|
Manuver
Orang Istana di Muktamar ke-30 NU 2026 Anton Septian : Redaktur Eksekutif Tempo |
TEMPO MINGGUAN, 30 Agustus 2026
|
· Gus Dur mengajak warga NU ta bertumpu
pada kedekatan dengan penguasa dalam membangun bangsa. · Rezim Jokowi menggunakan NU yang
moderat untuk menetralkan kelompok garis keras . · Penguasa berkepentingan terhadap siapa
yang bakal terpilih dalam muktamar NU. SAAT
membuka Muktamar Ke-30 Nahdlatul Ulama di Kediri, Jawa Timur, pada 1999,
Ketua Umum Pengurus Besar NU Abdurrahman Wahid menceritakan pengalamannya
setiap kali dijemput di stasiun atau bandar udara oleh pengurus NU di daerah
yang dia kunjungi. Para penjemput, kata pria yang akrab disapa Gus Dur itu,
sering menyampaikan kedekatan pengurus NU dengan kepala daerah. Gus Dur
mengaku tertawa mendengar cerita mereka. Tapi, di dalam hatinya, ia merasa
sedih karena warga nahdliyin membanggakan akses terhadap kekuasaan. Gus Dur,
yang saat itu sudah menjabat presiden menggantikan B.J. Habibie, kemudian mengajak
muktamirin tak bertumpu pada kedekatan dengan penguasa dalam membangun
bangsa, tapi dengan “keluguan, kelugasan, dan kesederhanaan Nahdlatul Ulama”. Setelah
terpilih menjadi Ketua Umum PBNU pada 1984, Gus Dur menjadi salah satu motor
yang membawa NU kembali ke khitah 1926 sebagai organisasi sosial keagamaan
dalam muktamar tahun itu. Ia mendorong transformasi sosial NU yang menyeluruh
dengan mempromosikan demokrasi, keadilan hukum, hingga kesetaraan sosial dan
ekonomi. Agar terwujud, menurut Gus Dur, mau tak mau NU harus berjarak dengan
kekuasaan. Apa yang
diikhtiarkan Gus Dur meredup pada era Presiden Joko Widodo. NU yang moderat
digunakan Jokowi untuk menetralkan kelompok garis keras yang mengerubuti
kekuasaannya. Jokowi menggaet Rais Am PBNU saat itu, Ma’ruf Amin, sebagai
pasangannya dalam pemilihan presiden 2019 hingga menunjuk Ketua Umum Gerakan
Pemuda Ansor, sayap NU, Yaqut Cholil Qoumas menjadi Menteri Agama. Diam-diam
dia juga memberikan restu kepada Yahya Cholil Staquf, abang Yaqut, maju
memimpin PBNU dalam Muktamar Lampung pada 2021. Setelah
memberikan berbagai bantuan untuk NU, puncak kooptasi penguasa terhadap
organisasi nahdliyin ini tentu saja dengan menghadiahkan konsesi tambang.
Orang awam sekalipun akan paham bahwa ini adalah cara rezim menaklukkan
organisasi kemasyarakatan. Mereka yang berutang budi kepada penguasa akan
sulit mengambil sikap berlawanan, setidaknya sungkan mengkritik. Ilmuwan
politik Johannes Gerschewski menggarisbawahi bahwa kooptasi bukan sekadar membagi-bagikan
posisi atau sumber daya untuk mendapatkan loyalitas. Kooptasi merupakan upaya
rezim mengikat aktor-aktor yang strategis dengan memberikan rasionalitas
bahwa kerja sama dengan penguasa lebih menguntungkan ketimbang menentangnya.
Kooptasi merupakan satu dari tiga pilar yang dipakai rezim otokratis untuk
mendapatkan stabilitas. Dua lainnya adalah legitimasi dan represi. Tak
perlu heran jika kemudian NU sulit menjadi penyeimbang kekuasaan. NU,
misalnya, tak berusaha mencegah kemunduran demokrasi pada era Jokowi.
Demikian juga ketika penguasa melemahkan pemberantasan korupsi. Jangankan
mencegah, mengkritik saja tidak. Yahya Staquf pun cenderung setuju ketika
orang-orang dekat Jokowi menggulirkan rencana penundaan Pemilihan Umum 2024. Rezim
yang berkuasa di Indonesia memiliki tabiat merangkul berbagai elemen. Bukan
cuma partai politik di parlemen, melainkan juga organisasi kemasyarakatan,
termasuk NU. Tujuannya apa lagi kalau bukan untuk mengamankan pemerintahan. Karena
itu, penguasa berkepentingan terhadap siapa yang bakal terpilih dalam
muktamar NU. Laporan utama majalah Tempo edisi ini menunjukkan bagaimana
orang-orang di sekitar Presiden Prabowo Subianto berupaya mengegolkan paket
pemimpin NU yang direstui Istana. Mereka memanfaatkan konflik elite nahdliyin
yang membara setelah disulut masalah pengelolaan tambang. Selama
para pembesar NU menyediakan diri dikooptasi penguasa, seruan Gus Dur agar NU
menjauhi kekuasaan hanyalah angin lalu. Transformasi sosial yang dia
cita-citakan pun makin sayup-sayup. ● Sumber :
https://www.tempo.co/prelude/sampul-tempo-orang-istana-muktamar-nu-2284583 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar