Selasa, 18 Agustus 2026

 

Republik yang Harus Dipilih Kembali

Virdika Rizky Utama :  Mahasiswa Doktoral Politik China, Nanyang Technological University, Singapura.

KOMPAS, 17 Agustus 2026

 

 

                                                           

Banyak hal membuat dunia menjadi pilihan hidup. Indonesia tidak lagi cukup diwarisi karena republik ini harus dipilih kembali.

 

Di banyak meja makan kelas menengah Indonesia, percakapan tentang masa depan datang bersama nama kota. Singapura muncul saat pekerjaan dibicarakan, Melbourne masuk dalam rencana kuliah, dan Tokyo disebut saat peluang riset dicari. Jakarta mungkin tetap disebut rumah, tetapi belum tentu menjadi tempat karier dibangun, tabungan disimpan, atau anak kelak dibesarkan.

 

Percakapan itu jarang terdengar politis. Seorang ibu membandingkan sekolah, sarjana baru menghitung selisih gaji, peneliti mencari laboratorium memadai. Di balik keputusan pribadi tersebut terdapat penilaian konkret tentang kemampuan sebuah negara menyediakan kehidupan yang dapat direncanakan.

 

Orang menaruh masa depan di tempat yang memberi hubungan masuk akal antara pendidikan, kerja keras, keamanan, dan kemajuan hidup. Paspor dapat tetap Indonesia, sementara pekerjaan, tabungan, pendidikan, dan rencana keluarga perlahan berpindah ke tempat lain. Perpindahan itu berlangsung dalam sunyi, tetapi tetap menunjukkan ke mana kepercayaan diarahkan.

 

Generasi pendiri republik berjuang agar bangsa Indonesia dapat menentukan nasibnya sendiri. Delapan puluh satu tahun setelah proklamasi, anak mudanya menikmati bentuk kemerdekaan berbeda, yakni kemampuan menentukan masa depan tanpa sepenuhnya bergantung pada negeri kelahirannya. Kebebasan itu belum merata, tetapi cukup besar untuk mengubah hubungan negara dan generasi terdidiknya.

 

Luar negeri tidak lagi hadir hanya melalui buku, televisi, atau cerita kerabat. Beasiswa, perusahaan global, pekerjaan jarak jauh, visa talenta, penerbangan murah, dan jaringan diaspora membuat dunia menjadi pilihan hidup. Indonesia tidak lagi cukup diwarisi karena republik ini harus dipilih kembali.

 

Masa depan yang berpindah

 

Pilihan itu tidak hanya diberikan melalui pemilu. Seseorang memilih Indonesia saat memutuskan tempat belajar, bekerja, meneliti, mendirikan usaha, membeli rumah, menyimpan uang, atau membesarkan keluarga. Negara kini bersaing memperebutkan modal, kecakapan, kreativitas, dan kepercayaan warganya.

 

Perubahan itu bahkan mulai terlihat pada status kewarganegaraan. Sepanjang 2021 hingga Juni 2026, tercatat 8.492 permohonan surat keterangan kehilangan kewarganegaraan Indonesia. Alasannya mencakup pendidikan, pekerjaan, perkawinan, naturalisasi, dan larangan kewarganegaraan ganda di negara tujuan.

 

Angka tersebut tentu tidak dapat dibaca sebagai delapan ribu suara penolakan terhadap Indonesia. Banyak keputusan lahir dari kebutuhan hukum lintas negara, bukan sikap politik. Meski begitu, datanya memperlihatkan perubahan penting. Bagi sebagian warga, kewarganegaraan dipertimbangkan bersama pekerjaan, keluarga, pendidikan, dan kepastian masa depan.

 

Pertimbangan itu tumbuh dari perbandingan dengan negara lain melalui ukuran sehari-hari. Upah dibandingkan dengan harga rumah, biaya pendidikan dengan mutu universitas, pembayaran pajak dengan layanan publik, dan gelar dengan pekerjaan yang tersedia. Pertanyaan dasarnya sederhana, apakah kerja keras masih membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik di Indonesia.

 

Jawaban dari pasar kerja belum cukup meyakinkan. BPS (2025) mencatat tingkat pengangguran terbuka pemuda sekitar dua kali tingkat nasional, sementara lebih dari sepertiga pemuda bekerja dalam pekerjaan yang tidak sesuai dengan tingkat pendidikannya. Pemuda berpendidikan tinggi, perempuan, serta mereka yang tinggal di Jawa dan perkotaan cenderung lebih lama memperoleh pekerjaan.

 

Data itu memperlihatkan retaknya janji sosial yang selama puluhan tahun dipercaya keluarga Indonesia. Banyak orangtua mengurangi konsumsi, berutang, menjual aset, atau menghabiskan tabungan demi perguruan tinggi anak. Pendidikan tidak sekadar menghasilkan ijazah, tetapi menjadi cara keluarga membeli bagian dalam masa depan republik.

 

Masalah muncul saat pekerjaan bermutu tidak tumbuh secepat akses pendidikan dan aspirasi. Kampus menghasilkan lebih banyak lulusan, sedangkan pasar kerja masih didominasi pekerjaan berproduktivitas dan berupah terbatas. Banyak anak muda akhirnya menurunkan harapan, menerima pekerjaan di bawah kecakapan, atau mencari peluang lain.

 

Indonesia sedang memproduksi aspirasi lebih cepat daripada membangun tangga untuk mencapainya. Dalam keadaan seperti itu, bonus demografi mudah berubah menjadi slogan yang menutupi persoalan pokok. Penduduk muda baru menjadi bonus jika sehat, terdidik, produktif, dan memperoleh pekerjaan yang memungkinkan hidup mandiri.

 

Kerapuhan tidak hanya terlihat pada mereka yang baru memasuki pasar kerja. BPS (2024) menyebut kelas menengah dan kelompok menuju kelas menengah mencakup 66,35 persen penduduk serta menyumbang 81,49 persen konsumsi masyarakat. Dalam lima tahun, sekitar 9,48 juta orang keluar dari kategori kelas menengah.

 

Sebagian besar tidak langsung jatuh miskin, tetapi hidup di wilayah sempit antara cukup dan cemas. Satu penyakit, pemutusan hubungan kerja, pelemahan rupiah, atau kenaikan biaya pendidikan dapat menghancurkan rencana bertahun-tahun. Pendapatan mungkin naik, tetapi biaya rumah, kesehatan, dan pendidikan bergerak lebih cepat.

 

Tekanan semacam itu menjelaskan mengapa banyak keluarga tidak menunggu negara memperbaiki dirinya. Mereka membangun perlindungan sendiri melalui sekolah privat, rumah sakit swasta, pekerjaan global, dan tabungan valuta asing. Di sinilah tekanan ekonomi bertemu dengan persoalan politik tentang hubungan warga dan institusi.

 

Suara atau jalan keluar?

 

Hirschman (1970) memberi bahasa untuk membaca pertemuan tersebut. Warga yang menghadapi institusi memburuk dapat menggunakan suara untuk menuntut koreksi atau memilih jalan keluar saat kepercayaan terhadap kemampuan institusi memperbaiki diri menurun. Pilihan itu bukan ukuran moralitas, melainkan respons terhadap kualitas lembaga.

 

Jalan keluar tidak selalu berarti emigrasi. Seorang warga dapat tetap tinggal sambil memindahkan kehidupannya dari institusi publik. Pendidikan anak diserahkan kepada sekolah privat, kesehatan dipercayakan kepada rumah sakit swasta, pekerjaan dicari melalui perusahaan global, dan tabungan disimpan dalam mata uang asing.

 

Keputusan itu lahir dari kebutuhan melindungi masa depan, bukan berkurangnya rasa kebangsaan. Keluarga tidak sedang mengkhianati republik saat mencari layanan yang lebih dapat diandalkan. Pilihan tersebut justru menunjukkan bahwa institusi negara belum cukup dipercaya sebagai sandaran.

 

Perpindahan itu menjelaskan mengapa brain drain bukan sekadar jumlah orang yang pergi. Kerugian terbesar muncul saat karier, tabungan, pendidikan anak, dan imajinasi masa depan dipindahkan, meski paspor tetap Indonesia. Brain drain memindahkan manusia, sedangkan hilangnya kepercayaan memindahkan masa depan.

 

Indonesia kemudian tetap menjadi rumah kenangan, tetapi perlahan berhenti menjadi rumah kemungkinan. Perubahan itu semestinya dibaca pemerintah sebagai informasi tentang mutu institusi dan pembangunan. Respons kekuasaan belakangan justru beberapa kali bergerak ke arah berbeda.

 

Pada Juli 2026, Presiden Prabowo Subianto mempersilakan mereka yang merasa Indonesia suram untuk mencari negara lain. Beberapa hari kemudian, dalam paringatan hari lahir Partai Kebangkitan Bangsa, Presiden menggunakan istilah ”londo ireng” saat menyinggung wartawan, pengamat, ekonom, dan LSM yang dinilai melayani kepentingan bangsa lain. Enam organisasi pers mengecamnya karena dianggap merendahkan dan mendelegitimasi jurnalisme.

 

Persoalannya bukan hanya kerasnya pilihan kata. Retorika itu memperlihatkan cara kekuasaan membaca kritik sebagai persoalan kesetiaan, bukan informasi tentang kegagalan kebijakan. Kritik dipindahkan dari perdebatan mengenai data menuju pengadilan tentang siapa yang nasionalis untuk berbicara.

 

Kerangka Hirschman membuat paradoks itu terlihat jelas. Warga yang menggunakan suara untuk mengatakan keadaan sedang suram diarahkan menuju pintu keluar, sementara mereka yang tinggal untuk menguji klaim pemerintah ditempatkan dalam bayang-bayang kepentingan asing. Negara seolah hanya mengenal warga yang percaya atau pergi.

 

Demokrasi justru membutuhkan ruang bagi posisi ketiga. Warga dapat mencintai Indonesia tanpa menyukai pemerintah, menginginkan republik berhasil sambil menunjukkan kegagalan penguasanya, dan tetap tinggal tanpa menerima definisi resmi tentang terang atau gelap. Pemerintah bukan republik, sedangkan presiden bukan ukuran tunggal nasionalisme.

 

Pelabelan terhadap kritik juga merugikan kekuasaan sendiri. Pemerintahan yang tidak tahan mendengar kabar buruk akhirnya hanya menerima kabar menyenangkan, sebab birokrasi menyaring fakta sebelum mencapai atasan. Kesalahan bertahan lebih lama dan kebijakan kehilangan kesempatan untuk dikoreksi sejak awal.

 

Kerusakan tersebut tidak hanya menyangkut kebebasan berbicara. Negara juga kehilangan kemampuan memahami kenyataan saat pengkritik dianggap lawan dan informasi buruk dipandang sebagai ancaman. Pemerintah mungkin terlihat tenang, tetapi ketenangan itu dibeli dengan menurunnya mutu pengetahuan kekuasaan.

 

Harapan memerlukan bukti

 

Kehilangan kemampuan membaca kenyataan berbahaya, sebab masa depan dibangun dari penilaian atas hari ini. Beckert (2016) menunjukkan bahwa manusia mengambil keputusan berdasarkan gambaran masa depan yang dianggap kredibel. Orang belajar, bekerja, berutang, berinvestasi, dan membangun keluarga karena melihat hubungan antara pengorbanan sekarang dan kehidupan esok.

 

Harapan dalam pengertian itu bukan kalimat motivasi, melainkan perkiraan mengenai kemungkinan. Optimisme hanya bertahan jika pengalaman menunjukkan bahwa pendidikan membuka jalan, pekerjaan memberi keamanan, dan hukum membatasi kekuasaan. Tanpa hubungan itu, visi besar kehilangan daya meyakinkan.

 

Indonesia tidak kekurangan gambaran masa depan. Indonesia Emas 2045 hadir dalam pidato, dokumen, dan seremoni. Kekurangan sebenarnya terletak pada rantai sebab akibat yang meyakinkan antara kebijakan hari ini dan kehidupan generasi yang akan berada pada usia produktif pada tahun tersebut.

 

Generasi muda membutuhkan jawaban. Mereka perlu mengetahui pekerjaan apa yang tersedia, berapa bagian pendapatan habis untuk rumah, apakah pendidikan masih menghasilkan mobilitas, serta apakah pajak kembali melalui pelayanan. Mereka juga perlu mengetahui apakah hukum melindungi warga dari kekuasaan dan berapa besar beban fiskal serta kerusakan ekologis yang akan diwariskan.

 

Harapan bukan cadangan moral yang wajib disediakan rakyat saat pemerintah kekurangan bukti. Kepercayaan tumbuh dari hubungan nyata antara pendidikan dan pekerjaan, pajak dan pelayanan, kompetensi dan kesempatan, serta kritik dan koreksi. Pemerintah tidak dapat meminta optimisme sambil mengabaikan dasar material yang membuat optimisme masuk akal.

 

Perbaikan negeri tidak memerlukan slogan baru. Setiap kebijakan besar diuji melalui satu pertanyaan, apakah keputusan itu menambah atau mengurangi alasan rasional bagi generasi berikutnya untuk menaruh masa depan di Indonesia. Jawabannya terlihat melalui pekerjaan bermutu, pertumbuhan upah riil, keterjangkauan rumah, kualitas pendidikan, layanan kesehatan, kepastian hukum, kebebasan sipil, serta beban fiskal dan ekologis.

 

Generasi pendiri mewariskan republik merdeka, tetapi tidak dapat mewariskan alasan agar republik itu selamanya dipercaya. Alasan itu harus diproduksi kembali melalui pekerjaan bermutu, pelayanan publik andal, hukum yang membatasi kekuasaan, serta pemerintah yang memperlakukan kritik sebagai koreksi. Kemerdekaan bukan hanya kemampuan bangsa menentukan nasibnya sendiri, melainkan juga kemampuan setiap generasi membangun masa depan tanpa harus meninggalkan negeri.

 

Generasi kami memiliki kemerdekaan untuk pergi, tinggal, kembali, atau tetap terlibat dari kejauhan. Semua pilihan itu sah tanpa ujian kesetiaan, sebab negara tidak berhak memaksa warga membuktikan cinta melalui pengorbanan. Tanggung jawab utama berada pada kekuasaan untuk membuat Indonesia layak dipilih secara rasional.

 

Harapan Indonesia tidak terletak pada kemampuan pemerintah menahan warganya. Harapan terletak pada kemampuan republik merebut kembali kepercayaan melalui bukti sehari-hari. Selama generasi muda masih menilai, mengkritik, dan mempertimbangkan Indonesia sebagai tempat membangun masa depan, pintu perbaikan belum tertutup.

 

Tugas kekuasaan bukan meminta cinta tanpa syarat atau mencurigai mereka yang melihat kegelapan. Tugasnya memastikan pendidikan membuka jalan, pekerjaan masih memberi martabat, hukum masih melindungi, dan kritik masih dapat mengoreksi arah. Indonesia hanya akan tetap dipilih apabila, setelah dibandingkan dengan dunia dan dilihat tanpa ilusi, republik ini menyediakan alasan untuk dipercaya. ●

 

Sumber :  https://www.kompas.id/artikel/republik-yang-harus-dipilih-kembali?open_from=Artikel_Opini_Page

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar