|
Long March Pembangunan Endang
Tirtana : Pemerhati Politik dan Sosial. |
JAWA POS, 19 Agustus 2026
|
“Indonesia merdeka bukan
tujuan akhir kita. Indonesia merdeka hanya syarat untuk bisa mencapai
kebahagiaan dan kemakmuran rakyat.” — Mohammad Hatta Kalimat Bung Hatta itu
terasa semakin dalam ketika kita memasuki usia 81 tahun kemerdekaan
Indonesia. Sebab, kemerdekaan tidak pernah dimaksudkan sebagai garis akhir. Kemerdekaan adalah pintu
yang dibuka para pendiri bangsa agar rakyat Indonesia dapat berdiri dengan
martabatnya sendiri, hidup lebih sejahtera, memperoleh kesempatan yang adil,
dan memiliki masa depan yang lebih baik. Karena itu, ukuran
kemerdekaan tidak cukup hanya dilihat dari kemampuan sebuah bangsa
mempertahankan kedaulatannya. Kemerdekaan juga harus terlihat dari kemampuan
negara menyediakan pangan bagi rakyatnya, membuka lapangan pekerjaan,
menghadirkan pendidikan yang layak, menyediakan layanan kesehatan, membangun
industri, mengelola sumber daya alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat,
serta memastikan negara hadir ketika rakyat membutuhkan. Dalam konteks itulah,
pidato Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama
DPR-DPD pada 14 Agustus 2026 menjadi penting untuk dibaca sebagai laporan
perjalanan sebuah pemerintahan
sekaligus gambaran arah besar pembangunan Indonesia. Setelah 21 bulan memimpin
pemerintahan, Presiden Prabowo menunjukkan sejumlah capaian yang menandai
perubahan arah kebijakan nasional.
Pemerintah menyampaikan berbagai kebijakan transformatif, percepatan
swasembada pangan, peningkatan investasi, pembangunan dan revitalisasi
sekolah, perluasan layanan sosial, hingga pembenahan badan usaha milik
negara. Tentu saja, sebuah
pemerintahan tidak boleh dinilai hanya dari banyaknya kebijakan yang dibuat.
Kebijakan pada akhirnya harus diuji melalui hasil. Apakah produksi pangan
meningkat? Apakah investasi menciptakan pekerjaan? Apakah sekolah menjadi
lebih layak? Apakah industri nasional semakin kuat? Dan yang paling penting,
apakah kehidupan rakyat bergerak menuju keadaan yang lebih baik? Kedaulatan Dimulai dari
Pangan Salah satu keberhasilan
paling strategis pemerintahan Prabowo adalah percepatan agenda swasembada
pangan. Pemerintah menyatakan Indonesia telah mencapai swasembada delapan
komoditas pangan strategis, yakni beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam,
telur ayam, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit. Pemerintah juga mencatat
cadangan beras pemerintah telah menembus lebih dari 5 juta ton, sementara
Nilai Tukar Petani mencapai 127,73 atau disebut sebagai level tertinggi
sepanjang sejarah. Capaian tersebut tidak berdiri sendiri. Salah satu kebijakan yang
memiliki dampak langsung kepada petani adalah penurunan harga pupuk
bersubsidi sebesar 20 persen. Kebijakan ini dibarengi dengan pembenahan tata
kelola distribusi agar pupuk lebih mudah diakses petani. Di sinilah
keberpihakan Presiden Prabowo terhadap sektor pangan menemukan bentuk
konkretnya. Pangan bukan sekadar urusan pertanian. Pangan adalah urusan
kedaulatan negara. Dalam dunia yang
menghadapi konflik geopolitik, perang dagang, gangguan rantai pasok,
perubahan iklim, dan ketidakpastian ekonomi, kemampuan sebuah negara memberi
makan rakyatnya sendiri merupakan bentuk kemerdekaan yang paling mendasar.
Tidak ada kemerdekaan yang kokoh apabila kebutuhan pokok rakyat sepenuhnya
bergantung pada negara lain. Karena itu, keberhasilan
swasembada pangan di era Prabowo patut ditempatkan sebagai salah satu tonggak
penting pembangunan nasional. Bukan semata karena Indonesia mampu
menghasilkan lebih banyak pangan, melainkan karena negara sedang membangun
fondasi agar Indonesia tidak mudah terguncang ketika dunia menghadapi krisis. Namun, keberhasilan
tersebut juga membawa tanggung jawab baru. Swasembada harus terus dijaga agar
tidak berhenti sebagai angka produksi. Petani harus memperoleh harga yang
adil. Biaya produksi harus semakin efisien. Regenerasi petani harus berjalan.
Distribusi harus diperbaiki. Dan pada saat yang sama, harga pangan harus
tetap terjangkau masyarakat. Dengan demikian, keberhasilan
Presiden Prabowo di sektor pangan bukanlah garis akhir. Ia adalah fondasi
untuk membangun sistem pangan nasional yang semakin kuat dan berkelanjutan. Ekonomi Tumbuh, Investasi
Menciptakan Pekerjaan Capaian pemerintahan
Prabowo juga terlihat dari kemampuan menjaga momentum ekonomi di tengah
ketidakpastian global. Pada semester I 2026, realisasi investasi Indonesia
mencapai Rp1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2 persen secara tahunan. Investasi
tersebut menyerap 1.448.862 tenaga kerja Indonesia. Angka itu setara dengan
49,5 persen dari target investasi nasional 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun. Angka tersebut penting
karena investasi bukan hanya tentang modal yang masuk ke Indonesia. Investasi
harus menjadi mesin penciptaan pekerjaan, penggerak industri, pendorong
hilirisasi, dan penguat ekonomi daerah. Di sinilah arah kebijakan Presiden
Prabowo memiliki arti strategis. Indonesia tidak cukup
menjadi tempat investasi datang, berproduksi, kemudian membawa keluar bahan
mentah. Indonesia harus menjadi negara yang mampu mengolah kekayaan alamnya
sendiri, membangun industri nasional, meningkatkan kapasitas teknologi, dan
memperoleh nilai tambah yang lebih besar. Dengan kata lain,
investasi harus ditempatkan sebagai bagian dari agenda kemandirian nasional.
Pertumbuhan ekonomi juga tidak boleh berhenti sebagai statistik makro. Angka
pertumbuhan harus diterjemahkan menjadi kesempatan kerja, pendapatan yang
lebih baik, usaha kecil yang berkembang, dan ekonomi lokal yang bergerak. Inilah tantangan
berikutnya dari keberhasilan ekonomi pemerintahan Prabowo, memastikan
pertumbuhan tidak hanya terlihat di pusat-pusat ekonomi, tetapi terasa hingga
ke desa, pasar, kawasan industri, sentra pertanian, pesisir, dan rumah tangga
masyarakat. Sebab, pertumbuhan ekonomi yang paling bermakna adalah
pertumbuhan yang memiliki wajah manusia. Membangun Manusia,
Membangun Masa Depan Pembangunan bangsa pada
akhirnya tidak hanya berbicara tentang jalan, bendungan, industri atau
investasi. Pembangunan adalah tentang manusia. Karena itu, kebijakan Presiden
Prabowo di bidang pendidikan memiliki posisi penting dalam agenda
transformasi nasional. Pemerintah pada 2026 menargetkan
revitalisasi 71.744 satuan pendidikan dari jenjang taman kanak-kanak hingga
sekolah menengah atas. Angka itu merupakan bagian dari upaya memperbaiki
kualitas sarana pendidikan di berbagai wilayah Indonesia. Di saat yang
sama, pemerintah mengembangkan Sekolah
Rakyat sebagai salah satu instrumen untuk memutus rantai kemiskinan
antargenerasi. Gagasan ini penting. Kemiskinan
tidak selalu diwariskan melalui pendapatan. Ia dapat diwariskan melalui
keterbatasan akses terhadap pendidikan, kesehatan, keterampilan, dan
kesempatan. Karena itu, ketika negara membuka akses pendidikan bagi anak-anak
dari keluarga miskin, sesungguhnya negara sedang memutus satu mata rantai
ketidakadilan. Inilah wajah lain dari
kemerdekaan. Seorang anak yang sebelumnya tidak memiliki banyak pilihan kini
memiliki kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi. Seorang keluarga miskin
mendapatkan peluang agar generasi berikutnya tidak mengulang kesulitan yang
sama. Jika pembangunan sekolah adalah pembangunan fisik, maka pendidikan
adalah pembangunan masa depan. Membenahi Mesin Negara Transformasi juga
membutuhkan keberanian membenahi institusi negara. Dalam konteks itu,
pembenahan BUMN menjadi bagian penting dari agenda pemerintahan Prabowo. BUMN tidak boleh
hanya menjadi perusahaan milik negara yang terus dipertahankan keberadaannya
tanpa memperhitungkan efisiensi, produktivitas, dan kontribusinya kepada
masyarakat. BUMN harus menjadi
instrumen strategis negara untuk memperkuat industri, menciptakan nilai
tambah, membuka lapangan kerja, membangun teknologi, dan memperbesar
kapasitas ekonomi nasional. Karena itu, langkah pemerintah melakukan penataan
terhadap BUMN patut dilihat sebagai bagian dari upaya membangun korporasi
negara yang lebih sehat dan efisien. Keberanian melakukan
perubahan menjadi penting karena birokrasi dan institusi yang terlalu gemuk
pada akhirnya akan mengurangi kemampuan negara bergerak cepat. Di sinilah
reformasi birokrasi harus berjalan beriringan dengan transformasi ekonomi. Negara yang ingin
bergerak cepat membutuhkan birokrasi yang sederhana, profesional, transparan
dan akuntabel. Sebab kebijakan terbaik sekalipun dapat kehilangan makna
apabila berhenti di meja birokrasi. Long March Menuju
Indonesia Emas Presiden Prabowo sendiri
menempatkan pembangunan Indonesia sebagai sebuah long march. Pandangan
tersebut penting karena pembangunan bangsa tidak boleh selalu dimulai dari
titik nol setiap kali pemerintahan berganti. Apa yang sudah baik harus
diteruskan. Apa yang belum efektif harus diperbaiki. Apa yang tidak lagi
relevan harus ditinggalkan. Dan apa yang gagal harus berani dihentikan. Setiap pemerintahan boleh
membawa prioritas dan gaya kepemimpinannya sendiri. Tetapi tujuan akhirnya
tetap sama, menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi rakyat. Dalam 21 bulan pertama,
Presiden Prabowo telah menunjukkan keberanian untuk mengambil sejumlah
keputusan strategis dan mengarahkan pemerintahan pada agenda kemandirian
nasional. Kini tantangannya adalah
memastikan seluruh capaian tersebut memiliki endurance—daya tahan yang cukup
untuk menjadi perubahan jangka panjang. Sebab Indonesia Emas 2045 tidak
dibangun hanya dengan satu periode pemerintahan. Ia dibangun melalui
kesinambungan. Melalui keberanian, melalui kerja keras, dan melalui kesediaan
setiap generasi untuk melanjutkan pekerjaan generasi sebelumnya. Pada akhirnya, 81 tahun
kemerdekaan Indonesia bukan hanya momentum untuk mengenang perjuangan para
pendiri bangsa. Kemerdekaan adalah kemampuan sebuah bangsa untuk berdiri
tegak, memberi makan rakyatnya, mendidik anak-anaknya, membuka kesempatan
bagi warganya, mengelola kekayaan alamnya, dan menentukan masa depannya
sendiri. Sebagaimana pesan Bung
Hatta, kemerdekaan hanyalah syarat. Tujuan akhirnya adalah kebahagiaan dan
kemakmuran rakyat. Dan pekerjaan menuju tujuan itu—seperti sebuah long
march—harus terus berjalan. Dirgahayu Republik
Indonesia ke-81. ● Sumber : https://www.jawapos.com/opini/2608190220/long-march-pembangunan?page=all |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar