|
Tafsir-tafsir Odysseus Bagja Hidayat : Wakil Pemimpin Redaksi Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 06
September 2026
|
·
Sutradara Chritopher Nolan menafsirkan
ulang puisi panjang perjalanan Odysseus, Raja Ithaca, dalam puisi panjang
Homer. ·
Jika Homer berhenti menempatkan Odysseus
sebagai pahlawan perang, Nolan melanjutkannya dengan pengembaraan. · Brutalitas
Perang Troya dan perjalanan pulang yang panjang menjadi beban moral bagi
Odysseus. YANG
membuat hidup Odysseus jadi pelik setelah Perang Troya, barangkali, adalah ia
tak punya penasihat kebajikan seperti Socrates. Catatan-catatan Plato
menceritakan Socrates terus-menerus mempertanyakan risiko moral sebuah
pemikiran dan tindakan Alcibiades. Memang ada Dewi Athena, yang melindungi
dan membimbing Odysseus, tapi Athena tak memperingatkan bahaya kecerdikan
bagi seorang Raja Ithaca yang mengarungi sepuluh tahun perang dan sepuluh
tahun perjalanan pulang yang brutal. Pada
tafsir Homer, kepulangan Odysseus berhenti sebagai pahlawan perang yang
memakai taktik jenius Kuda Troya untuk menjatuhkan musuh besarnya. Dalam film
The Odyssey, sutradara Christopher Nolan mengulik kondisi psikologis Odysseus
yang lebih rumit, bukan sekadar orang yang berkeras menuntaskan kerinduan
pada cinta dan tanah air. Waktu, peristiwa besar, mengubah pertimbangan dan
tindakan moral seseorang. Odysseus
setelah perang bukan lagi Odysseus sebelum pulang. Begitu juga Penelope,
istrinya, bukan lagi permaisuri seperti 20 tahun lalu, kendati ia bisa
mempertahankan kesetiaan menunggu suaminya. Maka, bagi Homer, Odysseus pulang
untuk memulihkan Ithaca yang rusuh akibat kehilangan seorang pemimpin. Bagi
Nolan, Odysseus pulang sebagai penebusan brutalitas Troya. Tak seperti Homer,
Nolan melanjutkan cerita Odysseus dengan penyerahan takhta Ithaca kepada
anaknya lalu ia kembali mengembara menempuh ketidakpastian. Tafsir
Nolan menambah pemaknaan baru atas kisah Odyssey yang disusun Homer 800 tahun
sebelum kelahiran Yesus atas sebuah cerita yang diperkirakan terjadi empat
abad sebelumnya. Tafsir Nolan lebih filosofis dan mengingatkan kita pada
pembahasan Socrates tentang Odysseus, 300 tahun setelah epos itu beredar. Dalam
Hippias Minor, Plato menceritakan dialog Socrates dengan Hippias, seorang
sofis yang baru saja berpidato tentang Iliad dan Odyssey. Socrates bertanya,
siapa lebih baik: Achilles (pahlawan dalam Iliad) atau Odysseus (pahlawan
Odyssey). Hippias menilai Odysseus sebagai polytropos (banyak akal) dan
pseudēs (pembohong, licik)—membalik perspektif umum tentang strategi Kuda
Troya sebagai siasat jenius. Dari
titik itu Socrates membongkar makna licik dan jenius dalam satu napas.
Odysseus memakai kecerdikan untuk mencapai tujuan, berbohong untuk lepas dari
cengkeraman raksasa Polyphemus, menyamar untuk membunuh para lelaki yang
menginginkan istrinya. Bagi Socrates, problemnya bukan semata baik atau
jahat, melainkan lebih kompleks, yakni paradoks antara manusia yang sengaja
berbuat salah karena tahu apa yang benar dan orang yang bersalah karena tak
tahu mana yang benar. Dengan
pertanyaan filosofis semacam itu, Achilles tak terlalu menarik bagi Socrates.
Ia lebih bergairah membongkar penilaian Hippias yang menyebut Odysseus licik
dan pembual dengan menguliti premisnya. Bagi Socrates, pahlawan, orang baik,
atau mereka yang bisa menyatakan kebenaran bisa sama posisinya dengan tukang
tipu karena berbohong membutuhkan pengetahuan tentang apa yang benar. Sifat
itu ia lihat dalam Odysseus. Christopher
Nolan membuka kembali tafsir atas problem itu. Ia membuat kepulangan Odysseus
justru sebagai awal pengembaraan. Kecerdikannya dan segala tipu daya agar
menang perang dan bisa pulang menjadi beban moral baru setelah ia sampai di
Ithaca. Tafsir Nolan yang mengingatkan pada “problem Socrates” itu tak semata
mengubah sudut pandang kecerdikan sebagai insting bertahan, tapi juga
persoalan moral. Barangkali
karena Socrates juga punya pengalaman perang. Dalam dokumentasi Plato,
Socrates terlibat pengepungan Potidaea ketika wilayah kecil di Yunani ini
memberontak terhadap Athena dan mendapat sokongan Sparta. Socrates
menyelamatkan Alcibiades, aristokrat Athena yang banyak akal dan ambisius,
yang kemudian jadi jenderal perang Yunani yang disegani. Dalam
Socrates in Love, sejarawan Oxford University, Armand D’Angour,
merekonstruksi serpihan-serpihan sejarah tentang perang dan perkawanan itu
ketika melacak bagaimana Socrates menjadi filsuf. Dari sini kita bisa menebak
bagaimana Socrates, di masa tua, makin tajam melihat bias dan celah moral
yang mempengaruhi perspektif manusia. Perannya
terhadap Alcibiades tergambar dalam ceramah tentara ini saat mabuk dalam
sebuah pesta. Menurut Plato, dalam Symposium, Alcibiades bercerita bahwa
Socrates memberi pengaruh besar pada hidupnya tapi gagal menempuh jalan
kebajikan yang diajarkannya. Di titik ini, Alcibiades jadi mirip Odysseus:
tahu tak berarti mendorong manusia menjadi benar. Problem
moral itu tak menonjol dalam Odysseus versi Homer. Ambisi, kecerdikan, dan
kelicikan tak menghantui Odysseus setiba di Ithaca. Ia kembali sebagai
pahlawan di negerinya. Socrates, sebaliknya, menggoyahkan tafsir itu dengan
mempertanyakan apa yang bermasalah dalam sikap Odysseus. Sejarah
terbentuk oleh tafsir atas tafsir. Tiap generasi punya pemaknaan yang berbeda
pada sebuah peristiwa yang sama. Setelah film Nolan, Odysseus barangkali juga
seperti Socrates: dalam pengembaraan tak menemukan jawab, tapi menjumpai
lebih banyak pertanyaan yang menguji batas akal manusia. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/tafsir-odysseus-christopher-nolan-socrates-2285633
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar