Senin, 31 Agustus 2026

 

Dari Realisme Sosialis ke Realisme Kapitalis

Ayu Utami :  Bekerja di dunia sastra sebagai penulis, kurator dan direktur Literature & Ideas Festival (LIFEs) di Komunitas Salihara

TEMPO MINGGUAN, 30 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Tahun 1960-an kita mengenal paham realisme sosialis yang menggedor kesadar estetika mereka yang berkhidmat pada ideologi kiri.

 

·      Bahkan novel Korupsi Pramoedya Ananta Toer masih menyisakan tokoh seorang perempuan yang mandiri.

 

·      Keluguan tahun 1960-an berakhir begitu kita memasuki masa realisme kapitalis: menghidupkan harapan makin tak muda.

 

TIGA dekade silam Tahar ben Jelloun ingin bertemu dengan Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan Prancis-Maroko itu berkunjung ke Jakarta. Waktu itu kuasa pemerintahan militer Soeharto sedang memuncak. Karya-karya Pramoedya masih dilarang dan hidupnya dimata-matai. Ben Jelloun mendapat peringatan dari seseorang: jangan menemui Pram karena kunjunganmu justru akan menimbulkan masalah baginya.

 

Sebagai ganti niat yang diurungkan, Ben Jelloun menulis sebuah novel untuk menghormati Pramoedya. Judulnya Korupsi, merespons novel Pramoedya dengan judul sama yang ia baca selagi di Indonesia. Novel Pram ditulis tahun 1950-an, novel Ben Jelloun 1990-an. Kita sekarang berada di 2020-an, dengan persoalan yang lebih rumit.

 

Setelah demonstrasi warga Pati di DPR, 27 Agustus lalu, ada janji bahwa undang-undang perampasan aset koruptor akan disahkan sebelum akhir tahun. Demonstran juga menuntut ganjaran keras, bahkan hukuman mati, bagi koruptor. Tapi keadaan kita jauh lebih berbahaya daripada sesaat setelah kemerdekaan atau sebelum Reformasi. Setelah kasus Tom Lembong mencuat, juga sederet sidang dan vonis korupsi lain, kita melihat bahwa kasus korupsi sangat bisa menjadi alat sewenang-wenang untuk menghancurkan lawan politik atau orang tak bersalah yang dikambinghitamkan. Atau, setidaknya, digunakan dengan tebang pilih.

 

Novel Pram, Korupsi, jika dibaca sekarang terasa menggambarkan masa yang begitu lugu.

 

Bakir adalah seorang kepala kantor yang awalnya bersahaja. Ia masih mengayuh sepeda kumbang, sementara beberapa sejawatnya telah mulai naik mobil, yang didapat dari manipulasi anggaran dan pengadaan barang—modus yang memang tetap ada sekarang. Mariam, istrinya, kerap mengeluh. Sebagai kepala keluarga, Bakir pun merasa bersalah karena bahkan anak-anaknya jarang makan berlauk ayam. Selangkah demi selangkah, ia masuk dalam kebiasaan korup.

 

Di masa kini, rasanya tak ada lagi pegawai negeri yang tak mampu membeli fried chicken. Selain itu, dua hal dalam novel Pram ini mungkin tidak ada lagi di masa kita: aparat hukum yang sungguh-sungguh menegakkan hukum dan hati nurani yang terganggu oleh korupsi. Setelah mengabaikan anak-anaknya dan ibu mereka, seraya berasyik masyuk dengan istri muda, Bakir mulai merasa dikejar dosa. Hidupnya jadi tak tenang—tapi barangkali ini hanyalah harapan moralitas kita sendiri dan tak ada dalam kenyataan. Akhirnya ia ditangkap dan dimasukkan ke penjara. Ini mengandaikan polisi, jaksa, dan hakim yang tidak terjamah korupsi itu sendiri.

 

Korupsi dalam kisah Pram tahun 1950-an tak menodai aparat hukum. Sekarang?

 

Hal yang sedikit membungahkan jika kita bandingkan novel Korupsi Pram dengan karya Ben Jelloun adalah bahwa tokoh Mariam lebih mandiri dan punya prinsip ketimbang Halimah, istri Mourad. Mariam akhirnya memilih hidup bersahaja dengan uang halal keringatnya sendiri, membuat novel Pram masih menyisakan harapan—cukup khas dalam novel realisme sosialis.

 

Kedua novel ini sama-sama menunjukkan bahwa korupsi punya awal dalam sesuatu yang paling pribadi: istri, anak, suasana rumah. Tapi, di era yang tak lugu ini, skala dan paradigma telah berubah. Korupsi tidak dilakukan atas desakan kebutuhan obyektif, tapi atas desakan hasrat yang tak pernah terpuaskan—jika kita tidak melatih diri mengendalikan hasrat.

 

Jadi kuncinya adalah pengendalian diri? Tidakkah menyedihkan saat dalam membayangkan perbaikan struktural negeri ini kita jatuh lagi dalam anjuran pengendalian diri? Dalam membayangkan gerakan sosial, kita justru terbentur pada latihan batin? Dari analisis Marxis, kita dibawa pada ajaran Ki Ageng Suryomentaram atau Stoikisme? Dari yang sistemik, kita tersandung yang personal?

 

Keadaan yang tak lugu ini bolehlah kita sebut kondisi “realisme kapitalis”, dari judul buku Mark Fisher, Capitalist Realism: Is There No Alternative?, yang terbit hampir 20 tahun lalu. Istilah ini, kata penulisnya, berasal dari sebuah grup musik pop Jerman tahun 1960-an yang memparodikan istilah “realisme sosialis”.

 

Tahun 1960-an, realisme sosialis masih suatu ideologi seni yang dianut banyak orang, termasuk Pramoedya. Fisher mengartikannya secara lain. Ia menggambarkan masyarakat yang telah menciptakan “ontologi bisnis”, yaitu bisnis menjadi dasar keberadaan apa pun. Realitas kita adalah realitas kapitalisme, sehingga segala yang tak logis tampak seperti tak mungkin. Dan, kita tahu, kapitalisme bergerak karena hasrat. Kita tidak hendak mengatakan bahwa di luar kapitalisme tidak ada korupsi.

 

Tapi kemenangan kapitalisme, setidaknya setelah runtuhnya blok sosialis-komunis yang mengakhiri Perang Dingin, telah menyebabkan dominasi ontologi baru, sehingga, kata Fisher, “Lebih mudah membayangkan akhir dunia ketimbang akhir kapitalisme.” Sayangnya, seolah-olah membenarkan adagium itu, Fisher bunuh diri, menyelesaikan dunianya sendiri.

 

Memang hari-hari ini tak mudah lagi untuk punya harapan akan perbaikan besar. Sementara menunggu momentum tiba, hal-hal kecil bisa dilakukan. Ya, yang mengandalkan latihan batin dan pengendalian diri seperti yang dianjurkan Suryomentaram atau kaum Stoik. Tidak melakukan korupsi dari yang terkecil, menolak kemewahan, tidak pamer, juga tidak flexing foto bareng presiden atau anak kucingnya atau menteri dan pejabat lain. ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/kolom/realisme-kapitalis-peristiwa-hari-ini-2284436

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar