|
Hakka Ngiau Dahlan Iskan : Mantan CEO Jawa Pos |
DISWAY, 27 Agustus 2026
Saya satu
panggung dengan Ahok kemarin. Di museum suku Hakka di Taman Mini Indonesia
Indah (TMII) Jakarta.
Ada juga Teuku
Azmi Abubakar di situ: tokoh Aceh yang punya pustaka Tionghoa Peranakan di
Banten. Ia alumnus teknik sipil Institut Teknologi Indonesia, Tangerang. Ia
membangun gedung dua lantai untuk berbagai dokumen, buku, dan artefak Tionghoa
Peranakan.
Setiap Agustus
suku Hakka memang mengadakan seminar kebangsaan di situ. Kali ini bersama marga
Yap Indonesia yang diketuai oleh Haryanto Yap.
Anda sudah
tahu: setiap orang Tionghoa punya dua identitas. Identitas suku dan identitas
marga. Misalkan Anda suku Hakka, atau Tiuchu, atau Hokkian, Guangshao, Manchu,
dan seterusnya. Di setiap warga suku itu marganya berbeda-beda. Di suku Hakka
ada yang bermarga Chen (Tan). Di suku Hokkian juga ada yang bermarga Chen.
Semua suku punya semua marga. Semua marga ada di semua suku.
Ketua suku
Hakka di Indonesia, Sugeng Prananto adalah juga ketua marga Yap Indonesia.
Haryanto tadi ketua hariannya.
Masing-masing
suku juga punya lagu resminya sendiri-sendiri. Pun semua marga. Di forum
kemarin, setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya, diputar juga lagu suku Hakka.
Lalu diputar pula lagu ''kebangsaan'' marga Yap. Lain kali kalau
penyelenggaranya marga Huang diputar lagu resmi marga Huang –yang di Indonesia
ditulis sebagai marga Oei.
Malu: baru
sekali ini saya ke Museum Hakka. Dulu, ketika Presiden SBY meresmikannya, saya
tidak bisa ikut serta. Beberapa kali diundang ke acara di situ selalu
berhalangan.
Museum Hakka
ini (disebut juga suku Khek atau Kejia) ternyata bagus sekali. Lokasinya tidak
jauh dari gedung teater Keong Emas dan anjungan Sulawesi Tenggara. Bentuk
bangunan museum ini dibuat mirip rumah besar tradisional suku Hakka di masa
lalu: satu rumah besar untuk banyak keluarga.
Tembok luar
rumah besar itu melingkar. Bulat. Tinggi. Setinggi rumah tiga lantai. Pintu
masuknya hanya satu: pintu gerbangnya. Puluhan rumah tangga berada dalam satu
rumah besar.
Semua
kamar/rumah menghadap ke dalam: ke halaman luas yang bentuknya bulat –mengikuti
bentuk luarnya. Halaman itu menjadi halaman bersama. Ada yang tinggal di lantai
dua atau tiga. Lantai pertamanya untuk ternak dan logistik.
Bentuk museum
ini dibuat sangat mirip dengan itu. Tiap kamarnya, di tiga lantai, difungsikan
sebagai museum. Halamannya difungsikan untuk ruangan besar melingkar. Bisa
untuk 1000 orang. Di situlah seminar kebangsaan kemarin berlangsung. Bedanya,
di museum ini ''halaman'' tengahnya beratap. Sedang di rumah besar yang asli
atapnya langit dan kadang mendung.
Kini, di daerah
asal suku Hakka di Tiongkok tidak ada lagi orang yang tinggal di rumah besar
seperti itu. Beberapa rumah besar peninggalan masa lalu masih ada. Sudah sangat
tua. Dijadikan objek wisata.
Saya pernah
mengunjungi rumah besar yang masih asli di sana: di kabupaten Mexian, bagian
utara provinsi Guangdong. Sudah terlihat kusam kuno. Ketika naik tangga ke
lantai atas muncul rasa khawatir: tangga kayunya seperti lapuk.
Setiap kali ke
Meixian saya tidur di Meizhou, kota terbesarnya. Di kunjungan ketiga tahun lalu
Meizhou sudah berubah total: menjadi sangat 靚女 –ciang ngi, cantik dalam bahasa Hakka. Piao liang dalam bahasa Mandarin.
Di kunjungan ketiga itu saya juga ke Sunkou –pelabuhan sungai yang hampir semua
orang Hakka perantauan mengenangnya. Dari tepi sungai itulah orang-orang Hakka
berangkat meninggalkan kampung halaman menuju Nan Yang –laut selatan. Itu bisa
berarti, Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, atau Indonesia.
Di daerah baru
itu mereka menyatu dan jadi tokoh setempat: Perdana Menteri Singapura Lee Kuan
Yew adalah orang Hakka. Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra juga orang
Hakka. Pun Presiden Filipina Corazon Aquino.
Siapa tahu
kelak Ahok, orang Hakka dari Belitung juga akan jadi seperti Lee Kuan Yew untuk
Indonesia.
Itu tidak
mustahil –kalau Tuhan sudah menakdirkan begitu. Anda sudah tahu: untuk pilpres
akan datang tidak perlu lagi batas minimal perolehan suara partai.
PDI-Perjuangan
bisa mengajukan calon sendiri. Partai itu tidak punya banyak pilihan. Ahok bisa
dimajukan. Kalau perlu dipasangkan dengan Mahfud MD. Atau sebaliknya. Mereka
bisa terpilih. Orang sudah muak dengan korupsi. Ahok-Mahfud bisa jadi pilihan.
Atau tidak.
"Itu tidak
mungkin," ujar Ahok ketika kemungkinan itu saya bisikkan ke telinga
kirinya. Alasannya: ia pernah dituntut hukuman lima tahun sehingga hak
pencapresannya hilang.
Aneh. Ternyata
yang jadi ukuran ''tuntutan'' jaksa saat di pengadilan. Bukan vonis hakim.
Bagaimana UU-nya bisa begitu hanya Anda yang tahu.
Hebatnya, untuk
pilkada, aturan itu sudah tidak berlaku. Yakni sejak ada yang menggugat UU itu
ke Mahkamah Konstitusi. Dikabulkan. Berarti bagi orang yang ingin mencapreskan
Ahok cepat-cepatlah ajukan gugatan ke MK.
Di forum itu
saya hanya menyinggung sedikit peristiwa di seputar proklamasi kemerdekaan.
"Hampir saja presiden pertama kita bukan Bung Karno. Siapa?" pancing
saya. Ternyata tidak ada yang tahu.
Pertengahan
Agustus 1945, para pemuda-aktivis Jakarta tahu Jepang sudah menyerah-kalah (15
Agustus 1945). Mereka berpendapat saatnya Indonesia merdeka. Mereka pun
bersepakat menjadikan Amir Syarifuddin sebagai presiden kita.
Tapi Amir tidak
ditemukan lagi di mana –ternyata sedang di penjara Lowokwaru, Malang. Sebagai
gantinya para pemuda memilih Sutan Sjahrir sebagai presiden. Sjahrir tidak mau.
Masih terlalu muda. Umurnya belum 30 tahun. Belum ada MK saat itu.
Sjahrir lantas
minta agar Bung Karno saja yang jadi presiden. Sjahrir berpendapat Bung Karno-lah
yang mampu menyatukan bangsa Indonesia.
Anda sudah
tahu: Bung Karno tidak mau. Bung Karno pilih menunggu janji Jepang memberikan
kemerdekaan pada Indonesia suatu saat kelak. Para pemuda tidak puas. Mereka
menculik Bung Karno dan Bung Hatta, dibawa ke Rengasdengklok, Karawang. Di sana
Bung Karno dan Bung Hatta dipaksa menyatakan kemerdekaan.
Zaman itu
Rengasdengklok masih kampung tani dan nelayan yang amat miskin. Tidak ada rumah
yang layak untuk dipakai Bung Karno dan Bung Hatta bermalam. Ups...ada. Di
rumah itulah Proklamator Kemerdekaan Indonesia bermalam di Rengasdengklok. Itu
adalah rumahnya 饒吉祥. Dibaca Ráo Jíxiáng. Rao dalam bahasa suku Hakka dibaca Ngiau.
Pemilik rumah
itu memang orang suku Hakka. ●
Sumber
: https://disway.id/catatan-harian-dahlan/964997/hakka-ngiau
Tidak ada komentar:
Posting Komentar