|
Peran
Oei Tjoe Tat di Sin Ming Hui pada Era Kemerdekaan Daniel Ahmad Fajri : Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 16 Agustus 2026
|
· Oei Tjoe Tat menjadi relawan di
organisasi binaan Perhimpunan Sosial Sin Ming Hui. · Ia menolong korban kerusuhan rasial
anti-Cina yang meletus di Tangerang pada 1946. · Sin Ming Hui mendirikan sekolah dan
rumah sakit di Jakarta. RUMAH
dengan arsitektur tradisional Cina itu berdiri diapit hotel bintang empat dan
apartemen yang menjulang setinggi 30 lantai di Jalan Gajah Mada, Glodok,
Jakarta Barat. Beratap genting model feiyan yang ujung sudutnya melengkung
bak burung terbang, bangunan itu seperti tenggelam di antara gedung pencakar
langit di sekitarnya. Itulah situs Candra Naya yang pernah menjadi kantor
Perhimpunan Sosial Sin Ming Hui. Penerima
tamu yang berjaga di situs Candra Naya, Kamal Fajar, mengatakan kompleks
bangunan tersebut saat ini dikelola perusahaan properti PT Modernland Realty
Tbk sebagai pemilik lahan. Dinas Kebudayaan DKI Jakarta ikut mengawasi
pengelolaan rumah bersejarah tersebut. “Ditetapkan menjadi cagar budaya sejak
1993,” kata Kamal di Glodok pada Jumat, 24 Juli 2026. Candra
Naya tak lain merupakan hasil salin nama Perhimpunan Sosial Sin Ming Hui.
Penggantian itu dilakukan setelah Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa yang
didirikan Kristoforus Sindhunata alias Ong Tjong Hay meminta nama organisasi
dan marga Tionghoa diubah dengan nama Indonesia sebagai strategi asimilasi
setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965. Oei Tjoe
Tat memimpin Sin Ming Hui pada 1950-1954. Sebelum digunakan Sin Ming Hui pada
1946, bangunan itu merupakan kediaman Mayor Cina, Khouw Kim An. Pada era
Hindia Belanda, Mayor Cina merupakan jabatan yang punya pengaruh ekonomi dan
politik yang cukup besar terhadap komunitas Cina di Hindia Belanda. Sin Ming
Hui, yang berarti “Sinar Baru”, memfungsikan bangunan itu sebagai kantor
yayasan, poliklinik, gelanggang olahraga, hingga sekolah. Seiring dengan
habisnya masa sewa dan rencana pengusaha membuka ruang komersial di area itu
pada 1992, semua kegiatan organisasi berpindah dari Glodok ke Jalan Jembatan
Besi, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Anak
pertama Oei Tjoe Tat, Oei Yang Siem alias Shilana Atma Waskowski, bercerita,
setiap pagi ia dan saudaranya berangkat bersama sang ayah ke sekolah yang
dikelola Sin Ming Hui di Jalan Gajah Mada—dulu dikenal dengan nama Molenvliet
West 188. Shilana menerangkan, sekolah itu berjarak beberapa rumah dari
kantor advokat milik Lie Hwee Yoe dan Lie Kian Kim, tempat Oei bekerja. Shilana
menghabiskan enam tahun masa pendidikan dasarnya di sekolah itu. Shilana
menuturkan, sepulang sekolah, ia senantiasa menunggu kegiatan kantor ataupun
aktivitas organisasi papinya sampai selesai. “Papi aktif, tapi saya enggak
terlalu sedih dan menderita ketika menunggu karena kompleks Sin Ming Hui
besar dan saya bisa bermain,” ujar Shilana melalui sambungan telepon dari
Jerman pada Rabu, 22 Juli 2026. Shilana kini berusia 78 tahun. Lain
halnya dengan Shilana, Oei Ling Siem atau Desita Atma Brunier hanya dua tahun
belajar di sekolah Sin Ming Hui. Putri kedua Oei Tjoe Tat itu menjelaskan, ia
dan Shilana bersekolah di situ karena semata-mata dekat dengan kantor
papinya. Mereka
kemudian pindah ke sekolah yang dekat dengan kediaman Oei di Jalan Blitar
Nomor 10, Menteng, Jakarta Pusat. “Kami kadang telat karena baru datang pukul
9 pagi, sedangkan masuk sekolah pukul 8,” tutur Desita melalui telekonferensi
video dari Prancis pada Rabu, 15 Juli 2026. Sin Ming
Hui tak sekadar memiliki sekolah. Berdiri pada Januari 1946, perhimpunan ini
dimotori sejumlah komunitas, seperti Sin Po dan Keng Po. Salah satu tokoh Sin
Po, Thio Tong Hai, punya misi membuat perkumpulan anak muda yang bisa
berkontribusi bagi masyarakat. Oei
dalam bukunya, Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno, bercerita
bahwa ketiadaan organisasi sosial yang muncul dari komunitas Tionghoa setelah
pendudukan Jepang di Indonesia merupakan salah satu faktor yang mendorong
pendirian Sin Ming Hui. Oei
mengatakan Thio menginginkan Sin Ming Hui menggantikan peran organisasi yang
lebih dulu ada, seperti Hoa Kiaw Tjong Hwee dan Hoa Kiaw Ti Yok Hwee. Dua
perkumpulan itu eksis sebelum Proklamasi 1945. Oei menjelaskan, pemimpin dua
perkumpulan itu berusia uzur dan punya relasi dengan penguasa. “Yang dipilih
jadi pengurus berasal dari golongan berduit,” katanya. Ribuan
orang mendaftar untuk menjadi anggota saat Sin Ming Hui dibentuk. Angkanya
naik berkali lipat saat Sin Ming Hui membuat divisi buruh. Kebanyakan dari
mereka mencari perlindungan karena situasi semasa revolusi kemerdekaan tidak
menentu. Oei bergabung menjadi kader Sin Ming Hui pada September 1946—tahun
terakhir Oei menempuh kuliah hukum di Rechtshoogeschool te Batavia, yang
menjadi cikal bakal Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Sebelum
menjadi anggota penuh Sin Ming Hui, Oei terlibat aktif sebagai relawan di
Komite Penolong Korban Tionghoa (KPKT). Komite ini merupakan organisasi
binaan Sin Ming Hui dan dibentuk setelah pecahnya kerusuhan rasial yang
dipicu sentimen anti-Cina pada Juni 1946 di Tangerang. Huru-hara
yang meletus ketika Republik baru berdiri itu dipicu berbagai faktor. Di
antaranya kesenjangan ekonomi dan rasa saling curiga antara penduduk pribumi
dan masyarakat peranakanTionghoa. Orang Cina pada waktu itu dianggap dekat
dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Kondisi tersebut memicu kemarahan
masyarakat pribumi kepada orang Tionghoa. Historia
dalam artikel yang terbit pada 14 April 2026 menulis bahwa kerusuhan rasial
itu dikenang dengan sebutan Peristiwa Dunia Kiamat oleh orang Tionghoa yang
bermukim di Tangerang. Mengutip surat kabar berbahasa Belanda, Algemeen
Handelsblad, Historia menyatakan penduduk Indonesia membunuh sekitar 1.000
orang Tionghoa. Data
Palang Merah Tionghoa Jang Seng Ie di Jakarta mencatat jumlah korban tak
sebanyak yang diumumkan di surat kabar berbahasa Belanda itu. Palang Merah
Tionghoa merangkum 653 orang terbunuh dan lebih dari 1.400 rumah dibakar saat
kerusuhan terjadi di Tangerang. Terlibat
aktif sebagai relawan pada masa revolusi kemerdekaan, Oei menyebutkan
kehadiran KPKT membantu meringankan penderitaan orang Tionghoa. “KPKT
berhasil mengumpulkan uang, bahan makanan, uang, dan obat-obatan untuk
membantu pengungsi,” ujar Oei dalam memoarnya. Menurut
Oei, kerusuhan rasial pada awal masa kemerdekaan terjadi di mana-mana. Ia
mendengar kasak-kusuk bahwa Nederlandsch-Indische Civiele Administratie atau
NICA yang dibentuk pemerintah kolonial setelah proklamasi punya andil dalam
berbagai kerusuhan itu. “Ada tuduhan bahwa orang Tionghoa pro-Belanda,”
tuturnya. Posisi
Oei di Sin Ming Hui terus meningkat. Ia mula-mula didapuk menjadi Sekretaris
II dan membantu Lie Kian Kiem, pemilik kantor advokat yang menjadi tempat
kerja Oei. Lie menjabat Sekretaris I Sin Ming Hui. Dalam waktu singkat, Oei
dipromosikan menjadi Wakil Ketua dan Ketua Muda. Anggota
Sin Ming Hui, yang kala itu sudah berjumlah 7.000 orang, mempercayakan kursi
ketua umum kepada Oei pada 1950. Oei menggantikan Lie yang meninggal pada
usia 38 tahun karena kecelakaan mobil. Oei
mengambil alih kepemimpinan dengan misi menghidupkan semangat dan kegiatan
organisasi yang lesu setelah pergolakan masa revolusi mulai landai. Oei
melakukan konsolidasi internal untuk mendorong anggota meluaskan jangkauan
organisasi. Oei mengubah poliklinik menjadi Lembaga Propaganda Kesehatan,
unit kesehatan yang menjadi cikal bakal Rumah Sakit Sumber Waras. Di bawah
kepemimpinan Oei, Sin Ming Hui mengembangkan jaringan pendidikan dasarnya
dengan menambah sekolah menengah dan sekolah asisten apoteker. Oei juga
membentuk unit baru di dalam organisasi, seperti fotografi dan bantuan hukum.
“Selama di Sin Ming Hui, saya lebih banyak menghabiskan waktu di kantor
daripada di rumah,” katanya. Oei
memimpin Sin Ming Hui selama empat tahun. Ia memutuskan berhenti dari
perhimpunan itu karena sudah aktif berpolitik dan terpilih menjadi anggota
Konstituante di Bandung, Jawa Barat, mewakili unsur Badan Permusyawaratan
Kewarganegaraan Indonesia atau Baperki menjelang Pemilihan Umum 1955. Sinolog
dari Nanyang Technological University, Singapura, Leo Suryadinata, mengatakan
Oei belajar mengenai kepemimpinan dan politik selama bergiat di Sin Ming Hui.
Leo adalah penulis buku Prominent Indonesian Chinese: Biographical Sketches.
Salah satu tokoh yang diulas Leo dalam buku itu adalah Oei. Leo
membandingkan kiprah Oei dengan dua tokoh Tionghoa lain, seperti pendiri
Partai Tionghoa Indonesia, Liem Koen Hian, dan Ketua Umum Baperki Siauw Giok
Tjhan. “Oei apolitis, tapi suka menolong orang karena ia menyumbangkan
tenaganya untuk kegiatan sosial,” ujar Leo melalui telekonferensi video pada
Senin, 13 Juli 2026. “Oei itu lain daripada yang lain,” tuturnya. Sepeninggal
Oei, Sin Ming Hui berjalan bak kereta luncur. Organisasi ini sempat
berkembang pesat dengan mendirikan rumah sakit serta mempelopori pembangunan
Universitas Tarumanagara dan Universitas Res Publica yang belakangan berganti
nama menjadi Universitas Trisakti. Dalam
memoarnya, Oei bercerita, Sin Ming Hui sempat memfasilitasi orang-orang Tionghoa
yang hendak memilih kewarganegaraan Indonesia atau Belanda. Hak pilih itu
muncul setelah keluarnya hasil Konferensi Meja Bundar pada 1949. “Setiap hari
kantor Sin Ming Hui dibanjiri orang yang berniat mengurus kewarganegaraan,”
ujarnya. Namun
organisasi ini dengan segera layu setelah beberapa kali terjadi pergolakan
politik di bawah Presiden Sukarno. Sejumlah anggota Sin Ming Hui yang masih
aktif menghubungi Oei menjelang rapat anggota umum untuk memilih badan
pengurus baru. Oei
didaulat memimpin rapat karena dianggap sebagai sesepuh organisasi. Oei tak
bisa menolak karena didesak. “Saat memasuki ‘rumah’ lama itu, saya kaget,”
kata Oei. Oei
bercerita, saat ia masuk ke ruangan rapat, ternyata sudah hadir ratusan orang
yang ingin menentukan susunan dewan pengurus baru. Dia menyaksikan tak
sedikit anggota perhimpunan yang bukan keturunan Tionghoa. Di sudut ruangan,
polisi berseragam ikut mengawasi pertemuan itu. Akibatnya,
rapat berlangsung dengan suasana tegang meskipun berjalan sampai selesai.
Phoa Thoan Hian alias Padmo Soemasto, yang merupakan Wakil Ketua Umum
Baperki, memenangi pemilihan. “Tak ada suasana akrab dan berbeda dengan Sin
Ming Hui dulu,” ujarnya. Siauw
Tiong Djin, anak Ketua Umum Baperki Siauw Giok Tjhan, bercerita, keretakan
yang terjadi di Sin Ming Hui sebetulnya bermula pada 1955. Pada tahun itu,
Baperki mengikuti pemilihan umum. Sejumlah tokoh Baperki yang aktif di Partai
Sosialis Indonesia, seperti Khoe Woen Sioe, ditengarai mendapat tekanan dari
lingkup internal partai agar keluar dan tak mendukung Baperki. Menurut
Siauw Tiong Djin, perpecahan kedua di Sin Ming Hui terjadi saat pemilihan
ketua pada akhir 1964. Perbedaan garis politik di antara elite organisasi Sin
Ming Hui menjadi duri dalam daging organisasi. “Pak Oei luwes menempatkan
diri, tidak kanan dan kiri, tetap berada di tengah,” kata Siauw Tiong Djin. ● Sumber :
https://www.tempo.co/politik/oei-tjoe-tat-proklamasi-sin-ming-hui-2282209 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar