Senin, 31 Agustus 2026

 

Terpelecok Lidah saat Berpidato

Hardian Putra Pratama :  Redaktur Bahasa Tempo

TEMPO MINGGUAN, 30 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Dalam pidato kenegaraan, satu kekeliruan kecil kerap lebih diingat daripada keseluruhan gagasan yang disusun dengan rapi.

 

·      Ketika berpidato dalam sidang tahunan parlemen, Presiden Prabowo Subianto tampak hendak menyajikan kisah rakyat kecil yang terbantu oleh kehadiran negara.

 

·      Tapi yang diingat orang justru satu detail janggal: upah Rp 700 ribu per kilogram pengupas bawang.

 

DALAM pidato kenegaraan, satu kekeliruan kecil kerap lebih diingat daripada keseluruhan gagasan yang disusun dengan rapi. Ketika berpidato dalam sidang tahunan parlemen pada 14 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto tampak hendak menyajikan kisah rakyat kecil yang terbantu oleh kehadiran negara. Tapi yang diingat orang justru satu detail janggal yang terlalu manis untuk dilupakan: upah Rp 700 ribu per kilogram pengupas bawang.

 

Kita boleh menyebutnya terpelecok lidah atau slip of the tongue. Dalam kajian linguistik, keseleo lidah adalah kekeliruan spontan dalam produksi ujaran yang terjadi ketika pikiran dan ujaran tidak sepenuhnya sinkron. Namun, di ranah politik, kesalahan ini tidak berhenti hanya sebagai fenomena kebahasaan, tapi juga bisa segera berubah menjadi peristiwa sosial.

 

Menurut Erving Goffman, sosiolog yang melihat kehidupan sosial sebagai panggung sandiwara, setiap interaksi publik adalah pertunjukan lewat teori dramaturgi. Individu, termasuk pejabat publik, memainkan peran di hadapan audiens dan berusaha mengelola kesan yang muncul. Upaya ini disebut sebagai impression management, yakni usaha mengontrol cara orang lain memandang diri kita agar sesuai dengan kesan yang diinginkan seturut normal sosial.

 

Dalam kerangka dramaturgi Goffman, pidato kenegaraan adalah panggung depan (front stage), tempat setiap kata dan data disusun untuk membangun citra kepemimpinan yang kredibel. Di ruang ini, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga bagian dari pertunjukan yang menentukan apakah peran yang dibawakan aktor di panggung bisa dipercaya atau tidak.

 

Masalah muncul ketika sesuatu yang tidak semestinya tampil justru ikut naik ke panggung. Kesalahan ujar yang tampak hanya berupa gangguan kecil dalam produksi bahasa bisa menjadi problem besar di panggung sosial. Keseleo lidah Presiden tentang upah pengupas bawang menjadi contoh bagaimana satu kesalahan linguistik langsung menjelma menjadi gangguan dramaturgis.

 

Saat mendengar ucapan Presiden bahwa ada orang yang mendapat upah Rp 700 ribu per kilogram dari mengupas bawang, publik tidak lagi membayangkan buruh yang bekerja sambil berebes mili karena terlepasnya gas sin-propanetial S-oksida—atau upahnya yang kecil—tapi seseorang yang secara ajaib bisa beroleh penghasilan luar biasa dengan pekerjaan sederhana.

 

Dalam pidato itu, Presiden sepertinya hendak menghadirkan representasi kinerja melalui kisah seorang buruh yang dapat hidup sejahtera berkat program pemerintah. Satu nama itu dianggap dapat mewakili banyak figur serupa. Namun, ketika angka penunjuk kesejahteraan yang menyertainya melenceng, representasi itu gagal mendarat sempurna.

 

Salah satu dampaknya, sang buruh tidak lagi menjadi simbol empati dan gagal membawa bukti keberhasilan pemerintah. Ia justru menjadi tokoh dalam anekdot publik yang menggoyang panggung pertunjukan sosial kepala negara.

 

Publik tidak menerima kalimat itu sebagai informasi yang benar, tapi sebagai kejanggalan yang menggelikan. Dalam waktu singkat, kejanggalan itu berkembang menjadi lelucon di warung kopi dan café hingga meme kreasi akal imitasi di media sosial. Setiap orang pun bebas menambahkan tafsir sendiri dan menciptakan versi-versi baru yang makin menjauh dari maksud awal.

 

Lebih-lebih bukan baru kali ini Kepala Negara dianggap luput saat berbicara—baik dalam hal data maupun diksi—di hadapan publik. Kekeliruan dalam pidato terbaru itu seperti membuka laci memori kolektif masyarakat. Mereka tidak lagi menilai satu kata atau kalimat yang keliru secara terpisah, tapi merangkainya menjadi pola kekeliruan yang berulang.

 

Menurut teori Goffman, audiens selalu membaca performa secara menyeluruh untuk mencari konsistensi pertunjukan. Ketika satu bagian pertunjukan gagal, bagian lain pun dipertanyakan. Kegagalan performa berulang akan menggerogoti kepercayaan audiens terhadap kemampuan aktor dalam konsistensi menjaga perannya.

 

Apalagi kemudian muncul fakta bahwa pekerjaan orang yang disebut dalam pidato itu bukan pengupas bawang seperti tertulis pada teks yang disiapkan, melainkan penjahit kain majun dan karyawan dapur makan bergizi gratis. Kombinasi kesalahan di belakang dan depan panggung ini membuat pertunjukan makin kehilangan dayanya dalam meyakinkan audiens.

 

Sebagian kalangan mungkin menganggap kekeliruan informasi dari pejabat publik tersebut sebagai masalah kebahasaan yang sepele. Namun, ketika komunikasi pejabat publik karut-marut, kepercayaan masyarakat menjadi pertaruhan. Jika pola ini terus berlanjut, tatkala pemerintah mempertunjukkan tingginya capaian kinerja, jangan heran bila lebih banyak muncul raut muka penuh syak wasangka daripada tepuk tangan membahana. ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/kolom/keseleo-lidah-pidato-prabowo-2284435

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar