|
Dakwah 950 Tahun Ahmadie Thaha : Kolumnis, Mantan wartawan Majalah Tempo dan Koran Republika, Pendiri
dan Pengasuh Ma’had Tadabbur al-Qur'an. |
CATATAN CAK AT, 21 Agustus 2026
|
Nabi Nuh as
berdakwah selama 950 tahun. Tapi al-Qur’an tidak sedang menyebut angka itu
sebagai seluruh umur beliau. Berapa sebenarnya usia Nuh? Usai shalat malam atau Subuh, seperti
biasa, saya membaca satu juz al-Qur’an. Nomer juz yang saya baca itu saya
sesuaikan dengan tanggal hari itu. Bagi saya, itu cara sederhana untuk membuat
perjalanan membaca al-Qur’an terasa seperti safari melewati lembaran kalender
kehidupan. Kemarin saya sampai di penghujung Juz
20. Mata saya tiba-tiba tertahan, lagi-lagi, pada sebuah angka yang mungkin
sebenarnya sudah berkali-kali saya baca. Kali ini, angka itu seperti mengetuk
pintu perhatian saya. Allah berfirman: وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ
فَلَبِثَ فِیهِمۡ أَلۡفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمۡسِینَ عَامࣰا فَأَخَذَهُمُ ٱلطُّوفَانُ
وَهُمۡ ظَـٰلِمُونَ “Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada
kaumnya. Maka dia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh
tahun. Kemudian mereka dilanda banjir, sedang mereka dalam keadaan zalim.”
(QS al-‘Ankabut [29]: 14) Sembilan ratus lima puluh tahun! Bukan
sembilan puluh lima. Bukan seratus lima puluh. Sembilan ratus lima puluh.
Sebuah angka usia yang luar biasa panjang. Pertanyaan yang segera muncul
hampir seperti refleks manusia modern, berapa sebenarnya usia Nabi Nuh
alaissalam? Jawabannya ternyata tidak sesederhana
angka 950. Al-Qur’an tidak mengatakan bahwa Nabi Nuh berusia 950 tahun. Yang
persisnya dikatakan, beliau “tinggal di antara kaumnya” selama 1.000 tahun
dikurangi 50 tahun. Kata yang dipakai adalah falabitsa fīhim —ia tinggal di
tengah-tengah mereka. Poin ini penting. Sebab 950 tahun itu,
menurut bunyi ayat, adalah masa Nabi Nuh berada di tengah kaumnya, bukan
secara eksplisit seluruh umur beliau sejak lahir sampai wafat. Para mufasir klasik pada akhirnya
berbeda pendapat. Ibnu Abbas, sebagaimana dikutip Ibnu Katsir, menyebut bahwa
Nuh diutus sebagai rasul ketika berusia empat puluh tahun. Ia tinggal bersama
kaumnya selama 950 tahun, lalu hidup 60 tahun setelah banjir. Dengan hitungan
ini, umur beliau menjadi sekitar 1.050 tahun. Tapi itu bukan satu-satunya pendapat.
Qatadah punya riwayat lain. Nuh disebutnya hidup 300 tahun sebelum masa
dakwah, berdakwah 300 tahun, lalu hidup 350 tahun setelah banjir. Totalnya
juga 950 tahun. Tapi Ibnu Katsir menilai riwayat ini gharib dan ia lebih
memilih riwayat Ibnu Abbas. Ada pula pendapat bahwa Nuh diutus
pada usia 350 tahun, berdakwah 950 tahun, kemudian hidup 350 tahun lagi.
Kalau dijumlah, umurnya menjadi 1.650 tahun. Al-Qurthubi, yang tafsirnya penuh
kutipan pendapat, bahkan mengumpulkan lebih banyak riwayat. Ada yang menyebut
usia Nuh 1.000 tahun, 1.020 tahun, 1.400 tahun, bahkan 1.650 tahun. Ia juga
mencatat riwayat bahwa Nuh yang termasuk Ulul 'Azmi itu diutus pada usia 250
tahun dan hidup 250 tahun setelah banjir. Jadi, kalau kita bertanya, “Berapa
umur Nabi Nuh menurut para ulama?”, jawabannya bukan satu angka yang
disepakati. Yang paling aman ialah mengatakan bahwa al-Qur’an hanya
memastikan masa tinggal Nabi Nuh bersama kaumnya selama 950 tahun. Tentang
total usia beliau, terdapat berbagai riwayat dan pendapat tafsir. Ini justru membuat pertanyaan kita
semakin menarik. Apakah manusia zaman dahulu memang berumur sangat panjang?
Kalau yang dimaksud manusia secara umum, ilmu sejarah dan antropologi tak
punya dukungan atas anggapan itu. Kita harus membedakan dua hal yang sering
bercampur: harapan hidup rata-rata dan usia maksimal seseorang. Orang sering bilang, “Zaman dahulu
manusia cuma hidup 25 tahun.” Itu bisa menyesatkan. Angka 20–30 tahun yang
sering muncul dalam demografi kuno adalah life expectancy at birth, harapan
hidup sejak lahir. Angka ini sangat ditekan oleh kematian bayi, infeksi,
kecelakaan, kelaparan, dan persalinan. Dalam dunia Romawi, penelitian
demografi menempatkan harapan hidup saat lahir pada kisaran 22–25 tahun.
Artinya, bukan semua orang Romawi tercatat mati rata-rata di usia 25 tahun.
Seseorang yang berhasil melewati masa kanak-kanak punya peluang hidup jauh
lebih panjang. Data sensus Romawi dari Mesir
memperlihatkan ada orang yang mencapai usia 70-an dan 80-an, walaupun
jumlahnya kecil. Data Mesir Romawi ini penting karena menjadi salah satu
tempat di dunia kuno yang punya catatan demografis paling baik dari abad
pertama sampai ketiga Masehi. Namun, kita tak boleh meloncat ke
kesimpulan bahwa orang dahulu lazim berumur 100, 200, apalagi 900 tahun.
Kajian paleodemografi modern menunjukkan bahwa mencapai usia sangat lanjut
pada masyarakat pramodern merupakan peristiwa yang sangat langka. Tinjauan dalam American Journal of
Biological Anthropology menyebut, berdasarkan masyarakat pramodern yang
terlacak, mencapai usia seratus tahun saja sudah sangat sulit. Apalagi
mencapai usia ratusan tahun. Maka 950 tahun Nabi Nuh tak bisa begitu saja
dijawab dengan kalimat: “Begitulah umur manusia dahulu.” Sains tak punya dasar ilmiah untuk
klaim itu. Lantas, apakah kisah Nabi Nuh bertentangan dengan ilmu
pengetahuan? Pertanyaan ini pun harus kita tangani dengan hati-hati. Ilmu pengetahuan bekerja berdasarkan
pola alam yang dapat diamati dan diuji. Sains bisa menyimpulkan tidak ada
bukti demografis bahwa manusia biasa pada masa lalu secara umum mampu hidup
selama ratusan tahun. Tapi sains tidak otomatis bisa menyimpulkan: maka Nabi
Nuh tidak mungkin hidup selama itu. Sebab klaim kedua bicara tentang
seorang individu dalam sebuah peristiwa keagamaan, bukan tentang pola
biologis populasi yang diuji lewat sensus atau fosil tulang. Ilmu menjelaskan
apa yang lazim terjadi pada manusia, sedangkan mukjizat berbicara tentang
sesuatu yang tidak harus tunduk pada kelaziman itu. Dan al-Qur’an sendiri tidak mengajak
kita mencari formula biologis untuk umur Nuh. Perhatikan konteks ayatnya.
Surah al-‘Ankabut sedang berbicara kepada Nabi Muhammad tentang penolakan
kaumnya. Kisah Nuh dimunculkan bukan untuk memberi kuliah gerontologi. Melalui ayat tersebut, Allah sedang
menunjukkan sebuah ironi sejarah. Seseorang bahkan nabi pun dapat berdakwah
sangat lama, tapi lamanya waktu tidak otomatis membuat manusia mau menerima
kebenaran. At-Thabari membaca ayat itu dalam
konteks penghiburan kepada Nabi Muhammad. Kaum Quraisy yang menyakiti beliau
bukanlah umat pertama yang keras kepala. Nabi Nuh sudah menghadapi kaumnya
dalam waktu yang luar biasa panjang, tapi mereka tetap menolak sehingga Allah
menimpakan azab dunia melalui banjir bandang. Dengan kata lain, angka 950 tahun di
sini bukan sekadar hitungan matematis. Ia adalah ukuran kesabaran. Bayangkan
seseorang berdakwah selama sembilan setengah abad. Bukan sembilan setengah
tahun. Bukan satu generasi. Sembilan setengah abad Nuh berdakwah kepada
orang-orang yang bebalnya tak ketulungan. Kita baru berdakwah lima tahun, sudah
ingin membuat konferensi pers tentang “dakwah yang tidak diapresiasi”. Nuh
tidak punya media sosial untuk mengukur engagement. Tidak ada like, share,
subscribe, atau survei kepuasan jamaah. Yang ada hanya penolakan yang
berlangsung lintas generasi. Al-Qur’an seolah-olah berkata kepada
Nabi Muhammad, dan juga kepada kita para pendakwah, "Jangan terlalu
cepat kecewa, Nuh sudah mengalaminya jauh yg lebih lama." Tapi bagaimana dengan nabi-nabi lain?
Apakah mereka juga berumur panjang? Al-Qur’an tidak memberikan daftar usia
para nabi seperti buku registrasi kependudukan. Usia nabi-nabi Adam, Idris,
Ibrahim, Musa, Dawud, Sulaiman, dan nabi-nabi lain tidak dinyatakan secara
pasti dalam al-Qur’an. Berbagai angka memang muncul dalam
literatur Islam. Tapi status riwayatnya beragam. Sebagian berasal dari
tradisi tafsir, kisah-kisah israiliyyat, atau riwayat yang masih
diperdebatkan. Kita sebaiknya tidak mengubah setiap angka dalam kitab kisah
menjadi fakta sejarah dengan tingkat kepastian yang sama seperti ayat
al-Qur’an. Menariknya, tradisi Yahudi-Kristen juga
mengenal kisah umur manusia purba yang panjang. Dalam Kitab Kejadian
misalnya, Methuselah disebut mencapai 969 tahun, Jared 962 tahun, dan Adam
930 tahun. Penelitian paleodemografi modern
melihat tradisi angka tersebut sebagai bagian dari gaya narasi kuno, bukan
bukti bahwa manusia biologis memang pernah hidup selama itu. Lantas, apakah kita sudah menemukan
“rahasia umur panjang” manusia zaman dahulu? Belum. Bahkan kalau kita
menerima secara literal bahwa Nuh hidup lebih dari seribu tahun, al-Qur’an tidak
memberi kita resep biologisnya. Tidak ada ayat yang mengatakan Nuh
panjang umur karena makan kurma. Tidak ada hadis sahih yang menyebut
rahasianya adalah minyak zaitun, madu, puasa, atau jalan kaki 10.000 langkah.
Jangan sampai kisah Nuh kita kerdilkan menjadi brosur promosi suplemen kesehatan. Kita punya kecenderungan lucu. Begitu
membaca kisah orang yang panjang umur, kita langsung mencari menu makanannya.
Nabi Nuh berumur panjang, kita cari “diet Nuh”. Orang tertentu sehat sampai
tua, kita cari resep sarapannya. Padahal umur manusia jauh lebih rumit
daripada sekadar isi piring. Genetika, lingkungan, infeksi, pola hidup,
aktivitas fisik, status sosial, nutrisi, tidur, stres, hingga keberuntungan
biologis ikut berpengaruh. Manusia yang menjalani pola hidup paling sehat pun
tetap tidak punya garansi umur panjang. Kajian tentang masyarakat
pemburu-peramu dari Michael Gurven dan Hillard Kaplan menunjukkan bahwa
manusia memang punya potensi biologis untuk hidup cukup lama —pada kisaran
68–78 tahun— tanpa rumah sakit modern. Tapi 950 tahun adalah perkara yang
sama sekali berbeda. Pertanyaan mengapa Nabi Nuh bisa hidup
selama itu tidak harus dijawab dengan mencari zat anti-aging yang hilang.
Penjelasan teologisnya jauh lebih bersahaja: Allah memang memberi beliau umur
panjang untuk menjalankan tugas dakwahnya. Satu hal lagi yang menarik, al-Qur’an
memilih ungkapan “seribu tahun kurang lima puluh tahun”, bukan langsung sebut
“950 tahun”. Al-Qurthubi mencatat sisi retorisnya. Baginya, penyebutan angka
seribu terasa lebih mantap untuk menggambarkan betapa lamanya waktu itu
berlalu. Redaksi ini tidak mengajak kita
menghitung pakai kalkulator, melainkan mengajak pikiran kita membayangkan
betapa panjangnya proses yang dijalani Nabi Nuh. Dari sini kita bisa berhenti
memusingkan rahasia biologis umur Nuh. Pertanyaan yang lebih berguna untuk
kita renungkan sebetulnya sederhana. Kalau kita diberi umur sepanjang itu,
mau kita pakai untuk apa? Nuh mendapat waktu 950 tahun untuk
membimbing kaumnya. Kita punya waktu yang jauh lebih singkat, tapi sering
bertingkah seolah punya garansi umur panjang. Padahal saat menyentuh usia 60
atau 70 tahun, fisik mulai terbatas dan ingatan berisi tumpukan kenangan masa
lalu. Pada akhirnya, ukuran umur bukan
terletak pada berapa banyak angka tahun yang terkumpul di kalender, melainkan
apa yang kita hasilkan selama waktu itu masih ada. Nuh mengisi 950 tahunnya
dengan konsistensi dakwah. Kita mungkin hanya punya waktu puluhan
tahun, tapi yang dinilai adalah apa yang kita perbuat sebelum usia kita
habis. Ada orang yang hidup 90 tahun tapi tidak meninggalkan jejak apa-apa
saat meninggal, ada juga yang usianya pendek tapi pemikirannya terus memberi
manfaat bagi orang banyak. Nuh mengajarkan bahwa rahasia terbesar
dari umur bukanlah mencari cara agar angkanya terus bertambah. Al-Qur'an
memberi peringatan bagaimana membuat waktu yang pendek ini benar-benar
berguna. ● Sumber : Tulisan Cak AT ini diterima langsung
dari Ahmadie Taha |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar