Senin, 31 Agustus 2026

 

Siapa Ketua PBNU Jagoan Pemerintah

Daniel Ahmad Fajri :  Jurnalis Tempo

TEMPO MINGGUAN, 30 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Pejabat negara dan politikus di sekitar Presiden Prabowo Subianto membahas jalannya muktamar PBNU di Jombang, Jawa Timur.

 

·      Mereka mendorong paket pimpinan PBNU yang diisi rais am dan ketua umum.

 

·      Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf mendengar kabar ada kelompok yang mengatasnamakan Presiden Prabowo untuk mencari dukungan.

 

BERLANGSUNG di Jombang, Jawa Timur, Muktamar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Ke-35 sudah terasa gaungnya di Jakarta beberapa hari sebelum acara pembukaan. Sejumlah anggota Kabinet Merah Putih dan politikus Partai Gerindra berkumpul di Wisma Negara di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada pekan kedua Agustus 2026 untuk membicarakan muktamar itu.

 

Dua narasumber, salah satunya penyelenggara negara yang ada di Istana, bercerita, rapat itu dihadiri antara lain oleh dua nahdliyin yang menjadi menteri, yakni Saifullah Yusuf dan Nusron Wahid. Ada juga Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.

 

Nasaruddin Umar, Menteri Agama yang waktu itu berniat maju menjadi calon Ketua Umum PBNU, serta Kepala Badan Intelijen Negara Muhammad Herindra turut datang. Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Sufmi Dasco Ahmad pun hadir.

 

Rapat yang diikuti menteri dan orang-orang dekat Presiden Prabowo Subianto itu membahas hal ihwal muktamar yang akan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras, Jombang. Menurut seorang peserta rapat, mekanisme pemilihan pimpinan PBNU menjadi salah satu topik diskusi.

 

Selama ini ketua umum dipilih oleh muktamirin dengan model one delegation one vote. Sedangkan rais am dipilih dari dan oleh dewan formatur alias ahlul halli wal aqdi (AHWA) yang beranggotakan sembilan kiai sepuh. Dokumen Muktamar PBNU 2026 yang dibaca Tempo menunjukkan ada peluang AHWA menunjuk Ketua Umum PBNU untuk periode kepengurusan berikutnya. Dengan begitu, muktamirin tak lagi memilih ketua umumnya secara langsung.

 

Kepala BIN Muhammad Herindra mengatakan pemerintah menyambut pelaksanaan muktamar PBNU di Jombang ketika Tempo meminta penjelasan soal rapat di Wisma Negara. “Prosesnya kita serahkan pada mekanisme yang berlaku,” ujar Herindra kepada Tempo pada Kamis, 27 Agustus 2026.

 

Selain membicarakan mekanisme pemilihan, pertemuan itu membahas kandidat Ketua Umum PBNU yang berpeluang maju dalam Muktamar Jombang. Nama calon yang muncul dalam pembahasan di Istana adalah Yahya Cholil Staquf yang berstatus inkumben; Abdul Hakim Mahfudz dari Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang; Menteri Agama Nasaruddin Umar; serta Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah Abdul Ghaffar Rozin.

 

Menurut peserta rapat, kans Nasaruddin Umar mencalonkan diri mendapat sorotan dalam diskusi tersebut. Imam Besar Masjid Istiqlal itu terganjal aturan internal PBNU yang melarang ketua umum merangkap jabatan politik seperti menteri. Narasumber yang sama bercerita, Nasaruddin yang hadir dalam pertemuan itu menyebutkan belum bisa memastikan apakah akan bertarung dalam Muktamar Jombang atau memilih mundur dari posisi Menteri Agama.

 

Nasaruddin baru mengumumkan sikapnya pada Jumat, 28 Agustus 2026. Melalui rekaman video, ia menyatakan ingin berfokus memimpin Kementerian Agama. “Saya minta maaf kepada teman-teman dari berbagai daerah yang mungkin telah mengimajinasikan saya untuk memimpin PBNU,” tuturnya.

 

Seorang penyelenggara negara di Istana menuturkan, kehadiran Nasaruddin masih dibutuhkan di Kabinet Merah Putih sehingga tak jadi maju sebagai calon Ketua Umum PBNU. Menurut narasumber itu, pemerintah belum memiliki sosok pengganti Menteri Agama yang ideal jika Nasaruddin mundur dari jabatannya. Pemerintah, kata pejabat Istana ini, mencari sosok yang bisa diterima semua kelompok agama.

 

Sejumlah peserta persamuhan di Wisma Negara merespons singkat ketika dimintai tanggapan mengenai isi rapat yang mengulas peta calon Ketua Umum PBNU. “Malam bos,” tulis Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro dalam pesan WhatsApp pada Rabu, 26 Agustus 2026.

 

Sedangkan Sufmi Dasco Ahmad mengaku tak ikut dalam rapat di Wisma Negara. “Saya tak tahu apakah ada pertemuan itu atau tidak,” ujar Ketua Harian Partai Gerindra tersebut.

 

Seorang pejabat teras Partai Gerindra bercerita, ia pernah berkomunikasi dengan Nasaruddin sebelum berlangsungnya rangkaian Muktamar Jombang. Kepada politikus di lingkaran dekat Prabowo ini, Nasaruddin mengaku telah mendapat dukungan dari mayoritas pemilih serta kerabat Presiden Prabowo, Hashim Djojohadikusumo.

 

Sepanjang pekan lalu, Tempo tiga kali menghubungi Nasaruddin melalui nomor telepon selulernya, tapi ia tak menjawab. Ia juga tak merespons permintaan konfirmasi melalui pesan tertulis. Kami juga mengirimkan permintaan konfirmasi kepada dua staf khusus Menteri Agama, Farid F. Saenong dan Ismail Cawidu. Farid berujar akan menyampaikan pertanyaan wawancara kepada Nasaruddin. “Saya tidak janji,” katanya pada Selasa, 25 Agustus 2026.

 

Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Agama Thobib Al-Asyhar mengatakan tak punya kapasitas menjawab pertanyaan mengenai topik pencalonan Nasaruddin di PBNU. “Beliau telah berkonsentrasi menjalankan amanah sebagai Menteri Agama,” tutur Thobib pada Sabtu, 29 Agustus 2026.

 

Adapun juru bicara Hashim Djojohadikusumo, Ariseno Ridhwan, mengatakan Hashim menghargai hubungan baik dengan tokoh-tokoh NU. Menurut Ariseno, relasi dengan tokoh NU merupakan bagian dari silaturahmi. Hashim menghormati kewenangan dan mekanisme internal dalam penentuan Ketua Umum PBNU. “Hubungan baik itu jangan dikaitkan dengan agenda atau kepentingan tertentu,” kata Ariseno.

 

Pembahasan mengenai dinamika Muktamar Jombang berlanjut setelah berlangsungnya pertemuan di Wisma Negara. Dua politikus Partai Gerindra bercerita, menteri dari kalangan nahdliyin kembali bertemu di rumah milik petinggi Partai Gerindra di Jakarta Selatan. Menteri yang hadir antara lain Menteri Sosial Saifullah Yusuf serta Menteri Agraria dan Tata Ruang Nusron Wahid.

 

Dua narasumber yang mengetahui adanya pertemuan itu menuturkan, persamuhan tersebut membahas peluang memasangkan Miftachul Akhyar sebagai calon rais am dengan Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin sebagai calon ketua umum dalam Muktamar Jombang. Sejumlah pengurus NU di pusat dan daerah menyebut duet Miftachul-Kikin sebagai paket Istana karena digagas pejabat dan politikus di lingkaran dekat Presiden.

 

“Itu bikin-bikinan orang dan biasa saja itu,” ujar Saifullah Yusuf, yang karib disapa Gus Ipul, mengenai munculnya paket Miftachul-Kikin. Menurut Saifullah, membicarakan peta calon ketua umum merupakan hal normal. Sementara itu, Nusron Wahid tak menjawab pesan dan panggilan telepon yang disampaikan tiga kali ke nomor pribadinya sepanjang pekan lalu.

 

Duet rais am dengan ketua umum baru bisa terpilih dalam satu paket jika ada perubahan dalam mekanisme pemilihan, yakni ketua umum dipilih oleh dewan formatur atau AHWA, bukan oleh muktamirin. Hingga Sabtu sore, 29 Agustus 2026, para kandidat ketua umum, seperti Abdul Hakim Mahfudz, Yusuf Chudlori, Abdul Ghaffar Rozin, dan Abdussalam Shohib, sepakat dengan model pemilihan ketua umum lewat AHWA. Hanya Yahya Cholil Staquf yang masih bertahan dengan skema pemilihan langsung oleh muktamirin.

 

Dimintai tanggapan mengenai manuver pengurus Partai Gerindra dalam pemilihan Ketua Umum PBNU, Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad mengatakan tak pernah dihubungi siapa pun mengenai muktamar PBNU. “Saya sedang berkonsentrasi dengan tugas di DPR,” kata Dasco kepada Tempo pada Jumat, 28 Agustus 2026.

 

Dalam pidato pembukaan Muktamar Ke-35 pada Kamis, 27 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto menyatakan tak ikut cawe-cawe dalam pemilihan pimpinan PBNU. “Saya tak mengatur ini semua,” tutur Ketua Umum Partai Gerindra itu.

 

•••

 

PEMBESAR Nahdlatul Ulama di daerah mendengar kabar tentang adanya gagasan soal paket Istana yang mendorong Miftachul Akhyar sebagai calon rais am serta Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin sebagai kandidat ketua umum. Katib Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Cilacap Abdal Malik menuturkan, Menteri Agraria dan Tata Ruang Nusron Wahid pernah menemui perwakilan pengurus NU dari Jawa Tengah di Semarang pada pekan terakhir Agustus 2026.

 

Menurut Abdal, Nusron membuka pertemuan itu dengan sambutan di hadapan pengurus daerah bahwa calon rais am yang diinginkan sāhib ad-daulah adalah Miftachul Akhyar. “Sāhib ad-daulah itu yang dimaksudkan adalah presiden,” ujarnya kepada Tempo pada Kamis, 27 Agustus 2026.

 

Setelah pengarahan, kata Abdal, tim Nusron berinteraksi dengan para hadirin. Abdal yang mendapat cerita dari pengurus PCNU Cilacap menuturkan, tim Nusron menawarkan kepada mereka paket yang berisi daftar anggota dewan formatur (AHWA). Ada nama Miftachul dalam daftar tersebut.

 

“Sedangkan ketua umum prioritas adalah Gus Kikin,” tutur Abdal. Jika Muktamar Jombang berjalan dinamis dan meminta opsi nama, menurut Abdal, pengurus daerah bisa memilih dua kandidat lain, tapi tetap menempatkan Kikin sebagai pilihan pertama.

 

Abdal mendengar kabar bahwa pengurus daerah yang bersedia mendukung paket Istana akan mendapatkan insentif dalam beberapa tahap dan dikumpulkan di Surabaya, Jawa Timur. Menurut Abdal, PCNU Cilacap menolak skenario paket Istana sehingga langsung berangkat ke Jombang. “Skenario itu menodai semangat muktamar,” ujarnya.

 

Nusron Wahid tak merespons panggilan telepon dan pesan WhatsApp yang tiga kali disampaikan ke nomor pribadinya hingga Sabtu, 29 Agustus 2026.

 

Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf juga mendengar kabar ada manuver dari orang-orang dekat Presiden dalam pemilihan Ketua Umum PBNU. Yahya mendapat laporan dari beberapa pengurus cabang bahwa ada kelompok yang mengatasnamakan Presiden. “Kok, berani sekali mengatakan bahwa ini perintah Presiden,” katanya.

 

Yahya juga menerima laporan bahwa kelompok yang mengaku-aku membawa perintah Presiden memakai cara yang tak pantas untuk menggaet dukungan muktamirin. “Memakai uang dan memalsukan stempel,” tuturnya.

 

Seorang politikus Partai Gerindra yang membantu pemenangan Kikin bercerita, timnya memesan hotel dan penginapan untuk memfasilitasi pengurus cabang ataupun wilayah yang telah memberikan dukungan kepada Kikin. Menurut dia, insentif yang dijanjikan dalam tiga tahap kepada muktamirin adalah ongkos pesawat.

 

Tempo mendatangi sejumlah lokasi di Surabaya yang diduga menjadi tempat karantina peserta muktamar NU, seperti Asrama Haji Sukolilo dan Trans Luxury Hotel. Lima laki-laki bersongkok berada di area dalam Asrama Haji pada Rabu siang, 26 Agustus 2026. Mereka mengenakan sarung dan kemeja putih dengan logo Nahdlatul Ulama.

 

Di Trans Luxury Hotel, situasinya lebih ramai. Sekelompok pria bersarung dan berkemeja dengan logo Nahdlatul Ulama lalu-lalang di area hotel. Mereka menggeret koper ketika keluar dari hotel tersebut.

 

Mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal, Muhammad Lukman Edi, yang masuk tim pemenangan Kikin, mengatakan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng itu tak pernah menggunakan Asrama Haji dalam rangkaian Muktamar Jombang. “Itu yang memesan Saifullah Yusuf,” kata Lukman.

 

Menurut Lukman, Kikin terbuka dan siap menghadapi proses pemilihan ketua umum dengan model pemilihan lewat AHWA ataupun one delegation one vote oleh para muktamirin. “Tidak ada masalah,” ujar Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa 2005-2008 itu.

 

Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan selalu ada tuduhan yang mengemuka menjelang muktamar PBNU. Menurut dia, konsolidasi calon merupakan hal yang biasa dalam setiap muktamar. “Itu semua tuduhan tanpa bukti yang cukup,” tutur Saifullah di Salemba, Jakarta Pusat, pada Senin, 24 Agustus 2026.

 

•••

 

SKENARIO paket pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dalam Muktamar Ke-35 mendapat sorotan dari para ulama sepuh. Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus mengirim surat ke PBNU pada Senin, 17 Agustus 2026, yang berisi permohonan kepada Ketua Umum Yahya Cholil Staquf agar menggelar pertemuan dengan para kiai khos untuk menyikapi dinamika muktamar.

 

Yahya menyanggupi permintaan Gus Mus. Rapat diadakan pada Kamis, 20 Agustus 2026, secara hibrida karena ada kiai yang hadir dengan telekonferensi video dan datang ke kantor PBNU di Jalan Kramat, Jakarta Pusat. Gus Mus dan Yahya hadir secara online, sedangkan Mustasyar PBNU sekaligus mantan wakil presiden, Ma’ruf Amin, datang langsung ke lantai 8 kantor PBNU.

 

Tiga pengurus PBNU bercerita, tujuh kiai sepuh itu mendiskusikan operasi mengegolkan paket pimpinan menjelang Muktamar Jombang. Salah satu modus yang didengar para kiai itu adalah mengajukan daftar dewan formatur (AHWA). “Kalau itu terjadi, kami khawatir muktamar menjadi tidak punya legitimasi,” kata Ma’ruf.

 

Yahya, sebagai salah satu kandidat ketua umum, mencermati rencana ide pemilihan ketua umum dengan sistem paket bersama dewan formatur. Pemilihan dengan model paket akan menambah kerumitan dalam proses pemilihan. “Jika harus mengubah aturan, itu baru berlaku pada pemilihan lima tahun mendatang,” ujarnya.

 

Yahya tetap mengantisipasi perubahan skema pemilihan ketua umum dalam Muktamar Jombang. Lima pengurus PBNU dan kolega Yahya menuturkan, Yahya mengantisipasi skenario itu dengan mendorong Ma’ruf Amin sebagai calon anggota AHWA dan rais am. Menurut para narasumber itu, tim Yahya juga mendorong paket AHWA ke pengurus daerah. “Saya bilang ke pengurus daerah bahwa Kiai Ma’ruf punya kapasitas,” tutur Yahya.

 

Sebagian pengurus Partai Kebangkitan Bangsa mencermati dinamika pemilihan pimpinan PBNU. Dua pengurus teras PKB bercerita, para kader risau terhadap kondisi internal PBNU selama kepemimpinan Yahya. Organisasi nahdliyin itu diterpa konflik internal karena masalah tata kelola organisasi, manajemen tambang, dan akuntabilitas keuangan yang terjadi pada akhir 2025.

 

Dua pengurus teras PKB itu mengungkapkan, sebagian anggota partai mendorong Said Aqil Siroj sebagai calon anggota AHWA dan rais am. PKB juga mempersilakan Abdussalam Shohib dan Muhammad Yusuf Chudlori mencari dukungan dari daerah. Senyampang dengan itu, muncul dukungan dari pengurus NU daerah kepada Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar untuk maju sebagai calon PBNU-1.

 

Namun Muhaimin terganjal syarat rangkap jabatan seperti yang dialami Menteri Agama Nasaruddin Umar. Ia harus mundur sebagai Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat jika maju dan terpilih memimpin PBNU.

 

Muhaimin mengakui ada aspirasi dari pengurus daerah NU bagi dia untuk maju sebagai calon ketua umum. “Ada, tapi enggak banyak kayaknya,” ujar politikus yang karib disapa Cak Imin itu pada Sabtu, 29 Agustus 2026, melalui pesan WhatsApp.

 

Anggota Dewan Syura PKB, Maman Imanulhaq, mengatakan partai menghormati aspirasi yang muncul dari anggota NU dan muktamirin. Kata Maman, nama Said Aqil Siroj menggema sebagai calon anggota AHWA dan rais am saat PKB menggelar ijtimak ulama di Jakarta pada akhir Juli 2026. “PKB tidak menempatkan muktamar sebagai arena perebutan kekuasaan,” tuturnya pada Rabu, 26 Agustus 2026. ●

 

Sumber :  https://www.tempo.co/politik/paket-ketua-umum-pbnu-muktamar-jombang-2284520

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar