|
Watak
Otoritarian Proyek IKN Redaktur Editorial 3 : Redaksi Tempo Mingguan |
TEMPO MINGGUAN, 30 Agustus 2026
|
· Ibu Kota Nusantara (IKN) merupakan
proyek dengan watak otoritarian yang mengandalkan keputusan politik dan
mobilisasi negara. · Jarak IKN dari Jakarta, resistansi
aparatur sipil, serta ketergantungan pada anggaran negara menunjukkan
sulitnya menciptakan kota secara paksa. · Proyek warisan Presiden Jokowi yang
tidak lagi menjadi prioritas Presiden Prabowo. IBU Kota
Nusantara (IKN) menghadapi persoalan yang lebih mendasar daripada sekadar
melambatnya pembangunan dan mengecilnya anggaran. Dalam wawancara dengan
Tempo, Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono mengakui bahwa pada masa awal
pembangunan, IKN membutuhkan “dorongan-dorongan politik yang tinggi sekali”.
Ketergantungan pada dorongan politik semacam itu memperlihatkan watak
otoritarian proyek tersebut. Otoritarianisme
merujuk pada cara kekuasaan bekerja. Keputusan besar ditentukan dari atas
dengan keyakinan bahwa negara dapat mengarahkan masyarakat ke tujuan yang
ditetapkan penguasa. Dalam pemindahan ibu kota, logika ini terlihat ketika
negara menentukan lokasi, menggelontorkan anggaran, membangun infrastruktur,
memindahkan birokrasi, lalu berharap masyarakat dan modal mengikuti. Pemindahan
ibu kota semestinya memiliki alasan yang kuat dan teruji, misalnya untuk
mengurangi kepadatan, mendorong pemerataan pembangunan, atau memisahkan pusat
administrasi dari sentra bisnis. Putrajaya, contohnya, dibangun pemerintah
Malaysia untuk menata fungsi pemerintahan sekaligus mengurangi beban Kuala
Lumpur. Sebaliknya,
alasan pemindahan ibu kota Indonesia tidak cukup meyakinkan untuk membangun
legitimasi publik yang kuat. Proyek ini merupakan keputusan politik Presiden
Joko Widodo yang dikebut setelah ia memperoleh mandat untuk periode kedua
pada 2019. Latar
belakang ini mirip dengan Naypyidaw. Persamaannya bukan pada sistem politik
kedua negara, melainkan pada cara sebuah ibu kota baru diproduksi dari atas.
Pemindahan ibu kota Myanmar pada 2005 sulit dilepaskan dari otoritarianisme
junta militer yang bersifat top-down. Gedung-gedung pemerintahan terbangun,
jalan terbentang lebar, tapi Naypyidaw terus menjadi kota mati. IKN
bahkan menghadapi tantangan yang lebih berat. Nusantara berjarak 1.260
kilometer dan terpisah laut dari Jakarta, pusat ekonomi, bisnis, pendidikan,
media, dan kebudayaan sejak era Hindia Belanda. Negara
bisa membangun gedung dan jalan, tapi menghidupkan sebuah kota adalah perkara
berbeda. Ketika masyarakat dan modal tidak datang dengan sendirinya, negara
memobilisasi aparatur sipil. Saat ini ada 2.200 pegawai lintas kementerian
dan lembaga yang tinggal di Nusantara. Berikutnya, Otorita IKN meminta 16
kementerian dan lembaga mengirimkan sebagian pegawai mereka ke sana. Siapa
yang bersedia? Sejumlah survei menunjukkan resistansi tinggi pegawai negeri
untuk dipindahkan ke ibu kota baru di Kalimantan Timur. Ketika aparatur tidak
bersedia pindah, ujung-ujungnya pemerintah mengeluarkan biaya tambahan
seperti tunjangan pionir. Bukan hanya anak dan istri, ongkos transportasi
asisten rumah tangga pun dibiayai negara. Artinya, negara bukan hanya
membangun kota, melainkan juga membayar aparatur agar bersedia hidup di kota
itu. Negara
telah menghabiskan lebih dari Rp 100 triliun untuk membangun IKN—melampaui 20
persen dari rencana biaya pembangunan IKN yang mencapai Rp 460 triliun hingga
2045. Sementara itu, Nusantara masih jauh dari selesai. Warisan
Presiden Jokowi ini tidak lagi menjadi prioritas di mata Presiden Prabowo
Subianto. Negara memang bisa memaksakan diri membangun sebuah kota, tapi
tidak selalu punya cukup uang untuk terus menghidupinya. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/watak-otoritarian-proyek-ikn-2284475 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar