Senin, 31 Agustus 2026

 

Manuver Orang Istana di Muktamar ke-30 NU 2026

Anton Septian :  Redaktur Eksekutif Tempo

TEMPO MINGGUAN, 30 Agustus 2026

 

 

                                                           

·      Gus Dur mengajak warga NU ta bertumpu pada kedekatan dengan penguasa dalam membangun bangsa.

 

·      Rezim Jokowi menggunakan NU yang moderat untuk menetralkan kelompok garis keras .

 

·      Penguasa berkepentingan terhadap siapa yang bakal terpilih dalam muktamar NU.

 

SAAT membuka Muktamar Ke-30 Nahdlatul Ulama di Kediri, Jawa Timur, pada 1999, Ketua Umum Pengurus Besar NU Abdurrahman Wahid menceritakan pengalamannya setiap kali dijemput di stasiun atau bandar udara oleh pengurus NU di daerah yang dia kunjungi. Para penjemput, kata pria yang akrab disapa Gus Dur itu, sering menyampaikan kedekatan pengurus NU dengan kepala daerah.

 

Gus Dur mengaku tertawa mendengar cerita mereka. Tapi, di dalam hatinya, ia merasa sedih karena warga nahdliyin membanggakan akses terhadap kekuasaan. Gus Dur, yang saat itu sudah menjabat presiden menggantikan B.J. Habibie, kemudian mengajak muktamirin tak bertumpu pada kedekatan dengan penguasa dalam membangun bangsa, tapi dengan “keluguan, kelugasan, dan kesederhanaan Nahdlatul Ulama”.

 

Setelah terpilih menjadi Ketua Umum PBNU pada 1984, Gus Dur menjadi salah satu motor yang membawa NU kembali ke khitah 1926 sebagai organisasi sosial keagamaan dalam muktamar tahun itu. Ia mendorong transformasi sosial NU yang menyeluruh dengan mempromosikan demokrasi, keadilan hukum, hingga kesetaraan sosial dan ekonomi. Agar terwujud, menurut Gus Dur, mau tak mau NU harus berjarak dengan kekuasaan.

 

Apa yang diikhtiarkan Gus Dur meredup pada era Presiden Joko Widodo. NU yang moderat digunakan Jokowi untuk menetralkan kelompok garis keras yang mengerubuti kekuasaannya. Jokowi menggaet Rais Am PBNU saat itu, Ma’ruf Amin, sebagai pasangannya dalam pemilihan presiden 2019 hingga menunjuk Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor, sayap NU, Yaqut Cholil Qoumas menjadi Menteri Agama. Diam-diam dia juga memberikan restu kepada Yahya Cholil Staquf, abang Yaqut, maju memimpin PBNU dalam Muktamar Lampung pada 2021.

 

Setelah memberikan berbagai bantuan untuk NU, puncak kooptasi penguasa terhadap organisasi nahdliyin ini tentu saja dengan menghadiahkan konsesi tambang. Orang awam sekalipun akan paham bahwa ini adalah cara rezim menaklukkan organisasi kemasyarakatan. Mereka yang berutang budi kepada penguasa akan sulit mengambil sikap berlawanan, setidaknya sungkan mengkritik.

 

Ilmuwan politik Johannes Gerschewski menggarisbawahi bahwa kooptasi bukan sekadar membagi-bagikan posisi atau sumber daya untuk mendapatkan loyalitas. Kooptasi merupakan upaya rezim mengikat aktor-aktor yang strategis dengan memberikan rasionalitas bahwa kerja sama dengan penguasa lebih menguntungkan ketimbang menentangnya. Kooptasi merupakan satu dari tiga pilar yang dipakai rezim otokratis untuk mendapatkan stabilitas. Dua lainnya adalah legitimasi dan represi.

 

Tak perlu heran jika kemudian NU sulit menjadi penyeimbang kekuasaan. NU, misalnya, tak berusaha mencegah kemunduran demokrasi pada era Jokowi. Demikian juga ketika penguasa melemahkan pemberantasan korupsi. Jangankan mencegah, mengkritik saja tidak. Yahya Staquf pun cenderung setuju ketika orang-orang dekat Jokowi menggulirkan rencana penundaan Pemilihan Umum 2024.

 

Rezim yang berkuasa di Indonesia memiliki tabiat merangkul berbagai elemen. Bukan cuma partai politik di parlemen, melainkan juga organisasi kemasyarakatan, termasuk NU. Tujuannya apa lagi kalau bukan untuk mengamankan pemerintahan.

 

Karena itu, penguasa berkepentingan terhadap siapa yang bakal terpilih dalam muktamar NU. Laporan utama majalah Tempo edisi ini menunjukkan bagaimana orang-orang di sekitar Presiden Prabowo Subianto berupaya mengegolkan paket pemimpin NU yang direstui Istana. Mereka memanfaatkan konflik elite nahdliyin yang membara setelah disulut masalah pengelolaan tambang.

 

Selama para pembesar NU menyediakan diri dikooptasi penguasa, seruan Gus Dur agar NU menjauhi kekuasaan hanyalah angin lalu. Transformasi sosial yang dia cita-citakan pun makin sayup-sayup. ●

 

Sumber :    https://www.tempo.co/prelude/sampul-tempo-orang-istana-muktamar-nu-2284583

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar