Sabtu, 12 September 2026

 

Massa Misterius Penghalau Demonstrasi Agustus

Lani Diana :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 06 September 2026

 

 

                                                           

·      Massa yang menganiaya dan membunuh pedagang cermin datang dari arah jalan layang Pejompongan.

 

·      Massa penyerbu mengejar demonstran hingga ke gang sempit perumahan penduduk.

 

·      Para saksi mendengar massa penyerbu menyebut-nyebut nama GRIB Jaya.

 

MATA Aban Sobandi tak henti memelototi massa di sepanjang Jalan Pejompongan Raya, Jakarta Pusat, pada Kamis malam, 27 Agustus 2026. Ketua Rukun Tetangga 002 Rukun Warga 06, Kelurahan Bendungan Hilir, Kecamatan Tanah Abang, itu tengah menyisir warganya di antara kerumunan.

 

Saat itu jalanan dipadati ratusan orang. Pada Kamis petang, mereka sempat berdemonstrasi di depan gerbang Gedung Dewan Perwakilan Raya di sisi Jalan Gatot Subroto. Mereka kocar-kacir setelah polisi membubarkan massa menggunakan gas air mata. Sebagian besar berkumpul di Pejompongan.

 

Aban mencari warganya yang menyelip di tengah demonstran. Tapi ia tak terlalu khawatir. Tak ada yang mencurigakan dalam kerumunan itu. Belakangan, dia melihat sebuah truk puluhan laki-laki berhenti di bawah jalan layang Pejompongan antara pukul 21.00 dan 22.00 WIB.

 

Massa yang memadati Pejompongan yang mulanya tenang mendadak tegang setelah kedatangan kelompok tersebut. Dari arah flyover, gerombolan tak dikenal itu menyerbu massa yang berada di jalanan. Sejumlah orang terluka akibat dipukuli. Sebagian demonstran melawan. “Serangannya maju-mundur,” kata Aban kepada Tempo pada Selasa, 1 September 2026.

 

Aban masih mengingat bagaimana kelompok itu memicu kegaduhan di kawasan Pejompongan. Beberapa di antaranya tampak membawa batang bambu dan kayu. Mayoritas orang yang berpakaian serba hitam dan bermasker itu berbicara mirip dengan logat Indonesia bagian timur.

 

Aban tak mengenal mereka. Tapi dia mengaku sayup-sayup mendengar teriakan dari pedemo bahwa kelompok itu adalah massa dari organisasi kemasyarakatan Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu atau GRIB Jaya. “Yang pasti mereka bukan warga sini,” ujarnya.

 

Sejumlah video amatir yang merekam kedatangan kelompok itu beredar luas di media sosial. Beberapa video memperlihatkan adanya massa yang tiba-tiba mendatangi area Pejompongan dan berlaku kasar terhadap demonstran. Video yang dibagikan warganet ini dilengkapi dengan narasi bahwa kelompok itu diduga bagian dari GRIB Jaya.

 

Kemunculan video itu berbarengan dengan beredarnya video Ketua Umum GRIB Jaya Rosario de Marshal alias Hercules turun dari mobil di dalam jalan tol sekitar Slipi, Jakarta Barat, yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari Pejompongan. Hercules terlihat ikut membubarkan massa bersama anak buahnya.

 

Wakil Ketua Bidang Hukum dan Advokasi GRIB Jaya Wilson Colling membenarkan kabar bahwa Hercules datang ke Slipi. Mereka juga membawa sekitar 500 orang ke Slipi atas perintah Hercules.

 

Ciri-ciri kelompok mereka mengenakan ikat kepala putih serta membawa potongan bambu dan kayu. Ciri itu berbeda dengan penyerbu demonstran di Pejompongan. Itu sebabnya ia membantah kabar bahwa massa di Pejompongan bagian dari GRIB Jaya. “GRIB hanya sampai Slipi,” kata Wilson.

 

Gerombolan yang datang ke Pejompongan bertindak lebih beringas. Bambang Setiawan, 60 tahun, warga RT 002 RW 06, Kelurahan Bendungan Hilir, meninggal akibat kebrutalan massa. Ia disangka demonstran. Pada malam itu Bambang berniat mematikan lampu toko cermin miliknya di Jalan Pejompongan Raya.

 

Aban Sobandi sempat melihat Bambang berjalan menuju toko. Rumah Bambang tak jauh dari toko. Saat itu situasi demo sebenarnya mulai kondusif. Tapi tensi kubu demonstran dan kelompok penyerbu terus menegang. Saat itu Bambang menjadi korban pengeroyokan massa penyerbu.

 

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya Komisaris Besar Budi Hermanto mengatakan Bambang ditemukan pingsan dengan tubuh bersimbah darah. Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Metro Jaya lantas membawanya ke Rumah Sakit Angkatan Laut Mintohardjo yang berjarak sekitar 2 kilometer dari lokasi kejadian. “Dia meninggal saat penanganan di rumah sakit,” tutur Budi.

 

Hingga kini polisi belum menetapkan tersangka dalam peristiwa penganiayaan tersebut. Polisi baru mengungkap dua orang diduga pengeroyok Bambang. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Iman Imanuddin mengatakan sudah mengantongi sketsa wajah keduanya.

 

Pelaku pertama digambarkan memiliki ciri berwajah oval, alis tipis, bibir tebal, hidung pendek, bola mata hitam, dan kulit berwarna cokelat. Sementara itu, gambar kedua memperlihatkan seorang pria dengan wajah kotak berjanggut dan berkumis, hidung pesek, bibir bawah tebal, mata hitam, serta kulit cokelat. Keduanya diperkirakan berusia 30-40 tahun. “Ini hasil dari sketsa wajah dan keterangan dari para saksi ataupun analisis digital,” kata Iman.

 

Aban Sobandi mengatakan setelah memukul mundur demonstran ke arah Stasiun Karet, mereka terus mengejar orang-orang hingga ke dalam gang sempit. Padahal semua gang menuju permukiman penduduk, bukan lokasi persembunyian pedemo.

 

Mereka turut merangsek ke gang yang tak jauh dari rumah Aban. Saat itu Faturrohman, remaja 18 tahun, tengah duduk santai di dekat rumahnya. Aban mengatakan Fatur tak ikut demonstrasi. Tapi dia menjadi korban pengeroyokan.

 

Pemuda itu tiba-tiba diseret ke arah jalan raya, lalu dianiaya. Ia menderita luka-luka di sekujur wajah. Faturrohman sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan, Jakarta Pusat.

 

Aban masih heran mengapa tak ada polisi yang terlihat di sekitar rumah penduduk ketika penyerbuan itu terjadi. Masyarakat sekitar tak ada yang ikut dalam demonstrasi. “Enggak ada polisi yang jaga di sekitar rumah kami,” ujarnya.

 

Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) menemukan setidaknya ada tiga kelompok yang menyerang demonstran. Satu di antaranya sekelompok orang tak dikenal berbadan tegap dengan pakaian hitam di Pejompongan.

 

Anggota TAUD, Gema Gita Persada, mengatakan operasi kelompok tersebut terfokus di sekitar Pejompongan, Jakarta Pusat, dan Jalan Karel Satsuit Tubun, Jakarta Barat. Menurut dia, kelompok ini tak mengenakan atribut apa pun sehingga sulit teridentifikasi. “Kami menduga kelompok ini yang melakukan kekerasan terhadap Pak Bambang dan Fatur,” tuturnya.

 

Dua kelompok lain memiliki ciri khas mengenakan ikat kepala putih. Tim investigasi TAUD menemukan bahwa dua kelompok ini datang ke lokasi demonstrasi di sekitar Gedung DPR menggunakan truk terbuka dan bus. Kendaraan mereka terpantau melenggang bebas di jalan tol diikuti iring-iringan sepeda motor.

 

Hingga kini polisi belum menyelidiki lebih jauh massa yang merusuh di Pejompongan dan Slipi. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Iman Imanuddin mengatakan sudah memeriksa sejumlah saksi sehubungan dengan kemunculan mereka. “Kami belum menemukan adanya indikasi bahwa pelaku merupakan anggota komunitas tertentu,” katanya. ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/politik/massa-misterius-demonstrasi-agustus-pejompongan-2285705

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar