi. Maka,
Karina menambahkan, momentum ini hanya akan dapat memicu terobosan nyata jika
menghasilkan pertemuan trilateral, kesepakatan deeskalasi, atau jaminan
konkret mengenai keamanan wilayah. Meskipun
tidak ada yang berharap akan tercapainya gencatan senjata permanen dalam
waktu dekat, sebuah plakat di meja gerbong makan kereta yang ditumpangi
utusan AS dari Polandia ke Ukraina pada Ahad menyiratkan harapan.
"Perdamaian," demikian bunyi tulisan di plakat itu, “datang tepat
pada waktunya.” ● Sumber : https://www.tempo.co/internasional/bisakah-amerika-menyetop-perang-rusia-ukraina-2286389 |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar