|
Leo
Suryadinata: Kebangsaan Itu Melebihi Agama dan Etnis Friski Riana :
Jurnalis Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 16 Agustus 2026
|
· Banyak orang Tionghoa menjadi
nasionalis Indonesia tapi tak diterima partai pribumi. · Pemerintah Orde Baru mengganti istilah
Tiongkok dengan Cina untuk mendukung pribumi. · Di kalangan generasi Z, sentimen
anti-Tionghoa mulai menipis, tapi tidak demikian di kalangan tua. LAHIR
dan besar di Jakarta sebagai generasi ketiga keturunan Tionghoa di Indonesia,
Leo Suryadinata enggan meneruskan usaha toko bangunan ayahnya. Ia lebih
tertarik mempelajari sastra dan sejarah. Lebih dari enam dekade, sejak awal
1960-an, Leo meneliti sejarah dan pergerakan kelompok etnis Tionghoa. “Ide
bahwa semua orang Tionghoa berdagang mungkin harus dikoreksi,” kata Direktur
Chinese Heritage Center Nanyang Technological University ini dalam wawancara
via Zoom dengan jurnalis Tempo, Yosea Arga, Friski Riana, dan Stefanus
Pramono, pada Jumat, 31 Juli 2026. Leo acap disebut sinolog, yakni orang yang
mempelajari ilmu bahasa, sejarah, dan budaya masyarakat Tiongkok. Ia
menulis puluhan buku yang menjadi rujukan untuk mempelajari masyarakat
Tionghoa. Salah satunya Politik Tionghoa Peranakan di Jawa 1917-1942 yang
diterbitkan ulang pada 2 April 2026, setelah terakhir kali dicetak pada 1994.
Dalam buku itu, Leo menunjukkan masyarakat Tionghoa bukan kelompok homogen,
melainkan punya keberagaman orientasi politik serta identitas. Dalam
wawancara selama sekitar dua setengah jam, Leo menceritakan pergerakan masyarakat
Tionghoa sebelum Indonesia merdeka. Pada masa itu hingga Indonesia merdeka,
nasionalisme masyarakat Tionghoa peranakan masih diragukan sehingga mereka
tak diterima di hampir semua partai politik. Namun Presiden Sukarno justru
memberi ruang bagi Oei Tjoe Tat untuk menjadi Menteri Muda. Leo
Suryadinata juga menjelaskan sentimen anti-Tionghoa yang terjadi sampai saat
ini. Sinolog yang sekarang menjadi warga negara Singapura—tapi tetap
mempertahankan nama Indonesia—itu menilai sentimen negatif mulai tergerus di
kalangan anak muda. Ia juga membahas kemungkinan orang Tionghoa memimpin
negara ini. Seperti
apa peran orang Tionghoa dalam gerakan politik sebelum kemerdekaan? Mula-mula
yang muncul adalah gerakan kebangsaan Tionghoa yang dinamakan overseas
Chinese nationalism, kemudian diikuti pergerakan Indonesia. Karena itu,
banyak orang Tionghoa, termasuk masyarakat peranakan, berorientasi ke
Tiongkok. Lalu mereka beralih menjadi nasionalis Indonesia. Mengapa
bisa beralih? Orientasi
ke Tiongkok itu sebetulnya hanya superficial. Mereka menggunakan nasionalisme
Tiongkok untuk memperbaiki kedudukan di Hindia Belanda. Pada waktu itu mereka
tidak diberi kebebasan. Mereka harus tinggal di kampung Cina dan kalau mau
meninggalkan daerah wajib meminta izin. Kemudian mereka merasa bahwa masa
depan mereka bukan bersama orang Belanda, melainkan rakyat Indonesia. Sebelum
kemerdekaan, seperti apa peta politik peranakan Tionghoa? Pada
saat itu ada tiga kelompok politik orang Tionghoa. Pertama, nasionalis
Tiongkok yang diwakili Sin Po, surat kabar berbahasa Indonesia. Kelompok ini
kuat dan besar pada permulaan abad ke-20 sampai dekade ketiga. Kedua, Chung
Hwa Hui, partai peranakan Tionghoa yang dipimpin orang-orang kaya dan
berpendidikan Belanda. Orientasi mereka ke Hindia Belanda dan mendukung
kolonialisme. Terakhir, Partai Tionghoa Indonesia yang didirikan pada 1932
oleh Liem Koen Hian, salah satu orang penting dalam sejarah peranakan
Tionghoa. Kenapa
penting? Dia
sebetulnya nasionalis Cina. Biarpun peranakan, dia dilahirkan di Banjarmasin
dan tidak mengerti bahasa Tiongkok. Karena waktu itu arus politiknya
demikian, dia jadi terbawa. Tapi, ketika dewasa, pikirannya lebih matang. Dia
membelokkan orientasinya ke Indonesia. Pada
masa itu, seperti apa penerimaan kaum pribumi terhadap peranakan Tionghoa? Biarpun
banyak orang Tionghoa menjadi nasionalis Indonesia, mereka tak diterima
partai-partai pribumi. Semua menutup pintu kepada orang Tionghoa dan Arab
karena dianggap orang asing. Yang membuka pintu hanya Partai Komunis
Indonesia atau PKI dan Gerakan Indonesia yang didirikan Amir Sjarifuddin dan
Muhammad Yamin. Bahkan Partai Indonesia Raya yang diketuai Soetomo, yang
begitu intelek, menutup pintu. Ia malah perang lidah dengan Liem Koen Hian. Apa
sebabnya? Liem
Koen Hian pada waktu itu anti-Jepang dan Soetomo pro-Jepang. Jepang itu
imperialisme, jadi bagi Liem Koen Hian tidak harus dibela. Mungkin karena
tidak senang, Soetomo menyebut Liem Koen Hian itu orang Tionghoa, bukan
Indonesia. Sentimen
etnis menjadi dasar untuk menentukan siapa yang dianggap bagian dari
Indonesia? Ada
dokter Tjipto Mangoenkoesoemo yang membela Liem Koen Hian. Dia mengatakan
Indonesia adalah satu konsep politik. Setiap orang yang memperjuangkan
kemerdekaan adalah seorang Indonesia, pakai atau tanpa peci. Makna
nasionalisme Indonesia pada waktu itu adalah, biarpun sukunya berbeda,
tujuannya sama, yaitu menggulingkan pemerintah kolonial. Artinya,
ada pertentangan antara suku atau etnis dan perjuangan itu sendiri? Etnis
itu pembawaan, sangat sukar dihapus. Tapi, kalau mau mengubah Indonesia
menjadi negara yang lebih makmur dan adil, perlu semangat nasionalisme. Semua
suku dan etnis harus bersatu padu. Penolakan
terhadap etnis Tionghoa disebabkan oleh pandangan bahwa mereka menguasai
perekonomian, terutama distribusi? Faktor
ekonomi pasti ada, tapi penyebabnya kompleks. Pada waktu terjadi peristiwa
Kudus (kerusuhan anti-Tionghoa di Kudus, Jawa Tengah, pada 21 Oktober 1918),
itu kan anti-Tionghoa, tapi tidak anti-Arab atau anti-juragan pribumi.
Tionghoa disudutkan begitu karena stratifikasi pemerintah kolonial yang
didasarkan pada ras. Selain ekonomi, mungkin ada konsep agama. Sarekat Islam
kan sebelumnya organisasi yang dibentuk untuk melawan dominasi pedagang
Tionghoa. Ada
titik temu antara masyarakat Tionghoa dan pribumi? Dulu,
dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia, kedua belah pihak menggunakan istilah
yang bisa diterima masing-masing. Masyarakat Tionghoa, misalnya, tidak mau
memakai kata Cina, tapi menggantinya dengan Tionghoa dan negara Tiongkok. Itu
diterima karena orang-orang Tionghoa juga tidak menyebut orang Indonesia
sebagai inlander atau menggunakan kata-kata yang tidak disukai. Malah mereka
memperjuangkan istilah seperti “Indonesier”. Istilah
Cina mengental pada masa Orde Baru…. Pemerintah
Orde Baru sengaja mengganti istilah Tiongkok dengan Cina. Istilah itu
mengandung pelecehan dan dicemarkan oleh Orde Baru karena bertujuan menghina
orang Tionghoa. Penghinaan itu terjadi karena ada inferiority complex pada
kalangan pribumi. Dari
semua pemerintahan, mana yang paling keras berupaya memberikan kesetaraan
untuk keturunan Tionghoa? Yang
paling kentara Gus Dur (Abdurrahman Wahid). Tapi kita tidak bisa melupakan
Bung Karno. Tapi lihat periodenya. Ada masa dia juga tak senang atau tak
simpatik kepada orang-orang Tionghoa. Tapi saya ingat, pada Maret 1965, dia
mengatakan bangsa Indonesia terdiri atas suku bangsa semacam Jawa, Batak,
Bali, dan sebagainya. Terakhir dia menyebut peranakan Tionghoa juga suku
Indonesia. Konsep ini tak diterima Soeharto. Kenapa? Soeharto
menghendaki Tionghoa, sebagai kelompok, harus lenyap, menjadi bagian dari
suku lain. Jadi asimilasi total. Tapi, dalam negara modern, tidak mungkin
begitu. Dalam negara Indonesia yang berdemokrasi dan berdasarkan Pancasila,
itu tidak mungkin. Seperti
apa asimilasi kelompok etnis Tionghoa berjalan? Sebenarnya
peleburan itu adalah wajar. Kalau meneliti sejarah imigran Tiongkok di
Indonesia, yang banyak bermukim di pesisir Jawa adalah muslim Tionghoa, bukan
konfusius. Itu terjadi ketika Laksamana Cheng Ho datang dan pengikutnya
muslim. Orang Tionghoa pun sebenarnya punya andil dalam penyebaran agama
Islam. Apakah
pemerintahan Prabowo Subianto sudah memberikan ruang untuk etnis Tionghoa? Pemerintahan
Prabowo itu pragmatis. Representasi suku-suku di Indonesia dipenuhi dengan
menunjuk keturunan Tionghoa, biarpun hanya wakil menteri. Ini juga boleh
dikatakan semacam keterbukaan. Cara mengelola ekonominya berbeda dan rupanya
juga meneruskan pengelolaan ekonomi yang dulu. Sistem ekonomi Indonesia masih
didasari kapitalisme dan konglomerat masih berpengaruh, bukan hanya yang
beretnis Tionghoa, melainkan juga non-Tionghoa. Saya kira pemerintahan
Prabowo melihat pentingnya kestabilan ekonomi. Tanpa stabilitas ekonomi, akan
ada instabilitas politik. Bagaimana
seharusnya pemerintah bersikap terhadap masyarakat Tionghoa? Bagi
orang Tionghoa di Indonesia, apalagi peranakan, mereka sudah bagian dari
bangsa dan masyarakat Indonesia yang tidak bisa dipisah-pisahkan lagi.
Sebagai minoritas, mereka juga perlu tetap dirangkul. Saat ini
ada orang Tionghoa yang menjadi politikus hingga kepala daerah. Apakah ini
menandakan sistem politik Indonesia makin inklusif? Iya,
politik Indonesia dalam satu tingkat sangat inklusif. Ahok (mantan Gubernur
Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama) contohnya. Tapi, dalam tingkat yang lebih
tinggi, sangat eksklusif. Pada masa Sukarno, teori kesukuan sukar diterapkan
pada Menteri Negara Oei Tjoe Tat. Dia dipercaya dan mati-matian membela Bung
Karno. Ini tidak ada hubungannya dengan suku bangsa, tapi karena ideologi dan
perasaan dekat dengan Bung Karno. Ahok
gagal terpilih dalam pemilihan kepala daerah Jakarta pada 2017. Apa cenderung
disebabkan oleh faktor agama? Kalau
Ahok muslim, mungkin dia bisa terpilih. Di sini masalah etnis dan agama
menjadi satu. Bukan berarti keturunan itu tidak penting sama sekali, tapi
yang digunakan adalah kalimat seperti, “Kamu ini bukan bangsa Indonesia.”
Bahkan orang Arab bisa dianggap orang Indonesia asli. Bagi saya, konsep
nasionalisme seperti itu ngaco. Di dunia
politik, orang Tionghoa, apalagi nonmuslim, menjadi kaum minoritas ganda.... Sebenarnya
ini tergantung definisi nation orang Indonesia. Kalau tetap berdasarkan
pribumi dan Islam, itu tidak akan selesai. Nation atau kebangsaan itu
seharusnya melebihi agama dan etnis. Orang Jepang bisa menjadi presiden di
Peru (Alberto Fujimori, Presiden Peru 1990-2000; dan putrinya, Keiko
Fujimori, yang saat ini menjabat). Di Jepang, politikus yang tak beragama
Shinto bisa menjadi perdana menteri. Isu
etnis juga agama terus digoreng dalam dunia politik…. Politikus
yang membutuhkan kekuasaan akan menjual apa pun demi mencapainya. Ada
orang-orang yang miskin dan tidak berpendidikan sehingga gampang dihasut. Apakah
mungkin Presiden Indonesia berasal dari etnis Tionghoa? Dalam
jangka waktu yang kita lihat ini rupanya, sih, susah ya. Tapi itu
memungkinkan kalau calonnya beragama Islam. Tergantung konsep bangsa
Indonesia dan leadership. Saya selalu mengatakan kepemimpinan paling penting
di tangan siapa dan juga tidak kalah pentingnya ekonomi dalam negeri, ekonomi
kawasan, dan luar negeri. Anda
melihat sentimen anti-Tionghoa masih kuat? Masyarakat
berubah. Perubahannya belum sampai menghapus sisa-sisa kesukuan atau rasisme.
Sekarang sentimen itu tetap ada. Di kalangan tua, sentimen ini masih berakar,
tidak bisa terbuang. Tapi, di kalangan generasi Z, sentimen itu sudah lebih
tipis dibanding dulu. Sentimen
yang menipis ini menjadi peluang anak muda Tionghoa berkarier dalam politik
dan birokrasi? Tergantung
keadaan internasional dan elite Indonesia. Yang berkuasa, kan, tua-tua semua.
Jadi mungkin masih menunggu satu waktu untuk perubahan besar. Jika ada
semacam gejolak, misalnya penggantian the ruling elite dengan yang muda-muda,
akan ada perubahan signifikan. ● Sumber :
https://www.tempo.co/wawancara/etnis-tionghoa-keberagaman-indonesia-2282234 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar