|
Dari Realisme Sosialis ke Realisme Kapitalis Ayu Utami : Bekerja di dunia sastra sebagai penulis,
kurator dan direktur Literature & Ideas Festival (LIFEs) di Komunitas
Salihara |
TEMPO MINGGUAN, 30
Agustus 2026
|
·
Tahun 1960-an kita mengenal paham
realisme sosialis yang menggedor kesadar estetika mereka yang berkhidmat pada
ideologi kiri. ·
Bahkan novel Korupsi Pramoedya Ananta
Toer masih menyisakan tokoh seorang perempuan yang mandiri. · Keluguan tahun
1960-an berakhir begitu kita memasuki masa realisme kapitalis: menghidupkan
harapan makin tak muda. TIGA
dekade silam Tahar ben Jelloun ingin bertemu dengan Pramoedya Ananta Toer.
Sastrawan Prancis-Maroko itu berkunjung ke Jakarta. Waktu itu kuasa
pemerintahan militer Soeharto sedang memuncak. Karya-karya Pramoedya masih
dilarang dan hidupnya dimata-matai. Ben Jelloun mendapat peringatan dari
seseorang: jangan menemui Pram karena kunjunganmu justru akan menimbulkan
masalah baginya. Sebagai
ganti niat yang diurungkan, Ben Jelloun menulis sebuah novel untuk
menghormati Pramoedya. Judulnya Korupsi, merespons novel Pramoedya dengan
judul sama yang ia baca selagi di Indonesia. Novel Pram ditulis tahun
1950-an, novel Ben Jelloun 1990-an. Kita sekarang berada di 2020-an, dengan
persoalan yang lebih rumit. Setelah
demonstrasi warga Pati di DPR, 27 Agustus lalu, ada janji bahwa undang-undang
perampasan aset koruptor akan disahkan sebelum akhir tahun. Demonstran juga
menuntut ganjaran keras, bahkan hukuman mati, bagi koruptor. Tapi keadaan
kita jauh lebih berbahaya daripada sesaat setelah kemerdekaan atau sebelum
Reformasi. Setelah kasus Tom Lembong mencuat, juga sederet sidang dan vonis
korupsi lain, kita melihat bahwa kasus korupsi sangat bisa menjadi alat
sewenang-wenang untuk menghancurkan lawan politik atau orang tak bersalah
yang dikambinghitamkan. Atau, setidaknya, digunakan dengan tebang pilih. Novel
Pram, Korupsi, jika dibaca sekarang terasa menggambarkan masa yang begitu
lugu. Bakir
adalah seorang kepala kantor yang awalnya bersahaja. Ia masih mengayuh sepeda
kumbang, sementara beberapa sejawatnya telah mulai naik mobil, yang didapat
dari manipulasi anggaran dan pengadaan barang—modus yang memang tetap ada
sekarang. Mariam, istrinya, kerap mengeluh. Sebagai kepala keluarga, Bakir
pun merasa bersalah karena bahkan anak-anaknya jarang makan berlauk ayam.
Selangkah demi selangkah, ia masuk dalam kebiasaan korup. Di masa
kini, rasanya tak ada lagi pegawai negeri yang tak mampu membeli fried
chicken. Selain itu, dua hal dalam novel Pram ini mungkin tidak ada lagi di
masa kita: aparat hukum yang sungguh-sungguh menegakkan hukum dan hati nurani
yang terganggu oleh korupsi. Setelah mengabaikan anak-anaknya dan ibu mereka,
seraya berasyik masyuk dengan istri muda, Bakir mulai merasa dikejar dosa.
Hidupnya jadi tak tenang—tapi barangkali ini hanyalah harapan moralitas kita
sendiri dan tak ada dalam kenyataan. Akhirnya ia ditangkap dan dimasukkan ke
penjara. Ini mengandaikan polisi, jaksa, dan hakim yang tidak terjamah
korupsi itu sendiri. Korupsi dalam
kisah Pram tahun 1950-an tak menodai aparat hukum. Sekarang? Hal yang
sedikit membungahkan jika kita bandingkan novel Korupsi Pram dengan karya Ben
Jelloun adalah bahwa tokoh Mariam lebih mandiri dan punya prinsip ketimbang
Halimah, istri Mourad. Mariam akhirnya memilih hidup bersahaja dengan uang
halal keringatnya sendiri, membuat novel Pram masih menyisakan harapan—cukup
khas dalam novel realisme sosialis. Kedua
novel ini sama-sama menunjukkan bahwa korupsi punya awal dalam sesuatu yang
paling pribadi: istri, anak, suasana rumah. Tapi, di era yang tak lugu ini,
skala dan paradigma telah berubah. Korupsi tidak dilakukan atas desakan
kebutuhan obyektif, tapi atas desakan hasrat yang tak pernah terpuaskan—jika
kita tidak melatih diri mengendalikan hasrat. Jadi
kuncinya adalah pengendalian diri? Tidakkah menyedihkan saat dalam
membayangkan perbaikan struktural negeri ini kita jatuh lagi dalam anjuran
pengendalian diri? Dalam membayangkan gerakan sosial, kita justru terbentur
pada latihan batin? Dari analisis Marxis, kita dibawa pada ajaran Ki Ageng
Suryomentaram atau Stoikisme? Dari yang sistemik, kita tersandung yang
personal? Keadaan
yang tak lugu ini bolehlah kita sebut kondisi “realisme kapitalis”, dari
judul buku Mark Fisher, Capitalist Realism: Is There No Alternative?, yang
terbit hampir 20 tahun lalu. Istilah ini, kata penulisnya, berasal dari
sebuah grup musik pop Jerman tahun 1960-an yang memparodikan istilah
“realisme sosialis”. Tahun
1960-an, realisme sosialis masih suatu ideologi seni yang dianut banyak
orang, termasuk Pramoedya. Fisher mengartikannya secara lain. Ia
menggambarkan masyarakat yang telah menciptakan “ontologi bisnis”, yaitu
bisnis menjadi dasar keberadaan apa pun. Realitas kita adalah realitas
kapitalisme, sehingga segala yang tak logis tampak seperti tak mungkin. Dan,
kita tahu, kapitalisme bergerak karena hasrat. Kita tidak hendak mengatakan
bahwa di luar kapitalisme tidak ada korupsi. Tapi
kemenangan kapitalisme, setidaknya setelah runtuhnya blok sosialis-komunis
yang mengakhiri Perang Dingin, telah menyebabkan dominasi ontologi baru,
sehingga, kata Fisher, “Lebih mudah membayangkan akhir dunia ketimbang akhir
kapitalisme.” Sayangnya, seolah-olah membenarkan adagium itu, Fisher bunuh
diri, menyelesaikan dunianya sendiri. Memang
hari-hari ini tak mudah lagi untuk punya harapan akan perbaikan besar.
Sementara menunggu momentum tiba, hal-hal kecil bisa dilakukan. Ya, yang
mengandalkan latihan batin dan pengendalian diri seperti yang dianjurkan
Suryomentaram atau kaum Stoik. Tidak melakukan korupsi dari yang terkecil,
menolak kemewahan, tidak pamer, juga tidak flexing foto bareng
presiden atau anak kucingnya atau menteri dan pejabat lain. ● Sumber :
https://www.tempo.co/kolom/realisme-kapitalis-peristiwa-hari-ini-2284436
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar