Senin, 31 Agustus 2026

 

Godaan Kekuasaan Kaum Sarungan

Redaktur Editorial 1 :  Redaksi Tempo Mingguan

TEMPO MINGGUAN, 30 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Sebelum muktamar digelar, isu bagi-bagi amplop kepada pengurus di daerah sudah santer terdengar.

 

·      Sejumlah menteri dan orang dekat Presiden Prabowo bergerilya agar paket pemimpin NU yang direstui Istana terpilih.

 

·      Persaingan dalam muktamar pada dasarnya adalah muara dari konflik lama.

 

NAHDLATUL Ulama dan kekuasaan tampaknya telah menjadi dua sisi mata uang. Dalam sejumlah muktamar kaum nahdliyin, setidaknya dua yang terakhir, pemilihan pemimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menjadi arena perebutan pengaruh dan akses terhadap kekuasaan.

 

Sebelum Muktamar Ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur, dimulai, persaingan calon Ketua Umum PBNU telah menyengit. Menyambangi para kiai khos, para kandidat juga menggalang dukungan para pemilik suara dalam muktamar. Sebelum forum tertinggi di NU yang diselenggarakan lima tahun sekali itu digelar, isu bagi-bagi amplop kepada pengurus di daerah santer terdengar.

 

Sudah diketahui umum juga bahwa ada kandidat yang mencari restu Istana. Meski tak selalu menang, mereka yang didukung rezim biasanya menjadi kandidat kuat.

 

Penguasa yang ingin punya kaki di NU memiliki preferensi sendiri. Sebelum muktamar digelar, sejumlah menteri dan orang dekat Presiden Prabowo Subianto bergerilya agar paket pemimpin PBNU yang direstui Istana terpilih. Tak cuma menyorongkan calon ketua umum, Istana juga ditengarai menyodorkan calon rais am syuriah—pemimpin tertinggi di NU—yang berwenang mengawasi dan mengarahkan organisasi.

 

Campur tangan pihak luar terjadi karena NU membiarkan dirinya ditarik ke dalam pusaran kekuasaan. Meskipun organisasi itu tak lagi berpolitik praktis seperti pada Pemilihan Umum 1955 atau saat bernaung di bawah Partai Persatuan Pembangunan dari 1973 hingga 1984, perilaku elitenya seperti politikus saja.

 

Jika sekarang Yahya Cholil Staquf, Ketua PBNU 2021-2026, mengatakan ada calon yang membawa-bawa nama presiden, ingatlah bahwa pada muktamar lima tahun lalu dialah kandidat yang disebut-sebut didukung Presiden Joko Widodo. Pada era Yahya, pragmatisme NU terasa betul.

 

Bagi penguasa dan calon pemimpin NU yang didukungnya, ini adalah simbiosis mutualisme. Kandidat bisa lebih mulus merebut kursi pemimpin organisasi, sementara Istana mendapatkan dukungan untuk menjaga stabilitas pemerintahan jika calonnya terpilih. Bagi rezim, menguasai partai politik saja tak cukup. Penguasa juga menggalang aktor nonpartai, termasuk organisasi Islam, agar pemerintahannya tak diganggu.

 

Akibatnya, NU sulit menjadi penyeimbang kekuasaan. Ketika terjadi kemunduran demokrasi dan pelemahan pemberantasan korupsi pada era Jokowi, misalnya, NU tak mengkritik apalagi mencegah. Ketika orang-orang di sekitar Jokowi menggulirkan gagasan penundaan Pemilu 2024, NU lewat Yahya Staquf cenderung mendukung. Khidmah utamanya sebagai organisasi sosial keagamaan juga terkikis, terutama setelah mendapatkan konsesi tambang dari pemerintah.

 

Tidak hanya membuyarkan fungsi organisasi, tambang juga membelah pengurus NU. Yahya Staquf, yang sempat dipecat syuriah akhir tahun lalu karena dianggap, antara lain, tak transparan dalam mengelola keuangan, dituding mendapatkan keuntungan dari tambang. Sebaliknya, kubu Yahya menuding justru pihak seberang yang tersandera ijon tambang. Pertarungan terbuka itu membentuk faksi-faksi yang terbawa hingga ke muktamar di Jombang. Dengan kata lain, persaingan dalam muktamar pada dasarnya adalah muara dari konflik lama. Para calon membawa kepentingan dan gerbong masing-masing.

 

Maka tak perlu membayangkan panggung muktamar menjadi tempat islah elite NU. Bagi sebagian orang, menjadi petinggi PBNU merupakan anak tangga ke kursi kekuasaan. Dalam beberapa pemilihan presiden, figur berlatar belakang NU digaet sebagai calon wakil presiden guna meraup suara kaum sarungan.

 

Dengan elite yang oportunis, NU gampang disetir dan terjerembap dalam politik praktis. Terlalu sibuk menjadi bagian kekuasaan, NU pun makin kehilangan daya tawar. Padahal NU punya modal sosial—jaringan pesantren, lembaga pendidikan, badan amal, hingga jutaan warganya—yang dapat dipakai untuk memelopori gerakan masyarakat sipil.

 

Seruan kembali ke khitah 1926, sebagai organisasi sosial keagamaan, pada akhirnya berhenti hanya sebagai slogan.

 

Sumber :  https://www.tempo.co/kolom/muktamar-nu-pemilihan-ketua-umum-pbnu-2284501

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar