|
Massa
Misterius Penghalau Demonstrasi Agustus Lani Diana :
Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 06 September 2026
|
· Massa yang menganiaya dan membunuh
pedagang cermin datang dari arah jalan layang Pejompongan. · Massa penyerbu mengejar demonstran
hingga ke gang sempit perumahan penduduk. · Para saksi mendengar massa penyerbu
menyebut-nyebut nama GRIB Jaya. MATA
Aban Sobandi tak henti memelototi massa di sepanjang Jalan Pejompongan Raya,
Jakarta Pusat, pada Kamis malam, 27 Agustus 2026. Ketua Rukun Tetangga 002
Rukun Warga 06, Kelurahan Bendungan Hilir, Kecamatan Tanah Abang, itu tengah
menyisir warganya di antara kerumunan. Saat itu
jalanan dipadati ratusan orang. Pada Kamis petang, mereka sempat
berdemonstrasi di depan gerbang Gedung Dewan Perwakilan Raya di sisi Jalan
Gatot Subroto. Mereka kocar-kacir setelah polisi membubarkan massa
menggunakan gas air mata. Sebagian besar berkumpul di Pejompongan. Aban
mencari warganya yang menyelip di tengah demonstran. Tapi ia tak terlalu
khawatir. Tak ada yang mencurigakan dalam kerumunan itu. Belakangan, dia
melihat sebuah truk puluhan laki-laki berhenti di bawah jalan layang
Pejompongan antara pukul 21.00 dan 22.00 WIB. Massa
yang memadati Pejompongan yang mulanya tenang mendadak tegang setelah
kedatangan kelompok tersebut. Dari arah flyover, gerombolan tak dikenal itu
menyerbu massa yang berada di jalanan. Sejumlah orang terluka akibat
dipukuli. Sebagian demonstran melawan. “Serangannya maju-mundur,” kata Aban
kepada Tempo pada Selasa, 1 September 2026. Aban
masih mengingat bagaimana kelompok itu memicu kegaduhan di kawasan
Pejompongan. Beberapa di antaranya tampak membawa batang bambu dan kayu.
Mayoritas orang yang berpakaian serba hitam dan bermasker itu berbicara mirip
dengan logat Indonesia bagian timur. Aban tak
mengenal mereka. Tapi dia mengaku sayup-sayup mendengar teriakan dari pedemo
bahwa kelompok itu adalah massa dari organisasi kemasyarakatan Gerakan Rakyat
Indonesia Bersatu atau GRIB Jaya. “Yang pasti mereka bukan warga sini,”
ujarnya. Sejumlah
video amatir yang merekam kedatangan kelompok itu beredar luas di media
sosial. Beberapa video memperlihatkan adanya massa yang tiba-tiba mendatangi
area Pejompongan dan berlaku kasar terhadap demonstran. Video yang dibagikan
warganet ini dilengkapi dengan narasi bahwa kelompok itu diduga bagian dari
GRIB Jaya. Kemunculan
video itu berbarengan dengan beredarnya video Ketua Umum GRIB Jaya Rosario de
Marshal alias Hercules turun dari mobil di dalam jalan tol sekitar Slipi,
Jakarta Barat, yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari Pejompongan. Hercules
terlihat ikut membubarkan massa bersama anak buahnya. Wakil
Ketua Bidang Hukum dan Advokasi GRIB Jaya Wilson Colling membenarkan kabar
bahwa Hercules datang ke Slipi. Mereka juga membawa sekitar 500 orang ke
Slipi atas perintah Hercules. Ciri-ciri
kelompok mereka mengenakan ikat kepala putih serta membawa potongan bambu dan
kayu. Ciri itu berbeda dengan penyerbu demonstran di Pejompongan. Itu
sebabnya ia membantah kabar bahwa massa di Pejompongan bagian dari GRIB Jaya.
“GRIB hanya sampai Slipi,” kata Wilson. Gerombolan
yang datang ke Pejompongan bertindak lebih beringas. Bambang Setiawan, 60
tahun, warga RT 002 RW 06, Kelurahan Bendungan Hilir, meninggal akibat
kebrutalan massa. Ia disangka demonstran. Pada malam itu Bambang berniat
mematikan lampu toko cermin miliknya di Jalan Pejompongan Raya. Aban
Sobandi sempat melihat Bambang berjalan menuju toko. Rumah Bambang tak jauh
dari toko. Saat itu situasi demo sebenarnya mulai kondusif. Tapi tensi kubu
demonstran dan kelompok penyerbu terus menegang. Saat itu Bambang menjadi
korban pengeroyokan massa penyerbu. Kepala
Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya
Komisaris Besar Budi Hermanto mengatakan Bambang ditemukan pingsan dengan
tubuh bersimbah darah. Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Metro Jaya
lantas membawanya ke Rumah Sakit Angkatan Laut Mintohardjo yang berjarak
sekitar 2 kilometer dari lokasi kejadian. “Dia meninggal saat penanganan di
rumah sakit,” tutur Budi. Hingga
kini polisi belum menetapkan tersangka dalam peristiwa penganiayaan tersebut.
Polisi baru mengungkap dua orang diduga pengeroyok Bambang. Direktur Reserse
Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Iman Imanuddin mengatakan
sudah mengantongi sketsa wajah keduanya. Pelaku
pertama digambarkan memiliki ciri berwajah oval, alis tipis, bibir tebal,
hidung pendek, bola mata hitam, dan kulit berwarna cokelat. Sementara itu,
gambar kedua memperlihatkan seorang pria dengan wajah kotak berjanggut dan
berkumis, hidung pesek, bibir bawah tebal, mata hitam, serta kulit cokelat.
Keduanya diperkirakan berusia 30-40 tahun. “Ini hasil dari sketsa wajah dan
keterangan dari para saksi ataupun analisis digital,” kata Iman. Aban
Sobandi mengatakan setelah memukul mundur demonstran ke arah Stasiun Karet,
mereka terus mengejar orang-orang hingga ke dalam gang sempit. Padahal semua
gang menuju permukiman penduduk, bukan lokasi persembunyian pedemo. Mereka
turut merangsek ke gang yang tak jauh dari rumah Aban. Saat itu Faturrohman,
remaja 18 tahun, tengah duduk santai di dekat rumahnya. Aban mengatakan Fatur
tak ikut demonstrasi. Tapi dia menjadi korban pengeroyokan. Pemuda
itu tiba-tiba diseret ke arah jalan raya, lalu dianiaya. Ia menderita
luka-luka di sekujur wajah. Faturrohman sempat menjalani perawatan di Rumah
Sakit Umum Daerah Tarakan, Jakarta Pusat. Aban
masih heran mengapa tak ada polisi yang terlihat di sekitar rumah penduduk
ketika penyerbuan itu terjadi. Masyarakat sekitar tak ada yang ikut dalam
demonstrasi. “Enggak ada polisi yang jaga di sekitar rumah kami,” ujarnya. Tim
Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) menemukan setidaknya ada tiga kelompok yang
menyerang demonstran. Satu di antaranya sekelompok orang tak dikenal berbadan
tegap dengan pakaian hitam di Pejompongan. Anggota
TAUD, Gema Gita Persada, mengatakan operasi kelompok tersebut terfokus di
sekitar Pejompongan, Jakarta Pusat, dan Jalan Karel Satsuit Tubun, Jakarta
Barat. Menurut dia, kelompok ini tak mengenakan atribut apa pun sehingga
sulit teridentifikasi. “Kami menduga kelompok ini yang melakukan kekerasan
terhadap Pak Bambang dan Fatur,” tuturnya. Dua
kelompok lain memiliki ciri khas mengenakan ikat kepala putih. Tim
investigasi TAUD menemukan bahwa dua kelompok ini datang ke lokasi
demonstrasi di sekitar Gedung DPR menggunakan truk terbuka dan bus. Kendaraan
mereka terpantau melenggang bebas di jalan tol diikuti iring-iringan sepeda
motor. Hingga
kini polisi belum menyelidiki lebih jauh massa yang merusuh di Pejompongan
dan Slipi. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar
Iman Imanuddin mengatakan sudah memeriksa sejumlah saksi sehubungan dengan
kemunculan mereka. “Kami belum menemukan adanya indikasi bahwa pelaku
merupakan anggota komunitas tertentu,” katanya. ● Sumber :
https://www.tempo.co/politik/massa-misterius-demonstrasi-agustus-pejompongan-2285705 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar