|
Terpelecok Lidah saat
Berpidato Hardian Putra
Pratama : Redaktur Bahasa Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 30
Agustus 2026
|
· Dalam pidato kenegaraan, satu
kekeliruan kecil kerap lebih diingat daripada keseluruhan gagasan yang
disusun dengan rapi. · Ketika berpidato dalam sidang tahunan
parlemen, Presiden Prabowo Subianto tampak hendak menyajikan kisah rakyat
kecil yang terbantu oleh kehadiran negara. · Tapi yang diingat orang justru satu
detail janggal: upah Rp 700 ribu per kilogram pengupas bawang. DALAM pidato
kenegaraan, satu kekeliruan kecil kerap lebih diingat daripada keseluruhan
gagasan yang disusun dengan rapi. Ketika berpidato dalam sidang tahunan
parlemen pada 14 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto tampak hendak
menyajikan kisah rakyat kecil yang terbantu oleh kehadiran negara. Tapi yang
diingat orang justru satu detail janggal yang terlalu manis untuk dilupakan:
upah Rp 700 ribu per kilogram pengupas bawang. Kita
boleh menyebutnya terpelecok lidah atau slip of the tongue. Dalam kajian linguistik,
keseleo lidah adalah kekeliruan spontan dalam produksi ujaran yang terjadi
ketika pikiran dan ujaran tidak sepenuhnya sinkron. Namun, di ranah politik,
kesalahan ini tidak berhenti hanya sebagai fenomena kebahasaan, tapi juga
bisa segera berubah menjadi peristiwa sosial. Menurut
Erving Goffman, sosiolog yang melihat kehidupan sosial sebagai panggung
sandiwara, setiap interaksi publik adalah pertunjukan lewat teori dramaturgi.
Individu, termasuk pejabat publik, memainkan peran di hadapan audiens dan
berusaha mengelola kesan yang muncul. Upaya ini disebut sebagai impression
management, yakni usaha mengontrol cara orang lain memandang diri kita agar
sesuai dengan kesan yang diinginkan seturut normal sosial. Dalam
kerangka dramaturgi Goffman, pidato kenegaraan adalah panggung depan (front
stage), tempat setiap kata dan data disusun untuk membangun citra
kepemimpinan yang kredibel. Di ruang ini, bahasa bukan sekadar alat
komunikasi, melainkan juga bagian dari pertunjukan yang menentukan apakah
peran yang dibawakan aktor di panggung bisa dipercaya atau tidak. Masalah
muncul ketika sesuatu yang tidak semestinya tampil justru ikut naik ke
panggung. Kesalahan ujar yang tampak hanya berupa gangguan kecil dalam
produksi bahasa bisa menjadi problem besar di panggung sosial. Keseleo lidah
Presiden tentang upah pengupas bawang menjadi contoh bagaimana satu kesalahan
linguistik langsung menjelma menjadi gangguan dramaturgis. Saat
mendengar ucapan Presiden bahwa ada orang yang mendapat upah Rp 700 ribu per
kilogram dari mengupas bawang, publik tidak lagi membayangkan buruh yang
bekerja sambil berebes mili karena terlepasnya gas sin-propanetial
S-oksida—atau upahnya yang kecil—tapi seseorang yang secara ajaib bisa
beroleh penghasilan luar biasa dengan pekerjaan sederhana. Dalam
pidato itu, Presiden sepertinya hendak menghadirkan representasi kinerja
melalui kisah seorang buruh yang dapat hidup sejahtera berkat program
pemerintah. Satu nama itu dianggap dapat mewakili banyak figur serupa. Namun,
ketika angka penunjuk kesejahteraan yang menyertainya melenceng, representasi
itu gagal mendarat sempurna. Salah
satu dampaknya, sang buruh tidak lagi menjadi simbol empati dan gagal membawa
bukti keberhasilan pemerintah. Ia justru menjadi tokoh dalam anekdot publik
yang menggoyang panggung pertunjukan sosial kepala negara. Publik
tidak menerima kalimat itu sebagai informasi yang benar, tapi sebagai
kejanggalan yang menggelikan. Dalam waktu singkat, kejanggalan itu berkembang
menjadi lelucon di warung kopi dan café hingga meme kreasi akal imitasi di
media sosial. Setiap orang pun bebas menambahkan tafsir sendiri dan
menciptakan versi-versi baru yang makin menjauh dari maksud awal. Lebih-lebih
bukan baru kali ini Kepala Negara dianggap luput saat berbicara—baik dalam
hal data maupun diksi—di hadapan publik. Kekeliruan dalam pidato terbaru itu
seperti membuka laci memori kolektif masyarakat. Mereka tidak lagi menilai
satu kata atau kalimat yang keliru secara terpisah, tapi merangkainya menjadi
pola kekeliruan yang berulang. Menurut
teori Goffman, audiens selalu membaca performa secara menyeluruh untuk
mencari konsistensi pertunjukan. Ketika satu bagian pertunjukan gagal, bagian
lain pun dipertanyakan. Kegagalan performa berulang akan menggerogoti
kepercayaan audiens terhadap kemampuan aktor dalam konsistensi menjaga
perannya. Apalagi
kemudian muncul fakta bahwa pekerjaan orang yang disebut dalam pidato itu
bukan pengupas bawang seperti tertulis pada teks yang disiapkan, melainkan
penjahit kain majun dan karyawan dapur makan bergizi gratis. Kombinasi
kesalahan di belakang dan depan panggung ini membuat pertunjukan makin
kehilangan dayanya dalam meyakinkan audiens. Sebagian
kalangan mungkin menganggap kekeliruan informasi dari pejabat publik tersebut
sebagai masalah kebahasaan yang sepele. Namun, ketika komunikasi pejabat
publik karut-marut, kepercayaan masyarakat menjadi pertaruhan. Jika pola ini
terus berlanjut, tatkala pemerintah mempertunjukkan tingginya capaian
kinerja, jangan heran bila lebih banyak muncul raut muka penuh syak wasangka
daripada tepuk tangan membahana. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/keseleo-lidah-pidato-prabowo-2284435 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar