Sabtu, 12 September 2026

 

Tafsir-tafsir Odysseus

Bagja Hidayat :  Wakil Pemimpin Redaksi Tempo

TEMPO MINGGUAN, 06 September 2026

 

 

                                                           

·      Sutradara Chritopher Nolan menafsirkan ulang puisi panjang perjalanan Odysseus, Raja Ithaca, dalam puisi panjang Homer.

 

·      Jika Homer berhenti menempatkan Odysseus sebagai pahlawan perang, Nolan melanjutkannya dengan pengembaraan.

 

·      Brutalitas Perang Troya dan perjalanan pulang yang panjang menjadi beban moral bagi Odysseus.

 

YANG membuat hidup Odysseus jadi pelik setelah Perang Troya, barangkali, adalah ia tak punya penasihat kebajikan seperti Socrates. Catatan-catatan Plato menceritakan Socrates terus-menerus mempertanyakan risiko moral sebuah pemikiran dan tindakan Alcibiades. Memang ada Dewi Athena, yang melindungi dan membimbing Odysseus, tapi Athena tak memperingatkan bahaya kecerdikan bagi seorang Raja Ithaca yang mengarungi sepuluh tahun perang dan sepuluh tahun perjalanan pulang yang brutal.

 

Pada tafsir Homer, kepulangan Odysseus berhenti sebagai pahlawan perang yang memakai taktik jenius Kuda Troya untuk menjatuhkan musuh besarnya. Dalam film The Odyssey, sutradara Christopher Nolan mengulik kondisi psikologis Odysseus yang lebih rumit, bukan sekadar orang yang berkeras menuntaskan kerinduan pada cinta dan tanah air. Waktu, peristiwa besar, mengubah pertimbangan dan tindakan moral seseorang.

 

Odysseus setelah perang bukan lagi Odysseus sebelum pulang. Begitu juga Penelope, istrinya, bukan lagi permaisuri seperti 20 tahun lalu, kendati ia bisa mempertahankan kesetiaan menunggu suaminya. Maka, bagi Homer, Odysseus pulang untuk memulihkan Ithaca yang rusuh akibat kehilangan seorang pemimpin. Bagi Nolan, Odysseus pulang sebagai penebusan brutalitas Troya. Tak seperti Homer, Nolan melanjutkan cerita Odysseus dengan penyerahan takhta Ithaca kepada anaknya lalu ia kembali mengembara menempuh ketidakpastian.

 

Tafsir Nolan menambah pemaknaan baru atas kisah Odyssey yang disusun Homer 800 tahun sebelum kelahiran Yesus atas sebuah cerita yang diperkirakan terjadi empat abad sebelumnya. Tafsir Nolan lebih filosofis dan mengingatkan kita pada pembahasan Socrates tentang Odysseus, 300 tahun setelah epos itu beredar.

 

Dalam Hippias Minor, Plato menceritakan dialog Socrates dengan Hippias, seorang sofis yang baru saja berpidato tentang Iliad dan Odyssey. Socrates bertanya, siapa lebih baik: Achilles (pahlawan dalam Iliad) atau Odysseus (pahlawan Odyssey). Hippias menilai Odysseus sebagai polytropos (banyak akal) dan pseudēs (pembohong, licik)—membalik perspektif umum tentang strategi Kuda Troya sebagai siasat jenius.

 

Dari titik itu Socrates membongkar makna licik dan jenius dalam satu napas. Odysseus memakai kecerdikan untuk mencapai tujuan, berbohong untuk lepas dari cengkeraman raksasa Polyphemus, menyamar untuk membunuh para lelaki yang menginginkan istrinya. Bagi Socrates, problemnya bukan semata baik atau jahat, melainkan lebih kompleks, yakni paradoks antara manusia yang sengaja berbuat salah karena tahu apa yang benar dan orang yang bersalah karena tak tahu mana yang benar.

 

Dengan pertanyaan filosofis semacam itu, Achilles tak terlalu menarik bagi Socrates. Ia lebih bergairah membongkar penilaian Hippias yang menyebut Odysseus licik dan pembual dengan menguliti premisnya. Bagi Socrates, pahlawan, orang baik, atau mereka yang bisa menyatakan kebenaran bisa sama posisinya dengan tukang tipu karena berbohong membutuhkan pengetahuan tentang apa yang benar. Sifat itu ia lihat dalam Odysseus.

 

Christopher Nolan membuka kembali tafsir atas problem itu. Ia membuat kepulangan Odysseus justru sebagai awal pengembaraan. Kecerdikannya dan segala tipu daya agar menang perang dan bisa pulang menjadi beban moral baru setelah ia sampai di Ithaca. Tafsir Nolan yang mengingatkan pada “problem Socrates” itu tak semata mengubah sudut pandang kecerdikan sebagai insting bertahan, tapi juga persoalan moral.

 

Barangkali karena Socrates juga punya pengalaman perang. Dalam dokumentasi Plato, Socrates terlibat pengepungan Potidaea ketika wilayah kecil di Yunani ini memberontak terhadap Athena dan mendapat sokongan Sparta. Socrates menyelamatkan Alcibiades, aristokrat Athena yang banyak akal dan ambisius, yang kemudian jadi jenderal perang Yunani yang disegani.

 

Dalam Socrates in Love, sejarawan Oxford University, Armand D’Angour, merekonstruksi serpihan-serpihan sejarah tentang perang dan perkawanan itu ketika melacak bagaimana Socrates menjadi filsuf. Dari sini kita bisa menebak bagaimana Socrates, di masa tua, makin tajam melihat bias dan celah moral yang mempengaruhi perspektif manusia.

 

Perannya terhadap Alcibiades tergambar dalam ceramah tentara ini saat mabuk dalam sebuah pesta. Menurut Plato, dalam Symposium, Alcibiades bercerita bahwa Socrates memberi pengaruh besar pada hidupnya tapi gagal menempuh jalan kebajikan yang diajarkannya. Di titik ini, Alcibiades jadi mirip Odysseus: tahu tak berarti mendorong manusia menjadi benar.

 

Problem moral itu tak menonjol dalam Odysseus versi Homer. Ambisi, kecerdikan, dan kelicikan tak menghantui Odysseus setiba di Ithaca. Ia kembali sebagai pahlawan di negerinya. Socrates, sebaliknya, menggoyahkan tafsir itu dengan mempertanyakan apa yang bermasalah dalam sikap Odysseus.

 

Sejarah terbentuk oleh tafsir atas tafsir. Tiap generasi punya pemaknaan yang berbeda pada sebuah peristiwa yang sama. Setelah film Nolan, Odysseus barangkali juga seperti Socrates: dalam pengembaraan tak menemukan jawab, tapi menjumpai lebih banyak pertanyaan yang menguji batas akal manusia. ●

 

Sumber :   https://www.tempo.co/kolom/tafsir-odysseus-christopher-nolan-socrates-2285633  

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar